Respek Berlipat untuk Mbak Driver


cuma cerita / Kamis, April 6th, 2017

 

 

Gara-gara tema Respek di 1minggu1cerita jadi saja saya mencari-cari definisi yang tepat.
Walaupun dijelaskan di KBBI, bahwa respek itu artinya rasa hormat atau kehormatan.
Tetapi ada kata hormat itu, kesannya koq hormat grak ala tentara.
Sepertinya ada sedikit kewajiban dalam berhormat itu.
Sedangkan maksudnya respek lebih ke rasa hormatnya.
Saya lebih condong mencocokkan padanannya dengan bahasa Jawa, kajen, atau kata kerjanya diajeni.
Mungkin lho. Saya juga bukan ahli bahasa Jawa, koq.

Lalu saya mendapatkan banyak quote dalam bahasa Inggris, diantaranya adalah:

Respect yourself and others will respect you – Confucius

Treat people the way you want to be treated. Talk to people the way you want to be talked to. Respect is earned, not given – Hussein Nishah

Respek versi Confucius itu, kita harus respek dulu ke diri sendiri, maka orang lain akan respek ke kita.
Sedangkan respek dari Husein Nishah menjelaskan supaya kita memerlakukan orang lain sama halnya kita ingin diperlakukan. Berbicara ke orang lain, sama halnya kita mengharapkan orang lain berbicara ke kita seperti apa.
Intinya respek itu harus kita dapatkan dengan upaya, bukan datang begitu saja.

Saya jadi ingat perjalanan sesaat saya dengan seorang Mbak Driver Uber tadi pagi.

Ceritanya, saya sedang ikut suami ke Malang, yang ada reuni SD.
Saya tidak ikut reuninya, hanya ikut ke Malang.
Rencananya saya mau jalan-jalan ke rumah kakak ipar yang jaraknya lumayan dari Guest House tempat saya menginap.
Saya coba buka aplikasi taxi online di ponsel, ternyata di Malang ada Uber.
Maka saya pun memesan taxi tersebut.
Di layar tampak foto drivernya perempuan, bernama Eva.
Ini keduakalinya saya mendapatkan lady driver untuk pemesanan saya.
Pertama kali di Bandung waktu mengantar Bara, cucu saya.
Mbak Eva menelpon menanyakan keberadaan saya, menanyakan berapa orang yang akan naik taxinya, dan alamat tujuan.
Rupanya alamat kakak yang saya ketik belum muncul di layar ponsel mbak Eva.

Walaupun saya bisa menyupir juga, disupirin perempuan tetap saja masih aneh bagi saya.
Menurut saya menyupir itu pekerjaan yang melelahkan, dengan menjadi supir orang lain, pastilah lelahnya ganda.
Dan satu lagi, mobil bagi saya semacam barier saya dengan orang lain.
Saya memang merasa lebih aman menyupir mobil kemana-mana daripada naik kendaraan umum bercampurbaur dengan orang tak dikenal.
Nah, perempuan menjadi supir, bagi saya, seperti membuka diri akan kehadiran orang lain dalam satu mobil.
Bagaimana kalau ada orang yang berbuat tidak baik?
Makanya saya respek ke perempuan yang memilih atau tidak ada pilihan lain, harus menyambung hidupnya dengan menjadi supir.

Setelah menunggu beberapa menit, jenis mobil dan nomor mobil muncul sesuai yang tertera di aplikasi.
Berhubung sama-sama perempuan, saya pun duduk di depan.
Seperti biasa, mulailah obrolan basa-basi, saya dari mana, sedang apa, sampai kapan, dan seterusnya.
Saya pun menanyakan, sudah berapa lama dia jadi driver Uber.
Ternyata mbak Eva baru mulai jadi driver tanggal 24 Maret, belum sebulan.
Lalu obrolan berlanjut ke aman atau tak aman menjadi taxi online sekarang ini.
Dia menjelaskan bahwa dia harus hati-hati di beberapa lokasi public building, seperti stasiun, bandara, rumahsakit, dan mall.
Kemudian peringatan dan petunjuk agar hati-hati sering dishare di grup WhatsApp supir Uber.

Dan saya pun berkisah tentang demo supir angkot di Bandung, menentang keberadaan transportasi online motor dan mobil.
Si Mbak rupanya belum terlalu hafal jalan, bolak-balik melirik layar ponsel untuk mencek arah.
Entah posisi ponsel atau layar ponselnya kurang besar, maka kesibukan si Mbak dengan gawai membuatnya kurang konsentrasi saat mengemudi.
Saya jadi agak cemas dengan caranya mengemudi.
Akhirnya saya turut mencek Google Map di ponsel dan membantunya mengarahkan jalan.

 

 

Saya lirik si Mbak.
Hmm…sepertinya tidak muda lagi.
Kekepoan Emak-emak saya timbul, dan saya menanyakan apakah mbak Eva sudah berkeluarga atau belum.
“Sudah Bu. Anak saya dua. Kelas (saya lupa si Mbak tadi bilang kelas berapa) SMP dan kelas (lupa juga) SD”
“Oh sudah besar. Lumayan ya daripada nunggu anak-anak pulang sekolah” kata saya.
“Iya Bu. Nanti kakaknya pulang jam 4, adiknya jam 2. Ibu nih pelanggan pertama. Saya tadi habis Dhuha, buka HP, ada Ibu. Ya sudah saya ambil” sambungnya lagi.
Lalu dia bercerita, bila tiba saatnya menjemput anak-anaknya, applikasi dia matikan dulu.

Kekepoan saya berlanjut, padahal saya jarang ingin tahu urusan orang lain.
“Suami ada?” sambil saya agak takut menanyakan hal ini.
Siapa tahu suaminya sudah tidak ada, atau siapa tahu suaminya tidak bekerja.
“Suami saya pegang Grab Bu” jawabnya.
“Oh, masing-masing? Ini mobil sendiri?” tanya saya heran bin takjub.
Belum pernah nih, suami-istri nyupiran, yang satu pakai Uber dan yang satu pakai Grab.
Klop kan.
Belum selesai ketakjuban saya, si Mbak menyambung paparannya:”Suami saya kawin lagi Bu. Ini gara-gara suami kawin lagi, jadi saya narik taxi”.
Saya pun terpana.
Heran bin takjub saya bertambah bin respek bin respek bin respek.
Pokokna mah respeknya lipat-lipat dari ujung kaki ke ujung kepala.

Si Mbak masih melanjutkan:”Saya menggugat cerai. Tapi prosesnya luama (dengan penekanan kata lama khas logat Malang). Saya cabut saja berkasnya. Saya capek”
Pertanyaan konyol dari saya (mungkin karena bingung mau reaksi apa):”Jadi masih se rumah?”
“Enggak Bu!”
“Oh jadi masing-masing aja ya” sambung saya masih terdengar konyol sepertinya.

Dalam hati, saya mengumpat si Suami. Dasar laki-laki.
Lagi-lagi perempuan jadi korban sebuah kondisi yang membuat statusnya menggantung.
Sungguh perempuan tangguh ini membuat saya kibas jilbab (saya tidak pakai topi, tidak bisa angkat topi untuk hormat) akan keputusannya.
Dia tidak berpangkutangan dan bersedih menyesali nasib, tetapi menyingsingkan lengan baju bekerja sebagai supir taxi online.
Sebuah pilihan pekerjaan yang bagi saya lebih cocok untuk laki-laki.

Save drive ya Mbak Eva. Semoga aman, selamat, dan banyak pelanggan.

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

12 Replies to “Respek Berlipat untuk Mbak Driver”

    1. Kayaknya perasaan Mbak Mia saja. Lhah itu ada quotenya Confucius, Respect yourself, and others will respect you…Ibu rumahtangga to’ ya respek diri sendiri aja sbg ibu rumahtangga to’. Pede aja lagi…Banyak lhoo yg bisa dikerjakan di rumah…Semangaaaat…hehe

  1. Di sekitar saya banyak kejadian seperti itu Bu Hani. Status nggantung, dan selalu wanita jadi korbannya. Andaikan semua pria belajar bagaimana melayani perasaan wanita. Ahh, tapj memang wanita itu makhluk setrong dan ajaib!

  2. Ceritanya bagus, quotesnya juga bagus dan aku setuju Bu terkadang kita tll egois untuk meminta respek org lain sementara diri kita blm tentu respek pula hahha
    semoga Mba Eva diberikan kekuatan dan kesabaran aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *