Tips Menjaga Lidah Tak Setajam Lidah Mertua


family & parenting / Rabu, April 19th, 2017

 

Setiap perempuan menikah pastilah pernah merasakan menjadi menantu seseorang.
Banyak kisah unik hubungan menantu-mertua yang dibagikan, ada yang makan hati bertabur irisan jeruk memerihkan luka. Ada pula yang berbunga-bunga karena menjadi kesayangan mertua.
Sosok mertua sering digambarkan sebagai sosok yang cerewet dan rajin mencela para menantu alias berlidah tajam. Bahkan sampai ada tanaman bernama Lidah Mertua.
Padahal tanaman tersebut indah lho, sering ditanam sebagai tanaman hias.
Manfaatnya banyak, antara lain menyerap racun dan mengobati berbagai penyakit.
Tanaman tersebut nama latinnya, Sansevieria Trifasciata Prain berbentuk daun-daun yang keras, memanjang dengan ujungnya yang lancip mirip pedang. Dalam bahasa Inggris bernama Snake Plant.
Mungkin karena bentuk daunnya tajam, jadi dinamakan Lidah Mertua.

Benarkah semua mertua galak bin berlidah tajam?
Saya kemudian kilas balik, ketika pertama kali menjadi menantu ibu mertua saya.
Alhamdulillah saya dan suami menikah di tanggal yang sama dengan almarhum bapak mertua dan almarhumah ibu mertua.
Mereka menikah tanggal 1 April 1934, sedangkan saya, 1 April 1984.
Iya, kami menikah di Tahun Emas pernikahan bapak & ibu mertua.
Saya ditakdirkan menikah dengan putra bungsu dari tujuh putra-putra (wafat seorang diantaranya) mereka.
Beruntungnya saya bermertuakan seorang ibu yang putranya laki semua adalah, kami semua statusnya adalah menantu.
Jadi tak ada cerita friksi antara istri dengan saudara perempuan suami yang sering jadi bahan cerita sinetron atau film India. Tak ada ceritanya pa sirik sirik berujung fitnah. Atau mungkin karena saya menantu baik hati.
Ea…

Ketika kemarin saya beres-beres berbagai berkas yang sudah tak terpakai saya menemukan secarik kartu putih bergambar sederhana dan beberapa kalimat dalam bahasa Belanda, bertandatangan Ibu mertua.

 photo scan001.jpg

 

Bahasa Belanda?
Weh…jangan salah, Ibu mertua tuh perempuan sekolahan lho.
Sekolah beliau Van Deventer School, sekolah kepandaian putri (sekarang SMK) zaman Belanda di kota Malang, sebelum kemerdekaan tentu saja.
Guru-gurunya orang Belanda dan bahasa pengantarnya tentu saja bahasa Belanda.
Walaupun beliau menikah amat muda, 17 tahun, tak menyurutkan beliau tetap menjadi perempuan pembelajar, sukses mengasuh ke enam putra-putra beliau. Sambil mengurus rumah tangga, beliau tak hilang akal menambah uang dapur dengan menjual hasil sulaman, lukisan selendang, membuat abon, telur asin, dan menerima kos-kosan.
Tak kalah lah dengan fulltime Mom kekinian yang masih saja dibahas dibandingkan dengan working Mom.
Menurut penuturan para putranya, beliau berambut panjang dan masih merawat dengan sampo merang buatan sendiri. Ketika muda beliau bisa menyetir mobil lho, bahkan dengan memakai kebaya.

 photo SoenarmiampmobilFiat500-a.jpg

Keterangan foto:
Alm Ibu Soenarmi binti Soekarlan satu-satunya perempuan pribumi yang bisa menyetir mobil.
Foto diambil kira-kira tahun 1940-an di Malang.
Mobil Fiat 500 Topolino hadiah suami tercinta di kemudian hari dirampas Jepang ketika menjajah Indonesia.

 

Inilah isi tulisan dalam kartu tak bertanggal yang saya lupa kapan kartu tersebut saya peroleh.

Voor mijn dierbare sch (schoon) dochter, Hanny, m/d (saya duga ini mit der) geb. (geboren) v (van) klein dochter.
Hartelyke gelukwensen van Bapak Ibu Dago.
Moge God jullie steeds behoeden en Veel Heil en Geluk

1000 X zoentjes,
Ibu

Terjemahan bebas (hasil Google Translate) kurang lebih:
Untuk menantu perempuanku tersayang Hanny, atas kelahiran cucu perempuan.
Teriring ucapan selamat yang tulus dari Bapak dan Ibu Dago.
Semoga Tuhan memberikan banyak keselamatan dan kebahagiaan.

1000 kali cium.
Ibu

Pagi-pagi sarapan bersama suami jadi baper.
Sepertinya kartu itu diberikan bersamaan dengan hadiah ketika saya melahirkan putri saya, tahun 1988 yang lalu.
Ternyata Ibu mertua sayang sama saya. Lhoh, koq baru tahu?
Itulah…Ibu mertua pendiam, tak pernah mencela, boro-boro membandingkan keenam menantunya.
Salah tuh, menamakan tanaman dengan nama Lidah Mertua.
Nah, saya jadi belajar kan dari beliau, kiat jadi mertua seperti apa, setelah saya sendiri jadi mertua.

Kira-kira begini tipsnya:

1. Bersyukurlah bahwa anak-anak kita ada jodohnya.

Anak-anak berjodoh, entah itu pilihan sendiri maupun dijodohkan, anggap saja di masa datang sudah ada yang menjaga, mengurus, dan menyayangi. Jadi sebagai orangtua kita tak terlalu kepikiran, nanti anak kita sama siapa.
Doakan saja yang kencang, agar pasangan tersebut, langgeng, sakinah, mawaddah, wa rahmah, dan banyak rizki.

2. Setiap rumah tangga mempunyai pola sendiri.

Jangan kaget ya Bu/ Pak, ternyata anak-anak begitu menikah berubah 180 derajat. Pasangan suami-istri baru tersebut ternyata saling mengisi, memengaruhi, dan bersinergi. Apa-apa yang telah kita tanamkan, koq seperti lenyap terbawa angin?
Coba saja bercermin, dulu ketika awal berumahtangga seperti apa? Maunya apa-apa sendiri bukan?
Tak mau di bawah bayang-bayang orangtua maupun mertua. Kadang-kadang anak-anak tersebut harus merasakan sendiri sandungan atau kejeblos bila ada masalah, padahal tak kurang nasihat kita berbusa sebelumnya.
Tapi Bu/ Pak, jangan sekali-sekali mengatakan ke mereka, Ibu bilang juga apa!
Atau berkata I told You!
Enggak enak banget lho itu…

3. Jangan menegur langsung.

Menantu kita adalah anak-anak dari orangtua mereka yang menjaga, mendidik, dan menyekolahkan dengan gaya masing-masing. Lah, koq kita sebagai mertua mencela segala hal yang telah diupayakan oleh menantu, apalagi menantu perempuan. Bila ada ketidaksefahaman, menegur bisa melalui anak-anak kita saja.
Biar mereka yang menyampaikan ke istri atau suami masing-masing. Taruhlah, kita dulu pernah dicela habis-habisan oleh mertua, bukan berarti kita sebagai mertua membalas berkelakuan sama ke menantu bukan?

4. Tidak membicarakan ke orang lain.

Anak-anak kita adalah bagian dari diri kita. Begitu mereka menikah, maka para menantu menjadi bagian dari keluarga kita juga. Tidak pernah membahas dan membicarakan dengan orang lain adalah solusi jitu supaya kita tidak salah ucap. Jangan lupa, jagalah aib keluarga seperti menjaga aib diri sendiri.
Selama tidak mencelakakan satu sama lain apalagi ke anak-anak mereka, mertua hanya mengamati saja seperlunya.

5. Jangan jadi baby sitter anak-anak mereka.

Ketika saya dan anak menyusul suami kembali tinggal di Bandung, Ibu mertua berpesan bahwa beliau tidak bersedia dititipi cucu, karena sudah tua. Maklum, ketika kami menikah, Ibu mertua berusia 67 tahun.
Jadi, saya dan suami ya pakepuk saja mengurus rumah tangga dan anak-anak sendiri, bersama ART. Padahal saya juga merintis sebagai ibu bekerja di luar rumah, yang kadang dipusingkan dengan ART yang sering tiba-tiba minta pulang.

Setelah saya menjadi mertua, masih adalah saya bersedia menemani cucu saya, walaupun tidak fulltime mengurusnya. Anak saya kan orangtua cucu saya, biarkan mereka menata sendiri keluarga mereka. Tentu saja pola asuh anak-anak ke cucu saya berbeda gaya dengan saya dulu. Namanya juga berbeda zaman. Informasi jauh lebih mudah daripada zaman dulu. Tak ada salahnya sebagai nenek, perlu update informasi juga supaya tak ketinggalan zaman.

Nah, sebagai mertua, ingin tahu nih, para pembaca yang sudah menikah, akur tidak dengan mertua?

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

30 Replies to “Tips Menjaga Lidah Tak Setajam Lidah Mertua”

  1. Peluk Ibu Mertua yang baik hati, tfs loh tulisan Ibu Hani bagus banget, sangat bermanfaat untuk calon ortu seperti saya hehe. Kalo saya sih bu, menikah dengan anak laki-laki satu-satunya jadi saya punya kakak ipar perempuan semua heheu. Alhamdulillah enggak ada drama sih Bu soalnya seperti yg Ibu bilang, pas udah nikah “anak-anak” jadi berubah karena bersinergi dengan pasangannya. Kami berusaha idealis karena kami enggak mau merepotkan ortu, meskipun mertua sih nyuruh saya kerja aja (part time) setelah lahiran nanti dan beliau mau mengasuh karena mikirnya kami masih muda, masih byk kesempatan masa depan, tapi kami liat sikon aja sih lagian kode suami ingin saya yg mengasuh dan saya harus nurut dong^^ so sweet deh tulisannya^^

    1. Makasih yaa Sandra. Wah…mau jadi Ibu nih. Iyalah…nikmati saja jadi ibu. Mau part-timer OK juga, bila Mama Mertua mau gantian mengawasi. Supaya kita ga jenuh. Hehe…Saran suami, bagus juga. Porsi terbesar mengasuh ya Sandra sendiri. Sehat selalu ya…

  2. Alhamdulillah punya mertua yang baik juga, sejauh ini nggak pernah nyinyir ataupun marah… Padahal suka parno gara-gara cerita drama dari orang lain yang kadang ada yang bermasalah dengan ibu mertuanya..

  3. Mbak Hani, tulisan beliau bagus sekaliii. Walau belum jadi menantu tapi ngebaca post ini jadi tau gimana seperti apa gambaran mertua dan gimana menyikapinya dengan baik dan sopan. Thank you for sharing yaa mbak Hani. Salam kenal πŸ˜€

  4. Halo mbak Hani! Salah satu ketakutanku kalau nanti dapet rejeki menikah itu salah satunya mertua. Sempat banget denger drama mertua menantu dari saudara jauh duhh jadi serem sendiri mau nikah. Makanya doa saya selalu semoga saya dapat mertua yang baik bahkan mungkin lebih sabar dari orang tua saya, aminnn. Baca cerita mbak Hani kayaknya mama mertua baik dan sangat berjuang untuk jadi wanita pembelajar, salutt banget sama mama mertuanyaa :’)

    1. Terimakasih Monalisa. Banyak berdoa saja supaya pada saatnya mendapatkan mertua yang baik hati. Kalau terlalu dipikir dan takut dapat mertua galak…waah…nanti beneran lhoo. Jangan kaaan…amit-amit. Alhamdulillah, Ibu mertua lembut koq orangnya…

    1. Alhamdulillah Helni, punya mertua baik. Dibaik-baikin aja, supaya banyak didoakan oleh mertua. Hehe… Samalah doa mertua atau doa orangtua untuk kita, anak-anaknya, sering membawa keberkahan… πŸ™‚

  5. Alhamdulillaah yaa mbak hanii, ibu mertua begitu baik dan sayang ke menantuu. Makasih banyaaak sharingnyaa πŸ™‚ semogaaa nanti juga bisa bertemu jodoh dengan ayah-ibu yang baik hati jugaa. Aamiin. Salam kenal mbak hanii, saya sukaa banget blognya πŸ™‚

    1. Aamiiin, alhamdulillah Lucky suka blog saya. Sering mampir yaaa. Hehe…modus. Semoga tiba saatnya nanti mendapatkan jodoh yang orangtuanya baik hati dan penyayang yaa… πŸ˜€

  6. Saya malah sebaliknya mbak. Mungkin karna saya laki-laki. Jadi suka degdegan, bakal adem ayem nggak, si calon saya sama si ibu. Tapi ketika ibu ngasih wejangan “kalo udah nikah nanti, ibu ga pernah bakal nganggap dia menantu, semuanya anak ibu”. Alhamdulillah seketika pengen langsung bilang. Hayu sekarang ke penghulu. Xixixixi

  7. Cool …
    Ibu Mertuanya keren banget
    Heits di zamannya pasti.
    Tulisannya pun khas tulisan orang dulu. Latin, miring bersambung.

    Kalau (alm) ibu Mertua saya?
    Beliau adalah orang yang sangat menghormati saya (dengan caranya)
    Jika di depan kerabat, beliau pasti memanggil saya dengan sebutan kesayangan (dan kehormatan) “Sutan”. Ya saya menikah dengan putri Minang.
    Beliau jugalah yang selalu memasakkan saya, makanan minang yang enak-enak. Dan beliau selalu menurunkan kadar pedesnya … khusus untuk menantu kesayangannya ini (hehehe)
    Ah saya jadi ingat Ibu Mertua saya.
    Semoga beliau tenang di sana
    Al Fatihah untuk Amak …

    BTW This is very Nice post

    Salam saya

    1. Wah…Amak mertua pandai memasak. Senangnya. Pastinya kepandaian memasaknya diturunkan ke putri tersayang. Turut mendoakan Amak tenang di sana.
      Terimakasih ya sudah mampir…

  8. Ibu mertuanya keren abis…
    Aku gak punya Ibu Mertua..
    Tapi Bapak Mertua aku baik banget. Pendiam dan gak banyak komentar soal menantunya. πŸ™‚

  9. Wah keren banget ibu mertuanya..aku suka ibu mertua yang dengan tegas bilang nggak mau dititipi cucu, daripada mau titipi cucu tapi kata2nya bikin hati ….,btw tulisannya bikn adem

  10. Subhanallah, ibu mertua yang keren… Saya sendiri alhamdulilah sangat akur dengan mertua. Ibu mertua saya memang cerewet sebagaimana umumnya ibu, tetapi tidak pernah sampai mencampuri urusan rumah tangga saya dan suami. Seringnya beliau memberi nasihat-nasihat yang berkaitan dengan agama.

  11. Ibu mertuanya hebat banget mbak…. Makasih sharingnya…
    Alhamdulillah ibu mertua saya juga baik banget dan sayang sama menantu dan cucu2nya.
    Semoga kelak saya juga bisa menjadi mertua yang baik dan menyayangi menantu setulus hati, tidak seperti di cerita-cerita sinetron, hehe…

  12. Alhamdulillah saya akur Mba sama mertua dan para ipar baik dari pihak suami maupun saya. Kuncinya cukup jadi pendengar bukan sebagai penyampai berita. Insya Allah akur terus. Alhamdulillah juga mertua & para ipar bukan tipe gosipper. Jadi kebawa malu juga kalo mau mulai ngerumpi apalagi ngomongin sodara2 terdekat beliau hehe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *