Kucing Hitam


cuma cerita / Rabu, Juni 7th, 2017

Telpon berdering.

“Iya besok kami akan ke lokasi” ujar Nina, istriku, sambil menelpon.
“Siapa?” kataku.
“Mas Bimo. Besok akan menunggu di rumah yang dia tawarkan ke kita” jawab Nina.
“Mudah-mudahan rumah itu seperti yang kita idam-idamkan yaaa Pah” sambung Nina lagi.
“Iya. Tapi kenapa yaa rumah itu sudah lama ditawarkan tapi tidak laku-laku” kataku lagi.
“Mungkin belum jodoh. Katanya rumah dan penghuninya itu seperti berjodoh” kata Nina, sambil melanjutkan memotong kuku dan mulai mencat satu demi satu.

“Ini kamar tidur utama. Ini kamar tidur anak-anak” kata Mas Bimo memperlihatkan kamar-kamar atas di rumah yang ditawarkan kepada kami.
“Waah. Dari jendela kamar tidur bisa melihat taman di seberang jalan. Bagus juga” kataku.
“Mari saya perlihatkan ruangan lainnya” lanjut Mas Bimo.
“Ini ruangan apa?” tanya Nina menatap sebuah ruangan yang terkunci di bawah tangga.
“Hmm…oleh pemilik lama dipakai sebagai tempat menyimpan sepatu. Sebentar saya bukakan” sahut Mas Bimo.
“Ssst…di dalam seperti ada suara kucing mengeong?” tanya Nina lagi.
“Mana? Aku tidak dengar apa-apa” kataku.
“Iyaaa…adaaa” jawab Nina lagi. “Cepat Mas dibuka. Sudah berapa lama dia terkunci di dalam?”

Mas Bimo membuka ruangan tersebut.

“Lihat. Tuh kan betul, ada kucing. Kucing hitam. Lucu Pah. Kasihaan kamu pasti terkunci” jerit Nina.
“Pah, ayo kita beli rumah ini. Aku suka rumah ini apalagi ada kucingnya. Kamu kan tahu aku suka kucing” pinta Nina.

Sudah lama aku dan Nina mengidamkan mempunyai rumah sendiri.
Sudah waktunya kami tidak tinggal lagi bersama orangtua Nina.
Rumah ini sesuai dengan harapan kami.
Tapi bagaimana mungkin? Aku tidak melihat seekor kucingpun.

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *