Sepenggal Kisah Sejarah di Bukit Jaddih, Madura


travelling / Minggu, Maret 18th, 2018

 

Salah satu rangkaian acara SEMARNUSA (Seminar Arsitektur Nusantara) yang diadakan oleh Departemen Arsitektur FADP ITS adalah diselenggarakan Arsitek-Tour ke Kabupaten Bangkalan, Madura.
Pucuk dicinta ulam tiba, kebetulan saya belum pernah berkunjung ke Madura. Pernah sepintas, kira-kira beberapa tahun yang lalu, saya hanya menyeberang Jembatan Suramadu, bolak-balik. Waktu itu Jembatan Suramadu baru saja selesai.

Namanya juga Arsitek-Tour, tour atau wisatanya sekitar obyek arsitektur dan pesertanya biasanya dosen atau pemerhati pelestarian budaya serta lingkungan.
Menurut daftar acara, kami berangkat dari hotel pagi hari, menuju Desa Langkep, Kabupaten Bangkalan. Di desa tersebut terdapat bangunan lama, berupa rumah tinggal bergaya tradisional yang masih dipertahankan oleh pemiliknya.
Tujuan pertama adalah ke Desa Langkep, Kecamatan Burneh. Kemudian dilanjutkan ke Desa Sanggra Agung juga meninjau sebuah rumah tradisional.

Hari menjelang tengah hari, terasa perut keroncongan. Ternyata kami dibawa ke sebuah pesantren di Desa Janbu. Menurut Kyai Malik, pemilik pesantren, di kawasan pesantren tersebut juga terdapat rumah tradisional yang merupakan rumah yang dipindahkan ke pesantren.
Dari pesantren perjalanan dilanjutkan ke Bukit Jeddih, bukit kapur sepanjang 11 km terletak di Desa Parseh.

Sepanjang jalan, pemimpin rombongan menjelaskan, bahwa menurut sejarah di masa penjajajah Jepang, area perbukitan sepanjang 11 km tersebut pernah menjadi tempat persembunyian para pejuang. Oleh karena itu dapat ditemui lubang-lubang gua yang dulu dipakai sebagai kamar persembunyian. Dikemudian hari perbukitan kapur itu dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tambang kapur. Dan bahkan sekarang menjadi obyek wisata.

Ketika mobil-mobil yang kami kendarai sampai di Desa Parseh, dari kejauhan sudah terlihat bukit kapur yang menjulang tersebut. Putih kecoklatan, dan di sana-sini tampak lumut hitam dan beberapa pohon yang meranggas.
Kami pun berpapasan dengan truk-truk yang wira-wiri membawa hasil tambang batu kapur tersebut. Rupanya selain menjadi penambangan, ternyata kawasan Jaddih juga menjadi obyek wisata.

Begitu sampai di lokasi, setelah membayar retribusi, pemandangan menakjubkan terpampang jelas. Bukit-bukit kapurnya masih sangat putih, kontras dengan birunya langit, di tengah suhu 30 derajat C kalau menurut petunjuk ponsel saya. Di sana-sini sepanjang dinding kapur menjulang, ada beberapa tempat yang terpahat membentuk ruang-ruang seluas kira-kira 3X3 meter2. Unik juga pemandangannya, walaupun cemas juga melihatnya, khawatir terban sewaktu-waktu.

Di beberapa tempat bekas galian membentuk kolam-kolam berwarna biru bening. Beda misalnya di tempat bekas galian, yang biasanya airnya berwarna hijau lumut atau coklat.
Sayangnya mobil yang kami kendarai tak sampai ke atas, karena jalannya terlalu terjal turun naik. Dikhawatirkan merusak mobil dan membahayakan para penumpangnya.
Akhirnya supir memutuskan patah-balik dan mencari lokasi lain yang tidak terlalu ke atas bukit. Mungkin bila kami naik motor bisa lebih lincah dan sampai ke puncak bukit. Tapi haree gene, dan panasnya audzubillah, tak ada yang berani nekat naik motor menjelajah.

Cukuplah kami berfoto ria dengan latarbelakang bukit kapur tersebut.

Nah, teman blogger, di daerahmu ada wisata alam apa saja?

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

5 Replies to “Sepenggal Kisah Sejarah di Bukit Jaddih, Madura”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *