Keunikan Struktur Kayu di Gereja Sikka

peta lepo lorun-moni

rute perjalanan Lepo Lorun – Moni

Teman-teman narablog,

Sambung lagi ya cerita perjalanan saya bersama teman-teman di Flores. Maafkan, saya kedistrek menulis yang lain deh.
Terakhir kan saya menceritakan rombongan kami mampir ke Lepo Lorun, sentra tenun ikat, di desa Nitta.

Tengok dulu ke sini:

646 Km Perjalanan Darat dari Timur ke Barat di Pulau Flores

Lepo Lorun Sentra Tenun Ikat nan Memikat

Kis menawarkan untuk mampir sebentar ke sebuah gereja tua di Sikka. Katanya sih dekat. Bila melihat ke peta Google, gereja tersebut terletak di tepi pantai, dan sekira 20 km atau 30 menit perjalanan dari Lepo Lorun.

Ok. Tarik Mang…

Saya duduk bersebelahan dengan Yanti di belakang supir bis wisata yang kami sewa.
Perjalanan menuju Sikka cukup lancar, di sana-sini ada jalan yang rusak. Saya duduk dekat jendela, sehingga bisa mengamati bahwa banyak rumah-rumah yang ada makam di halaman depannya. Makam-makam tersebut hanya satu atau dua pusara saja, tetapi nampak rapi dan dibangun khusus. Artinya dilapis keramik dan cukup besar.

Seperti kita ketahui, mayoritas penduduk Flores menganut Katolik. Mungkin dari sejarahnya, Flores pernah menjadi koloni Portugis, sehingga secara langsung maupun tak langsung terjadi akulturasi budaya maupun agama. Itu sebabnya makam-makam di halaman rumah merupakan makam leluhur dari tiap-tiap kelompok rumah. Tradisi menghormati leluhur merupakan warisan dari adat budaya setempat.
Flores sendiri artinya bunga dalam bahasa Portugis, aslinya bernama Cabo de Flores, artinya Tanjung Bunga.

Gereja Sikka

Tak lama sampailah kami desa Sikka, bis berhenti tepat di tepi jalan di samping gereja Sikka.
Gereja yang aslinya bernama St. Ignatius Loyola berdiri tegak disinari matahari sore dengan latar belakang birunya langit Flores. Kami pun bergegas turun dan mengamati keindahan arsitekturnya. Dari segi gaya arsitektur tampak bahwa gereja ini dibuat berabad yang lalu, dari bentukannya memang merupakan ciri gereja Katolik.

Desainnya berbentuk basilika, bangunan utama di tengah, kemudian di kiri dan kanannya ada sayap bangunan yang lebih rendah. Bentuk seperti ini umum pada zamannya karena keterbatasan kemampuan struktur. Waktu itu struktur utama adalah kayu yang mempunyai keterbatasan panjang kayu. Saya penasaran, kalau masuk ke dalam pasti indah banget.

flores-gerejasikka

Gereja St. Ignatius Loyola – Sikka, Flores; sumber: pribadi

Struktur Kayu pada Atap

Sebagaimana layaknya bertamu, kami meminta ijin petugas di kompleks gereja. Dengan sukacita petugas pun menyambut kami dan membolehkan kami masuk ke dalam gereja.

Menurut petugas, gereja ini mulai dibangun tahun 1893, dan diresmikan pada tanggal 24 Desember 1899. Struktur gereja berbahan kayu jati yang khusus didatangkan dari pulau Jawa dan belum pernah diganti sejak awal didirikan. Terpikir oleh saya, seandainya mahasiswa saya diminta menggambar ulang konstruksi kuda-kuda kayu ini secar manual, pasti kelimpungan. Karena mahasiswa sekarang terbiasa menggambar memakai komputer, menggambar secara manual mungkin perlu waktu sebulan.

altar gereja sikkaAltar gereja Sikka, Flores; sumber: pribadi

Di atas altar, lukisan kaca patri pun masih kaca patri yang sejak dulu dipasang pada awal pembangunan.
Pintu masuk ke gereja pun terbuat dari kayu tebal dan kuat, yang mungkin tidak bisa kita peroleh lagi di zaman sekarang.

flores-interior-gerejasikka

Interior Gereja Sikka, Flores; sumber: pribadi

Di kiri gereja, berdiri sebuah bangunan kecil. Ketika saya tanyakan ke seorang pemuda yang sedang mengerjakan hiasan untuk tulisan indah, bangunan tersebut adalah Kapel.
Menurut sejarah, kapel ini didirikan oleh seorang penduduk asli Sikka pemeluk Katolik yang dibaptis oleh misionaris Katolik asal Portugis. Sejak itu Sikka rutin dikunjungi misionaris Portugis.

  • kompleks gereja sikka
  • kapel sikka
  • gereja sikka-bpjn drone

Tenun Ikat Lagi

Berseberangan dengan gereja, tampak bangunan lain yang merupakan gedung pastoran.
Di kanan gereja tampak jalan setapak menuju ke pantai. Ketika saya menyusuri jalan tersebut tampak sekelompok ibu-ibu sedang sibuk. Ada yang memukul-mukul kapas, mengurai pintalan benang. Dan sepanjang jalan setapak tergantung kain-kain tenun ikat siap jual.
Lhah…ada lagi tenun ikat di sini?

Tak kalah cantiknya dengan tenun ikat di Lepo Lorun. Saya pun bergegas ambil langkah seratus delapan puluh derajat. Bukan…bukan kabur sih. Mewartakan ke teman-teman, dong, bahwa ada deretan tenun ikat berbagai ukuran dipajang sepanjang jalan setapak.

Hari semakin sore, matahari mulai condong di ufuk Barat. Tetapi, teman-teman keluar gereja langsung menyambangi para Mama yang menawarkan kain tenun tersebut.
Warna dan motifnya menurut saya lebih beragam dari tenun di Lepo Lorun. Harganya pun bersaing.
Saya pun agak nelangsa sih, karena naksir tapi berat untuk membeli (lagi).

Sepintas saya mendengar beberapa teman janjian untuk patungan membeli kain tersebut. Saya tuh ya kurang tanggap dan tak bertanya lebih lanjut, akhir dari patungan membeli kain tersebut. Belakangan, berhari kemudian barulah saya mengerti maksudnya.

Selepas teman-teman membeli beberapa potong tenun ikat, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pantai Koka. Rencananya kami akan santap malam di Pantai Koka.

tenun di area gereja sikka

Kiri ke kanan, Kis-Nana-Elly-Indira-Arni mengagumi tenun ikat dari area gereja Sikka; sumber: pribadi

Pantai Koka

Dari pantai Koka, kemudian melanjutkan perjalanan ke tempat penginapan di Moni.

Perjalanan ke Pantai Koka hari sudah gelap. Saya baru memperhatikan, karena kami di wilayah Indonesia bagian Timur, rasanya magrib cepat sekali gelap. Jalan menuju pantai pun bukan jalan yang mulus dan licin. Lumayan bergelombang, dan pantai sama sekali tak terlihat.

Kami disiapkan makan malam di sebuah kedai. Menu makan malam terdiri dari beragam masakan ikan. Ada sup ikan dan ikan bakar. Uniknya selain nasi, karbohidrat yang dihidangkan juga terdapat pisang dan singkong. Unik juga biasanya makan nasi dengan lauk ikan, ini pisang dengan lauk ikan. Sepertinya jenis pisangnya khusus, karena tidak terasa manis seperti halnya rasa dan wangi pisang. Lebih banyak terasa tepung dan tawar saja. Cocok saya sih dimakan bersama sup ikan.

ikan bakar di pantai koka; sumber: pribadi

Lepas makan malam, kami pun melanjutkan perjalanan ke tempat penginapan. Mulailah terasa bahwa perjalanan kami menempuh jalan raya nasional di pulau Flores. Seperti laiknya jalan darat di semua tempat, tentu saya mengikuti morfologi geologi setempat. Seluruh daratan Flores berbatu, berbukit dan jalannya berkelok-kelok, tentu saja memakan waktu lebih lama daripada jalan yang lurus.

Dalam perjalanan menuju hotel tempat kami bermalam, Kis, sebagai tour leader kami menanyakan, apakah kami mau lihat sunrise di Danau Tiga Warna di gunung Kelimutu.

Pukul sebelas malam, badan lelah, belum mandi dari kemarin, maka sebagian besar Oma-oma ini sepakat, skip sunrise. Soalnya kalau ingin menikmati sunrise di Danau Kelimutu, kami harus berangkat pukul 04:00. Berarti, kami minimal harus siap-siap 03:00, kan …

Keputusan skip sunrise adalah keputusan bijak dari grup kami. Selain mengukur kemampuan fisik, kami juga ingin menikmati penginapan ini. Bila kami mengejar sunrise, akan tidak praktis bila harus kembali lagi ke hotel, baru packing.

Walaupun kami mengatur sendiri perjalanan, jawdal sesuai itinerary tetap menjadi panduan bersama. Hal ini perlu, karena berkaitan dengan sewa bus, dan booking hotel di tujuan berikutnya.

Kami pun tiba di tempat penginapan pukul 11 malam.

Bersambung ke: Konsep Hijau dan Pelestarian Lingkungan di Kelimutu Crater Lakes Ecolodge

diedit 14 Maret 2019

signature haniwidiatmoko

46 pemikiran pada “Keunikan Struktur Kayu di Gereja Sikka”

  1. Wah, Bundaaa … Indahnya punya kesempatan mengeksplor timur Indonesia. Pantainya terkenal cantik, yaaa. Impian saya banget, nih, bisa menjelajah penjuru nusantara. Ditunggu ah, cerita perjalanan Bunda Hani berikutnya.

  2. Kapaaaan ya bisa mengunjungi bumi Indonesia belahan timur? Keluar sumatera aja terakhir 2 thn yg lalu. Hihi.

    Itu bangunan gerejanya artistik banget ya mbak. Bisa detail gitu desain interiornya. Salut. Padahal dirancang dan dibangun secara manual ya. Hebat…hebat…

  3. Tahun 1995 aku masih menggambar tugas konstruksi kayu atau baja secara manual, Bu. Menjelang tamat di tahun 2000, baru ambil kursus CAD. Trus sekarang lanjut ke kursus nulis, deh. Lupa ama CAD-nya. Hehehe

    • Iya. Saya ambil dari foto grup yg pakai drone. Baru terlihat kalau di tepi pantai banget. Kami engga sempat menyusuri pantainya…
      Makasih ya sudah mampir…

  4. Btw aku bener bener takjub dan suka banget sama bangunan gerejanya… padahal umur gerejanya udah tua banget yaaa tapi ttp epik… kayunya justru yang bikin gereja ini uinnndahhhh sekalii

    • Iya. Kata penjaga gereja, kayunya dibawa dari pulau Jawa. Pastinya pakai kapal laut yah. Hmm…tapi bikin atapnya itu lhooo…kan dereknya msh sederhana. Salut ama orang dulu…

    • Iya kah? Aduuuh badan engga kuat. Kan saya dari Bandung udh berangkat ke Cengkareng dari semalam sebelumnya.
      Noted deh. Lain kali ke Kelimutu hrs bermalam dulu santai, spy seger mau ngejar sunrise-nya…

  5. Di samping kiri Gereja tua sikka, ada pasar kain tenun ya mbak. Ibu-ibu yang jualan souvenir, tidak masuk ke halaman gereja. Teratur sekali mereka dagangnya. Walau setelah kita masuk ke area dagang mereka jadi dikerubutin habis-habisan 🙂

  6. Wah, sempat berkunjung ke Flores nih, mbak. Di sana tenun ikatnya cantik2, buatan tangan alami original kan ya buatan tangan. Pasti mahal deh. Gerejanya tempo doeloe nih artistik 🙂 Makannnya menggiurkan….

  7. Cantik sekali gerejanya seperti di Eropa. Salut mereka membangunnya dengan detail dan kokoh sampai ratusan tahun. Perkara kain memang bikin dilemma ya. Kainnya bagus-bagus. Mau dibeli, takut kebanyakan. Gak dibeli kebawa mimpi. Hahaha

  8. Bangunan gerejanya tampak kokoh ya, Bu, padahal udah dibangun ratusan tahun lalu. Pas lihat bagian dalamnya aku jadi gak heran karena pakai kayu yang keliatannya kuat banget. Kaca patrinya juga cantik… Lokasinya dekat pantai lagi, ya, bagus bangeeet…

  9. Membaca tulisan ini membuat aku memasukkan Sikka ke dalam bucketlist.
    Mengagumi gereja tua dengan arsitektur yang indah, melihat proses pembuatan tenun ikat, dan main ke pantai. Semuanya favorit aku.

  10. Tante, keren sekali desain interior gereja St Ignatius Loyola di Flores ini. Terimakasih sudah mengulasnya dengan apik tan.

    Duuh jatuh cinta ama sarung tenun buatan para mama di sana.

    Ah, semoga kelak, if God will, saya bisa berkesempatan ke Indonesia Timur, khususnya ke Flores. Saya baru ke Ambon di Indonesia Timur.

    • Bener banget. Kata teman saya yang asli Flores, tiap daerah punya motif yang berbeda. Dia mah sudah tahu, ini motif dari mana-mananya. Buat saya sih, semua bagus. Hehe…

  11. Banyak Katholik ya…wkt aku ke sana dari kamar hotel sayup2 terdengar suara anak2 lg mengaji di surau kupikir wkt itu banyak Islam nya juga hehe..

  12. Wah pasti kokoh banget ya Gerejanya dan kualitas kayunya bagus. Sudah 200 tahunan lebih berarti. ^^. Mirip dengan gereja di Eropa yang umurnya juga ratusan tahun tapi di upgrade secara berkala 🙂

Tinggalkan komentar

Site Protection is enabled by using WP Site Protector from Exattosoft.com