Nostalgia Hidangan Lebaran


lifestyle / Senin, Juni 12th, 2017
IMG_20160704_122035 copy copy
Kupat

Waktu saya kecil menjelang Idul Fitri biasanya diisi dengan menyiapkan berbagai pernak-pernik hidangan untuk Lebaran.
Ibu saya mempunyai tiga putri, sehingga tidak masalah dengan bala bantuan yang diperlukan, ditambah tentunya ART yang waktu itu lebih dari satu.
Hidangan yang kami siapkan selain menu standar untuk Lebaran, kupat dan teman-temannya, termasuk kue basah dan kue kering.
Bahkan Eyang saya yang waktu itu tinggal bersama kami, turut andil dengan keahlian beliau, yaitu membuat Manisan Kolang-kaling Warna-warni. Ada lagi menu andalan Eyang saya, yang ditunggu seluruh anggota keluarga besar, yaitu Petis Bumbon.

Ibu saya juga punya ketrampilan andalan, yaitu membuat Tape Ketan Warna-warni.
Kenapa warna-warni? Karena selain membuat tape ketan warna hijau standard, terbuat dari tumbukan daun suji.
Beliau juga membuatnya dalam warna pink unyu yang menyelerakan.
Tak ketinggalan, tape ketan hitam tentu saja.
Seingat saya, menyiapkannya penuh kehati-hatian. Aronan ketan ditempatkan di tampah beralaskan daun pisang. Dalam keadaan hangat-hangat kuku, ditaburi ragi. Alas daun pisang dilipat, kemudian bersama seluruh isinya diperap dalam panci. Selama beberapa hari disimpan di tempat gelap.

Dulu belum seramai sekarang, banyak ibu rumah tangga berbisnis cake dan kue kering. Sehingga generasi saya dan di bawah saya, penganan lebaran tinggal tunjuk di toko. Atau membeli dari teman yang jualan kue hanya dibulan Ramadan.
Dulu, kami membuat cake dan kue kering sendiri. Ibu saya pandai menugaskan kami putri-putrinya ini.
Kakak saya kebagian menimbang bahan-bahan kue. Saya bagian mengadon dan mixer.
Sedangkan adik saya, khusus kue kering, bagian mencetak.
Kalau cake, dia bagian mengolesi loyang dengan margarin lalu ditaburi tepung. Nah, ibu saya bagian memanggang.
Ayah dan adik laki saya? Bagian mencicipi.

Menu kue kering sih, biasanya kue kering coklat dan kaas stengel tradisi itu. Hampir di semua rumah, ada kue kering kaas stengel ini bukan? Kemudian resep cake favorit ibu saya adalah Fancy Cake.

Kenapa sih heboh banget, Ibu saya memasak berbagai hidangan utama, pelengkap dan penunjang tersebut?
Ibu saya anak sulung, sehingga di hari Lebaran menjadi tempat utama yang dikunjungi sanak saudara di Jakarta.
Biasanya acara silaturahim ini pun dibarengi dengan acara arisan keluarga.
Kemudian ayah saya waktu masih aktif di Angkatan Darat, adalah komandan dikesatuannya.
Jadilah, anak buah bila silaturahim Idul Fitri, datang memakai truk tentara.
Saya ingat betul, kira-kira dua malam menjelang Idul Fitri, kami sibuk mengisi cangkang kupat, entah berapa puluh.
Bukan hanya kupat, tetapi lontong juga. Sekian puluh selongsong kupat diisi dengan beras yang sudah dicuci bersih.
Sesudahnya adalah memasaknya kurang-lebih tiga jam dalam dandang besar.
Nanti di hari H, kami memotong kupat lontong tersebut dalam bite size, sehingga para tamu tinggal menyantapnya tanpa repot.

Saya agak-agak suka memasak. Maksudnya tidak piawai banget, sih, tetapi tidak alergi dapur juga. Jadi saya punya beberapa catatan resep yang saya catat sejak SMA. Saya catat di buku kecil, yang sekarang jelas sudah mirip artefak, saking kumalnya. Ada resep andalan Eyang saya, Mertua, Ibu, catatan acara memasak dari TV, guntingan koran, atau bungkus kaleng susu dan keju. Iya, dulu, kan belum ada google search aneka resep, atau Cookpad andalan itu.
Apa saja yang menjadi hidangan Lebaran di keluarga kami?

Hidangan utama:
Lontong dan kupat
Gulai Kambing
Opor Ayam
Sambal goreng Hati Sapi
Sayur Lodeh
Petis Bumbon
Bubuk Kedelai
Sambal
Kerupuk Udang

Hidangan Pelengkap:
Fancy Cake
Kue Kering
Kolang-kaling Warna-Warni
Take Ketan Warna-Warni

Ketika saya sudah berkeluarga dan hidup terpisah di kota Bandung, apakah tradisi hidangan Lebaran tersebut saya pertahankan?
Nanti dulu.
Pertama, waktu itu anak-anak masih kecil.
Kedua, tidak ada tenaga bantuan. Karena ART sudah mudik beberapa hari sebelum Lebaran.
Ketiga, kami selalu bepergian ke orangtua atau sanak-saudara di hari Lebaran tersebut.
Jadi untuk apa repot-repot memasak segala hidangan Lebaran tersebut?

Sekian puluh tahun berumah tangga, mungkin hanya dua kali saya pernah memasak kupat dan teman-temannya.
Setelah anak-anak menikah, barulah dua tahun terakhir saya mulai tradisi memasak hidangan Lebaran. Tentu saja disesuaikan dengan keterbatasan tenaga yang ada. Dan dimasak secukupnya saja, tidak berlebihan hingga berhari-hari menyantap hidangan penuh santan. Paling saya membuat kupat, mungkin hanya 10 atau 20 kupat saja.
Memasak memakai panci presto, singkat padat, hemat energi, hanya perlu waktu 45 menit saja.
Lauknya Opor Ayam.
Terimakasih bumbu instan.
Walaupun banyak yang mengatakan bumbu diulek sendiri lebih sehat dan lezat.
Kalau adanya Opor Ayam Bumbu Instan, ya, lezat-lezat saja lah.
Kemudian Petis Bumbon andalan, resep warisan Eyang saya.
Hidangan penutupnya, Stup Aneka Buah yang dimasak dengan kayu manis.

Nah, inilah hidangan keluarga kami.
Menu andalan keluarga kalian apa saja?

“artikel ini diikutkan dalam GiveAway http://www.noviadomi.com”

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

6 Replies to “Nostalgia Hidangan Lebaran”

    1. Iya…menggugah selera. Kuncinya pada pewarnaan pada waktu beras direndam. Aih…ini mah saya mengamati Mama saya. Saya sendiri belum pernah coba bikin. Takut gagal…

  1. Petis bumbonnya bikin penasaran sama fancy cake. Kalau gulai kambing bukan khas kota saya pas lebaran idul fitri tapi lebaran haji iya, hehehe ya iyalah ya

    1. Karena sekalian arisan keluarga Mbak Wida. Wah kalau kumpul bisa puluhan orang. Lagipula, seringnya cara potluck, tiap keluarga bawa menu andalan masing-masing. Makasih ya sudah berkunjung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *