Benarkah Kesempatan Tak Datang Dua Kali?

Kesempatan datang bagai awan berlalu. Pergunakanlah ketika ia nampak di hadapanmu. – Ali bin Abi Thalib

Banyak quote yang berkaitan dengan kata kesempatan. Termasuk quote di atas, bahwa kesempatan datang bagai awan berlalu. Atau yang lain, kesempatan tak datang dua kali. Bisa juga, gunakanlah kesempatan sebaik-baiknya.

Nah, kapan seseorang menyadari bahwa yang ada di depan mata adalah satu-satunya kesempatan.
Seringkali kita kan tidak tahu. Ternyata memang benar, tidak ada kesempatan lain.
Lalu, bagaimana dengan quote “Kesempatan Kedua”…
Berarti ada kesempatan lain yang bisa menghampiri kita juga.
Dan ternyata, setelah ada kesempatan kedua, ternyata kita pun lalai. Terus kesempatan tersebuat lewat lagi begitu saja.

Membaca Tanda-tanda

Adanya kesempatan atau tidak, mungkin saja berkaitan dengan adanya tanda-tanda yang sampai ke kita.
Tanda-tanda tersebut bisa saja semacam peluang yang jarang terjadi, sehingga kita memutuskan, inilah saatnya. Peluang tersebut bisa saja pada kesempatan kerja, hubungan percintaan, hubungan sosial dengan orang lain, hubungan orang tua-anak, kesehatan, dan lain-lain.

Pekerjaan

Ketika saya lulus sarjana dulu, belum punya rencana mau kerja apa. Malah saya tuh menikah. Terus langsung hamil dan punya anak. Barulah setelah anak saya berusia 2 tahun, pikir-pikir mulai mencari kerja yang sesuai bidang saya. Sudut pandangnya tentu saja berbeda, karena saya sudah punya anak. Sepertinya yang paling pas adalah mengajar. Dalam bayangan saya, bisa fleksibel mengatur waktu. Mulailah saya mencari beberapa peluang mengajar di perguruan tinggi. Waktu itu belum ada persyaratan, bahwa untuk jadi dosen harus magister.

Pada suatu hari, ada berita penerimaan tenaga edukatif di Departeman Pendidikan dan Kebudayaan di Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta) Wilayah IV – Jawa Barat. Beritanya kecil saja di halaman depan. Nantinya kami ini oleh pemerintah akan ditugaskan mengajar di perguruan tinggi swasta yang membutuhkan.

Hasil diskusi dengan suami, saya pun melamar sesuai ketentuan di berita tersebut. Memasukkan berkas-berkas, mengikuti tes, wawancara, tes kesehatan, dan tarraaa…saya akhirnya menjadi ASN sudah jalan 31 tahun ini. Setahu saya, lowongan kerja di Kopertis Wilayah IV ini tidak selalu ada. Belum tentu setahun sekali, karena tergantung formasi dan ketersediaan dana dari pemerintah.
Ini memang benar, kesempatan tak datang dua kali.

• Kesehatan

Kali ini saya mau cerita tentang paman, adik ibu saya. Kami memanggilnya Oom Dodo. Beberapa tahun yang lalu, beliau didiagnosa kanker prostat. Hal yang mengejutkan dan membuat cemas seluruh keluarga besar. Kalau mendengar kata kanker, sepertinya akhir dari kehidupan kita. Kalau pun sembuh, masih harus waspada selama dua hingga lima tahun ke depan. Karena yang sering saya dengar, sel-sel kanker kembali muncul. Bahkan suami adik ibu, suami tante Poen, wafat karena kanker prostat.

Oom Dodo berobat ke dokter dan mengikuti semua terapi yang disarankan termasuk kemoterapi. Selain itu beliau juga mengonsumsi pengobatan herbal yaitu daun sirsak. Tante Poen yang setiap hari membuatkan sari daun sirsak segar dan mengirimkan ke adiknya.

Masya Allah, beliau bisa sembuh dan segar ceria hingga artikel ini saya tulis. Bahkan Lebaran kemarin kami sempat bersilaturahim di acara halal bihalal keluarga besar ibu saya.

Ini mah namanya Second Chance. Allah swt memberinya kesempatan kedua memanjangkan usianya dalam keadaan sehat.

• Jodoh

Kali ini saya mau cerita tentang seorang dosen, kolega di sebuah kampus. Dia sering cerita tentang awal mula bertemu dengan istrinya. Konon melalui proses taaruf yang diatur oleh murabinya. Teman saya tersebut ditemani oleh gurunya datang ke sebuah rumah untuk dipertemukan dengan seorang gadis. Tentu saja, sebelumnya sudah disampaikan data-data gadis tersebut.

Mereka berdua diberi kesempatan untuk berbincang. Dan teman saya tersebut dalam waktu 45 menit, memutuskan bahwa she is the one.
OK.

Teman saya pun pulang ke Cirebon dan lapor ke orang tuanya bahwa bulan depan dia akan menikah. Tentu saja semula dianggap bergurau. Dan teman saya keukeuh, bahwa dia tak bergurau.
Singkat cerita, mereka berdua sudah dikaruniai 3 orang putra putri dan telah menikah 10 tahun, and still counting lah ya.

Bagi saya, teman saya itu ibaratnya quote saya di awal cerita. Kesempatan datang bagai awan berlalu. Pergunakanlah ketika ia nampak di hadapanmu.
Teman saya jeli menangkap tanda-tanda. Kesempatannya ya di 45 menit pertemuan pertama kali itu. Coba, misalnya, teman saya ragu-ragu. Lewat deh…Mungkin si gadis keburu dilamar orang lain.

Saya sering tanya, apa rahasianya, dari tak kenal, bisa berumahtangga, waktu itu hampir 10 tahun lamanya. Katanya, dia dan istrinya sama-sama mengaji. Artinya dalam membentuk keluarga betul-betul mengamalkan apa yang diajarkan dalam agamanya.

Keren. Untuk saya luar biasa sih. Saya dan suami sebelum menikah, berteman hampir selama 7 tahun, karena kami sama-sama masih kuliah. Lama banget kuliahnya. Iya sih…

Kembali ke masalah kesempatan, sesuai tema di minggu ke 32, 1minggu1cerita. Hal-hal di atas hanya sebagian contoh saja yang melibatkan suatu keadaan yang bernama kesempatan.

Bagi saya kesempatan itu semacam keberuntungan juga. Ada campur tangan Tuhan yang membuat kita memutuskan sesuatu. Kadang-kadang hal-hal kecil ternyata ada kesempatan penting di dalamnya.

Nah, bagaimana dengan teman-teman blogger? Pernahkah mendapat kesempatan, lalu terlewat? Atau bahkan mendapat kesempatan kedua?

21 pemikiran pada “Benarkah Kesempatan Tak Datang Dua Kali?”

  1. iya bu dulu buat jadi dosen tidak harus magister zamannya saya lulus beda 1 tahun ealah aturannya berubah tapi semua ada hikmahnya hehehe..

    semua orang saya rasa pasti pernah alami ini ya bu 🙂

  2. Allah kasih banyak kesempatan di hidup saya. Baik kesempatan pertama yang langsung saya raih atau kesempatan kedua yang nggak ingin saya lewatkan lagi. Tapi memanfaatkan atau mengambil kesempatan dengan segera mengajari kita untuk bertanggungjawab terhadap keputusan yang kita ambil. Menikmati rezeki di dalamnya, sekaligus menerima konsekuensinya juga. Temanya keren banget, Mbak Hani …

  3. Setiap kesempatan yang Alloh berikan pasti punya kebaikan di dalamnya, terkadang keragu-raguan yang membuat kita jadi melewatkannya…semoga kita selalu siap menangkap semua kesempatan baik yang Alloh berikan😊. Keren ceritanya…

  4. Saya dulu pernah nyaris menikah dan calon saya pergi dan enggak ngasih alasan apa-apa.

    Maka, saat ada yang baru ketemu dua kali sudah minta saya jadi istri, saya pun yakin itu kesempatan kedua yang Allah beri untuk jadi jodoh saya..

    Dan, kini 16 tahun sudah cerita itu terlewati:)

  5. Pernah sih mba dulu, merasa sudah melewatkan kesempatan, dan rasanya nyesek banget. Tapi sekarang lebih santai aja kalau melihat kesempatan yang sepertinya terlewatkan, mindset saya sudah saya atur bahwa kalau memang “jodoh” tidak akan tertukar, kesempatan akan datang lagi di waktu dan saat yang tepat. #nyenenginhatisendiri hehehe…

  6. Pernah merasa kecewa karena melewatkan kesempatan begitu saja. Menceracau diri sendiri. Kemudian sadar bahwa semua ada hikmahnya. Dan kembali menjalani hidup lebih optimis. Jadi kalau ada kesempatan lagi, kudu lebih berpikir cepat ..😊

  7. Aku pernah melewatkan kesempatan kedua. Ditawari mutasi kerja ke kota yang sama untuk kedua kali. Pertama aku menolak dengan alasan yang mungkin waktu itu masih masuk akal bagi si bos. Tapi alasan penolakan tawaran kedua gak masuk akal banget. Dannn…. di sudut hati ini ada penyesalan yang tak berkesudahan bahkan sampai sekarang.

Tinggalkan komentar

Site Protection is enabled by using WP Site Protector from Exattosoft.com