Menulis Mengubah Hidup Jadi Asyik


lifestyle / Jumat, Maret 9th, 2018

Pada dasarnya mungkin saya agak-agak suka menulis. Sepanjang ingatan yang sudah lewat setengah abad ini, waktu SD saya suka pelajaran mengarang. Ujian SD zaman saya, hanya 3 mata pelajaran yang diujikan, Bahasa Indonesia, Berhitung, dan Pengetahuan Umum. Bahasa Indonesia dan Pengetahuan Umum, nilainya 9 di ijazah. Seingat saya, waktu itu ujiannya ya Mengarang.

Ketika SMA dan mahasiswa saya mempunyai diary, buku harian. Buku hariannya kecil dengan desain bisa dikunci. Tak percaya hanya pada kunci, saya pun menulis buku harian tersebut dalam tulisan rahasia. Saya melihatnya di buku sejarah, tentang aksara paku bangsa Sumeria. Terniat sangat saya itu. Maklumlah ABG. Dari dulu sampai sekarang, ABG memang aneh.
Buku harian tersebut masih saya simpan sampai sekarang, walaupun saya tidak mengerti lagi apa yang saya tulis. Karena saya sudah lupa padanan aksara per aksara dengan huruf Romawi.

Asyiknya Menulis Buku

Selanjutnya mungkin sibuk kuliah, mengerjakan tugas, lulus kuliah, membentuk keluarga, kerja, lanjut studi, dan mengajar. Urusan menulis lebih banyak tulisan artikel ilmiah, jurnal, dan hal-hal yang mengarah untuk naik jabatan akademik di kampus.

Ketika kuliah S2, salah satu matakuliahnya kalau tidak salah adalah Kritik Arsitektur. Oleh dosen kami waktu itu, beliau menugaskan menelaah arsitek Indonesia untuk diteliti mulai dari konsep hingga wujud karyanya. Belajar dari kakak angkatan yang menuliskan tentang Soejoedi, arsitek Gedung MPR/DPR dan Gedung ASEAN, kami mengangkat F.Silaban.
Di kemudian hari, hasil penelitian kami dibukukan dengan judul Konsep dan Karya F. Silaban, diterbitkan oleh Penerbit Nova. Itulah pengalaman nama saya tercantum sebagai penulis buku, walaupun masih berupa buku kolaborasi.

Di kemudian hari, lama, lama dan lama berselang, barulah 4 tahun terakhir ini saya mulai menulis buku. Buku solo saya pun terbit di tahun 2014 yang lalu. Sinopsis buku solo pertama saya ada di sini.
Rupanya saya lebih mudah menulis buku non fiksi, sehingga beberapa buku solo lain menyusul terbit. Sebagian besar memang buku pesanan penerbit. Cara tersebut lebih mudah bagi saya, menulis berdasarkan pesanan. Daripada saya capek-capek menulis lalu menawarkan ke penerbit, yang kemungkinan besar ditolak bila tak sesuai trend pasar.

Selain buku solo, beberapa kali saya juga bersama teman, bahkan dengan anak, menyusun buku kolaborasi. Ada yang buku interior, buku musik, buku piano bergambar, dan yang menjelang terbit adalah buku tentang Menggendong dan Membedong Bayi.
Menulis buku antologi pun saya jajagi. Asyik saja, menulis antologi, karena hanya dengan 1000 kata saya bisa kontribusi untuk menulis buku. Walaupun, bila pesertanya cukup banyak, saya cukup lelah membaca kisah-kisah pendek seperti itu. Salah satu antologi yang juga menjelang terbit adalah antologinya 1 minggu 1 cerita. Ini pertama kali saya berusaha menulis kisah fiksi, berupa cerpen.

Asyik atau tidak kisah saya, itu soal lain. Menulis dan proses mengarang fiksinya yang mengasyikkan. Ternyata membuat saya berpikir keras.

Asyiknya Menulis Blog

Kira-kira tahun 2006, anak perempuan saya membuat blog, dan menulis secara rutin. Darinya saya tertarik pula untuk ngeblog. Malah berbagai platform saya buat. Mula-mula di Multiply, saya membuat blog untuk rame-rame di alumni seangkatan Arsitektur. Ada salah seorang teman, Wina, yang juga suka menulis. Jadilah kami gantian mengisi blog tersebut, termasuk semua kegiatan reuni, dan foto-foto jalan-jalan. Sayangnya Wina wafat karena kanker hati, dan kemudian Multiply tutup. Tapi Multiply tersebut sempat saya pindahkan semuanya ke Blogspot. Selanjutnya Blogspot ini menjadi blog khusus jalan-jalan saya, walaupun akhir-akhir ini jarang diupdate.

Ini blog jalan-jalan saya Gallery Teratiga

Asyiknya ngeblog itu tidak ada editor, editornya ya diri sendiri. Templatenya seru. Sebelum saya tahu bahwa sering mengubah template membuat google search seperti kehilangan jejak blog kita. Saya sering banget gonta-ganti template.

Masih ada blog-blog lain saya yang saya tulis di template wordpress dan tumblr. Lagi-lagi, mungkin karena template gratisan saya tidak rutin mengupdate. Malah untuk yang tumblr, saya link saja ke blog saya yang selfhosted. Dengan harapan, kalau saya tidak memperpanjang domain, tulisan saya masih melayang-layang di langit.

Asyiknya Blog yang Menghasilkan

Ketika buku-buku saya terbit dan tayang di lini masa FB saya, seorang teman zaman kos, komentar, bahwa saya menulis untuk persiapan pensiun. Memang sih, teman-teman satu demi satu sudah mulai pensiun. Ada yang siap, ada yang happy, ada yang sakit, ada yang biasa saja. Kami mulai mengabsen, satu demi satu teman siapa saja yang mendahului kami semua.

Lepas dari menjelang pensiun atau bukan, ternyata ngeblog itu memang mengasyikkan. Apalagi setelah saya punya blog yang berdomain dot com. Tidak mau rugi, saya mulai belajar tentang SEO, keywords, DA-PA, google analytic dan saudara-saudaranya. Zaman Alexa Rank dibahas, saya pun ikut-ikut cemas, ketika angkanya mencapai ratusan ribu.
Saya pun ikut komunitas blogger, kadang-kadang hadir gathering. Walaupun agak canggung, karena semua yang hadir muda-muda. Ada sih yang usia matang, mungkin lebih tua dari saya, tetapi semua orang memanggilnya Bunda, dan sepertinya beliau sudah tenar. Sedangkan saya tak terlalu suka ketenaran.
Halah…

Saya ikut lomba blog, walaupun baru dua lomba yang saya menangkan, itupun bukan juara 1. Tapi mendapatkan HP dari hasil menulis, bagi saya itu sudah prestasi luar biasa.
Termasuk juga hadiah-hadiah kecil karena ikut giveaway yang diadakan sesama bloger. Saya menjadi lebih rajin ngeblog.

Lebih asyiknya lagi, bila saya mendapat email dari agensi atau seseorang, yang menawarkan kerjasama.
Pertama kali saya mendapat tawaran untuk content placement. Saya baru tahu tentang hal ini, bahwa artikelnya sudah ada. Saya hanya memuat artikel tersebut di blog, kemudian backlink ke website pemesan. Waktu itu feenya 150ribu rupiah.
Wah, lumayan ini, menurut saya. Alhamdulillah banget.

Di kemudian hari, tawaran lain menyusul, berkembang menjadi content writer. Saya boleh bebas menulis tentang tema tertentu dengan syarat backlink ke website pemesan. Sejalan dengan rajinnya saya menulis rutin di blog, terutama berkat 1 minggu 1 cerita, harga penawaran saya pun meningkat.

Ada yang berupa transferan ke rekening, ada pula berupa voucher.
Apapun itu, bagi saya alhamdulillah banget-banget sekali.

Ternyata memang menulis mengubah hidup saya jadi asyik.
Serulah pokoknya…

Ini salah satu tulisan saya yang menghasilkan:

Jelajah Negeri di Atas Awan di Penghujung Tahun

Nah, teman bloger, apa yang mengubah hidupmu?

Kata teman bloger di komunitas 1m1c, kecuali yang mengubah timbangan badan ya.

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

10 Replies to “Menulis Mengubah Hidup Jadi Asyik”

  1. Saya juga menulis khususnya di blog awalnya sekadar berbagi cerita aja. Eh tyt sangat menikmati hingga sekarang belum setahun usia blog, alhamdulillah ada rupiah yang dihasilkan dari sana. Yang terpenting menulis yang bisa memberikan manfaat baik utk diri sendiri maupun org lain.

    1. Setuju banget. Menulis selain itu semacam terapi untuk diri sendiri. Bersyukur banget bila memberi manfaat bagi orang lain.
      Terimakasih ya sudah mampir.

  2. hallo mba hani 🙂
    salam kenal yaa 🙂
    aku dulu senang banget menulis, tapi vacuum cukup lama.
    hingga tahun ini baru memulai kembali dari 0.
    senang melihat mba hani yang sangat produktif 🙂

    semoga aku bisa mengikuti jejak mba hani, yang dapat berproduktif dari menulis 🙂

    terima kasih untuk sharingnya mba 🙂

    1. Walah…makasih Putri. Malu ah jadi panutan…he he…
      Salam untuk keluarga. Udah masak belum?…
      Makasih udah berkunjung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *