Mengajar Ngeblog Agar Semua Menikmati Serunya Hidup di Era Digital


blog competition, lifestyle / Kamis, November 22nd, 2018

domainesia-haniwidiatmoko

Perjalanan Panjang Menuju Era Digital

Zaman saya kecil, belum semua rumah ada telepon rumah. Kalau pun ada, jarang pula berdering, karena mau telpon-telponan sama siapa? Bila akan berkirim kabar ke sanak saudara di luar kota, surat menyurat atau telegram menjadi andalan kita semua. Telepon antar kota dilakukan tengah malam buta, supaya lebih murah. Surat kabar, majalah, dan radio menjadi sumber berita bagi masyarakat. Televisi masih hitam putih dan kadang siaran, kadang tidak.

Ketika akhirnya ditemukan televisi berwarna, Indonesia masih bertahun kemudian baru bisa menikmatinya di rumah-rumah. Itu pun stasiun televisi hanya ada TVRI, Televisi Republik Indonesia. Belum ada channel-channel swasta, yang diawali oleh RCTI itu. Saya masih ingat, ketika kami harus menyewa decoder agar acara TV dari televisi swasta bisa kami ikuti siarannya.

Bagaimana dengan dunia pendidikan? Sumber informasi selain dari guru di kelas, dari media massa yang saya sebut di atas. Menulis makalah atau karya tulis, saya masih mengandalkan mesin tik, bahkan sampai saya lulus sarjana. Bila ada salah ketik, satu-satunya cara adalah men-tip-ex-nya, yaitu mengulasnya dengan cairan berwarna putih, kemudian ditindas ulang dengan ketikan yang benar.

Waktu itu kental dengan istilah cut and glue. Daripada capek-capek mengetik ulang seluruh halaman, ketik saja naskah yang benar di kertas lain, gunting, dan tempelkan di lembar yang salah. Tarra, selesai.
Lalu fotocopy lembar tadi, sehingga menjadi lembar yang rapi.

Saat saya kuliah, sedikit banyak masih ingat pelajaran matematika tentang bilangan biner. Yaitu penggambaran dari suatu keadaan bilangan yang terdiri dari angka 0 dan 1, atau off dan on. Ternyata bilangan biner merupakan cikal bakal peralihan dari segala sesuatu yang analog menjadi digital. Dari sinilah mulai ada komputer.

Komputer menjadi sesuatu yang ajaib. Orang tergila-gila komputer, termasuk saya. Bahkan ketika saya sudah menikah dan mempunyai anak satu, saya pun minta ijin suami untuk ikut kursus komputer. Saya belajar bahasa Basic, jadi mengerti penerapan dari bilangan biner ke pemrograman.
If … go to … Semuanya diterjemahkan ke 0 dan 1.
Coba ya, padahal komputernya saya belum punya. Kan, seperti belajar masak, tidak punya kompor.

Dari sinilah perjalanan #digital lifestyle saya dan di kemudian hari mempengaruhi juga ke keluarga saya. Anak-anak sudah terbiasa dengan komputer. Setiap ada perkembangan baru, kami pun menyisihkan dana untuk upgrade komputer.

Dari Komputer ke Internet

Ada komputer ada internet.
Sekarang keduanya jadi satu paket.

Internet merupakan kependekan dari interconntected network. Artinya sebuah jaringan global yang terbuka dan menghubungkan jutaan atau milyaran jaringan komputer dengan berbagai tipe dan jenis. Koneksi antar komputer ini bisa melalui telepon, satelit, dan sebagainya.

Boleh dibilang, saya, tuh, mengikuti banget perkembangan teknologi komunikasi, komputer internet dan teman-temannya. Waktu saya melanjutkan studi S2, saya sudah memakai komputer, programnya masih WS4. File-file disimpannya di floppy disc, yang gampang banget error. Kalau ngeprint masih memakai dot matrix yang bunyi tengah malam, krek krok krek krok.

Segitunya, ada teman dari luar Bandung, yang masih memakai mesin tik, dan teknik cut and glue juga. Sampai-sampai dosen pembimbingnya mewajibkan teman saya tersebut membeli komputer. Yakali, sekolah di Institut Teknologi, tapi gaptek. Alamak, dari sini saya jadi tahu, bahwa dalam beberapa hal digitalisasi masih jomplang.

Pada suatu hari, saya menghadiri seminar tentang internet di gedung Telekomunikasi sekitar Gedung Sate.
Sebuah perusahaan provider memperkenalkan dirinya sebagai satu-satunya provider di kota Bandung. Saya yang ingin banget mengetahui lebih detail tentang internet, berusaha mengikuti dengan seksama. Walaupun agak puyeng, sih, dengan berbagai istilah. Ada FTTP, Internet Protocol, dan segala langkah-langkah untuk tersambung ke dunia maya.

Di akhir acara ada penarikan door prize. Saya tak terlalu mendengarkan, karena hampir tak pernah mendapatkan hadiah dari undian. Hadiah ke 3 diumumkan. Hadiah ke 2 diumumkan. Pas hadiah utama diumumkan, saya yang berdiri di belakang kerumunan jadi pasang telinga. Diumumkan kedua kalinya. Lhoh, itu kan nama saya. Saya pun menyeruak ke depan.
Hadiah utamanya MODEM Motorolla.

modem motorola

Menembus Batas Berkat Modem Motorola 28.8 Kb

Keesokan harinya suami cerita, bahwa teman kantornya yang juga hadir di seminar tersebut ngomel-ngomel. Katanya, ada ibu-ibu yang menang modem. Padahal temannya, ahli IT di kantor, ingin banget mendapatkan modem tersebut.
Kata suami, itu bini gue …

Tidak mau rugi, sudah mendapatkan hadiah Modem, ya, harus difungsikan lhah yaw. Jadi, besoknya saya ke kantor provider tersebut, dan mendaftarkan supaya bisa tersambung koneksinya. Waktu itu cara membayarnya memakai kartu kredit, biayanya $10 per bulan. Terpaksa suami kena todong kartu kreditnya, demi saya yang kepingin banget internetan.

Dari modem yang kecepatan 28.8 Kb yang kalau beroperasi bunyinya cekrik, jedut, jedut … meningkat lagi dengan kecepatan yang sayapun tak tahu, sekarang berapa sih kecepatan modem tersebut. Bahkan komputer terbaru sudah otomatis dilengkapi dengan modem dalam speknya.

Hidup kita sekarang tidak bisa lepas dari internet. Ini, nih, yang dinamakan Revolusi Industri ke 3. Melalui internet, kita bisa mendapatkan informasi dalam hitungan detik. Bukan hanya dari lingkungan terdekat, tetapi dari seluruh dunia.

Internet tentu saja memudahkan mencari informasi dan menunjang profesi saya sebagai pengajar di perguruan tinggi.

Serunya #Madepossible Mengenalkan Ngeblog ke Berbagai Kalangan

Bila diurut secara struktur generasi, saya merupakan generasi Baby Boomers. Yakali jauh sekali dengan generasi Millenial (Generasi Y) yang lahir sekitar tahun 1981-1994.
Generasi Millenial pun sekarang sudah dewasa. Bedanya dengan generasi sebelumnya, sejak mereka lahir, komputer sudah ada. Bahkan tidak asing lagi dengan internet. Apalagi dengan munculnya sistem operasi Windows yang mendunia di tahun 1985, segalanya menjadi user friendly.

Serunya hidup dengan berbagai generasi adalah saya tidak boleh gaptek (gagap teknologi) dan harus mau selalu belajar hal-hal baru.
Salah satunya adalah ngeblog.

Saya belajar ngeblog justru dari anak saya, yang lahir di tahun 1988. Waktu itu kira-kira tahun 2007, saya membuat blog di template Blogspot, kemudian pindah ke Multiply. Setelah Multiply tutup, saya membuat juga di template WordPress. Ngeblog itu mengasyikkan, banyak hal yang bisa kita bagi melalui tulisan. Saya yang zaman SMP punya diary rahasia, seolah tergugah kembali untuk menuliskan apa saja yang ada dalam pikiran.

Saya sampai membuat berbagai niche blog. Ada blog lifestyle tentang keseharian saya, keluarga, dan kampus. Lalu ada blog resep, blog piano karena saya mengajar piano, dan blog jalan-jalan.

Serunya ngeblog saya tularkan juga ke mahasiswa saya. Waktu itu saya mendapat tugas mengajar matakuliah Teknik Komunikasi, beberapa pekan di antaranya saya sisipkan tugas membuat blog. Nichenya saya arahkan sesuai dengan program studi mereka, yaitu Teknik Arsitektur. Ternyata mereka semangat, mendapat pengetahuan baru tentang berkomunikasi.
Saya tekankan ke mereka, buatlah blog walaupun sederhana, tetapi profesional. Bisa dimulai dari pemilihan nama domain yang catchy.

Pernah juga di sebuah kampus lain, saya diminta mendampingi menjadi instruktur pada Pelatihan Multimedia sebagai Sarana Peningkatan Kompetensi Tenaga Pendidik SMP Sandhy Putra di Bandung. Materinya adalah Pelatihan Pembuatan dan Pemanfaatan Blog sebagai Sarana Informasi dan Edukasi antara Tenaga Pendidik dan Anak Didik.

Program ini bertujuan memperkenalkan metoda pembelajaran kepada siswa didik melalui multimedia dan sarana digital. Karena masih banyak tenaga pendidik yang masih menggunakan cara konvensional saja dalam memberikan materi ajar.

Pemberian materi ajar melalui multimedia selain terkendala masalah teknis juga terkendala kompetensi tenaga pendidik yang belum terbiasa dengan era teknologi digital. Padahal dengan memberikan materi ajar melalui multimedia, bahan-bahan yang disajikan dapat lebih menarik dan interaktif.

Tidak mudah ternyata, karena sebagian besar para guru masih gaptek, dan boro-boro tahu yang namanya email. Kebanyakan malah punya email, dibuatkan anak. Atau punya email, tapi lupa password.

Setelah masalah membuat akun beres, ada kendala lain yaitu membuat nama domain. Lab Komputer tempat para guru tersebut belajar menjadi heboh, karena banyak pilihan nama yang tertolak.
Akhirnya saya pun memberi pilihan, coba di belakang nama diberi bidang ajar. Misalnya, ritatari, karena Bu Guru Rita mengajar Kesenian yaitu Seni Tari. Ternyata berhasil. Ibu guru girang sangat, dan semangat akan rutin menambah konten blognya.

Dari sini saya yakin, yang tadinya rasanya tak mungkin, ternyata menjadi mungkin.

pelatihan guru ngeblog

#madepossible – Para Guru SMP belajar membuat blog

pelatihan blog

#madepossible – Hasil Tampilan Blog Guru

Blog dan Website Media Komunikasi di Era Digital

Kita sekarang hidup di era Revolusi Industri 4.0, internet sudah mengambil alih beberapa pekerjaan manusia. Pernah dengar IOT, kan, yaitu Internet of Things. Semuanya diatur secara otomatis melalui digitalisasi. Robot mulai menggantikan tenaga manusia. Contoh paling dekat, adalah digitalisasi gerbang tol. Beberapa gerbang tol tidak ada lagi Mbak atau Mas penjaga, kita tinggal tempel kartu e-toll, gerbang membuka sendiri, lanjut, deh.

Dalam hal ngeblog. Kita bisa menulis artikel sekaligus banyak, tetapi ditayangkannya dicicil sehari satu artikel. Mudah, kan, kita tak perlu pasang timer atau menandai di kalender.

Ketika saya memindahkan blog saya ke blog dengan TLD (top level domain), diperlukan hosting yang mumpuni. Saya mempercayakan hosting blog saya ke DomaiNesia, di bawah naungan PT. Deneva, beralamat YAP Square C-5, Jl. C. Simanjuntak No.2, Yogyakarta (55223)
Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Phone: (0274) 545653

Di laman pertama DomaiNesia langsung tampil tawaran pelayanannya, yaitu: SSD Super Cepat, Instant Deploy, Cloud Backup, Garansi Uang Kembali, Unlimited Bandwitch, dan Passionate Support.

Kelebihan Hosting DomaiNesia adalah:

hosting domainesia

Hasil saya memindahkan dan mengaktifkan sendiri hosting di DomaiNesia

1. Tutorial mudah

Tutorial pemindahan hosting sangat mudah. Bahkan saya, dari generasi yang sering mendapat julukan gaptek, bisa melakukan sendiri.

2. Pelayanan prima

Layanan admin DomaiNesia komunikatif. Selain diberitahu melalui email, ada kotak pop-up untuk live chating dengan admin, yang siap menjawab pertanyaan kita.

3. Harga kompetitif

Alasan saya memilih DomaiNesia, karena hosting murah, tetapi tidak murahan. Sering ada promo, dan banyak pilihan paket.

Lebih mantapnya lagi, di website DomaiNesia tampil kostumer yang menggunakan jasa DomaiNesia, yaitu FMA, Yayasan KNCV Indonesia, Indomaret, Nielsen, IEEE Indonesia Section, dan ITB Career Center.

kostumer domainesia

Kostumer DomaiNesia

Bila saya ditanya apa cita-cita saya? Saya akan mengatakan, saya ingin ngeblog sampai tua. Bukan hanya konsisten menulis konten blognya, tetapi juga memberi pelatihan cara membuat blog. Saya ingin berbagi ke banyak orang, serunya hidup di era digital.

Pengalaman saat memberi pelatihan untuk para guru, ternyata guru termasuk dosen perlu diberi tempat untuk mereka membiasakan menulis. Guru dan dosen dituntut untuk menulis karya ilmiah, melakukan penelitian, dan menulis buku ajar. Blog merupakan media paling mudah untuk berlatih dan mengembangkan potensi diri.

Bayangkan, misalnya guru fisika membuat blog yang menarik. Apalagi sekarang berkembang pula dengan adanya vlog (video blog). Saya yakin, anak-anak tidak akan bosan di kelas.
Bukan itu saja, melalui jejaring bukan tak mungkin materi ajar yang kece bisa sampai ke pelosok Indonesia bahkan dunia. Sering, kan, mau belajar apa saja kita klik tutorial Youtube.

Begitu pula bagi para dosen. Saya pernah membaca blog tentang arsitektur yang menjelaskan desain sebuah karya secara lengkap dan detail. Mahasiswa yang sedang tugas akhir pun bila sidang diminta pula membuat video virtual realitynya.

Kampus-kampus mulai dicanangkan kelas jarak jauh, atau kuliah online. Hal ini untuk memudahkan bagi para siswa yang sedang kerja praktek atau magang (internship) di luar kampus. Peraturan di kampus mengharuskan mahasiswa hadir 80% dari total kehadiran kuliah. Tapi di sisi lain, sering ada kesempatan magang di luar kampus yang sayang untuk dilewatkan. Salah satu cara, ya, dosennya membuat website agar materi kuliah bisa diunduh dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Kalau begini, saya semangat akan menghidupkan lagi blog-blog saya, dan memindahkannya ke domain TLD. Pastinya beli domainnya ke #domaiNesia. Lagipula di DomaiNesia ada Tutorial Cara Buat Website untuk Pemula, lho…

domainesia tutorial

Sumber:
https://www.domainesia.com/

Artikel ini disertakan dalam lomba blog DomaiNesia.

twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

24 Replies to “Mengajar Ngeblog Agar Semua Menikmati Serunya Hidup di Era Digital”

  1. Hmm komplit dan asyik membaca kisah perjalanan mbak Hani menuju cita-cita mulia ingin ngeblog sampai tua. Saya juga kok diajarin ngeblog secara saya masil bau kencur di dunia ngeblog hihihi

  2. Wah, saya jadi teringat zaman dulu waktu SMK, komputer jadi pelajaran wajib di jurusan akuntansi. Waktu itu masih pake disket 🙂
    Pertama kali ngenet di rumah pake ponsel Nokia CDMA sebagai modem. Jalannya kayak siput, he3.
    Skrg, semua begitu mudah. Ngeblog pun bisa via hp.
    Terima kasih ceritanya, Bun. Salut. Keep inspiring dan sukses buat lombanya 🙂

  3. Noted! Domainesia murah tapi enggak murahan..tutorial mudah dan pelayanan prima..
    Wah, jempol nih Domainesia!
    Jempol juga buat cita-cita Mbak Hani untuk terus bermanfaat buat umat…sampai nanti!
    Semoga sehat selalu, Mbak:)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *