[ReviewBuku] Benarkah Nazi Pernah ada di Indonesia?


buku, cuma cerita, review / Kamis, April 26th, 2018

 photo e58ef661-dd00-4e31-a6d7-453d47e74a44.png

 

Kita mungkin sering mendengar kisah sejarah tentang perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Baik pada waktu pemerintahan Belanda maupun pemerintahan Jepang sesudahnya.
Tetapi keberadaan tentara Jerman, dalam hal ini, NAZI, benarkah pernah ada di Indonesia?
Lalu peranannya apa?

Kisah serdadu Jerman pernah ada di Indonesia ketika zaman perang, tepatnya di awal-awal Indonesia memperjuangkan kemerdekaannya, diketahui dari peninggalan makam-makam mereka. Waktu itu saya mengetahuinya ketika mengikuti Heritage Trail yang diadakan oleh PT. Kereta Api Indonesia. Makam serdadu Jerman diperkirakan ada di wilayah Sukabumi.

Kemudian awal April 2018 ini saya mengikuti komunitas Historical Trip untuk menelusuri rekam jejak Nazi yang ada di kota Bandung.
Ini kesekian kalinya saya ikut walking tour dengan komunitas Historical Trip.

Kegiatan pertama kali yang saya ikuti, kisahnya ada di sini.

Rekam Jejak Nazi di Indonesia

Ketertarikan saya lebih ke arah menelusuri artefak atau sejarah arsitekturnya. Apalagi bangunan lama peninggalan zaman pemerintah Hindia Belanda yang dirancang khusus oleh arsitek-arsitek masa itu makin lama makin berkurang. Hal ini disebabkan karena kurang terawat dan alih fungsi menjadi fungsi komersial.

Titik kumpul kami di halaman Bank Jabar di sudut jalan Braga dan jalan Naripan. Dulunya bangunan Bank Jabar adalah Denis Bank, sebuah bank di zaman pemerintah Hindia Belanda.
Kemudian kami diperkenalkan dengan Kodar Solihat, wartawan Pikiran Rakyat yang menulis buku Rekam Jejak Nazi di Indonesia.

Sayangnya waktu itu saya belum punya bukunya, jadi saya seperti buta tak tahu apa-apa. Biasanya bila akan melakukan survey atau jalan-jalan, saya membekali dahulu dengan bacaan supaya ada bayangan.
Untungnya saya mendapat informasi, bahwa saya bisa memesan buku hasil penelitian Kodar Solihat tersebut.

Menurut Kodar, aktivitas bangsa Jerman selama masa kolonial di Hindia Belanda sekitar tahun 1930-an hingga tahun 1942. Kemudian juga keterlibatan militer Jerman, terutama pasukan angkatan lautnya (Kriegsmarine) yang membuat basis armada U-boat (kapal selam).

Dari plaza di depan Bank Jabar, kami berjalan kaki menyusuri jalan Naripan, menyeberangi perempatan jalan Tamblong, menuju jalan Saad.
Menurut Kodar, di jalan Saad dulunya ada bangunan tempat berkumpulnya orang Jerman. Orang Jerman waktu itu, memang mendapat julukan Nazi atau simpatisan Nazi (Nationalsozialismus), sebuah partai yang kemudian memenangkan pemilu. Saat partai Nazi memenangkan Pemilu, Adolf Hitler kemudian terpilih menjadi kanselir Jerman pada tahun 1933.

Sayangnya tidak ada jejak bangunan yang diceritakan Kodar. Bahkan fotonya pun tidak ada.
Bagi saya yang pemerhati bangunan lama, sebetulnya agak kecewa juga. Bukan no picture hoax, ini no obyect at all…

Namanya juga sejarah.
Seperti kita ketahui, sejarah di Indonesia adalah sejarah verbal, sejarah hasil tutur kata yang diceritakan turun temurun. Apalagi mungkin, peran Jerman dalam sejarah perjuangan bangsa dianggap tidak terlalu nyata.
Walaupun Kodar menjelaskan, ada peranan pengusaha perkebunan, seorang Jerman, yang bersimpati pada perjuangan warga Jawa Barat. Konon bahkan pengusaha ini mendanai perjuangan melawan Belanda menjelang Indonesia merdeka.

Lepas dari jalan Saad, kami menyusuri jalan Tamblong, masuk ke jalan Kejaksaan, belok ke jalan Markoni, akhirnya sampai ke Museum Mandala Siliwangi di jalan Lembong.
Ternyata menurut Kodar, di Museum ini disimpan senapan Mauser yang merupakan senapan buatan Jerman yang dipakai Nazi.
Menurut Kodar, ada cap burung garudanya Nazi itu di badan senapan.
Kami pun, longak-longok ke senapan yang dipajang. Mencari-cari di mana cap burung garudanya.
Bahkan seorang peserta khusus menyalakan senter di ponselnya.

 photo 125e784b-3c3c-4d20-aca9-47a0d5657fbf.jpg

saya yang lagi longak-longok mencari cap burung garudanya Nazi

sumber: 

Kodar juga menjelaskan asal mulanya berdirinya pabrik senjata milik PINDAD di Kiaracondong, yang konon teknisinya adalah para awak kapal selam Jerman. Sehingga cukup membuat kerepotan Belanda, karena pejuang kita ternyata mempunyai senjata cukup canggih pada masa itu.

Sebetulnya saya masih penasaran dengan kisah keberadaan Nazi atau tentara Jerman ini. Sepertinya saya harus baca dulu bukunya, baru bisa terbayang peta perjalanan mereka.

Bukunya baru datang, sih.
Ini daftar isi bukunya:
1. Tiga Tokok Nazi Jerman Pernah di Hindia Belanda
2. Kegagalan Kudeta orang-orang Jerman
3. Kapal Dagang Andalan Awal Perang di Samudra Hindia
4. Masa-masa Penawanan orang Jerman
5. Kisah Pelarian Calon Pewaris Grand Hotel Lembang
6. Blockade Runners
7. Masa-masa Penahanan orang Yahudi di Indonesia
8. Masa-masa Kehadiran U-boat ke Asia Tenggara
9. Type U-boat Andalan di Samudra Hindia
10. Gambaran Kehidupan U-boat
11. Italia pun Mengirim Kapal Selam ke Asia Tenggara
12. Aksi tiga U-boar Menyerang Australia
13. Misteri Hilangnya U-196 di Selat Sunda
14. Koneksi Jerman dan Jelang di Jakarta
15. Jakarta dalam Kenangan Kriegsmarine
16. Proyek Senjata Jepang dan Nazi Jerman di Jakarta
17. Kisah Perjalanan U-195 dan U-219
18. Menyerahknya U-boat di Akhir Perang
19. Pada Mantan Kriegsmarine di antara Perjuangan Indonesia
20. Penawanan orang-orang Jerman di Australia
21. Peninggalan Nazi Jerman di Indonesia
22. Perkebunan Cikopo Jadi Kenangan Kriegsmarine

Nah, bagaimana teman blogger, ternyata seru ya, kalau lihat daftar isinya.
Saya belum selesai membacanya…

twittergoogle_pluspinteresttumblr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *