Inilah 6 Kebiasaan Pola Makan Buruk yang Dapat Mengganggu Kesehatan


lifestyle / Selasa, April 25th, 2017

 photo asparagus-1307604_1280.jpg

Pola makan kita sehari-hari seringkali tidak memperhatikan asupan gizi dan nutrisi yang akan dikonsumsi. Karena alasan sibuk, maka kita memilih makanan instan sebagai makan utama.
Secara jangka panjang, kebiasaan dan cara memilih nutrisi yang salah ternyata akan mempengaruhi kesehatan seseorang. Begitu pula pola makan dan cara makan sehari-hari pun dapat mempengaruhi kesehatan tubuh kita.
Perlu diketahui bahwa gizi dan nutrisi yang baik bukan hanya berlaku untuk bayi dan balita, orang dewasa pun perlu memperhatikan masalah ini agar hidup lebih sehat.

Berikut ini beberapa kebiasaan buruk kita sehari-hari yang berkaitan dengan pola dan cara makan seseorang.

1. Hanya memperhatikan kalori

Sebagian besar kita, terutama perempuan, sering takut menjadi gendut. Sehingga dalam memilih makanan hanya memperhatikan mana makanan yang berkalori tinggi mana yang bukan. Dalam benak yang bersangkutan, bila makan makanan berkalori rendah maka badan tidak menjadi gendut.
Akibatnya kita jadi tidak memperhatikan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh.
Seringkali makanan dengan kalori rendah, tanpa disertai dengan nutrisi yang baik, misalnya protein dan serat yang cukup, justru membuat lebih cepat lapar.
Bukan tidak mungkin, karena terserang lapar kita jadi mencuri-curi makan, dan akibatnya diet kita gagal total. Ada baiknya dalam memilih makanan perhatikan hal-hal berikut:
• Hindari makanan kemasan yang mengandung pengawet, pemanis, dan pewarna buatan.
• Sebaik-baiknya makanan adalah yang tumbuh alami atau berasal dari bumi.

2. Pemanis buatan

Sekarang ini banyak iklan-iklan yang menawarkan pemanis buatan dengan kalori rendah sehingga seolah dengan mengonsumsinya kita otomatis tidak menjadi gemuk.
Stephanie Middleberg, MS, RD, CDN, pendiri Middleberg Nutrition, dan penulis buku The Big Book of Organic Baby Food, menjelaskan bahwa meningkatnya konsumsi pemanis buatan di pasaran ternyata meningkat pula penyandang masalah kesehatan seperti peradangan, diabetes, penyakit jantung, kegemukan, dan auto-imun.
Selain itu pemanis buatan menimbulkan gangguan kesehatan kronis, perut kembung, metabolisme tubuh menjadi lambat, serta menambah nafsu makan.

Ada dua hal yang perlu kita cermati tentang pemanis buatan ini.
Pertama, pemanis buatan ratusan kali lebih manis daripada gula. Itu sebabnya kita hanya perlu jumlah yang sangat sedikit untuk membuat manis secangkir teh. Akibatnya lidah kita terbiasa dengan rasa teramat manis.
Kedua, otak atau tubuh kita mengira zat pemanis tersebut gula padahal bukan, maka tubuh tetap kurang kandungan gula. Otak yang tertipu tadi mengirim sinyal agar tubuh merasa lapar karena kekurangan zat gula.
Cara ampuh sebetulnya adalah mengurangi sedikit demi sedikit rasa manis sampai lidah kita terbiasa makan atau minum yang tidak terlalu manis.

3. Takut lemak

Mendengar kata lemak yang terlintas pastilah jenis makanan yang membuat gemuk, sehingga harus dihindari. Padahal lemak juga dibutuhkan oleh tubuh, antara lain melindungi organ dalam tubuh, membantu penyerapan beberapa vitamin yang larut dalam lemak, membuat kulit kenyal dan bercahaya, serta memudahkan buang air besar.
Lemak juga merupakan sumber energi, mengatur suhu tubuh, membantu pembentukan membran sel dalam tubuh, dan ternyata justru mengurangi rasa lapar.

Yang perlu diperhatikan adalah, ada 2 jenis lemak dalam makanan, yaitu lemak baik dan lemak jahat.
Lemak baik diperoleh dari lemak nabati seperti alpuket, kacang-kacangan, ikan, dan daging tanpa lemak.
Lemak jahat yang perlu dihindari, antara lain terdapat pada daging berlemak, makanan cepat saji, susu full cream, keju, keripik, santan dan gorengan.
Jadi tidak apa-apa mengonsumsi makanan yang mengandung lemak, asalkan kita bisa memilih lemak yang memang diperlukan oleh tubuh.

4. Kurang mengunyah

Orang modern yang tinggal di kota seringkali dikejar waktu, sehingga makan terlalu cepat dan kurang dikunyah. Kebiasaan ini tidak baik bagi pencernaan, karena makanan yang kurang dikunyah akan memperberat kerja usus. Beberapa keluhan akibat buruknya cara kita makan adalah perut kembung, kurang energi, masalah kulit, gangguan usus, penambahan berat badan, dan masalah kesehatan serius lainnya.

Pada waktu mengunyah, mulut akan mengeluarkan air liur yang mengandung enzim. Enzim ini bila tercampur dengan makanan yang kita kunyah akan membuat kandungan vitamin dan mineral mudah diserap oleh tubuh.
Beberapa ahli menganjurkan untuk mengunyah sebanyak 32 kali, atau sebanyak jumlah gigi. Intinya sebetulnya, makanan tersebut dikunyah beberapa kali sehingga berbentuk lembut dan mudah ditelan.

5. Ngemil

Ngemil adalah kegiatan makan kita yang dilakukan di antara waktu makan utama. Beberapa orang memiliki waktu ngemil yang menjadi pilihan favorit. Ada yang cenderung ngemil antara pukul 9 pagi hingga 12 siang sebelum makan siang. Ada pula yang merasa lapar dan merasa perlu curi-curi waktu ngemil sore hari sekitar pukul 4 atau bahkan ada yang ngemil tengah malam, sesudah makan malam.

Bolehkah mengemil?
Tentu saja boleh asalkan memilih camilan yang sehat.
Kemudian berfikirlah rasional, kita ngemil karena apa?
Apakah benar-benar lapar, cemas, sedih atau pikiran yang menekan karena bekerja sepanjang hari? Atau kebiasaan saja?
Buah seringkali disarankan sebagai camilan sehat yang tidak mengganggu diet.
Hindari buah yang mengandung lemak, kalori dan gula yang tinggi, misalnya durian, mangga, atau pisang.
Pilihlah buah-buahan yang banyak mengandung serat dan air bila benar-benar merasa lapar, misalnya semangka, melon, jeruk, pepaya, dan lain-lain.

6. Merasa bersalah

Makan itu harusnya merupakan kegiatan yang menyenangkan.
Banyak diantara kita yang makan, kemudian menyesal telah mengonsumsi makanan yang menurutnya buruk bagi kesehatan.
Ada yang panik, karena telah makan sebuah pisang dan menyesal dengan kandungan kalori yang ada dalam pisang. Atau sepotong kue coklat di pesta ulangtahun teman membuat kita tak bisa tidur.
Merasa bersalah setiap kali selesai makan bukanlah kebiasaan yang baik.
Secara psikis kepikiran sepanjang hari justru lebih buruk bagi tubuh dibandingkan makan sepotong kue coklat.

Seringkali kita terlalu memperhatikan berita media sosial, tentang diet para artis yang sedang tren, atau pesohor yang tiba-tiba terkenal sebagai vegan.
Padahal badan seseorang itu disebut sebagai bio-individual, artinya setiap orang mempunyai kecenderungan dan karakter tubuh masing-masing.
Pola diet bagi seseorang belum tentu cocok bagi orang lain.
Begitu pula, kebiasaan makan kita belum tentu baik ditiru oleh orang lain.

Caranya agar kita tak terlalu merasa bersalah setelah makan adalah:
• Pikir-pikir dahulu sebelum mengambil makanan yang diperkirakan akan mengganggu diet.
• Ambil hanya sepotong kecil dan makanlah dengan enak.

Nah, itulah berbagai kebiasaan buruk pola makan dan cara makan yang dapat mengganggu kesehatan.
Tetaplah perhatikan kandungan nutrisi dalam makanan yang kita konsumsi.
Melakukan olahraga untuk membakar kalori dan memperoleh tubuh yang sehat jauh lebih baik daripada berdiet ketat tetapi malah setres.

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

4 Replies to “Inilah 6 Kebiasaan Pola Makan Buruk yang Dapat Mengganggu Kesehatan”

  1. Kurang mengunyah bener banget sih Mbak…. 😢😢😢
    Bawaannya pengen buru-buru ditelen. Apalagi kalau jam makan siang. Suka kejar-kejaran sama meeting. Belum lagi kalau mesti take away makan di mobil hahaha….

    Nice sharing :))
    iamandyna.com

    1. Haha…sama dong. Makan lhap-lhep langsung telan…udah itu perut rasa kembung kaget. Belum lagi sambil makan masih buka laptop. Mulai sekarang hrs lebih santai mengunyah ya… 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *