Menelusuri Jejak Manusia Purba di Sangiran

  • Whatsapp

sangiran

Awalnya saya tidak terlalu tahu, di mana tepatnya letak Sangiran. Pernah baca beberapa kali, bahwa di Sangiran ditemukan jejak manusia purba. Bahwa Sangiran itu situs arkeologi. Membaca arkeologi, yang terbayang, kan, piramida dengan para arkeolog yang menggali-gali, lalu ketemu mummy.

Muat Lebih

Waktu itu, suami yang setahun belakangan ini menjadi dosen tamu di ISI Solo, ada jadwal menguji. Saya ikut lah menemani. Lalu keidean untuk extend semalam, kami akan jalan-jalan sekitar Solo.
Kemana?
Obyek wisata yang kami cari yang tidak terlalu melelahkan, bukan yang explorasi alam-alam gitu deh. Maklum, harus hati-hati menapak, kalau terpeleset urusannya repot.

Beberapa museum di kota Solo sudah pernah kami kunjungi, ada Museum Radya Pustaka, Museum Keris. Istana dan Keraton, sudah. Candi Sukuh dan Candi Cetho, agak di luar kota Solo juga sudah pernah kami sambangi. Akhirnya dari hasil browsing, kami mendapatkan Sangiran, Museum Manusia Purba.

Menuju Sangiran

Rencananya Sabtu pagi kami akan berangkat ke Sangiran. Cari-cari informasi di internet, katanya ada bus kota dari kota Solo ke Karanganyar, kemudian kami bisa sambung dengan shuttle. Tak yakin dengan informasi yang ada, iseng-iseng saya cek aplikasi taxi online. Ternyata tarif dari hotel di Solo ke Sangiran, limapuluhribu rupiah.

Kami pun memesan taxi online. Driver tak terlalu tahu letak Sangiran, dan heran, ngapain kami ke sana? Museum Manusia Purba? Yakali, mau nengok saudara tua, kata suami. Dari hasil obrolan, driver masih terheran-heran, kalau kami ke sana, bagaimana pulang kembali ke Solonya? Karena Sangiran itu desa, dari jalan raya Solo-Purwodadi, masih masuk lagi ke dalam.
Akhirnya, kami bargaining, antar kami ke Sangiran, sesudahnya kami carter mobilnya untuk ke tempat lain. Rencananya, kami akan mengunjungi Colomadu, balik ke Solo, makan siang, dan kembali ke hotel.

Sangiran

Situs Sangiran terletak antara kabupaten Sragen dan kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah, kira-kira 15 km jaraknya dari kota Surakarta. Lokasi ini tepatnya masih 4 km dari tepi jalan raya, memiliki area luas 56 km2, terletak di lembah sungai Bengawan Solo dan di kaki gunung Lawu. Lokasi situs Sangiran dinamakan sebagai kawasan Kubah Sangiran.

Menurut laporan UNESCO (1995), Sangiran diakui oleh para ilmuwan untuk menjadi salah satu situs yang paling penting di dunia yang mempelajari fosil manusia. Disejajarkan dengan situs Zhoukoudian (Cina), Willandra Lakes (Australia), Olduvai Georga (Tanzania), dan Sterkfontein (Afrika Selatan). Oleh sebab itu tahun 1996, kawasan Sangiran termasuk dalam salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO, sebagai Sangiran Early Man Site.

Situs Sangiran sendiri pertama kali ditemukan tahun 1883 oleh P.E.C. Schemulling. Kemudian Eugene Dubois turut serta melakukan penelitian di sini tetapi tidak terlalu intensif. Di kemudian hari, Dubois lebih memusatkan penelitian di kawasan Trinil, Ngawi. Bahkan temuan Dubois di Trinil disebut-sebut merupakan Missing Link yang ramai dibahas dalam Teori Darwin.

Di tahun 1934, Profesor Von Koenigswald pertama kali menemukan fosil rahang bawah Pithecanthropus Erectus (salah satu spesies dalam taxon Homo Erectus), dan merupakan cikal bakal situs Sangiran menjadi Museum Manusia Purba.

Sekarang ini situs Sangiran selain menjadi obyek wisata yang menarik juga merupakan area penelitian tentang kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia. Menariknya, di area situs Sangiran ini pula jejak tinggalan berumur 2 juta tahun hingga 200.000 tahun masih dapat ditemukan hingga kini, bahkan relatif utuh. Beberapa temuan fosil di sekitar Sangiran justru ditemukan oleh penduduk sekitar, yang kemudian dilaporkan ke Dinas Purbakala.

Museum Manusia Purba Sangiran

Ketika kami masuk ke kawasan Sangiran, ada gerbang berbentuk gading besar, kemudian kami harus membeli tiket masuk untuk orang dan kendaraan. Kami pun ditawari, apakah akan memakai pemandu wisata menemani kami di dalam museum. Menurut penjelasan, fee untuk pemandu sekitar limapuluh ribu rupiah selama sekitar 2 jam. Kami pun sepakat akan memakai jasa pemandu wisata. Kan kurang afdol bila masuk ke museum, cilang-cileung sendiri.

Museum Manusia Purba Sangiran mulai dibuka tahun 2011 dan dikembangkan menjadi 4 kawasan di seluruh situs Sangiran. Adapun kawasan tersebut adalah:

• Krikilan: situs yang merupakan pusat kunjungan dilengkapi dengan Museum Manusia Purba Sangiran.
• Ngebung: merupakan situs sejarah penemuan situs Sangiran.
• Bukuran: memberikan informasi tentang penemuan fosil manusia prasejarah di Sangiran.
• Dayu: memberikan informasi tentang penelitian terbaru.

Di Museum Manusia Purba Sangiran kita dapat memperoleh informasi lengkap tentang pola kehidupan manusia purba di Jawa dan belajar berbagai ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, dan Paleoanthropologi.

Ada 3 gedung utama yang merupakan satu kesatuan rancangan sebuah Museum, yaitu: Kekayaan Sangiran, Langkah-langkah Kemanusiaan, dan Masa Keemasan Homo Erectus.
Sepertinya Museum Manusia Purba Sangiran memang didesain sebagai Museum. Berbeda dengan beberapa museum yang saya kunjungi, awalnya adalah rumah tinggal yang beralih fungsi menjadi museum. Sehingga seringkali, museum itu ibaratnya gudang yang menyimpan berbagai benda peninggalan apa saja.

Darimana saya bisa mengetahui bahwa Museum Manusia Purba Sangiran memang didesain sebagai museum? Pertama dari bentuk bangunan, kedua dari pola sirkulasi, ketiga tata interiornya.
Sirkulasi museum atau fungsi bangunan lain yang memamerkan sesuatu, pola sirkulasinya linier. Jadi pintu masuk dan keluar akan berbeda. Begitu pula yang saya jumpai di Museum Manusia Purba Sangiran.

1. Kekayaan Sangiran (Wealth of Sangiran)

gedung kekayaan sangiran

Gedung pertama bernama Kekayaan Sangiran. Di sini kita diperkenalkan asal muasal terjadinya Kubah Sangiran. Jadi ya gaes, ceritanya terjadi pergeseran tektonik, bisa gempa, bisa letusan gunung Lawu purba, somekind of that lah … sehingga lapisan bumi terangkat dan memunculkan segala sesuatu yang tadinya terpendam jauh di dalam bumi.
Seperti kita ketahui, bumi kan terdiri dari lapisan-lapisan. Nah, kita bisa mengetahui umur bumi ya dari sisa mahluk-mahluk di setiap lapisan yang sudah jadi batu.

Di gedung ini ada beberapa fosil mulai dari gajah purba, ikan, replika kura-kura, yang ukurannya giant alias guede. Kemudian berbagai diorama aktivitas manusia purba.

diorama sangiran

Menariknya, ada poster yang menjelaskan bahwa manusia purba volume otaknya 870cc, sedangkan makin ke sini, otak manusia volumenya bertambah menjadi 1100cc. Maksudnya, kita makin pintar kan ya …

Selepas dari gedung ini, kami keluar ke selasar yang mengarahkan ke gedung lainnya. Selasarnya berbentuk ramp, artinya jalannya ada kemiringan, untuk masuk ke gedung (2).

jembatan museum manusia purba

2. Langkah-langkah Kemanusiaan (Steps of Humanity)

langkah-langkah kemanusiaan

Masuk ke gedung 2 dinamakan gedung Langkah-langkah Kemanusiaan (Steps of Humanity), di sini akan diperkenalkan perjalanan evolusi manusia. Awalnya ada pemutaran film pendek terlebih dahulu tentang teori Big Bang. Itu, lho, salah satu teori dalam ilmu fisika yang mencoba menjelaskan awal mula adanya alam semesta.

Kemudian kami melangkah ke ruangan yang memperlihatkan berbagai urutan evolusi manusia sejak manusia purba hingga manusia modern.

teori evolusi

Pernah dengar kan teori Missing Link dari Charles Darwin? Menurut penelitian, manusia purba yang ditemukan di Trinil mengisi kekosongan Missing Link tersebut.

Selanjutnya paparan mengenai Indonesia yang terletak di kawasan Cincin Api atau Ring of Fire. Peta 3 dimensi yang dilengkapi dengan lampu kelap-kelip sudah memperingatkan kita, bahwa kita hidup di daerah rawan bencana, terutama akibat aktivitas gunung berapi.

ring of fire

Gedung (2) ini terdiri dari dua lantai. Jadi setelah menyusuri diorama berbagai evolusi, migrasi, bahkan diorama para peneliti yang berkiprah di Indonesia, kami turun ke bawah.
Kemudian keluar menuju ke gedung terakhir.

3. Masa Keemasan Homo Erectus (Golden Era of Homo Erectus)

Di gedung ketiga ini merupakan ruangan yang berisi diorama besar yang memberikan pandangan seluruh wilayah Sangiran dengan gunung berapi seperti gunung Lawu. Gunung Lawu berada di latar belakang, sedangkan manusia dan hewan di latar depan, seolah kejadian 1 juta tahun yang lalu. Di gedung ini juga dijelaskan bahwa sebagian besar diorama adalah karya pematung palentologis internasional bernama Elisabeth Daynes.

Menariknya di gedung ini juga menayangkan bahwa di Indonesia masih ada jejak manusia purba yang bernama Manusia Flores (Homo Floresiensis) ditemukan kerangkanya di Liang Bua, Flores.

Gedung ini merupakan gedung terakhir. Begitu keluar dari gedung, kita tiba di pelataran dengan lansekap tertata apik. Kita bisa jalan-jalan, foto-foto, dan menyusuri seluruh fasilitas yang ada di kawasan Krikilan ini. Ada gedung pertemuan lain di bawah, mushola, dan toilet umum.

Untuk keluar kawasan, kita diarahkan melewati beberapa los cenderamata dan warung makan yang menjual makanan cepat saji, misalnya mi baso, kopi, dan lain-lain.

Sudah selesai, deh, perjalanan kami mengunjungi Museum Manusia Purba di Sangiran ini.
Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan, mampir terlebih dahulu ke Colomadu, selanjutnya kembali ke Solo.

Nanti ya, akan saya tuliskan tentang Colomadu tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

35 Komentar

  1. Fixed, musti ke sini pas mudik nanti.
    Edukatif banget buat anak-anak ini.
    Museum yang keren dan kekinian dan sepertinya enggak membosankan.
    Senangnya kini kalau ada temuan oleh penduduk dilaporkan ke Dinas Purbakala sehingga bisa disimpan di museum. Berarti kepedulian menjaga peninggalan sejarah dan budaya sudah tinggi

  2. Mbak, kapan hari Mbak Hani habis tak rasani (tak rumpiin) sama bapake anak-anak. Aku cerita punya temen suami istri dosen. Si Suami lagi ngajar istrinya ikut trus jalan-jalan ke Sangiran. Kita tuh appreciate banget lho, sama aktivitas Mbak berdua hehehe. Btw soal Sangiran, kemarin di MuNas juga ada sedikit tentang kehidupan orang2 jaman purba. Najwa tanyanya macam2, jadi kurasa aku belum siap ngajak dia ke Sangiran. Pasti lebih mumetke kepalaku. Wkwkwkwk

    1. Apalagi kalo ditanya kaitannya ama Nabi Adam. Wees…aku juga mumet. Jadi kemarin yaa dibacain aja infografisnya. Informatif sih… Jadi tau macem-macem teori. Ada Big Bang, ada Darwin… Terus liat video pendek. Jadi menduga-duga sendiri…jangan-jangan dari dulu udah pernah kiamat. Haha…
      Btw…makasih looh rasanannya…

  3. Wah bunda hani dan suami sama-sama memiliki rasa ingin tahu yang tinggi ya dan senang jalan-jalan. Baca ini kayak lagi baca buku sejarah hihihi. Lengkap dan detail. Oh ya ternyata harga menyewa pemandu wusatanya murah ya cuma 50 ribu udah gitu lama lagi sampai 2 jam 😃. Puas itu mah ya

    1. Saya yang bengong, waktu suami argumen ama pemandunya. Lhah dia kok tahu zaman-zaman terbentuknya bumi. Sampai pemandu bilang, oh iyaya…
      Hehe…

  4. Dulu aku sebal banget sama pelajaran sejarah. Tapi sekarang hal-hal yang berbau sejarah malah bikin penasaran. Seperti Sangiran ini, nih. Makasih ya, Bun, informasi sejarahnya lengkaaap banget. Tapi lebih lengkap lagi kalau aku sendiri bisa main kesana hahaha …

  5. Wah saya bola balik ke Solo blm pernah ke Museum Sangiran mba… Kalau lihat posisinya dekat Lawu dan Bengawan Solo kyknya tempatnya sejuk ya mb…
    Museum manusia purba yang mb tulis jadi nmbah wawasan nih, kpn2 pngen mampir ah… Mb kpn ke museum Mpu Purwa di Malang?

  6. Kalo pas mudik ke Solo, saya cuma melewati papan penunjuk jalannya saja, hehe. Anak saya berminat banget ke sini, semoga pas ke Solo lagi bisa menyempatkan ke Sangiran. Biar si kakak belajar. Makasih sharingnya, Bun 🙂

  7. Di Makassar ada juga loh musium, namanya musium Lagaligo. Lumayan bagus dan tertata rapi.
    Habis dari Solo, jalan-jalan juga ke Makassar ya.
    Saya tunggu loh, entar saya traktir makan coto Makassar. Hehehe…

  8. aku pernah ke sana mba, pas anak pertama umur 1 tahun. skr anaknya udah 16 tahun. lama yaa.
    dulu mikir kok tempatnya seadanya gini, sayang banget ga ditata apik. eh baca postingan mba hani… wow berubah banget museumnya jadi keren! seneng deh 🙂 kapan2 mau ajak tiga anak ke sana krna tempatnya udah bagus banget.

  9. Dengan adanya tulisan ini, saya jadi tahu bahwa ada museum purba. Tampaknya museum ini bisa jadi salah satu pilihan berkunjung jika ke Solo :). Makasih banyaakk referensinya. Tulisannya juga lengkaap