Antara Picky Eaters, Gizi Seimbang, dan Selera Makan


lifestyle, parenting, sensory processing disorder / Minggu, November 25th, 2018

greatkidstherapy.com

Duh, makannya susah amat …
Hhh, udah dimasakin engga doyan …

 

Setelah sekian lama maju-mundur syantik, akhirnya Bara kami bawa ke dokter ahli gizi di sebuah RS Ibu dan Anak langganan di Bandung. Akhir-akhir ini Bara ada kecenderungan picky eater, sehingga berat badannya seperti stagnan. Walaupun Bara lahir normal dan di usia cukup bulan, berat badan lahirnya termasuk BBLR (berat badan lahir rendah), 2.4 kg dan panjang 47 cm. Mungil memang. Sehingga setelah lahir, Bara dimasukkan inkubator semalam.

Berat Badan Sulit Naik

Boleh dibilang, sejak Bara lahir, berat badannya menurut grafik yang ada di buku catatan kesehatan selalu mepet ke warna kuning. Bahkan hampir merah. Jarang sekali hijau.

Kami pun sudah pernah konsultasi ke dokter spesialis anak tentang ini.

Kisahnya ada di sini: 3 Hal Utama yang Perlu Diperhatikan untuk Menjaga Asupan Gizi Batita

Selama masa pertumbuhannya Mama Bara berusaha memenuhi gizi Bara dengan baik. ASI diberikan selama dua tahun, kemudian MPASI mulai diberikan di usia 6 bulan, sesuai standard kesehatan WHO. Awal MPASI, asupan yang diberikan adalah alpukat kerok. Kemudian ada masanya Bara suka sekali mangga. Aneka buah-buahan sudah dicobakan ke Bara, papaya, pisang, apel parut, pir, mangga matang, alpukat, buah naga, jeruk manis, stroberi …

Bara waktu itu belum menunjukkan picky eaters. Picky eaters adalah kecenderungan memilih-milih makanan. Entah ada kecenderungan diturunkan atau tidak, Mama Bara pun waktu kecil pernah hanya doyan makan nasi dengan lauk telur dadar dan bawang goreng selama berbulan-bulan.

Mama Bara berusaha membuat sendiri makanan untuk Bara sejak MPASI sampai sekarang. Saya pun menyempatkan membuatkan aneka frozen food, misalnya mini burger, chicken loaf, baso bihun ayam, dan lain-lain. Saya menyiapkan aneka menu tersebut, menatanya dalam wadah-wadah kecil dan dibekukan di lemari es. Bila diperlukan, Mama Bara tinggal mengambil seperlunya dan diolah aneka hidangan untuk Bara. Misalnya mini burger bisa diolah menjadi semur, baso bihun sebagai bahan tambahan untuk sup. Apa pun dilakukan, lah, supaya Bara selera makan.

Bara bertambah tinggi, sih. Buktinya baju-bajunya jadi kependekan. Berat badannya naik juga, kok. Tapi kalau menurut standard kesehatan WHO, grafik berat badan dan tinggi badan untuk usia Bara yang 3 tahun lebih, mepet minus 1 (-1), bahkan hampir minus 2.

Antara Gizi Seimbang dan Pola Makan

Di hari yang ditentukan sesuai appointment dengan dokter ahli gizi, Dr. Sisca, Bara diperiksa dengan seksama dan menanyakan riwayat kesehatan sejak lahir hingga sekarang. Mama Bara pun menceritakan dengan detail dan menambahkan bahwa Bara beberapa kali step serta didiagnosa SPD (sensory processing disorder).

Apa itu SPD, kisahnya di sini ya: Membimbing Anak SPD (Sensory Processing Disorder)

Dokter pun menanyakan asupan apa saja yang telah diberikan ke Bara. Bahkan Mama Bara membawa serta cetakan nasi untuk takaran Bara makan. Biasanya 3X kali makan, pagi – siang – malam, Bara makan satu cetakan kira-kira setengah tangkup.

Lalu lauknya apa saja? Pagi – siang – malam, sop kaldu isi protein dan sayur, lauk kering tempe atau tahu goreng, kadang perkedel. Lalu selingan pagi dan sore, telur setangah matang.
Buah kapan? Kadang pagi diberi pisang, atau papaya. Ya yang ada di rumah.
Susu? Kadang-kadang. Bara suka susu rasa coklat.

Dokter Sisca pun menjelaskan panjang lebar kali tinggi, sampai saya rekam, saking saya takut lupa.
Mama Bara pun mencatat. Beneran, memang harus dicatat. Penting!

Jadi singkat cerita, begini:

Apa yang kami berikan ke Bara mungkin sudah memenuhi gizi yang seimbang, yaitu karbohidrat, protein, dan sayur, tetapi belum memperhatikan Pola Makan.
Menurut Dokter Sisca, pola makan adalah pengaturan makan sesuai jam dengan porsi dan jenis makanan tertentu. Salah satu efek pola makan, anak dikenalkan dengan rasa lapar, kemudian diatur antara pemberian makanan berat, makanan selingan, dan buah.

Ada hal baru, yaitu appetizer/ starter meal.

Appetizer itu apa? Appetizer/ Starter Meal adalah makan pembuka untuk menggugah selera.
Wah, baru nih. Zaman anak-anak kecil belum ada pengetahuan tentang ini. Saya tahunya 4 sehat 5 sempurna. Yang ke 5, susu, ternyata juga tidak wajib setelah anak 2 tahun. Beberapa anak malah alergi terhadap susu (sapi), kan.

Kapan diberikan dan apa saja appetizer tersebut? Appetizer diberikan begitu anak bangun tidur.

Misalnya anak bangun pukul 06:00, jangan langsung makan berat, tapi beri appetizer.

Pukul 07:00: Appetizer

Adapun appetizer harus makanan manis. Iya, bener, makanan yang mengandung gula, gula putih ya. Bukan manis dari madu.
Misalnya teh manis, roti tawar dengan selai buah, kue-kue manis.

Ternyata ada teorinya …
Gula mudah diserap usus. Gula tersebut dengan dibantu hormon insulin kemudian akan merangsang rasa lapar.

Itu saja dulu. Tunggu 1-2 jam kemudian, baru sarapan yang sesungguhnya. Disinilah intinya, mengenalkan rasa lapar tersebut.
Jangan diberikan roti dengan mentega atau selai kacang. Karena lemak, sulit dicerna, dia lama ada di usus, sehingga anak merasa kenyang.

Untuk anak-anak yang mengejar kenaikan berat badan, justru jangan terlalu banyak atau terlalu sering diberi makanan mengandung serat. Serat juga menimbulkan rasa kenyang, sehingga anak jadi malas makan.

Tuh ya teman-teman yang Mama blogger, kebalikan daripada kita-kita ya. Bangun tidur kita jangan minum teh manis, nanti lapar. Dan kalau kita memang harus banyak makan sayur dan buah. Serat itu mengenyangkan.

Pukul 08:00, sarapan seperti biasa, karbohidrat dengan lauk pauk. Porsi makan yang tadinya kami berikan secetakan kuning itu, ternyata menurut dokter cukup ¾ nya.

Pukul 11:00, snack pagi, aneka kue-kue manis dan susu.

Pukul 13:00, makan siang lengkap dengan lauk pauk, sesudahnya boleh dessert puding manis atau buah

Pukul 16:00, snack sore, bebas, boleh kue, roti. Kalau ada vitamin, boleh diberikan vitamin. Sarannya, sih, vitamin yang mengandung curcuma.

Pukul 19:00, makan malam lengkap dengan lauk pauk.

Sebelum tidur malam boleh diberikan susu.

Ketika Bara tidak Selera Makan

Nah, kira-kira sebulan yang lalu, Bara menunjukkan picky eaters. Padahal yakan sudah dibawa ke dokter ahli gizi. Pola makan sudah diatur. Bangun tidur teh manis, roti plus selai buah.

Pada suatu siang, ketika saya menyuapi Bara, dia tidak doyan apa pun. Nasi dilepeh, peh, peh …. Saya buatkan macaroni, direbus, barangkali doyan.
Kan kata dokter, karbohidrat tidak harus selalu nasi. Boleh kentang, roti, macaroni, mie, dan lain-lain.

Ternyata tidak doyan juga. Semua makanan yang disodorkan ditampik. Bara sesiangan tersebut lemas saja. Saya pun WA Mama Bara, Bara tidak doyan makan.

Bara GTM (gerakan tutup mulut) berlangsung berhari-hari. Sampai menguras emosi dan energi seluruh anggota keluarga. Sering terdengar tangisan, karena Bara ogah makan, dan kami memaksakan menyuapkan nasi sop. Kadang berhasil, seringnya dilepeh. Bahkan Mama Bara pun ikut menangis, frustasi. Jengkel juga …

Malah sempat curiga, jangan-jangan tenggorokannya sakit, jadi susah menelan.

Berkat chatingan dengan aneka grup, ada saran, coba dikasih nasi panas plus margarin. Karena gurih Bara doyan, tetapi perutnya tidak tahan lemak. Bara diare. Zonk deh …
Gagal …

Roti biasanya suka, kali ini emoh. Tempe goreng, biasanya cepat, nom-nom. Kali ini ditolak mentah-mentah.
Bahkan pernah pada suatu saat Bara terpaksa dititipkan di daycare, Bara tidak mau makan sama sekali.

Antara Rasa Makanan dan Tekstur Makanan

Up and down memberikan makan Bara berlangsung dua minggu. Sempat diare juga. Anak kalau diare kan berat badan turun. Mana naiknya susah, turunnya gampang banget. Berat badan Bara turun hampir 600 gram.

Sampai akhirnya saya curiga, jangan-jangan Bara bukan tidak suka rasa makanan tetapi tidak suka tekstur makanan.

Bara kan SPD. Anak-anak dengan SPD mempunyai sensor-sensor indera tubuh yang sangat sensitif. Begitu sensitifnya hingga ada yang berlebihan sehingga mengacaukan banyak hal.
Indera perasa adalah salah satu dari panca indera kita selain penglihatan, pendengaran, penciuman dan perabaan.

Mungkin saja, kali ini indera perasa Bara lagi kumat, bisa jadi nasi menjadi serasa pecahan beling.
Who knows?

Berangkat dari sana Mama Bara pun banyak membaca dan mencari informasi tentang Selera Makan pada Anak dengan Sensory Processing Disorder.

Nanti ya, saya akan tuliskan tentang ini …

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

21 Replies to “Antara Picky Eaters, Gizi Seimbang, dan Selera Makan”

  1. Makasih ya Bun ilmu dan sharingnya. Anak saya waktu kecilnya nggak picky eater, Eh udah besar malah jadi picky eater, btw picky eater ada batasan umurnya nggak Bu

  2. Semangat, Mama Bara!. Mendampingi buah hati yang picky eater itu memang sesuatu banget, ya. Saya ngalamin juga sampai konsultasi ke dokter ahli gizi. Tips-nya sama ternyata. Pola makan yang disarankan seperti itu. 😉😉

  3. Wah Bunda Hani. Makasih banyak ikh ilmunya. Aku biasanya tahunya gizi seimbang dan pola makan aja. Tapi ternyata aku baru tahu dari ulasan bunda. Kita perlu memperhatikan makanan/minuman pengundang seleea ketika anak baru bangun tidur.

    Semoga sekeluarga dimudahkan ya dalam mengurus Bara 😘

  4. Wah, saya baru tahu kalo teh manis itu appetizers. Iya sih, biasanya si kecil minum teh manis saat bangun tidur. Tapi sy baru tahu istilah ya.
    Bermanfaat sekali, Bun.
    Tetap semangat ya, Mama Bara Dan Eyang Utinya yg penuh perhatian 🙂

  5. Ilmu bangets ini..Makasih Mbak Hani.
    Anak saya yang bungsu picky eater sampai sekarang. Mana dia suka buah dan sayur lagi..Pantes ya, kan serat bikin kenyang. Jadi enggak banyak makan berat dia
    Saya tunggu lanjutan sharingnya

  6. Anak keduaku juga paling susah suruh sarapan berat. Sukanya ngemil sama ngeteh. Sarapan sekitsr jam 9 nan. Tapi itu dulu pas jaman belom sekolah. Sekarang jam 7 udah mau makan. Cepet gendut lagi ya buat kakak Bara…

  7. Jadi ingat anak saya yg dulu pernah makan nasi doang selama dua bulanan. Huft… Kalau emaknya stress dia malah gak mau makan. Ya udah saya biarkan aja. Alhamdulillah sekarang udah biasa aja. Makasih sharingnya mbak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *