Antara Rencana dan Kenyataan di Penghujung Ramadan


kesehatan / Jumat, Juni 15th, 2018

 

Ketika hampir semua warga dunia, khususnya Indonesia bersukacita menjelang berakhirnya Ramadan, menyambut Idulfitri. Bagi keluarga kami, Lebaran kali ini sungguh tak membuat semangat sama sekali. Rencana yang sudah disusun, mungkin tak terlalu rapi sih susunannya, harus menerima kenyataan bahwa rencana Allah swt. lebih dari segala-galanya.

Ramadan ke 29/ H-2 Lebaran

Sejak saya menikah dan tinggal di Bandung, boleh dibilang tidak pernah memasak dan menyiapkan hidangan khusus untuk Lebaran. Pertama, orang tua waktu keduanya masih ada, tinggal di Jakarta. Kedua, walaupun mertua tinggal di Bandung juga, suami anak bungsu. Anak bungsu itu kan jarang dikunjungi. Jadi, kami gantian saja mengunjungi antara orang tua atau mertua. Misalnya Lebaran tahun ini ke Jakarta, maka Lebaran tahun depan di Bandung. Sebagai keluarga yang mengunjungi, rumah kami selalu kosong di hari Lebaran.

Berbeda beberapa tahun terakhir ini, ketika anak-anak saya sudah menikah, dan kami mempunyai seorang cucu, Bara. Setiap Lebaran kami tidak kemana-mana, jadi kuncen Bandung. Mulailah saya memasak hidangan ala kadarnya untuk Lebaran.
Karena sejak tiga tahun terakhir kami tidak punya ART, maka acara masak-memasak dibuat sepraktis mungkin. Saya mengandalkan dua panci presto untuk membantu urusan dapur supaya cepat selesai.

Beberapa minggu yang lalu, Daru, putra kami, WA, bahwa Mumu, istrinya menawarkan memasakkan ketupat, opor, dan sambal goreng untuk hidangan Lebaran. Rencananya yang praktis saja, tidak usah banyak-banyak. Kan hanya keluarga kecil kami saja, bertujuh, termasuk Bara.

OK.

Asyik. Tak soal bahwa Mumu, memasak ala cemplang-cemplung, pesan dari Perfect 10. Perfect 10, adalah semacam jasa layan antar, yang menyiapkan bahan mentah siap masak, termasuk bumbu dan cara memasak. Praktis, tidak usah ke pasar, tidak usah memotong sayuran, dan mengulek bumbu.
Bagi Eyang zaman dulu, mungkin menantu macam Mumu, tak lulus ujian sebagai menantu teladan. Bagi saya sih, Alhamdulillah, pokoknya saya tinggal makan.

Cerita lain, putri kami, Apsaras, lapor, bahwa ibu mertuanya mau menumpang masak di rumahnya. Karena adik suaminya pesan minta dibuatkan opor ayam. Kami dan keluarga Apsaras tinggal bersebelahan, bahkan dinding garasi memang dibuat butulan, ada pintunya.
Blus…ada apa-apa tinggal ke rumah ortu.
Opor ayam masakan besan saya memang enak sih. Beliau pintar masak.
Enggak kayak saya, masaknya agak asal-asalan sih.

OK.

Asyik. Berarti saya tinggal menambah sedikit masakan. Rencananya saya menambahkan Gulai Kambing, dan Petis Bumbon. Petis Bumbon adalah resep warisan Eyang saya.
Resepnya ada di sini.

Waktu itu hari Rabu pagi, saya ke pasar diantar suami, membeli iga kambing, telur puyuh, santan, dan bumbu-bumbu.
Sampai di rumah, iga kambing saya rebus sebentar, air rebusan pertama saya buang. Telur puyuh untuk lauk Petis Bumbon pun saya rebus.
Kemudian saya bersiap ke kampus.
Ke kampus?

Iya. Kampus tempat saya mengajar menugaskan saya untuk piket di dua hari menjelang Lebaran ini.
Tidak lama hanya dua jam.

Sepulangnya dari kampus, saya melihat Bunda (begitu kami memanggil mertua Apsaras) sedang bersiap berangkat naik ojek. Beliau akan mengambil wajan besar dan wadah untuk kerupuk. Karena wajan Apsaras dirasa kurang besar.
Di dapur Apsaras, saya lihat sudah tergoreng potongan kentang untuk pelengkap Sambal Goreng Ati Sapi. Kemudian Apsaras menunjukkan potongan ayam kampung di freezer.
Rencananya Bunda sore ini atau besok akan melanjutkan memasak. Di teras belakang pun sudah tergantung ikatan selongsong kupat.

Siap nih Lebaran. Mimpi apa saya, semua ramai-ramai bergotong-royong memasak.

Siang itu panas nian. Walaupun demikian proses membuat Gulai Kambing saya lanjutkan. Supaya cepat empuk, saya rebus dengan presto.
Timer siap terpasang.
Sesudahnya saya shalat lohor, kemudian rebahan untuk melepas penat.

Kira-kira pukul 14 lebih, Apsaras berlari dari rumahnya, “Bara tiba-tiba step!”, serunya.
Saya pun langsung terbangun dan berlari ke sebelah.
Suami langsung sigap membuka garasi, dan memanggil putra kami untuk membantu.

Sejak usia 15 bulan, hingga 3 tahun, ini kesekian kalinya Bara step. Kisahnya pernah saya tulis.

Baca juga: Ketika Anak Step

Bara sangat sensitif, walaupun demam tidak terlalu tinggi, besar kemungkinan step.
Oleh sebab itu Apsaras selalu sedia stesolid di lemari es. Stesolid, adalah diazepam, obat membantu menenangkan anak yang step, terutama step akibat demam.

Di tempat tidur Bara kejang. Hati saya selalu hancur bila melihat cucu kejang seperti ini. Badannya panas. Menurut ibunya, seharian ceria, makannya banyak, tidak ada tanda-tanda sakit apalagi demam.

Tanpa pikir panjang, langkah secepatnya adalah membawanya ke rumah sakit.
Jarak rumah ke RS. Limiyati serasa jutaan tahun, sementara itu Bara sudah tidak step, tetapi lemas akibat obat.
Dua hari menjelang Lebaran, jalan raya penuh dengan mobil dan motor. Perjalanan melalui berbagai Mall yang dipenuhi antrian mobil yang akan memasuki area parkir, sedikit membuat jengkel juga.
Ditambah lagi menunggu kereta api lewat di persimpangan jalan Laswi.
Menjelang 20 m memasuki halaman RS, mobil tidak bergerak akibat macet, sehingga Apsaras, suaminya yang menggendong Bara, bergegas turun dari mobil, dan setengah berlari menuju RS.

Pertolongan pertama di ruang IGD, Bara diberi oksigen, kemudian dokter jaga menanyakan riwayat penyakit dengan teliti. Menurut penuturan Apsaras, tidak ada gejala demam sebelumnya.
Dokter menanyakan apakah Bara pernah step tanpa demam. Tidak.
Ok. Karena step akibat demam beda kasusnya dengan step tanpa demam.
Karena ada demam, dokter menyarankan cek darah rutin.

Saya dan suami menunggu di ruang tunggu. Selang sejam saya kembali ke dalam ruang IGD, dan hasil darah Bara ternyata trombosit turun. Anak demam memang trombosit turun, tapi untuk mendapatkan hasil akurat, dokter jaga menyarankan tes lanjutan untuk menegakkan diagnosa.
Tes NS1 untuk mencek adanya dugaan Demam Dengue, dan tes Tubex untuk mencek adanya dugaan Typhoid.
Saya dan Apsaras berunding sebentar, kemudian menyetujui untuk tes lanjutan tersebut. Menyetujui berarti siap dengan biaya laboratorium. Kalau sudah begini, biaya tidak menjadi nomor sekian, yang penting cepat diketahui sakitnya, dan cepat mendapat penanganan yang tepat.
Saya pun kembali menunggu menemani suami.

Waktu menunjukkan pukul lima sore, ketika Apsaras menyeruak dari ruang IGD menghampiri kami.
“Bara positif DB (demam berdarah)”
Apsaras menangis.

Keputusannya, Bara dirawat.
Saya dan suami tak mau ambil risiko, membawa pulang Bara, dan merawatnya di rumah.
Teorinya supaya demam turun, diberi minum banyak-banyak. Menyuruh minum balita itu, jauh panggang dari api.

Waktu itu menjelang Isya, Bara akhirnya mendapatkan kamar untuk rawat inap, dan diinfus. Keputusan segera dibuat, menyiapkan kedua orang tua Bara untuk jaga di RS. Salah satu ada yang pulang dulu bersama kami, mengambil perlengkapan untuk balita dirawat di RS. Baju, buku, mainan, dan benda-benda kesayangan Bara. Baju ganti untuk ayah-ibu, dan makan sahur untuk nanti malam sahur terakhir.

“Bunda sudah dikasih tahu?”
“Belum, takut panik”
“Gimana masak-masaknya uy?”
“Enggak tahu”

Hening.

Ramadan ke 30/ H-1 Lebaran

Pagi ini sahur terakhir. Kami sahur berempat, saya, suami, Daru dan Mumu yang menginap sejak hari Senin hingga Lebaran nanti.
Pagi menjelang kami lalui dengan mengurus rumah-tangga. Suami mencuci, saya melanjutkan memasak yang sudah setengah jalan sejak kemarin.

Siang menjelang menengok ke rumah sakit sambil membawa pesanan baju ganti untuk Bara.
Menyempatkan mencari sari kurma dan teh angkak. Untungnya toko obat langganan masih buka.
Banyak toko sudah tutup.
Untungnya lagi, dokter spesialis anak yang merawat Bara di RS tidak cuti.
Kekhawatiran kami adalah, walaupun di RS, tetapi ternyata tidak ada dokter, sama aja boong.

Di RS, ayah-ibu telaten mengompres Bara.
Kami sudah mendapat info sebelumnya bahwa trombosit masih turun, dan demamnya turun sedikit. Demam antara 39-40 0 C membuat Bara tampak lemas dan matanya berkunang.

Perjalanan penyakit demam berdarah memang seperti ini. Harus dijaga supaya demam turun dengan dikompres dan obat penurun panas. Obat penurun panas hanya diberikan per enam jam sekali.
Cairan infus tak lepas dari tangan Bara.

Waktu itu ayah Bara memberi tahu bahwa Bunda mungkin akan ke rumah, melanjutkan memasak sekitar magrib.

OK.
Sementara itu, di rumah Mumu sudah selesai memasak, dan gantian menengok ke RS bersama Daru.

Menjelang sore, ayah Bara pulang ke rumah dan mewartakan bahwa Bunda tak jadi memasak.
Masakan yang setengah jalan, memang tersimpan rapi di lemari es. Potongan ayam, hati sapi yang sudah direbus, dan bumbu-bumbu.
Nanti saja, tunggu Bara sembuh, katanya.

Dulu ketika anak-anak sakit, dunia rasanya berhenti berputar.
Ternyata, cucu sakit, sama saja.
Bagi kedua nenek ini, saya dan Bunda, dunia berhenti berputar. Mood memasak lenyap ditelan bumi.
Saya masih menguatkan diri untuk menyelesaikan memasak, karena kadung sudah termasak tinggal finishing. Lagipula sayang kalau tidak diselesaikan, besok makan apa.

Makan malam berempat, menyantap hidangan Lebaran ala kadarnya.
Menengok ke sebelah sepi. Biasanya ada celoteh Bara mengejar semut.

Sedih.

Malam takbiran, menangis di dalam hati.
Rasanya tak semangat menyambut Lebaran esok hari.
Baju pun belum disetrika.

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

6 Replies to “Antara Rencana dan Kenyataan di Penghujung Ramadan”

  1. Bunda, semoga Baranya cepet sembub ya 😘. Rasanya pasti sedih bangettt ya. Jadi mengingatkan saya wktu pak suami masuk rumah sakit karena DB juga. Orang dewasa aja yang sakit bkin sedih apalagi klo anak kecil. Smga keluarga dikuatkan.

  2. saya berasumsi, bukan tahun ini.. karena tahun ini, ramadhan hanya 29 hari ‘kan? 🙂

    thank u bunda, saya nyangkut di postingan ini lebih dari 10 menit..
    saya baca naik turun.
    tulisan macam ini yang saya cari2 buat menggelitik nalar saya agar bisa bikin narasi yang lebih baik lagi.

    renyah sekali. 🙂
    salam buat bara, seharusnya hari ini dia sedang mengejar capung; atau setidaknya semut.

    1. Nah…pas nulis artikel saya ragu, Ramadan ke berapa ya? Ga sempat cek. Pokoknya 2 hari sebelum Lebaran.
      Tahun ini kok.
      Bara masih di RS uy..
      Doakan cepat sembuh yaa

  3. Nah…pas nulis artikel saya ragu, Ramadan ke berapa ya? Ga sempat cek. Pokoknya 2 hari sebelum Lebaran.
    Tahun ini kok.
    Bara masih di RS uy..
    Doakan cepat sembuh yaa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *