Penting Dibaca Blogger Pemula, Menempatkan Heading Pada Artikel


tips menulis / Sabtu, Desember 15th, 2018
judul heading

Sekian tahun mengajar dan menulis artikel ilmiah untuk jurnal, selalu ada template yang menjadi kerangka penulisan artikel jurnal. Kerangka penulisan jurnal adalah, setelah judul dan abstrak, ada sub judul atau heading pada artikel terdiri dari pendahuluan, metode penelitian, teori, pembahasan, kesimpulan, dan daftar pustakaWalaupun pada panduan kerangka penulisan jurnal-jurnal tersebut ada perbedaan sana-sani, tapi tidak terlalu jauh beda.

Begitu pula ketika saya mulai menulis buku non fiksi, penyusunan bab lebih kompleks. Buku selain lebih banyak halamannya, materinya pun lebih luas daripada artikel jurnal. Jadi heading berfungsi juga sebagai sub-sub bab untuk buku.

Tujuan menempatkan heading pada artikel adalah agar tulisan kita lebih terstruktur.

Menjadi Blogger (Pemula)

Saya mulai menulis blog sudah lebih 10 tahun, tetapi lama vakum. Baru 3 tahun belakangan ini saya serius ngeblog, dan membuat blog TLD.
Masih ada sih, blog-blog saya yang berakhiran blogspot.com dan wordpress.com, beda-beda niche, dan jarang diupdate.
Mungkin pada suatu hari nanti saya update, deh …

Sejak serius ngeblog, banyak hal yang saya harus pelan-pelan pelajari dan cerna. Bukan hanya dari segi penulisan artikel, jumlah kata, dan gaya bahasa saja, tetapi sampai ke kata sapa untuk audiens.
Berbeda sekali dengan mindset saya ketika menulis artikel ilmiah di jurnal. Tidak ada kata sapa ke pembaca. Bahkan bila saya menulis untuk seminar, tema ditentukan oleh panitia seminar. Artikel ilmiah juga tergantung bidang keilmuan yang saya geluti.

Dalam menulis buku, walaupun buku-buku sudah ada pembagian genrenya, kata sapa hanya sedikit digunakan. Kita pun masih meraba, apakah buku yang ditulis nanti ada yang membaca atau tidak. Banyak yang harus dilakukan oleh penulis buku, agar bukunya menarik minat masyarakat, mau beli, dibaca, dan syukur best seller.

Sedangkan sebagai penulis blog, hubungan ke audiens terasa langsung dan personal. Apalagi setiap artikel disertai dengan kolom komentar, sehingga penulis blog bisa berinteraksi langsung dengan pembacanya.

Disinilah masalahnya.

Bagaimana kita sebagai blogger (pemula) bisa menjaring audiens? Memangnya artikel kita segitunya cetar membahana, sampai dilirik oleh pembaca? Ada ratusan, mungkin ribuan artikel blog yang mirip sliweran di langit.

Bisa saja, sih, kita membela diri.
Ah, blog saya kan isinya curhat doang. Engga apa-apa, engga ada yang mampir untuk baca. Yang penting saya sudah menulis, sebagai terapi jiwa, mengeluarkan uneg-uneg.

Iya, sih …
Tapi kan … kan … seneng toh, kalau blog kita ada yang baca. Terus tulisan kita menginspirasi orang lain. Walaupun isinya curhatan, tetapi ternyata ada teman sebangsa yang mempunyai problem sama, terus diskusi, dan nyambung. Kita kan swenengnya berlipat.

Sudah tahu, kan, artikel blog yang sponsored post pembacanya sedikit. Tetapi artikel curhat berjilid-jilid, malah banyak yang baca, dan ada pada urutan pertama di mesin pencari Google.

Pentingnya Heading atau Sub Judul

Seperti yang saya jelaskan di atas, kalau menulis artikel ilmiah atau buku, kita menambahkan heading atau sub judul atau sub bab. Tujuannya adalah agar tulisan kita lebih terstruktur dan enak dibaca.
Lah, apakah artikel blog perlu memakai heading segala?
Kalau blog isinya curhatan, perlukah memakai heading juga?

Begini.
Berdasarkan penelitian, ternyata perilaku pembaca blog itu maunya membaca cepat. Istilahnya skimming. Dan mereka ini membacanya fokus di sisi kiri. Kalau digambarkan, perilaku membacanya seperti huruf F
Jadi hanya bagian atas saja yang mau dibaca. Jarang yang membaca sampai akhir banget-nget-nget titik akhir kalimat. Menurut penelitian, hanya 20% yang mau membaca sampai akhir. Rata-rata audiens hanya mampir ke blog kita selama 8 detik.

Duh, cepatnya …
Kenapa?
Ya begitulah adanya. Namanya zaman, maunya cepat-cepat.

Oleh sebab itu, kalimat paragraf di artikel kita jangan panjang-panjang. Kalimat terlalu panjang, membuat mata pembaca lelah, akhirnya tutup blog deh, pindah cari artikel di blog lain.

Nah, artikel yang kepanjangan tadi penggal-penggal saja menjadi beberapa sub judul atau heading tadi. Setiap artikel silakan mau dipenggal menjadi 2 atau 3 sub judul boleh saja. Tentu saja setiap sub judul harus satu kesatuan dengan judul artikel, ya.
Lebih bagus lagi, kalau memperhatikan keywords (kata kunci), keywords diulang di judul dan di sub judul.

Ternyata merembet ya sampai ke keywords. Namanya juga sumber informasi digital, pembaca tidak mau repot-repot.
Biasanya kita akan cari keywords-nya terlebih dahulu, baru sederet di bawahnya muncul berbagai artikel yang kita cari. Dari sekian deret artikel, perilaku membaca kita ya skimming tadi. Kalau ada sub judul langsung loncat ke sub judul.

Contohnya:

Keywordnya: Perawatan Wanita usia 40 Tahun.
Buat judul (H1) yang mengandung keywords.
Sub judul (H2) bisa, Perawatan Kulit dan Perawatan Rambut.
Sub dari sub judul (H3) bikin lagi turunan dari Perawatan Kulit dan seterusnya. Jenis kulit ada yang kering, berminyak, dan seterusnya. Kalau saya blogwalking ke blog teman-teman, ada yang diberi nomor 1, 2, 3, dan seterusnya, ada yang bullets. Silakan bebaskeun …

Karena kulit saya berminyak, setelah membaca artikel sampai sub judul, saya akan langsung loncat ke sub dari sub judul Kulit Berminyak. Jenis kulit lain, saya loncat, tidak saya baca. Kecuali, artikelnya memang sangat menarik, hingga pembaca betah membaca seluruhnya sampai selesai.

Apalagi kalau artikelnya diberi image berupa ilustrasi, infografis, foto, bahkan video, audiens akan semakin betah mampir di blog kita.

Mampir juga ke sini ya.

Bila kita menulis blog, heading ini jangan hanya dibold kalimatnya atau diberi nomor saja, tetapi di highlight kemudian klik heading yang ada di masing-masing template.
Tempatnya di mana, heading-heading tersebut?

Perbandingannya bisa dicek di tabel di bawah ini:

word-heading
Heading pada Word

Heading pada Word

Highlight kata atau kalimat sub judul.
Klik Heading 1

blogspot heading
Heading pada Blogspot

Heading pada Blogspot

Highlight kata atau kalimat sub judul.
Klik Heading

wordpress heading
Heading pada WordPress

Heading pada WordPress

Highlight kata atau kalimat sub judul.
Klik Penajukan 2

Supaya tidak bingung, penamaan sub judul tersebut agak berbeda untuk masing-masing template blog.

Template Blogspot urutannya adalah:

Judul = Header
Sub judul = Heading
Sub dari sub judul = Subheading
Sub-sub-sub judul = Minor heading

Template WordPress urutannya adalah:

Judul = Penajukan 1/Heading 1
Sub judul = Penajukan 2/Heading 2
Sub dari sub judul = Penajukan 3/Heading 3
Sub-sub-sub judul = Penajukan 4/ Heading 4

Kalau tidak dihighlight dan di klik heading tersebut, maka sub judul tersebut hanya dianggap sebagai paragraf, tidak muncul sebagai bagian dari keywords tadi.

Sebenarnya kita diuntungkan dengan otomatisasi seperti itu. Mungkin hanya perlu membiasakan diri saja, klik sana-sini, bukan hanya menulis.

Nah, teman blogger, silakan menempatkan heading pada artikel blog.
Selamat menulis dengan lebih terstruktur …

signature haniwidiatmoko
twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

37 Replies to “Penting Dibaca Blogger Pemula, Menempatkan Heading Pada Artikel”

  1. beruntungnya saya sudah menerapkan hal ini sejak nulis di blog saya niche finansial. saya sadar mbak, ga semua orang mau baca sampai habis, sebagian cuma butuh info pentingnya aja. dari itu saya nulis pakai heading dan subheading. diantara heading dan subheading yang mana pembaca merasa penting bisa fokus ke bagian itu yg dibaca saja

  2. Saya baru belajar ngeblog. Tadinya main asal tulis aja, soalnya dulu sempet vakum ngeblog gara2 masalah teknis, alias gaptek yang bener2 bikin saya mutung. Tapi setelah baca ini, jadi semangat dan tercerahkan.

    Suka banget sama bagian “selamat menulis dengan lebih terstruktur”.

    Trims pencerahannya 😘🙏🏻

  3. Nah inilah mengapa aku belajar menulis pendek dan to the point, karena nggak banyak yang baca sampai kahir, kecuali curhat. Untuk H1, H2, H3 aku udah jalanain. Masih agak sering lupa kalau H4. Perlu pembiasaan memang.

  4. Saya baru bunda..dan artikel ini bener bermanfaat dan saya baca gak 8 detik loh.. hmm next tulisan wajib ada heading apalagi blog saya belom TLD hmmm

    Makasi bun sharingnya sangat sangat bermanfaat buat saya. Kalo bisa review tulisan saya yah bun masih kurang apa. Ditunggu BWnya bunda

  5. Manteep tulisannya mbak. Nyatanya sub-heading emang sepenting itu sebagai menandai hal – hal penting. Terima kasih sharingny mba, mengingatkan lagi biar makin terstruktur juga kalau nulis

  6. Wah, baru ngeh ini. Sebagai newbie di dunia blogging, ini ilmu baru buat saya. Selama ini saya kalau nulis ya nulis aja. Heading tidak pernah diperhatikan. Terima kasih sharingnya teh Hani 😊.

  7. Mantap tulisannya cocok banget buat diriku yg baru di dunia blog. Beneran deh baca itu enggak mau lama tapi cukup paham itu isi apaan. Tapi baca yg bergizi gini mah betah banget. Makasih mbak sangat manfaat nih buat penulis pemula.

  8. Saya baca ini sampe selesai, Bun 🙂
    Ngerasa sering melewatkan pengaturan heading dan sub heading, sih. Judul sub heading biasanya cuma saya bold, tidak di-highlight. Next, harus teratur dipraktikkan nih. Makasih udah ngingetin 😘

    Tapi, kalau untuk nulis panjang, kok saya sreg-nya nulis panjang ya, Bun. Yaa mungkin ga dibaca sampe habis ma pemirsah, tapi rasanya kok lebih lega 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *