Grup WhatApps, Gaya Silaturahim via Langit


lifestyle / Selasa, Mei 9th, 2017


WhatsApp, didirikan pada tahun 2009 oleh Brian Acton dan Jan Koum, mantan karyawan Yahoo! Berbeda dengan Blackberry, dengan be-be-emnya, WhatsApp merupakan media komunikasi lintas platform yang menggunakan ponsel pintar berbasis android. Ketika zamannya semua orang punya gawai Blackberry dan musimnya be-be-em-an, saya tak punya BB nya. Teman jadi jengkel, saya hanya bisa dikontak via SMS. Ketika ponsel saya ganti ke smartphone maka saya pun turut mengunduh aplikasi WA ini, yang berfungsi sebagai media silaturahim via langit, alias dunia maya. Enaknya HP dipakai WA an dibanding dengan SMS an adalah, WA bisa kirim foto seketika. Walaupun tergantung sinyal telekomunikasi dan paket internetnya juga sih. Provider juga masih gamang dengan adanya teknologi baru pergawaian ini.

Masih sedikit grup WA waktu itu, paling banyak hanya 30 anggota. Grup yang saya bentuk pertama adalah grup keluarga, anggotanya hanya 4 orang. Ya iyalah, hanya suami, dan 2 anak-anak saya, dan saya adminnya. Kemudian berkembang, teman-teman yang tadinya punya BB jadi ganti semua dengan gawai android, lalu membuat grup.

Aneka Grup WhatsApp

Dihitung-hitung saya sekarang terlibat dalam berbagai grup, grup keluarga inti, keluarga besar satu ayah-ibu, keluarga besar satu eyang, keluarga besar suami. Lalu grup sekolah, dari SMP, satu kelas SMA, dan grup kuliahan. Dikemudian hari, saya keluar dari grup SMP.

Grup kuliahan, ada yang sekampus seangkatan, ini pun terbagi grup umum dan grup khusus perempuan. Belakangan saya keluar dari grup umum, dan hanya tergabung dalam grup khusus perempuan. Lalu ada grup kuliahan yang satu angkatan, satu program studi, terbagi juga menjadi grup gabungan dan khusus perempuan. Ada pula grup satu program studi angkatan 70an, khusus perempuan. Berkali-kali saya dimasukkan ke dalam grup ini, berkali-kali pun saya keluar dari grup.

Kemudian ada grup dosen, berhubung saya mengajar di beberapa kampus, jadilah saya tergabung dalam grup dosen kampus A, kampus B, kampus C. Adapula yang membentuk grup untuk matakuliah tertentu, jadi grup Matakuliah X, Matakuliah Y, dan seterusnya. Khusus untuk grup Matakuliah, begitu selesai 1 semester dan sudah beres kewajiban dosen-dosennya, biasanya grup dibubarkan.

Pernah juga saya punya sidejob sebagai guru piano, jadilah kami para guru membentuk grup guru IM. Karena grup WA efektif sekali sebagai sarana komunikasi, maka pemilik kursus pun mendaulat diri masuk ke dalam grup sebagai media koordinasi. Setelah saya berhenti menjadi guru di situ, saya pun dikeluarkan dengan hormat dari grup. Pada suatu kesempatan kami para guru berencana jumpa darat untuk silaturahim dalam rangka halal bihalal setelah Lebaran, jadilah kami membentuk grup guru IM excluded sang Boss. Anggotanya semua semua guru perempuan yang aktif maupun mantan guru yang domisilinya sudah tersebar ke penjuru dunia.

Grup WhatsApp ini memang luar biasa, hampir semua komunitas lalu membuat grup terpisah. Ada grup penulis, grup blogger, grup jalan-jalan, grup 1minggu1cerita, grup heritage, dan lain-lain. Sekarang ini malahan dibentuk grup khusus dalam rangka reuni 40 tahun seangkatan kuliah.

Setiap media sosial pastilah ada sisi baik dan sisi buruk tergantung sudut pandang orang-orang yang terlibat di grup. Tentu saja sangat personal sifatnya, ada yang menurut anggota grup lain dianggap baik, ternyata tidak bagi anggota grup yang lain. Menurut saya baik atau buruknya sebagai berikut:

Sisi Baik

  • Informasi cepat. Tak sampai hitungan menit apalagi jam, berita dari berbagai media lain bisa langsung dishare di grup.
  • Jelas. Sangat jelas apalagi informasinya disertai foto. Boleh dibilang, WA sebagai media berbagi foto. Tak jarang, saya cuma modal berdiri di antara teman, maka foto bersama pun langsung di share ke grup.
  • Koordinasi. Untuk grup dengan jumlah anggota banyak, sangat efektif sebagai media untuk koordinasi. Di dunia kerja, grup WA seolah memangkas jalur birokrasi. Pimpinan tanpa harus membuat surat disposisi bisa langsung menugaskan bapak D atau ibu H untuk melaksanakan tugas QRS. Kurang nyamannya adalah, ternyata siapa saja bisa hallo-hallo ke siapapun anggota grup. Jadi tak ada lagi jenjang administrasi seperti di kantor. Petugas administrasi bisa dengan mudah menugaskan atau nyuruh sesuatu lah. Bagi orang-orang lama, senior citizen maksudnya, cara ini bisa dianggap tidak sopan. Istilahnya tidak ada unggah-ungguh. Apa mau dikata, di dunia yang serba cepat begini, mungkin tak ada waktu untuk sopan-sopanan.
  • Silaturahim. Berkat grup kita bisa silaturahim walaupun di dunia maya. Bisa update kondisi kekinian, baik dalam sehat maupun sakit. Dengan demikian, siapapun yang sempat dapat segera menyambangi bila anggota grup tertimpa musibah.

Sisi Buruk

  • Asal cemplung. Berbeda dengan BB yang ada notifikasi invite. Aplikasi WA asal punya nomor WA seseorang maka admin seolah berhak memasukkan seseorang dalam grupnya. Main cemplung grup tanpa persetujuan pemilik nomor waktu itu seolah sah-sah saja. Bahkan bila ternyata seseorang tadi ternyata tidak nyaman dengan grup tersebut lalu keluar dari grup, ternyata menjadi bahan omongan anggota grup tersebut. Lalu admin atau anggota lain akan japri, kenapa koq keluar dari grup. Belakangan, seolah ada etikanya terlebih dahulu, pemilik nomor WA akan dijapri, bersedia tidak gabung di grup XYZ. Menurut saya, ini lebih baik daripada asal cemplung.
  • Tak kenal. Tak kenal maka tak sayang bisa jadi membuat saya keluar dari beberapa grup yang saya dicemplungkan begitu saja. Saya perhatikan, ternyata grup-grup umum, misalnya se almamater kuliah. Zaman saya kuliah, seangkatan ada 1200. Tentu saja tak semua kenal. Atau grup SMP yang saya sudah lupa sebagian besar teman SMP. Hanya teman sebangku atau sekelas yang masih ingat.
  • Hoax. Begitu semangatnya berbagi, ternyata berita-berita yang dibagi adalah berita bohong, alias hoax. Celakanya teman yang share berita hoax tersebut malah marah bila ditegur, bahwa berita yang dishare adalah berita bohong. Alasannya, kan hanya share. Seolah yang bersangkutan lepas tanggungjawab ternyata melalui jari-jarinya, tanpa tabayyun dan cek recek terlebih dahulu, telah menyebarkan keburukan.
  • Bosan. Sering bukan, karena grupnya banyak, berita yang dibagi berulang dari satu grup ke grup lain. Pembaca jadi bosan, beritanya sama, dan memory penuh dengan puluhan foto atau meme.
  • Pamer. Sebetulnya sih, ini saya saja yang menganggapnya pamer. Apalagi teman-teman yang mampu bepergian ke tempat indah dan share foto-fotonya. Padahal bagi yang kirim-kirim foto, maksudnya berbagi kebahagiaan. Ya sudah, saya mendoakan saja supaya bahagia selalu. Lagipula, ada koq foto-fotonya yang saya simpan. Siapa tahu saya ada rizkinya bisa juga menyambangi tempat-tempat indah tersebut. Bukan hanya foto jalan-jalan, seringkali foto kala mantu, upacara dan ritual menjelang mantu, pelantikan menjabat sesuatu, dan lain-lain.
  • Tak bisa memilih. Sebetulnya ada pilihan, terutama foto, apakah bisa langsung terlihat atau harus diklik terlebih dahulu. Untuk video, saya mengaturnya harus klik terlebih dahulu. Bila dirasa videonya tak lucu atau tak manfaat, bisa langsung saya delete. Sering juga teman-teman share berbagai artikel, lelucon, penggalan ayat, hadis ataupun quote panjang dalam bentuk chat. Mohon maaf saya jarang sekali baca, akan saya scroll saja, atau clear chat. Belum lagi di masa pilkada DKI kemarin itu. Untungnya salah satu grup WA yang aktif, adminnya langsung menengahi bahwa grup tidak membahas politik dan SARA. Menjadi admin grup memang tidak mudah. Bahkan di Malaysia mulai marak berita, admin grup bisa saja dipenjara bila membiarkan anggota grupnya menyiarkan rasa kebencian dan perpecahan di masyarakat.

Itulah baik atau buruknya grup WhatsApp. Sebuah aplikasi media sosial yang maksimal anggotanya bisa mencapai 256 orang, dan penggunanya di seluruh dunia sudah lebih dari 1 milyar pengguna.
Tinggal kita sebagai pengguna pilih-pilih mana grup yang manfaat ataupun tidak. Bila dirasa kurang manfaat tak apa keluar grup dengan ringan. Ditilik lagi, ternyata grup-grup yang saya memutuskan untuk keluar, adalah grup-grup yang terlalu banyak anggotanya dan saya tak kenal akrab satu demi satu. Mungkin itu yang menyebabkan saya tak masalah diomongin di antara anggota grup, karena tak kenal akrab.
Jauh lebih penting sebetulnya teman dunia nyata dibandingkan teman dunia maya. Teman dunia nyata insyaAllah yang akan memandikan, mengafani, menyolatkan, dan menguburkan kita bila tiba saatnya meninggalkan semuanya.

 

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Pertama Aida, Serba-Serbi Grup WA”

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

7 Replies to “Grup WhatApps, Gaya Silaturahim via Langit”

  1. iya bu setuju positifnya emang bisa cepat nerima informasi sayangnya kadang infonya hoax capede hahaha..
    aku juga keluar dari group yang isinya beda banget sama kehidupan nyata. group WAku yg paling awet sama sahabat aja siy bu

  2. Saya juga punya banyak grub WA. Tapi cuman segelintir aja yang saya ikutin perkembangannya. Banyak ga kebaca karena hampir tiap menit ada aja yang masuk 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *