Tips Langkah-langkah Menulis Buku Nonfiksi

Dari sekian buku-buku solo maupun kolaborasi yang saya tulis, ternyata lebih banyak buku-buku nonfiksi. Sepertinya saya lebih mudah menulis nonfiksi daripada fiksi. Sedangkan beberapa teman saya ternyata lebih mengalir menulis kisah fiksi. Alasannya, gampang, tinggal ngarang. Walaupun saya yakin, menulis fiksi bukan melulu soal ngarang, pastinya ada panduan dan ketentuannya.
Orang lain mah gampang, ngarang. Kok, saya kesulitan mencari kata-kata untuk menulis fiksi, walaupun hanya setingkat cerpen atau dongeng anak.

Mana yang lebih mudah, apakah nonfiksi atau fiksi. Menurut saya tergantung minat si Penulisnya.
Penulisan nonfiksi sendiri banyak ragamnya. Karya ilmiah, laporan penelitian, skripsi hingga disertasi termasuk dalam karya nonfiksi. Begitu pula artikel, opini, kritik, biografi, buku ketrampilan hingga buku resep termasuk karya nonfiksi juga. Pada dasarnya tulisan nonfiksi adalah karya yang berdasarkan fakta. Oleh sebab itu dalam penulisannya tidak boleh sembarangan dan ngarang-ngarang.
Karena buku nonfiksi yang saya tulis tujuannya adalah sebagai buku populer, tentunya ada gaya penulisan yang berbeda dengan ketika kita menulis buku karya ilmiah.

Langkah-langkah Mulai Menulis Buku Nonfiksi

1. Tema dan Ide

Mana yang lebih dahulu, tema atau ide? Kadang-kadang ide terlebih dahulu. Bisa jadi minat pada tema penulisan tertentu yang mengarah untuk menggali ide lebih dalam.
Beberapa tema yang bisa diangkat untuk penulisan adalah: Parenting, Pendidikan, Karier, Motivasi dan Kisah Inspiratif. Kemudian, tema Psikologi, Traveling, Bisnis dan Keuangan. Sekarang berkembang pula buku-buku dengan tema Kesehatan dan Resep-resep.
Tema yang dipilih sebaiknya tema yang betul-betul dikuasai. Karena akan lebih mudah menulis yang dikuasai daripada menulis hal sama sekali baru. Itu sebabnya buku yang saya tulis seputaran parenting, arsitektur, senirupa, interior, piano, dan kesehatan. Karena sehari-hari dunia saya sekitar itu.

 

buku solo dan kolaborasi

 

2. Membandingkan Buku Sejenis

Bila sudah menentukan tema yang diminati. Misalnya tema Parenting. Maka segeralah ke toko buku terdekat untuk menggali tema Parenting seperti apa yang akan ditulis. Parenting atau pola pengasuhan anak, tergantung usia. Buku untuk usia balita, usia pra remaja, remaja, dan dewasa muda akan sangat berbeda penulisannya.
Minimal 5 atau 6 buku parenting harus dibaca terlebih dahulu. Dari sana, tentukan apa yang akan kita tulis. Sebaiknya kita bisa mengisi atau menulis sesuatu yang baru, di buku lain belum ada.
Untuk brainstorming, tulislah 25 hingga 30 alternatif judul atau tema bayangan.
Pilih, dan persempit menjadi 5 tema bayangan.

Jangan lupa, sejak awal kita harus menentukan target pasar buku yang akan ditulis. Artinya buku tersebut akan dibaca oleh pembaca dewasa, remaja, kelompok gender tertentu, atau anak-anak. Hal ini penting, karena berkaitan dengan gaya penulisan.

3. Sumber Pustaka

Sebelum menulis, biasakan banyak membaca. Kemudian cantumkan sumber pustaka sebagai penguat. Ibaratnya segala sesuatu yang kita tulis di buku merupakan hasil penelitian sederhana.
Tidak dilarang mencari sumber referensi dari internet. Tetapi editor akan selalu meminta sumber referensi dari buku dan atau e-book.

4. Membuat Mind Mapping

Saya terbisa membuat mind mapping sebelum membuat kerangka penulisan. Melalui mind mapping saya dapat bebas mengembara mencari pokok pembasaan yang akan saya tulis.
Banyak contoh dan buku khusus tentang mindmapping ini.

5. Membuat Outline/ Kerangka Penulisan

Biasanya mindmapping merupakan dasar untuk menyusunnya menjadi butir-butir kerangka buku saya.
Saya pernah menuliskannya di sini.

Dari Mind Map ke Daftar Isi

6. Gaya Menulis

Setiap penulis mempunyai gaya dalam menulis. Memang perlu waktu, tetapi bukannya tidak mungkin. Gaya bahasa juga penting dalam menulis buku nonfiksi populer. Lebih disukai adalah gaya bahasa yang ringan, mengalir, dan tidak menggurui. Apabila menulis buku untuk remaja atau golongan pembaca yang lebih muda, dapat memakai kata sapa sesekali.

7. Membuat Jadwal

Standar naskah buku tebalnya 120 – 150 halaman, ukuran A4, karakter huruf TNR 12. Untuk itu perlu disiplin menulis buku setiap hari, dengan membuat jadwal. Ada waktu-waktu di mana seseorang lebih mengalir menulis kata demi kata, misalnya malam hari atau sesudah subuh. Tempat menulis pun seringkali berpengaruh, apakah tempat sepi atau ramai.
Kalau kita bisa rutin menulis 4 halaman saja tiap hari, maka naskah buku bisa selesai dalam waktu 30 hari, bukan.

8. Self Editing

Jangan takut salah ketika akan menulis. Jangan pula bolak-balik menghapus apa yang telah kita tulis. Tetap lah menulis sampai naskah selesai, kemudian lakukan self editing.
Self editing perlu untuk mengetahui kesalahan sekecil apapun. Bila memakai Word, pakailah fasilitas References, karena langsung menyusunnya dalam daftar isi. Sehingga memudahkan dalam menulis bab demi bab, atau sub bab demi sub bab.

9. Mengirimkan Naskah

Beberapa penerbit menerima naskah jadi, tetapi ada pula penerbit yang menerima outline. Setelah outline diterima dan penulis mendapatkan SPK (surat perintah kerja), barulah naskah tersebut ditulis. Risiko mulai menulis ketika masih outline adalah kita dikejar tenggat waktu (deadline). Tetapi keuntungannya kita sudah setengah yakin bahwa buku yang ditulis akan diterbitkan.

Bedanya dengan penerbit yang menerima naskah jadi. Setelah kita mengirimkan naskah ke penerbit, harus menunggu beberapa waktu sampai mendapat berita, naskah diterima atau tidak. Bila ditolak, kita harus berbesar hati untuk mencari penerbit lain yang pas.
Intinya adalah kita tidak boleh putus asa ketika naskah ditolak oleh satu penerbit.

Nah, inilah langkah-langkah menulis buku nonfiksi yang selama ini saya alami.

Ada pengalaman lain kah dari teman-teman bloger?

 

Sumber:
https://id.wikihow.com/Menulis-Buku-Nonfiksi#Menulis_Buku_Nonfiksi_sub
http://www.stilettobook.com/menulis-nonfiksi-bagaimana-memulainya.html
https://writhink.wordpress.com/2011/01/07/tips-langkah-awal-menulis-buku-non-fiksi/

10 pemikiran pada “Tips Langkah-langkah Menulis Buku Nonfiksi”

  1. Saya br belajar nulis non fiksi. Tapi msh bingung menentukan pokok pikiran2. Apa memang penting ya mbak. Sblm menulis di tentulan dulu pokok pikirannya

    • Halo mbak Ike. Buku non fiksi banyak. Mb Ike mo menulis temanya apa? Tentukan dulu aja temanya. Kemudian lingkup pembacanya siapa? Nah, dari sini bisa mulai menyusun kerangka penulisan.

Tinggalkan komentar

Site Protection is enabled by using WP Site Protector from Exattosoft.com