Pertanyaan Tiap Hari


cuma cerita / Minggu, September 10th, 2017

Pertanyaan akan selalu muncul di benak kita. Tiap hari, tiap pagi, bahkan tiap malam sebelum tidur.
Pertanyaan seringkali disertai dengan jawaban.
Adakalanya jawaban sertamerta bisa diperoleh. Seringkali jawaban tidak kita peroleh secara langsung, bahkan bisa saja, sebetulnya sudah dijawab, tetapi kita tidak menyadari jawaban itu ada.

Ke mana?

Dalam keluarga saya ada pertanyaan tiap hari yang saling kami tanyakan satu sama lain, bisa tiap pagi, atau malam sebelumnya, atau beberapa hari sebelumnya.
Ini nih pertanyaannya:
“Ibu ke mana besok?”
“Bapak ke mana besok?”

Pertanyaan sederhana yang ditanyakan malam sebelumnya, belum dijamin bahwa besoknya, yang tadi malam tanya akan ingat jawabannya.
Bisa jadi, besok akan tanya, pertanyaan yang sama.
“Ibu hari ini ke mana?”
“Bapak hari ini ngajar ya?”

Begitulah, karena sekarang saya tinggal berdua saja dengan suami.
Kenapa pertanyaan tersebut perlu ditanyakan ke saya tiap hari, mungkin karena saya perempuan wira-wiri, mobile. Bisa nyupir mobil sendiri, bisa naik angkot, bisa naik taksi online, atau akhir-akhir ini karena murmer dan cepat, naik ojek online.

Perjalanan nasib membawa kami di usia senja ini sama-sama menjadi dosen, walau di kampus yang berbeda. Saya mengajar di sebuah PTS yang mahasiswanya tidak banyak. Berhubung masih sempat juga mengajar di perguruan tinggi lain sebagai dosen tidak tetap, membuat saya harus wira-wiri dari satu kampus ke kampus lain. Adakalanya satu hari dalam seminggu, saya justru mengajar di kampus yang sama dengan suami.
Sedangkan suami mengajar di sebuah PTS besar yang jam kerjanya ketat, sehingga boleh dibilang tidak bisa beranjak dari ruangan, kecuali pas jam mengajar dan jam istirahat.

Makanya pertanyaan “Ibu ke mana besok?” atau “Kemana hari ini?” perlu banget ditanyakan. Urusannya dengan efektifitas transportasi. Kalau pas hari saya mengajar di kampus suami, ya kami bisa berangkat bareng, pulang bareng, bukan.
Kenapa juga saya dan suami tidak hafal sih jam mengajar kami masing-masing. Tiap semester jam mengajar sering berbeda tergantung dari kebijakan bagian ruangan kelas yang mengatur sebaran jumlah mahasiswa, kesediaan dosen, dan jumlah ruangan.
Lagian ngapain dihafal, tiap hari saja tanya, besok mau kemana?

Ada lagi yang juga akan menanyakan “Ibu ke mana besok?” atau “Ibu ke mana hari…?”.
Apsaras, putri saya, juga sering menanyakan pertanyaan di atas.
Kenapa? Kaitannya dengan titip asuh Bara, cucu saya.
Zaman sekarang sulit bukan main mencari ART atau pengasuh. Kalaupun ada, begitu tahu keluarga yang bersangkutan ada anak kecil, langsung calon ART mundur teratur. Mereka tidak mau pusing membantu mengasuh. Bahkan job desknya pun mereka yang menentukan, maunya hanya cuci dan setrika. Ogah memasak, boro-boro turut mengasuh balita penjelajah.
Nah, sehubungan putri saya dan suaminya freelancer, dan juga mengajar. Klop kan, pertanyaan “Ibu ke mana hari ini” penting banget.

Bisa saja seperti cerita-cerita Mamah baperan yang enak saja komen, bahwa ibu ya di rumah, yang mencari nafkah suami. Padahal ya sepanjang saya puluhan tahun rumah tangga, rizki itu bisa datangnya melalui istri juga kok. Ya tidak apa-apa juga, istri mencari nafkah di luar rumah.
Kalau dibandingkan antara teman-teman seangkatan sekolah yang akhirnya jadi stay at home Mom atau working Mom, tidak ada bedanya tuh dengan tingkat keberhasilan anak-anak mereka. Si L, yang stay at home Mom, anaknya sekolahnya bagus, mendapat kerja di kantor keren. Si M, yang dulu kerja di bank sampai pensiun, anaknya tiga, sekolahnya di PTN, dapat kerja juga bagus-bagus saja.

Zaman saya dulu mulai aktif berkiprah di luar rumah, belum ada internet, termasuk Mbah Google yang bisa ditanya apa saja, dan langsung mendapatkan jawaban. Bedanya lagi, dulu ada ART, dua malah, mentang-mentang anak saya dua. Oleh sebab itu dengan adanya daycare, membantu banget bagi keluarga tanpa ART seperti keluarga kami. Tetapi kami sudah memutuskan, Bara tidak dititipkan tiap hari di daycare. Daycare masih menjadi solusi darurat saja, ketika tidak ada seorang pun dari kami bertiga (Mama, Papa, Yang-Utinya Bara) yang bisa stay at home.
Urusan titip-menitip Bara di daycare, ceritanya berlanjut ke teknis menitipkan Bara. Siapa yang akan mengantar, dan siapa yang akan menjemput.

Masak Apa?

Nah, pertanyaan yang ada jawabannya sudah ditanya tiap malam.
“Besok Ibu mau ke mana?”
Sepertinya pertanyaan ini lebih cepat menjawabnya daripada saya ditanya “Besok masak apa?”

Pertanyaan “Besok masak apa?” belum bisa langsung saya jawab, karena tergantung, di lemari es ada bahan-bahan apa saja. Mang Sayur yang biasa mangkal di gang, belum tahu, besok membawa bahan-bahan apa saja. Kemudian yang lebih penting, besok itu saya malas memasak atau tidak.
Bukan, bukan malas…tapi, sempat memasak atau tidak. Adakalanya tidak sempat memasak.
Jawabannya sudah ada sih itu, tinggal telpon ke restoran langganan yang bisa pesan-antar.

Nah, pertanyaan apa yang ditanyakan orang-orang di rumah ke teman-teman tiap malam atau tiap pagi?

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

6 Replies to “Pertanyaan Tiap Hari”

  1. suamiku karena ke kantor bekal makan siang jadi tiap pagi selalu nanya bun masak apa?atau nanya bun makan sama apa?hayu weh begitu padahal tiap pagi dia menyaksikan aku masak hahahaha suka lucu klo pas suami nanya begini 😁
    btw enaknya pny yang uti kyk ibu bisa dititipin incu aku skrg sama kyk ibu bekerja diluar rumah anakku sama pembantu 😁

    1. Wah sehat tuh, bawa bekal dari rumah. Kayaknya suami otomatis aja yah tanya tiap hari, ntar siang makan sama apa.
      Ya gpp kalau pembantunya bisa dipercaya menemani putrinya. Kami belum punya uy atau belum nyari yah. Yaw dah gantian aja ikutan mengasuh…

  2. Anak saya produk.daycare dari umur 11bulan hingga kini 6 tahun. Alhamdulillah sehat dan pintar. Setiap hal punya sisi cerita berbeda ya, Bu Hani.
    Salam sukses 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *