Membimbing Anak SPD (Sensory Processing Disorder)


keluarga, parenting / Minggu, September 16th, 2018
sensory processing disorder

Di usia ke delapan bulan cucu kami, Bara, diketahui dari hasil pengamatan dokter spesialis anak, bahwa ada keterlambatan pada tumbuh kembangnya. Waktu itu Bara belum bisa tengkurap, apalagi duduk sendiri. Tak ingin berlama-lama, kami pun menyertakan Bara pada sesi terapi motorik kasar.

Targetnya adalah Bara bisa duduk. Di usia ke-11 bulan, Bara pun berhasil duduk sendiri. Tentu saja sesi terapi tak berhenti sampai di sini. Masih ada target berikutnya, yaitu Bara bisa berdiri sendiri, berjalan, berlari, loncat, dan banyak kegiatan fisik lain yang harus dikejar. Hasil konsultasi dengan dokter spesialis anak tumbuh kembang (temans, tuh ya, dokter ini bukan hanya dokter spesialis anak, tetapi khusus tumbuh kembang anak), Bara didiagnosa GDD (global development delay).

Berbekal browsing, menurut pengertian yang kami dapat, artinya keterlambatannya menyeluruh, bukan hanya kemampuan fisiknya tetapi kemampuan lainnya. Dugaan kelanjutannya adalah keterlambatan motorik halus, fungsi sosial, dan kemampuan bicara nantinya.

Mengulang Terapi Fisio

Setelah Bara bisa berjalan, kami ikutkan di sesi terapi wicara.
Sampai pada suatu hari Bara mengalami kejang yang harus dilanjutkan dengan tes EEG dan MRI. Tes tersebut perlu dilakukan untuk mengetahui apakah Bara ada dugaan epilepsi atau tidak.
Walaupun menurut dokter spesialis anak yang merawat, Dr. Paulina Bangun, hasilnya Bara tidak ada tanda-tanda epileptik, kami mencari second opinion ke spesialis syaraf (neurolog).
Kali ini yang kami mintai konsultasi adalah neuro pediatrician, yaitu dokter spesialis syaraf anak.
Kebayang yah, sekolah kedokterannya berapa lama itu?

Pada saat pertama kali kami konsultasi, semua hasil tes EEG dan MRI kami bawa serta. Dr. Dewi Hawani menanyakan riwayat kehamilan Mama Bara, proses kelahiran, dan riwayat tumbuh kembangnya. Kemudian menjelaskan dengan teliti semua hasil tes tersebut. Menerawang hasil rekam medik MRI di lampu khusus, dan menjelaskannya lembar demi lembar. Dr. Dewi pun mengamati Bara ketika bermain dan memeriksa fisiknya dengan seksama. Kurang lebih kami satu jam ada di ruang praktek dokter.

Untuk mengetahui fungsi pendengaran Bara, maka Dr. Dewi merujuk untuk tes Berra, sebuah tes khusus untuk mencek syaraf pendengaran. Selain itu Bara pun dirujuk untuk dites psikologi.
Saya baru tahu bahwa anak usia batita begini ada psikotesnya.
Semua kami jalani, untuk mendapatkan jawaban masalah Bara.
Hasil tes Berra, fungsi syaraf pendengaran Bara tak apa-apa. Artinya Bara bisa mendengar.
Masih ada pertanyaan besar, kenapa Bara belum berbicara juga, padahal beberapa bulan lagi akan berusia 3 tahun.

Satu hal yang melegakan dan membuat terharu, Dr. Dewi tidak menjudge apa-apa, karena ada harapan mengoptimalkan tumbuh-kembang Bara di Masa Emas (Golden Age).

Merujuk hasil psikotes dan kemampuan Bara saat itu, Dr. Dewi menyarankan supaya Bara mengulang lagi terapi fisio dan melanjutkan terapi wicara. Supaya mudah dan lebih terpantau, kami pindah klinik tumbuh kembang di jalan Sulanjana, Bandung.
Menurut Dr. Dewi cara berjalan Bara masih canggung, dan ada kemampuan motorik kasar (gross motoric) yang harus dibenahi dulu, hal ini akan berpengaruh pada kemampuan berbicaranya.

Waktu itu saya masih belum nyantel, apa hubungannya antara jalan Bara yang masih geloyoran, belum jejeg, dengan kemampuan bicaranya.

Di klinik tumbuh kembang yang baru, sesi terapi terstruktur 12 kali pertemuan. Klinik ini jadwalnya penuh, sehingga awalnya Bara masuk dalam daftar tunggu. Cemas juga kami dengan situasi ini. Maunya kan Bara cepat-cepat ditangani, karena mengejar Masa Emas, hingga usia 5 tahun.
Alhamdulillah, tak menunggu lama, akhirnya Bara mendapatkan jadwal terapi, Senin untuk terapi fisio, dan Sabtu untuk terapi wicara. Peraturan di klinik ini, setelah 12 kali pertemuan, ada sesi evaluasi, kembali lagi ke Dr. Dewi untuk dicek hasil terapinya.

Beberapa kali saya menemani dan mengantar Bara ke sesi terapi fisio. Dan dari terapisnya, Ibu Zima, saya belajar banyak tentang body awareness, body shape, dan banyak istilah baru yang berkaitan dengan kemampuan motorik kasar Bara.

Body awareness, adalah menyadari anggota tubuh, tangan dan kaki. Misalnya kemampuan mengira-ngira ketinggian, naik dan turun tangga, berjalan di lorong sempit, berani duduk di bola besar (sesuatu yang tidak stabil). Banyak kegiatan sehari-hari yang di PR kan dan harus diulang di rumah. Misalnya melangkah melewati rintangan, naik-turun satu step tangga tanpa pegangan, bermain di bawah meja, merayap maju- mundur, dan lain-lain.
Terapis menyarankan Bara harus banyak bermain di taman, lapangan, atau play ground. Pokoknya banyak melakukan kegiatan fisik. Main prosotan dalam posisi duduk, main ayunan, dan lain-lain.

Di ruang terapi fisik, ada juga tangga dan perosotan. Bara main perosotan dalam posisi tengkurap, ini menunjukkan ada masalah keseimbangan pada Bara. Bara pun belum berani main ayunan.

Sedangkan sesi terapi wicara, Mama Bara yang selalu mengantar Bara. Tetapi menurut terapisnya Pak Ryan, banyak PR untuk Bara. Bahkan Pak Ryan awalnya bingung mulai dari mana, karena Bara kurang fokus.

Mampir ke sini ya: Memilih Baby & Toddler Class

Sensory Processing Disorder

Ketika pertama kali kami konsultasi ke Dr. Dewi Hawani, bulan Januari 2018. Target 12 kali pertemuan, berarti dalam 3 bulan bisa dievaluasi, berarti sekitar April atau Mei. Ternyata karena masalah kesehatan Bara, jadwal terapi tidak bisa rutin per minggu, sehingga baru bulan Juli 2018, Bara dievaluasi.
Hasil evaluasi Dr. Dewi, Bara merupakan anak dengan Sensory Processing Disorder atau SPD.
Wah, ini betul-betul istilah baru. Artinya baru kali ini saya dengar istilah ini.

Sebelumnya saya sudah tahu tentang autistik. Bara jelas bukan autistik, karena Bara sangat ramah dan sadar lingkungan. CP, atau cerebral palsy, Bara bukan, karena Bara bisa berjalan, walaupun ada keterlambatan. ADHD, attention deficit hyperactivity disorder, sepertinya bukan juga. Karena Bara masih termasuk tertib, tidak hiperaktif.

Berbekal browsing, kami pun mendapatkan penjelasan tentang Sensory Processing Disorder ini yaitu:

SPD merupakan kondisi neurologis yang kompleks, karena otak mengalami kesulitan menerima dan merespons informasi yang diterima oleh sistem syaraf. SPD juga memungkinkan otak seseorang salah menginterpretasikan informasi atau hal sehari-hari yang dialaminya.
Seperti kita ketahui, manusia mempunyai 5 indera, penglihatan-pendengaran-indera pencecap (lidah)-indera pembau (hidung)-indera peraba (kulit).
Beberapa anak ada yang sangat sensitif dengan ke 5 indera mereka dan mengalami kesulitan mengkoordinasikan satu sama lain. Tetapi ada pula anak-anak yang malah tidak sensitif akan indera mereka.

Mari kita pelajari infografis berikut dari SPDInfographic.com:

sensory-seeking-activities-sensory-integration-activities

Apa itu SPD:

  1. Dunia luar (lingkungan) difahami atau diterima oleh tubuh (inside world) melalui sensor di seluruh tubuh kita.
  2. Ujung-ujung syaraf di ke lima indera kita akan menyampaikan pesan melalui sistem syaraf pusat di tulang belakang.
  3. Informasi tersebut akan diteruskan ke otak.
  4. Over-arousal, ibaratnya terlalu banyak informasi, sehingga tidak semua terserap.
  5. Under-arousal, informasi yang mampu diserap oleh sistem syaraf kurang optimal.

Tanda-tanda anak dengan SPD adalah:

1. Difficulty staying in line
2. Laying on the floor during circle time
3. Hugging to tightly
4. Sensitive to touch
5. Aversion to food with certain textures
6. Wont wear certain clothes that feel hard or too long or to tight
7. Doesn’t like tags on clothing
8. Clumsy
9. Has a meltdown at parties or lunchroom
10. Scared of slides (heights) at the playground
11. Walks on toes
12. Distractible
13. Not reacting to someone calling him because he may have not have processed it
14. Talking loudly

Saya menuliskannya dalam bahasa aslinya saja, teman-teman terjemahkan sendiri ya.

Menilik perkembangan Bara, memang tidak menunjukkan ke-14 tanda-tanda di atas. Kira-kira ada 4 atau 5 tanda-tanda.

Laying on the floor during circle time

Bara entah kenapa seneng banget klesotan di lantai. Walaupun diingatkan nanti masuk angin, perutnya dingin. Tetap saja mager. Satu-satunya cara adalah mengalihkan perhatiannya dengan kesibukan lain yang dia suka. Misalnya membaca buku bersama, melukis, main piano, apa saja lah…jangan dibiarkan sendirian.

Aversion to food with certain textures

Bila disodori makanan baru, Bara tidak serta merta membuka mulut. Diperhatikan dulu apa yang disodorkan, diambil sendiri dengan tangannya, baru dia cicipi.

Has a meltdown at parties or lunchroom

Kami perhatikan bila Bara ada di tempat keramaian sulit makan. Jadi solusinya harus mencari tempat yang sepi baru deh bisa disuapi. Bila akan menghadiri undangan saudara yang menikah, maka pastikan disuapi terlebih dahulu di rumah. Kalau tidak, Bara tidak akan mau makan. Ujung-ujungnya Bara tampak lelah, masuk angin, terus sakit.

Scared of slides (heights) at the playground

Bara belum berani naik perosotan posisi duduk, pun belum berani naik ayunan sendiri. Bara main perosotannya sambil tengkurap. Main perosotan sambil dipangku Ayah.

Distractible

Kemungkinan besar Bara belum bicara, karena perhatiannya mudah sekali teralih. Bara mengerti gesture dan bahasa tubuh, sehingga sudah mengerti bila disuruh. Tetapi fokusnya masih kurang panjang.

Nah, teman bloger, sementara inilah yang dimaksud dengan Sensory Processing Disorder dan upaya kita mengarahkan anak-anak dengan SPD.

Terimakasih sudah membaca ya.

Akan ada sambungannya kok tentang perjalanan tumbuh kembang Bara…

twittergoogle_pluspinteresttumblr

25 Replies to “Membimbing Anak SPD (Sensory Processing Disorder)”

  1. Salam kenal buu.. Baru pertama kali saya mampir ke blognya.. Salah fokus sama di awalnya, ini yang sakit cucunya? Waa baru nemu nenek-nenek yang ngeblog dan enak banget bacanya.. Detail. Anak saya dulu jg sempag speech delay dan divonis Sensory Integration Disorder kalo ga salah.. Cuma waktu itu karena jadwal klinik tumbang penuh terus jadinya ngga terapi. Tau2 umur 2 tahun ledakan bahasa. 😅

  2. Wah, luar biasa ceritanya. Anakku dua-duanya ada keterlambatan, tapi untungnya tidak ada kelainan. Yang pertama terlambat motorik kasar. Yang kedua speech delay. Sekarang udah baik-baik aja.

    Jadi penting punya pengetahuan spti ini ya

  3. Wah makasih untuk ilmunya Bunda Hani. Saya serasa sedang belajar membaca tulisan ini. Walau saya jurusan pendidikan luar biasa. Saya juga tidak mempelajari semua kasus anak sedetail ini. Apalagi sekarang banyak istilah baru.

    Walau begitu sebagai yang profesinya guru anak berkebutuhan khusus kami bekerja sama dengan tim ahli yang lain dalam mengoptimalkan kemampuan anak. Semoga keluarga bunda Hani dimudahkan dan dilapangkan pula rezekinya. Karena pasti membutuhkan dana yang tidak sedikit juga berkonsultasi dengan beberapa ahli sekaligus

    1. Naaah iya. Hehe…bener banget. Mayan biayanya. Sambil cari² info kok dari website, terutama pinterest. Banyak banget contoh tutorial dan mainan edukatif yg bisa DIY.

  4. Baru tau jenis sakit yang ini, saya taunya cuma yang umum aja kaya autis dan speak deelay karena kedua saya saat kecil mengalami speak deelay. Alhamdulillah dengan terapi yg teratur,saat menginjak masa sekolah TK akhirnya dia bisa bicara dan sekarang cerewet minta ampun.

  5. Memang harus sabar mengikuti perkembangannya. Perubahan sedikit saja patut disyukuri. Hebat, nenek mengikuti perkembangan cucunya

  6. Masya Allah rejeki Bara dapat penanganan luar biasa dari orang tua, nenek kakek dan lingkungannya.
    Dari ulasan ini saya jadi tahu apa itu SPD..
    Memang Maha Besar Allah menciptakan segala makhluknya ya Mbak Hani..
    Yang penting tetap semangat menjalani, karena tidak akan hamba ditimpa cobaan di luar batas kemampuan. Insya Allah

  7. MasyaAllah Baraaa … Anak dengan tekad yang pejuang ya, Nak. Cerita tentang Bara inspiratif banget, Bun. Di sini aku melihat betapa menjadi orangtua itu nggak mudah. Harus peka, responsif, dan berilmu. Bunda bisa mendampingi Bara tentu karena mau terus belajar, ya. Membaca, mencari informasi, mempraktekkan. Luaaarrr biasa!!!

  8. Terimakasih banyak sharingnya bun Hani. Aku baru tau ada istilah SPD. Anakku dlu sempat lambat juga tumbuh kembangnya bun, dia baru bisa jalan itu usia 15bln, bicara pun usia 4 tahun baru ‘meledak’. Semoga Bara sehat selalu dan dilancarkan pengobatannya ya Bun. Peluk cium utk Bara. Muuach.

  9. Bunda Hani anak sy dlu pernah terapi wicara tapi untuk mengoptimalkan masalah makan. Efeknya tidak hanya kemampuan makan tapi juga kemampuan bicara. Alhamdulillah sekarang udah banyak ngomong. SPD pernah denger tapi gak sedetail ini. Semoga mas Bara bs segera mengejar perkembangannya ya Bund. Setiap anak unik. Dan semoga diberi rejeki yg banyak krn sy pernah juga pernah wara wiri terapi untuk ikhtiar anak. Salam sehat ya Mas Bara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *