Apa Me Time Pasanganmu?


lifestyle / Sabtu, Desember 9th, 2017

 

Sesuai dengan tema di 1minggu1cerita, kali ini mengangkat tema tentang Me Time. Sebetulnya saya sudah pernah menulis tentang Me Time di blog ini dan di portal ini. Jadi rada bosan sebetulnya, kok me time lagi me time lagi tulisannya. Memang sih mamah-mamah muda atau ibu bekerja kantoran yang putra-putrinya masih balita, sulit banget cari waktu untuk Me Time. Makanya tema Me Time jadi tulisan tak ada hentinya karena model dan kesempatannya tiap orang akan berbeda dan unik.

Nah, sejak saya cuma tinggal berdua suami doang, rasanya Me Time saya jadi banyak banget pilihannya. Sudah tidak mengurus anak, memasak seringnya beli di kantin kampus, dan beres-beres rumah ala kadarnya. Walaupun demikian saya berpikir ulang kembali, sebab saya hanya berdua suami itu, masih perlukah Me Time? Tidak seperti mamah yang putra balitanya brinyit, bahkan selonjoran minum teh pun tak sempat. Lah saya, mau selonjoran sepanjang sore sampai ketiduran di sofa ya tidak ada yang tanya.
Karena apa? Ya karena suami belum pulang dari kantor.

Nah ini dia. Akhir-akhir ini suami bila pulang dari kantor terlihat lelah dan baeut (cemberut, bahasa Sunda). Kalau istri melihat suami manyun, tentulah langsung siaga. Boro-boro bisa leyeh-leyeh di sofa. Minimal tawarkan dan siapkan segelas teh panas manis bukan?
Jadi, dipikir-pikir supaya rumah tenteram, ternyata yang perlu Me Time itu sang Suami. Dengan dia punya Me Time, ya saya tenang tenteram, bisa Me Time pula dengan berbagai pilihan Me Time ala saya.

Apa sih Me Time pasangan di rumah?

Pengertian Me Time sepengetahuan saya adalah waktu untuk diri sendiri. Diluar pekerjaan kantor atau urusan rumah tangga. Sejak kami tak punya ART, suami bahu membahu mengerjakan urusan rumah juga. Kadang gantian mencuci baju atau mencuci piring. Apalagi urusan genting bocor, yang cek naik ke atap puguh suami kan. Mosok saya. Kira-kira ini nih Me Time nya suami.

1. Archery

Ini bukan ikut-ikutan yang sekarang banyak dilakukan di halaman masjid di komplek-kompleks lho ya. Waktu mahasiswa, suami saya (waktu itu ya belum jadi suami lah ya) ikut unit kegiatan Panahan di kampus. Lumayan ada tiga tahun ikut latihan di kampus setiap hari Minggu dan sempat melatih adik-adik angkatan yang berminat. Setelah itu, suami gantung busur selama puluhan tahun.

Nah, sejak setahun belakangan ini, busur bambu yang ada di atas lemari kok diturunkan dan dirawat supaya lentur kembali. Lalu dia mulai latihan memanah di halaman belakang.
Ajaibnya, busur bambu itu ternyata awet banget, hanya diuapkan di dandang, bisa lentur dan berfungsi kembali. Lalu dia mengajak teman sesama dosen di kampus yang mempunyai minat sama, latihan di lapangan di kampus.
Lalu, browsing lah beliau berbagai model busur, dan berbagai anak panah dari berbagai toko online. Dari negeri China sampai ke pelosok Klaten. Sampai-sampai bikin sendiri anak panah, dengan menempeli anak panah dari bambu dengan bulu bebek di ekor anak panah. Beli juga ujung anak panah terbuat dari logam, nanti dirakit dengan rautan batang bambu. Taraa, jadilah anak panah. Kenapa sampai bela-belain membuat sendiri anak panah? Karena anak panah itu sering patah. Boleh dibilang anak panah itu barang habis.

Pokoknya Mas-mas dari ekspedisi toko online sampai hafal, si Bapak no 14 langganan beli berbagai perlengkapan Archery. Mas-masnya ya pakai kepo segala dan baca isi paket. Soalnya kalau kirimannya busur kan ukurannya besar, memang bikin kepo sih. Jangan tanya berapa koleksi busurnya yah. Ada yang terbuat dari fiber, busur model Hongaria, busur yang ada penyeimbangnya entah apa namanya, dan lain-lain. Harga belinya pun saya tak mau tahu.

Ketika suami mendapat tawaran mengajar sebagai dosen tamu di Solo, mengajak saya ke belakang Taman Sriwedari. Ternyata ada seorang bapak sepuh, dulu adalah juara PON untuk cabang Memanah Tradisional. Nah, kan, bisa-bisanya suami tahu ada ahli panah-memanah termasuk membuat dan menjual busur panah tradisional.
Bedanya apa panah tradisional dan internasional?

Memanah tradisional, sering disebut gaya Mataraman, itu cara memanahnya sambil sila di atas tikar atau dingklik kecil. Jenis busur dan teknik memanahnya pun beda. Disebut Mataraman, karena sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram. Nama lainnya disebut juga gaya Jemparingan.
Biasanya busurnya custom, alias dibuat untuk yang bersangkutan. Menurut bapak Popop, sang maestro, panjang busur harus setinggi orangnya. Jadilah suami pesan busur ke beliau. Busurnya pun ada yang utuh, ada yang knock down. Berhubung ada yang ready stock, jadilah suami membawa pulang busur plus seperangkat belasan anak panah. Dan saya kebagian membawanya ke dalam kereta api ketika pulang ke Bandung.

2. Berkebun

Di halaman rumah saya ada berbagai jenis anggrek, mawar, melati, kemboja Jepang, pohon kamboja bunga pink dan kuning. Dan berbagai bunga-bunga lainnya, termasuk lotus yang kalau mekar besar banget. Tanaman bumbu dapur dan herbal ada juga, dari mulai pohon salam, jeruk purut, sirih, hingga pandan dan daun suji. Bukan, bukan saya yang menanam. Suami saya green thumb dari ibu mertua. Tetangga yang memuji bunga yang bermekaran sudah tahu sih, bukan hasil kerja saya berkebun. Karena memang kelihatan nyata-nyata suami yang jongkok dukir-dukir di akhir pekan. Waktu harga cabai mahal sekali sampai Rp 100ribu per kilogram itu, ada dua pohon cengek domba (cabai rawit besar) buahnya bergelantungan bikin ngiler tetangga. Mau makan tahu goreng tinggal petik cengeknya dari halaman depan.

 

Lotus putih. Sekarang yang mekar pink, tapi belum difoto.

3. Nukang dan Mbengkel

Kalau saya termasuk Emak-emak yang cukup rajin, bisa menjahit dan bikin kue, suami juga suka bikin-bikin. Peralatan handy man nya lumayan sih. Ada alat bor listrik lengkap dengan ampelasnya. Berbagai alat-alat pertukangan sederhana dan alat-alat mobil. Ada kotak khusus untuk obeng, tang, berbagai ukuran kunci Inggris, dan lain-lain. Bahkan kompresor untuk mengukur tekanan ban dan dongkrak mulut buaya pun ada. Kadang-kadang suami uplek-uplek entah bikin apa, atau memperbaiki hal-hal kecil di rumah. Atau, seperti hari Minggu kemarin, membuka semua ban mobil untuk diberi oli.

4. Reunian

Sama sih dengan saya, kadang-kadang Me Time kita itu kan reunian. Kalau saya reuniannya paling teman sekelas SMA atau teman kuliah. Suami bisa tuh reunian teman TK, SD, SMP dan SMA. Masih ingat teman-teman TK dan SD zaman di Malang. Bahkan berkunjung ke SD yang sudah tutup, menyisakan bangunan tua tak terawat. Biasalah lalu foto-foto bersama para Eyang yang masih ceria itu. Reuni SMP bahkan mendatangkan guru dari negeri Belanda, yang tinggal bersama anaknya di Belanda sana.

5. Tidur

Kalau suami sudah Me Time yang satu ini dan suaranya terdengar sampai ke ruang makan. Maka tibalah saya menikmati Me Time saya juga, yang banyak pilihan tadi.

Tuh kan, ternyata bisa-bisanya saya Me Time sebetulnya ya tergantung pasangan di rumah memberi kesempatan Me Time atau tidak. Bagus banget bila pasangan kita juga punya hobby atau kesenangan untuk Me Time. Dengan pasangan punya waktu Me Time dan hati lega tidak baeut, otomatis memberi aura positif dalam rumah. Lalu istri bisa dengan tenang Me Time juga.
Sukur-sukur jalan-jalan ke Mall, lalu saya dibelikan sesuatu atau pergi ke restoran makan berdua.
Ini sih We Time.

Nah, apa coba Me Time pasanganmu?

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

14 Replies to “Apa Me Time Pasanganmu?”

    1. Nah unik itu. Kalau 90% cowok-cowok di dunia suka bola, suami saya itu termasuk yang 10%. Orang ngomongin tanding bola besoknya di kantor sampai begadang-begadang. Suami tiduuurrr. Hehe…

  1. Lolah… jd inget ga ikut setor tema ini. 😷 wkwkwk. Btw me time nya banyak dan serrruuu2 yaaa… ak jd penasaran sm yg archery itu. Kayaknya sulit2 susah pakeknya y mba.

    1. Wallaikumsalam. Lhaah…suami saya pernah demam pelihara burung juga. Perkutut dan jalak. Kemudian waktu itu ada kejadian flu burung kan. Jadi deh…bubar. Burung2nya dikasih-kasihkan atau dijualin…Ga enaknya hobby pelihara burung. Kami kepikiran kalau mau keluar kota…

  2. aku pengen banget belajar archery bu, tapi itu ya bu mesti kenceng budget buat anak panahnya. Takut pingsna ya bu tahu harganya 😀 tap Hebat bapak bisa juga bikin sendiri hehehe..

    Beli online lumayan juga ya bu sampe dihapal kurirnya :p

    1. Iya betul. Anak panah ada yg dari bambu (ada yg murah), ada yg fiber buatan LN. Anak panah siap-siap patah atau melesat ke mana, hilang. Makanya suami bela-belain bikin deh. Dijual pula part nya terpisah. Hihi…ini bisa cerita karena merhatiin doang. Belum pernah nyoba sekalipun…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *