Rahasia Menghindari Kebosanan Meskipun Telah Melewati Tahun Perak Pernikahan


family & parenting / Sabtu, April 1st, 2017

Sebuah pernikahan sering kali diibaratkan melakukan perjalan bersama, mengarungi samudra kehidupan bersama, menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Indah betul ya.
Bahkan pernikahan sendiri diibaratkan sebagai bahtera, sebuah kapal.
Perjalanan pernikahan tentu saja seperti halnya mengarungi samudra, kadang tenang, kadang gelombang badai menerpa.
Lalu, bagaimana mengarahkan kapal agar tidak oleng diterpa badai.
Nakhoda!
Oh iya, tentu saja nakhoda yang handal. Lalu apakah hanya nakhoda sendirian?
Tentu saja tidak!
Dibutuhkan tim yang kompak, bersama-sama mengendalikan kapal agar selamat melanjutkan perjalanan.

Beberapa artikel dan nasihat pernikahan bertutur bahwa ujian pernikahan adalah di 5 tahun awal pernikahan. Bila lolos melalui 5 tahun awal pernikahan maka selanjutnya akan aman-aman saja.
Benarkah?
Bagaimana dengan 10 tahun, 15 tahun, 20 tahun, 25 tahun, dan tahun-tahun sesudahnya?
Pertanyaan yang sering diajukan pada pasangan yang telah puluhan tahun bersama adalah, apa rahasianya, ngapain aja berdua, enggak bosan?
Kilas balik setapak demi setapak pun saya coba telusuri lagi, apa saja yang telah saya lakukan bersama pasangan puluhan tahun ke belakang.

Nakhoda

Sudah pastilah di rumahtangga saya, suami kepala keluarga, atau nakhoda bahtera kami.
Artinya, dia yang memutuskan bila ada hal-hal yang harus diselesaikan.
Diskusi tentu saja ada.
Akhirnya disepakati mana yang terbaik.
Lebih banyaknya sih, perasaan saya, perasaan lho ya, saya yang lebih banyak mengalah.
Entah bila kata yang sama ditanyakan ke suami.
Katanya sih saya keras kepala.
Tak soal juga suami sebagai kepala keluarga, kan saya lehernya.
Ada pepatah Yunani, yang saya sitat dari sebuah film, istri adalah leher, dia bisa mengalihkan kepala kemana dia suka.
See…
Penting kan. Walau hanya jadi leher.

Gotongroyong

Sebuah keluarga bisa berjalan dengan enak bila segala sesuatu dikerjakan bersama-sama.
Gotongroyong.
Suami mencari nafkah, istri yang mengelola.
Bila dirasa kurang, ya jangan mengomel karena kurang.
Kelola dengan baik. Buat pos-pos pengeluaran.
Bila tetap kurang, silahkan istri cari tambahannya. Tentu saja seijin dan atas ridho suami.
Bagi istri, tetaplah keluarga nomor satu.
Misalnya anak sakit. Siapa yang mengalah cuti dari kantor?
Ibu atau ayah?
Kalau saya ya saya ibunya.
Bila ada keluarga lain, ternyata ayah yang menjadi ayah siaga (di rumah), tak masalah juga.
Tidak lalu diberi konotasi negative, koq ayahnya di rumah terus.

Uangmu Uangku

Tidak sedikit keluarga berantakan karena masalah uang.
Ketika suami dirumahkan lalu di PHK, pasti ada hal-hal yang harus diatur ulang.
Anak-anak mau tidak mau harus dilibatkan dan harus tahu masalah ini.
Tidak pada tempatnya bila menyembunyikan dan seolah tidak terjadi apa-apa.
Gaya hidup harus disesuaikan, uang saku mungkin berkurang, tidak ada lagi makan-makan di luar.
Ibu ternyata harus beralih menjadi pencari nafkah utama.
Saya tidak memakai istilah tulang punggung keluarga untuk masalah ini.
Tulang punggung bisa patah, syaraf bisa kejepit, low back pain, dan masalah-masalah lain.
Terlalu berat lah.
Bagaimana bila bahu membahu? Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Tetap saja gotongroyong diperlukan bukan?
Bila Ibu sudah capai bekerja di luar rumah sampai sore, tak ada salahnya Ayah yang giliran mengasuh anak.
Tidak ada ruginya lho, Ayah dekat dengan anak. Nanti bila mereka dewasa, mereka akan ingat kita terus.
Percaya deh!
Apakah perlu membuat rekening bersama untuk sebuah keluarga.
Ada keluarga yang membuat, ada pula yang tidak.
Saya pribadi sih tidak.

Mengembangkan Hobby

Sejak anak-anak, sejak muda, jangan lupa harus mempunyai hobby yang positif.
Berguna sekali kala usia pernikahan sudah melewati pernikahan perak.
Duapuluhlima tahun pernikahan, minimal anak pertama sudah lulus sarjana, atau anak sudah bekerja.
Artinya tanggungjawab membiayai pendidikan berkurang.
Anak-anak lain mungkin sudah lebih mandiri, jadi tidak perlu terlalu sibuk antar jemput ke sekolah atau tempat les.
Ibu dan Ayah sepertinya lebih punya banyak waktu.
Banyak hobby yang bisa dikembangkan misalnya berkebun, pelihara burung, memasak, membuat kue, menjahit, melukis, menulis buku, memanah (archery), dan lain-lain.
Pengalaman pribadi, pada suatu kesempatan wisata yang diselenggarakan oleh kantor, seorang ibu bertanya kepada kami, yang hanya pergi berdua.
“Anak-anak koq tidak ikut?”
Waktu itu, anak pertama sudah kerja di Bekasi, adiknya kerja praktek di Jakarta.
Pertanyaan selanjutnya: “Lalu, ngapain aja berdua?”
Be creative Bu (tentu saja demi kesopanan, tidak saya katakan lah ke Ibu tersebut).
Ya jalan-jalan berdua inilah yang kami lakukan.
Ternyata Ibu tersebut, karena bingung anak-anaknya sudah menikah semua, lalu memutuskan mengurus cucunya yang tinggal bersama mereka.

 

Hobby Lama Bersemi Kembali

Forever Friend

Suami saya tuh teman saya.
Beneran. Seriusan.
Karena kenyataannya kami seangkatan waktu kuliah, beda program studi.
Suami lebih tua 1 tahun 4 bulan.
Untuk ukuran ayah-ibu saya, itu tergolong seumuran.
Zaman dulu banget, suami tuh diharapkan sepuluh tahun lebih tua. Katanya sih, supaya bisa mengayomi istri.
Benarkah?
Ya tidak tahu, karena suami saya seumur.
Asal saya menuakan suami ya tetap saja dia menjadi lebih tua dari saya.
Itu kan bisa-bisanya istri menganggap suami sebagai apa?
Mau suami dihormati, mau suami direndahkan depan anak-anak, istri yang membuat segalanya mungkin.
Untungnya suami seumur, ngobrolnya nyambung.
Saat-saat diskusi atau berbincang santai paling enak itu justru di kala sahur menunggu saat shalat Shubuh.
Apa saja bisa dibahas.
TV justru kami matikan. Tidak ada hiruk pikuk acara sahur-sahuran yang isinya kuis.
Sekarang di kala anak-anak dewasa, sudah menikah dan sudah tidak tinggal bersama, yang tersisa yang kami berdua.
Enaknya kalau sama teman sehidup semati gini kan, bisa jalan-jalan, beribadah bersama, membuat buku.
Belum sih, membuat buku bersama.
Mudah-mudahan pada suatu hari nanti…

 

Tua Bersama Menulis Buku

Introspeksi

Sebetulnya saya tidak ingin menambahkan kata bosan di judul artikel ini.
Bosan auranya negatif.
Bosan, menurut saya karena kita mindsetnya bosan.
Jangan-jangan sebuah pernikahan membosankan karena kita sebagai istri memang membosankan.
Diajak ngobrol tidak nyambung, tidak update diri.
Sering baca juga, sebagai istri jangan dasteran di rumah, apalagi yang lusuh.
Saya memang tidak pernah dasteran juga, karena dingin.
Bandung dingin.
Perawatan tubuh, wajah, rambut, ya ada sesekali, supaya terlihat sehat.
Istri sehat tentu saja menyenangkan.
Cantik saja ya tidak cukup, harus cukup cerdas juga.
Suami senang koq dengan istri yang cerdas.
Tidak usah takut baru-baru ini ada quote dari ciutan di media sosial, bahwa perempuan mandiri itu menyeramkan.
Ah tidak! Buktinya suami saya suka saya mandiri.
Mandiri tuh tidak merepotkan suami lho.

Bersyukur

Banyak bersyukur adalah mindset kita.
Kalau kita pandai bersyukur atas segala sesuatu yang suami lakukan untuk keluarga, hati dan pikiran menjadi nyaman, tidur enak.
Bersyukurlah walau gaji suami kali ini tidak sampai puluhan juta.
Dengan bersyukur, Insya Allah dicukupkan lho.
Kalau istri merasa kurang, selamanya akan kurang terus.
Percayalah!
Rizki yang luas itu bukan melulu uang.
Kesehatan, suami setia, anak-anak shaleh dan shalehah, rumah tidak bocor apalagi kebanjiran, dan masih ada angkutan umum yang mengantar kesana-kemari.
Masih ada listrik sehingga bisa update blog, dan share tulisan bagaimana saya bisa menjalani tahun ke tigapuluhtiga pernikahan kami.
Duh, saya harus sujud syukur.

Happy 33 th Anniversary untuk Belahan Jiwaku
Bandung, 1 April 2017

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

14 Replies to “Rahasia Menghindari Kebosanan Meskipun Telah Melewati Tahun Perak Pernikahan”

  1. Happy anniversary. Tulisan yang bagus sebagai bekal saya memasuki masa itu. Saat ini saja ketika anak-anak sudah masuk sekolah semua ada saja yang bertanya, “Di rumah ngapain.” Kadang saya merasa perlu untuk menunjukkan semua aktivitas harian. Saya ingin orang memandang ibu rumah tangga seperti saya sebagai orang dengan aktivitas positif.

    1. Tuh kaan. Orang luar selalu kepo kita ngapain aja. Banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan di rumah sambil menunggu anak pulang sekolah lho…Makasih ya sudah mampir…

  2. Wah. Hebat. Semoga bisa tetap bersama sehidup sesurga ya. Saya sama suami bedanya juga tidak terpaut jauh, hanya 1 tahun 5 bulan. Jadinya bisa seperti teman. Tapi tetep memperlakukan dia sebagai yang lebih tua walau cuman 1 tahun 5 bulan.

    1. Amiiin makasih. Itu teh tulisan tahun lalu. Enggak sengaja baca lagi…kok pas dibaca lagi, bagus juga. Hehe…kepedean. Yawda saya share lagi aja…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *