Upaya Menyelamatkan Diri Menyikapi Misteri Munculnya Gempa


lifestyle / Kamis, Oktober 4th, 2018

Sejak gempa besar disertai tsunami di Aceh, kira-kira 13 tahun yang lalu, saya baru memperhatikan benar tentang lempeng dan patahan bumi. Saya pun langsung mengerti, kenapa kemudian ada gempa-gempa menyusul di tahun-tahun berikutnya di beberapa tempat sepanjang Samudra Hindia, di pulau Nias, Mentawai, Padang, Bengkulu, Yogya, Pangandaran, Tasikmalaya, dan seterusnya mengikuti jalur pergeseran lempeng bumi.

Misteri Gempa

Selain gempa, di Indonesia juga bermunculan gunung berapi yang masih aktif. Sehingga sebutan ring of fire sangat cocok dengan kondisi letak geografi negara kita. Bedanya dengan gunung berapi yang sebelum meletus menunjukkan tanda-tanda alam, yang bisa dirasakan oleh instink hewan dan ditanggapi oleh manusia. Munculnya gempa masih merupakan misteri hingga hari ini.

Saya pun baru tahu bahwa gempa di pulau Lombok, propinsi Nusa Tenggara Barat, bulan Juli 2018 dan gempa-gempa berikutnya adalah akibat aktivitas Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust). Berbeda lagi dengan pergeseran tektonik lempeng bumi yang terjadi di Aceh.

Belum genap dua bulan sesudah gempa di Lombok, muncul tak terduga gempa bumi yang mengguncang Palu, di Sulawesi Tengah. Gempa kali ini luar biasa hebat, selain gempanya sendiri juga disertai dengan tsunami di pantai. Sedangkan di daerah lain, justru air berlumpur muncul dari bawah bumi melipat semua yang ada di permukaan. Kejadian tiba-tiba disebut likuifaksi (liquefaction). Likuifaksi adalah tanah berubah menjadi lumpur seperti cairan dan kehilangan kekuatan.

Saya baru tahu lagi bahwa ada gerakan patahan Palu-Koro yang bergeser 4.5 cm per tahun membelah pulau Sulawesi dari Utara di teluk Palu ke Selatan melalui teluk Bone. Sesar Palu-Koro merupakan sesar sepanjang 500 km, merupakan sesar kedua setelah sesar Sumatera yang sepanjang 1500 km.

Menurut sejarah bahkan gempa di Palu sudah sering terjadi dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Bahkan cerita yang dikisahkan turun temurun tsunami pun sudah pernah terjadi, dan mendapat julukan “air laut berdiri”. Sayangnya tidak ada sosialisasi tentang kerawanan lokasi, terutama bagi pelaksana pembangunan gedung. Supaya misalnya membuat bangunan yang lebih tahan gempa.

sesar palu-koro

peta sesar Palu-koro

Memang sih melihat kedahsyatan gempa yang terjadi seolah kita sebagai manusia tidak ada artinya di alam semesta ini. Beberapa penjelasan dan teori menjelaskan kekuatan gempa bisa terukur manakala gempa tersebut telah terjadi. Sesungguhnya belum pernah saya tahu, bahwa ada ilmu yang bisa memrediksi bahwa gempa sekian skala Richter akan terjadi hari dan jam tertentu.

Bahkan alat memrediksi tsunami merupakan sebuah alat peringatan dini. Apakah tsunami benar-benar datang, namanya juga alat, bisa benar bisa tidak. Ketika permukaan air laut ternyata naik hanya 50 cm, masyarakat menertawai. Lalu ketika benar-benar terjadi tsunami setinggi 7 meter yang justru datangnya bukan di gempa pertama, tetapi di gempa lebih besar berikutnya, masyarakat menghujat.

Upaya Penyelamatan Diri

Pertama saya menyatakan dukacita kepada para korban gempa di manapun berada. Saya tak ingin pula mengaitkan dengan azab yang banyak disebar di media sosial.
Saya berusaha membagi upaya penyelamatan diri yang baru-baru ini dishare di grup media sosial.

Beberapa artikel yang saya baca menjelaskan bahwa kita harus tahu tempat berlindung yang aman. Tempat yang aman tersebut bernama “triangle of life” atau segitiga kehidupan.

Penjelasan sederhananya adalah saat bangunan runtuh, langit-langit akan menimpa benda atau furnitur sehingga menghancurkan benda-benda ini. Secara teori, jatuhnya benda tersebut justru menyisakan ruang kosong di antaranya, disebuta sebagai “segitiga kehidupan” (lihat gambar).

triangle of life

Menilik gempa dahsyat yang baru terjadi minggu yang lalu di kota Palu, guncangan yang terjadi bukan hanya sekali, tetapi terjadi berulang kali dalam satu hari. Sehingga teori yang diilustrasikan, bisa saja hanya terjadi di guncangan pertama. Apa yang terjadi, misalnya guncangan berikutnya menggeser benda-benda berat tadi dan justru menyulitkan evakuasi.

Informasi lain saya peroleh dari grup WhatsApps alumni teman kuliah. Seorang teman justru mengingatkan agar kita menyiapkan ransel untuk menyelamatkan diri. Istilahnya survival kit atau tas darurat bencana.
Boleh juga nih, ada baiknya setiap rumah tangga menyiapkan anggota keluarga masing-masing tas darurat bencana seperti ini.

Ransel tersebut berisi:
Makanan tahan lama untuk 3 hari
Air minum untuk 3 hari
Radio portabel, sekarang sudah menjadi satu dengan fitur ponsel.
Ponsel, lengkapi dengan power bank
Senter
Kotak P3K
Baju secukupnya
Masker debu
Peluit

tas darurat bencana
tas berisi barang-barang untuk bertahan hidup

Sepertinya kita semua, masyarakat Indonesia, harus tahu lokasi tempat tinggal masing-masing berada di atas patahan sesar apa, nih.
Saya yang tinggal di Bandung, katanya ada sesar Lembang yang jaraknya hanya 10 km dari kota Bandung yang berpenduduk padat. Bahkan menurut peneliti dari Pusat Penelitian Mitigasi Bencana ITB, sebuah analisis tentang gempa sesar Lembang, berpotensi menimbulkan longsor dan kerusakan di seluruh kota Bandung. Guncangan hebat bisa terjadi dari mulai daerah Ngamprah di Bandung Utara hingga ke Bandung Selatan. Melalui wilayah Turangga, Lengkong, Babakan Surabaya, Cijagra, Pasir Luyu, Margacinta, Cisaranten Kulon, hingga selatan Ujung Berung.
Lhah…kami kan tinggal di kelurahan Turangga.

Tidak ada yang mengharapkan datangnya bencana. Tetapi kita diberi akal oleh Allah swt bukan, untuk menyiapkan diri terhadap segala kemungkinan. Karena yang namanya bencana, tidak melulu gempa.
Seperti halnya misteri, bencana bisa datang kapan saja.

twittergoogle_pluspinteresttumblr

8 Replies to “Upaya Menyelamatkan Diri Menyikapi Misteri Munculnya Gempa”

  1. Sejak dulu pas masih tinggal di Bandung, saya sudah dapat info soal sesar Sunda yang harus diwaspadai. Semoga Tuhan meluputkan kita dari bencana ya Bun..

    Btw tinggal di Turangga? Dulu tempat main saya tuh di situ hehehe…

  2. Ya Allah, ampunilah segala dosa dan khilaf kami, Aamiin. Informatif sekali artikelnya. Saya juga baru kepikiran soal tas darurat ini. Oiya sekadar tambahan untuk surat berharga baiknya difoto/scan lalu simpan di email ya.

  3. Tas darurat bencana…hmm, selama ini belum kepikiran nyiapinnya. Padahal waktu gempa Aceh dan Nias saya yang saat itu tinggal di Sumut ikut was-was karenanya.

    Terima kasih sudah menuliskan ini Mbak Hani, memang bencana adalah misteri tapi seharusnya memang kita mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa terjadi.

    Sosialisasi tanggap bencana sepertinya juga belum meluas dilakukan di berbagai lapisan. Sehingga masyarakat masih belum mengerti apa yang bisa dilakukan jika ada gempa dan bencana lainnya.

    Semoga ke depan ada perbaikan untuk hal ini..paling tidak dari diri kita sendiri mengedukasi keluarga dan lingkkungan terdekat kita 🙂

  4. Pernah baca tentang triangle of life dan liat di beberapa film yang temanya becana gempa memang sering ditampilkan.

    Tas darurat bencana juga memang harus punya di tiap rumah karena kita tidak tau kapan bencana datang.

    Thanks for sharing mba.

  5. Wah betul juga ya bun. Ini penting dan jg yang paling penting kita tak boleh lepas semakin dekat kepada Allah ya bun. Iman harus semakin kencang juga karena ajal saat bencana tidak pernah tau. Jazaakillah infonya bun.

  6. Jadi teringat masa tsunami di aceh dulu bun, Allhamdulillah selamat keluarga. Informasi tentang gempa ini harus sering di edukasi ke sekolah2 alangkah lebih baik dari sd sudah di edukasi masalah bencana (tsunami dan gempa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *