Benarkah Menulis Buku Antologi itu Mudah? Kenali 5 Langkah Berikut Ini


tips menulis / Jumat, Januari 4th, 2019
buku antologi
Tahun 2018, tahun buku antologi

Ketika saya mulai belajar menulis buku di Sekolah Perempuan, saya baru tahu istilah buku antologi ini. Singkatnya, buku antologi adalah kumpulan tulisan dari beberapa kontributor sesuai tema yang ditentukan sebelumnya. Misalnya kumpulan cerpen, kumpulan puisi, kumpulan dongeng anak, kumpulan resep, dan lain-lain. Buku antologi ditulis beramai-ramai, mungkin semacam keroyokan, maka ada sindiran, bahwa yang menulis disebut kontributor, bukan penulis. Tetapi banyak yang memilih buku antologi sebagai langkah awal menuju menjadi penulis sebenarnya, karena menulis buku antologi itu mudah. Benarkah?

Pilih Mana, Menulis Buku Solo atau Buku Antologi?

ketika
Buku pertama: Ketika Anakku Siap Menikah
Menoleh ke belakang, pengalaman pribadi, saya lebih dahulu menulis buku solo dibandingkan sebagai kontributor buku antologi. Waktu itu saya peserta angkatan pertama di kelas Sekolah Perempuan, foundernya Indari Mastuti. Kami didorong untuk menulis satu naskah penuh setebal minimal 120 halaman A4 dalam waktu satu bulan. Masing-masing peserta harus menulis buku solo. Bahkan duet atau kolaborasi pun tidak disarankan. Seratusduapuluh halaman dalam waktu satu bulan itu berarti 4 halaman A4 per hari. Kelas dimulai di bulan Agustus, naskah mulai ditulis bulan Oktober, naskah baru selesai pertengahan November. Melalui Indscript naskah saya ditawarkan ke penerbit major, diterima oleh editor sekitar bulan Desember atau Januari. Naskah harus diperbaiki sesuai arahan editor, termasuk belajar menuliskan ayat-ayat Al Quran yang diambil sebagai acuan, dengan software Nonosoft. Jadi saya harus belajar kilat cara menyalin utuh satu-satu huruf Hijayah. Ini tidak mudah, karena kan keyboard komputer memakai huruf Romawi. Kira-kira bulan Maret, buku solo saya diterbitkan oleh Elexmedia Komputindo, yang termasuk dalam grup Gramedia. Jadi kira-kira perlu waktu 3 bulan sejak naskah masuk hingga buku terbit.

Selanjutnya saya menulis buku-buku kolaborasi bersama teman, berdua anak, dan lanjut buku solo berikutnya. Ternyata buku akan cepat terbit atau tidak, tergantung permintaan pasar. Jadi tidak bisa diprediksi. Ada yang 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun, bahkan tertunda.

Melalui Facebook saya mulai ikut komunitas yang menawarkan ikut menulis buku Antologi Dongeng Anak. Saya tertarik ikut workshopnya, karena tidak bisa menulis dongeng. Di akhir kelas, kami harus menulis satu naskah dongeng anak yang kemudian diterbitkan.

Selain itu saya juga ikut antologi di Alumni Sekolah Perempuan dan Alumni Joeragan Artikel. Keduanya merupakan tulisan non fiksi, walaupun tema masing-masing berbeda. Melalui komunitas blogger 1minggu1cerita juga ada gagasan membuat buku antologi yang merupakan kumpulan cerita pendek. 

Bagi saya, menulis buku antologi itu mudah, bila masih dalam kerangka buku non fiksi. Kami hanya harus menulis 1000 kata, kurang lebih 3 atau 4 halaman A4. Dalam satu dua hari biasanya naskah sudah siap.
Saya justru kesulitan ketika ikut menulis buku antologi dongeng anak dan cerpen. Sepertinya pikiran saya terlalu rumit dan terperangkap logika, sehingga sulit ngayal.

Kalau ditanya pilih mana, buku solo atau antologi? Dua-duanya mempunyai tantangan yang berbeda. Buku solo seluruh penulisannya tanggungjawab pribadi. Sedangkan buku antologi, tanggungjawab bersama teman sebuku. 

5 Langkah Menulis Buku Antologi

Tahun 2018, bagi saya merupakan tahun menulis buku antologi. Ada sekitar 10 judul buku antologi, saya turut serta sebagai kontributor. Buku antologi yang terbit ada enam judul, empat judul sudah saya terima bukunya, dua lagi masih proses pesan dan pengiriman.

Ada satu antologi, ternyata terbit dalam bentuk e-book. Kemudian ada satu naskah terlewat batal ikut terbit. Sedangkan sisanya menunggu naskah dari kontributor lain, atau batal terbit karena kontributor kurang.

Sebetulnya ada satu buku kolaborasi yang saya harapkan terbit di tahun 2018, ternyata tertunda. Penerbit memutuskan belum urgent untuk diterbitkan. Ya nasib kalau begini.

Kesepuluh judul atau tema tersebut naskahnya tidak saya tulis bersamaan. Ada yang sudah saya tulis di tahun 2017 yang lalu, tetapi karena prosesnya menemui berbagai kendala, maka buku tersebut baru terbit di tahun 2018.

Kalau boleh saya urutkan apa saja yang harus dilalui sampai buku tersebut bisa terbit, berikut langkah-langkah bahkan kendalanya:

1. Memilih Komunitas dan Tema

Melalui jejaring alumni, komunitas, bahkan media sosial sering diwartakan untuk bersama-sama menulis tema tertentu. Biasanya dijanjikan bukunya terbit. Bagi teman-teman blogger yang belum pernah menerbitkan buku, punya buku cetak ada tulisan kita di dalamnya itu sesuatu.

Kadang untuk menarik minat kontributor, komunitas dimotori oleh narasumber atau penulis terkenal. Biasanya dibentuk dulu grup tertutup di Facebook atau grup WhatsApp untuk membahas tema, langkah-langkah penulisan serta saling share tulisan masing-masing.

Tema antologi sangat banyak, mulai dari non fisksi hingga fiksi. Non fiksi biasanya dipilih kisah-kisah nyata yang menginspirasi. Contoh tema yang saya ikut serta penulisannya adalah tentang orang tua, perjuangan mengasuh anak berkebutuhan khusus, kisah perempuan, proses penulisan buku, keuangan keluarga, dongeng anak, dan cerpen.

2. Peranan Para Kontributor

Namanya kontributor harapannya adalah berkontribusi. Apa mau dikata, ternyata dari sekian grup menulis buku antologi tersebut, banyak yang tidak menepati janji sebagai kontributor. Alias zonk, tidak menulis naskah pun.

Padahal beberapa komunitas tersebut menarik fee untuk masuk ke grup tersebut. Sayang sebetulnya, kita sudah mengeluarkan dana untuk mengundang narasumber yang berkaitan dengan tema.

Beberapa antologi yang saya ikut sebagai kontributor tidak menarik fee, hanya atas dasar kebersamaan saja ingin menerbitkan buku bareng.

Perlu diketahui bahwa untuk terbitnya sebuah buku ada jumlah halaman minimal yang pantas untuk disebut sebagai buku. Misalnya naskah buku 120 halaman A4, nantinya bila dicetak menjadi buku ukuran A5 (14X28 cm atau standar ukuran buku saku), akan menjadi sekitar 250-300 halaman.
Lebih dari itu terlalu tebal, kurang dari itu pun terlalu tipis.

Itu sebabnya kontributor buku antologi harus memenuhi kuota tertentu untuk memenuhi jumlah halaman naskah nantinya. Biasanya naskah tulisan tiap kontributor sekitar 1000-1500 kata atau antara 3-4 halaman. Berarti untuk menjadi sebuah buku diperlukan 20-40 kontributor, bukan?

Kalau ternyata hanya 10 kontributor yang mengumpulkan naskah, kira-kira buku akan terbit tidak, ya?
Salah satu antologi yang saya ikuti akhirnya menggabungkan 2 (dua) tema, supaya kuota terpenuhi.

3. Peranan Penanggungjawab dan Editor

Penanggungjawab dan editor itu seperti pasangan tak terpisahkan. Kerennya penanggungjawab sering disingkat sebagai PJ (dibaca pije). PJ ada yang merangkap sebagai editor, ada yang tidak.

Tugas PJ

Tugasnya menagih naskah dari para kontributor. Kalau di grup WhatsApp tidak muncul, maka harus di japri. Kalau di grup Facebook tidak merespon, maka silakan di DM.

Langkahnya, naskah dari kontributor di email ke PJ, untuk dicek standar penulisan sesuai kesepakatan sebelumnya. Kalau syaratnya 1000 kata, dilengkapi 100 kata profil penulis/ kontributor, maka harus dicek tiap kontributor tersebut, sesuai atau tidak. Ada yang menuliskan profil penulis sampai setengah halaman A4 sendiri. Sedangkan naskah tulisannya tak sampai 1000 kata.
Dalam hal ini PJ bisa meminta mengedit profil penulis tidak terlalu panjang. Karena buku antologi sejatinya kumpulan kisah, bukan pa panjang-panjang profil, bukan?

Tugas Editor

Setelah dari PJ, naskah akan diforward ke editor. Editor bisa internal, yaitu di antara sesama kontributor, ada pula yang disiapkan oleh penerbit.
Pada proses ini perlu kerjasama yang baik antara kontributor dan editor.

Perjuangan editor meluruskan naskah sesuai dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, seringkali tidak dibarengi dengan peran serta kontributor. Misalnya, naskah tidak diedit sesuai ketentuan, melampaui tenggat waktu, batal mengirim naskah, dan lain-lain.

Kendala lain adalah naskah hilang atau terlewat. Posisi hilang atau terlewat bisa jadi ada di tangan PJ atau editor. Bisa jadi karena salah nama. Nama di Facebook tidak sama dengan nama lengkap, nama pena, atau nama email.

Saya punya pengalaman naskah saya terlewat. Pada salah satu buku antologi, buku tersebut telah diterbitkan tanpa naskah saya. Pemberitahuan naskah terlewat saya peroleh dari PJ pengganti yang menggantikan PJ sebelumnya.
Kecewa tentu saja. Saya yang menganggap menulis buku antologi itu mudah, ternyata naskah saya justru terlewat.

Naskah yang terlewat bisa dibaca di sini

4. Mencari Penerbit dan PO

Setelah melalui tahap editing, naskah dikumpulkan kembali ke PJ dan dirapikan susunannya. Ada yang menurut abjad kontributor, ada yang menurut urutan pertama naskah masuk, dan lain-lain. Proses ini tidak sebentar. Banyak kontributor yang tidak menyertakan profil diri, sehingga harus ditagih berulang-ulang. Ada yang abai, tidak membaca pesan di grup, sehingga ketika buku sudah selesai drafnya, ternyata salah nama.

Penerbit Indie

Ketika buku solo pertama saya terbit, ada teman yang tanya, berapa biaya yang dibutuhkan untuk menerbitkan buku. Bila buku diterbitkan oleh penerbit major, maka tidak mengeluarkan biaya sepeser pun.

Di satu sisi, hampir semua buku antologi yang saya ikuti diterbitkan oleh penerbit indie. Pada penerbit indie, buku akan diterbitkan setelah penulis memberikan sejumlah dana. Perhitungan biaya meliputi fee untuk desain cover buku, kadang fee editor, ISBN, dan jumlah buku yang akan dicetak. Dimensi buku dan jenis kertas pun pengaruh ke perhitungan, karena berkaitan dengan harga jual nantinya.

Ada penerbit yang bisa POD atau print on demand. Artinya penerbit tersebut bisa saja hanya menerbitkan 10 buku. Tetapi ada penerbit yang menetapkan minimal buku yang akan dicetak.

Pre-Order (PO)

Adanya perhitungan tertentu yang berkaitan dengan biaya menerbitkan dan mencetak buku, menyebabkan para kontributor diminta mendaftar terlebih dahulu mau memesan berapa buku. Istilahnya Pre-Order. Berdasarkan Pre-Order baru buku tersebut siap cetak.
Pre-order pun masih harus disertai catatan ongkos kirim dari kota asal buku diterbitkan ke alamat masing-masing kontributor. Daftar semakin ruwet bila ternyata ada yang memesan buku melalui kontributor, tetapi minta dikirim langsung ke pemesan.

Ruwetnya nambah, bila ada permintaan, maunya memakai provider ekspedisi tertentu. Selain itu harus dipertimbangkan 1 kg ongkir buku itu untuk berapa buku?
Tugas PJ bertambah dengan menagih dan mencatat dana yang masuk dari kontributor. Semakin lama dana terkumpul semakin jauh panggang dari api. Alias buku belum bisa dicetak.

Banyaknya peminat menerbitkan buku antologi menyebabkan beberapa penerbit indie kewalahan, sehingga beberapa buku masuk dalam waiting list naik cetak. Daftar tunggunya bisa berbulan-bulan.

Salah satu buku antologi saya, malah salah jilid. Halaman yang sudah disusun ternyata terbalik. Sehingga buku harus ditarik dan dicetak ulang. Dijilid ulang tidak bisa tentu saja, karena kalau jilidan dibongkar, otomatis buku rusak. Dalam kasus ini, para kontributor harus sabar dengan human error seperti ini.
Dobel sabar bila sebelumnya buku tersebut masuk daftar tunggu dicetak.

Buku antologi lainnya malah diputuskan oleh penerbit terbit dalam bentuk e-book. Berarti tidak jadi atau belum bisa dicetak. Biasanya karena kendala biaya penerbitan.
Pembaca yang ingin membaca lengkap buku e-book tersebut bisa mengakses ke sebuah website, kemudian membayar harga tertentu.

e-book
Tampilan e-Book

5. Royalty

Royalty buku solo umumnya 10% dari harga jual per buku. Karena saya menitipkan naskah melalui agensi, tentu saja ada fee untuk agensi. Biasanya feenya 3%, jadi saya menerima 7% dari harga buku. Kalau menulisnya berdua atau buku kolaborasi, silakan hitung bagi-bagi royaltynya.

Menulis buku antologi itu mudah, tetapi perhitungan royaltynya tidak mudah. Sehingga saya tidak terlalu memperhatikan royalty buku antologi. Begitu kroyokannya buku antologi, kami harus berbagi royalty sampai puluhan kontributor.

Beberapa grup yang saya ikuti sepakat bagi hasil royalty tersebut didonasikan bagi yang membutuhkan. Solusi lain adalah, bagi hasil royalty dipakai untuk membeli buku yang baru diterbitkan tersebut.

Sama halnya penulis buku solo maupun antologi, ada perhitungan diskon bila membeli bukunya sendiri. Sehingga penulis silakan membeli buku sebanyak-banyaknya, nanti menghitung keuntungan dari buku yang berhasil dijual sendiri dengan harga jual di pasaran.

Jujur, saya tak pandai menjual buku, baik buku solo maupun buku antologi. Apalagi buku antologi, dari sekian puluh judul naskah dalam satu buku, saya hanya berkontribusi satu sampai dua naskah saja.
Saya kagum dengan sesama teman sebuku, mendesak ke PJ kapan bukunya terbit, karena pemesan sudah menagih bukunya.
Hebat ini, mah … bisaan promosinya.

Nah, teman blogger, ada yang sudah punya buku solo, kolaborasi, maupun antologi? Seru pasti kisah dibalik terbitnya buku-buku tersebut.

Menurut teman-teman, menulis buku antologi itu mudah atau tidak?

Bandung, 4 Januari 2019

signature haniwidiatmoko
twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

53 Replies to “Benarkah Menulis Buku Antologi itu Mudah? Kenali 5 Langkah Berikut Ini”

    1. Buat kerangka atau outline saja dulu Mbak. Mau nulis buku apa? Rajin kepo di FB atau medsos. Sering ada kok kelas penulisan atau pendampingan.
      Kalau naskah sudah jadi, cari first reader (pembaca pertama). Minta kritik dan sarannya…
      Semangat Mbak…

  1. Terima kasih, Bu infonya. Tetapi kalau untuk seumuranku, menerbitkan buku antologi bisa dibilang mudah. Syaratnya hanya Font Times New Roman 12pt spasi 1,5. Dalam format word kertas A4. Minimal 4 halaman maksimal 5 halaman. Dikirim saja ke email. Penerbit tinggal mencarikan cerita lain dari penulis lain.

    1. Nah…bener Ayasha. Kalau temanya cocok, saya juga mudah saja menulis antologi. Soal diterbitkan harus menunggu naskah dari penulis lain. Ini yg sering lama…

  2. Saya mengawali nulis dengan buku solo Bun, tapi terbitnya duluan yang antologi malahan hehehe. Dulu rajin banget ikut proyek antologi, tapi sekarang mulai pilih-pilih komunitasnya. Biar buku yang dihasilkan makin cetar wkwkwk..

  3. Saya dua kali mengikuti project buku antologi melalui Dandellion Author, mbak. Memang terasa lebih mudah, karena kita hanya setor satu naskah, tanpa memikirkan hal lain dan tadaa.. langsung siap terbit. Dari segi promosi pun , lebih enak kalau antologi. Dipromosikan rame – rame sih. Flyer, banner dan tayangan pun sudah disiapkan oleh PJ. Hanya saja, kalau untuk saya yang berprofesi sebagi pegawai negeri, karya antologi sulit dinilaikan untuk kepentingan kenaikan pangkat.

    Lain halnya kalau membuat buku solo. Lebih mudah untuk dinilaikan untuk keperluan kenaikan pangkat. Hanya saja jadi lebih repot. Apa-apa diurus sendiri.

    1. Iya buku antologi tanggungjawab rame².
      Kalau untuk kepentingan naik pangkat ASN, bukannya bisa juga? Asal sesuai rumpun keilmuan. Saya pernah pakai kok, buku bunga rampai. Memang angka kum nya kecil sih…

  4. Bintangin. Gak nyesel aku ikut BW sesi pagi. Bisa baca tulisan bu Hani yang bermanfaat banget. Thanks for sharing bu. Oia, aku mau dong ikutan SP. Bagaimanakah caranya?

    1. Untuk ikut kelas SP coba kepoin FB nya Sekolah Perempuan, kepala sekolahnya bu Anna Farida, dan foundernya bu Indari Mastuti. Tahun 2019 ini mau ada kelas-kelas yang free kok.
      Makasih ya sudah mampir…

  5. Wah, komplit sekali ini mbak. Kebetulan saya juga menjabat PJ antologi, antara lain karena amanah. 😁 Sebenarnya yaa, memang menulis buku solo yang bisa jadi kebanggaan. Bayangkan satu buku tulisannya kita semua. Namun menulis antologi juga ada keseruan. Antara lain dalam satu buku warna warninya bermacam-macam. Jadi hasil tulisan tidak sama satu dan yg lain meskipun temanya sama. Makanya kalau disuruh milih, saya pilih dua2nya. Tapi kalau bisa yg antologi sebagai PJ itung2 biar dpt fee juga. Hehe

    1. Wah…keren jadi PJ. Tapi tanggungjawabnya mayan yah. Lieur kalo kontributornya engga rajin.
      Semoga lancar yaa jadi PJ nya…dan…rizki mengalir deh…

      1. iyesss bun, sayanya sok sibuk lagi fokus bikin kelas sama ngeblog dan antologi, jadi solonya ntar sok ntar sok terus wkwk, semoga setelah di kasih semangat dari tulisan bunda ini, saya semakin getol bikin solo. Aamiin :).

  6. Mbak sementara aku vakum dulu ikut proyek buku antologi karena sering kecewa. Pengalaman yang terkhir padahal diterbitkan penerbit mayor dan masuk Gramedia tapi editingnya parah. Bahkan judul dan nama penulis ketukar-tukar. Selain itu kok rasanya tema apa… ada tulisan yang isinya berbeda. Jadi enggak nyambung gitu. Padahalkan tugas PJ termasuk baca naskahnya ya..
    Sepertinya kalau ada energi lebih, memang lebih enak buku tunggal. Just a piece of mind 🙂

    1. Nah…bener. Kesel kalau editingnya parah. Saya pernah beli antologi punya teman. Hmm…engga berani komen uy isinya kok gini. Standardnya engga sama, baik isi maupun gaya penulisan.

  7. Pengalaman bikin antologi baru sekali mbak..dan sampe sekarang belum terbit udah 8bulan..padahal cuma diminta nulis 5 halaman tapi subhanallah lumayan bingung nyusun kata dan kalimat mana yang baku atau engga.
    Mudah-mudahan cepet terbit yah mba anak pertamaku

  8. Kalo menurut saya, antologi lebih mudah bun. Tapi harus tahu juga PJ nya bertanggung-jawab engga. Soalnya dulu pernah pengalaman, ada naskah salah satu kontribur tercecer engga ikut diterbitkan. Untung saja kontributornya mau nerima, ikhlas.

    1. Nah itu…naskah saya pernah tercecer juga. PJ nya terus ganti sih. Saya lupa nama PJ yang lama juga. Hehe… Ditawarin nulis lagi for free untuk antologi berikutnya. Saya udah keburu macet, engga ada ide…Hiks…

  9. Mbak Hani, ternyata alumni Sekolah Perempuan. Informasinya lengkap banget. Bisa untuk panduan teman-teman yang mau ikut antologi amupun solo. Kalau aku sudah khatam dengan antologi. Soalnya dulu senangnya ikut antologi. Tetapi tetap harus pilih pilih komunitas dan lihat PJ serta penerbitnya. Alhamdulillah semua buku antologiku terbit semua. Buku solo juga lancar. Doakan bisa menyelesaikan buku solo ketiga. Amin.

  10. Wah lengkap bnget infonya. Kalau saya blm ikutan proyek antologi. Smg di thn 2019 bisa ikutan meski antologi. Thn lalu pngn bikin buku tentang traveling tp blm kesampaian. Bisa seperti mb Hani… Hehe

  11. Wah, infonya lengkap dan jelassss…
    Sama nih, Bun. Tahun 2018 adalah tahun kebut buku antologi buat saya 🙂 Penasaran pengen nyoba berbagai tema. Ada yg via training berbayar dulu, ikutan lomba, dan sepakat nulis bareng. Macam2 progress-nya, mayoritas sih lancar jaya tapi ada satu yg ngadat, hiks.
    Awal 2018 saya nyobain juga nerbitin novel secara indie. Penasaran euy. Alhamdulillah, balik modal, sih. Jadi tau rasanya 🙂
    Next, pengen juga ngerasain SP walopun harus nabung dulu dan pastinya siapin energi karena harus digenjot nulis yg seakan tanpa jeda, ya.
    TFS, Bun 😘

  12. Halo, Bunda. Aku mengawali menulis naslah buku solo. Saat itu kami memang mengikuti proyek menulis bertema kemanusiaan, satu penulis, satu buku. Aku menceritakan tentang saudara-saudara kita di Papua. Sayangnya ada kendala di tengah jalan dan kita diminta untuk menerbitkan masing-masing saja. Tapi saat itu aku belum pede. Tahun 2019, harus. Aku ikutan menulis di proyek antologi juga. Tapi ada beberapa yang aku kapok karena editingnya kacau. Sepertinya malah nggak melalui proses editing. Jadi sekarang pilih-pilih banget, deh, hihihi.

    1. Kendalanya biasanya dana Mbak. Bisa sih diterbitkan sendiri, nanti dijual via komunitas.
      Nah…kesel yah kalo editing acak²an. So far sih editornya Joeragan Artikel jempolan. Teliti banget…

  13. Lengkap banget tulisannya, Bu. Sampai saat ini saya masih ikut antologi. Karena nulisnya nggak banyak dan nggak ribet ngurus macam2. Saya nggak terlalu mikir masalah fee. Ya buku antologi bikinnya keroyokan, kalaupun ada fee buat donasi atau lainnya.

    Semoga suatu saat bisa nulis buku solo.

  14. Kalau buku keroyokan saya sudah punya. Niatnya sekarang pengen bikin buku solo, semoga membaca artikel ini makin termotivasi. Soalnya apalah saya ini, kalau kumat malesnya… gitu deh -_-

  15. Dulu saya penulis antologi. Namun lama kelamaan karena malas beli bukunya sedangkan hasilnya tidak ada *baca: royalti tidak jelas*, akhirnya saya tidak mau bikin antologi lagi, terlebih bila diterbitkan secara indie. Malah pengennya nulis buku solo, perlu tekad kuat yak

  16. Keren mbak, aku baru punya 1 buku, jadi kontributor buku antalogi, mau menulis lagi, kok ya ide gak muncul-muncul, asik dengan quote dan Puisi, sesekali ikutan Fiksi mini.

    Semoga bisa lebih konsisten menulis kedepannya.

    Terima Kasih sharingnya Bunda

  17. Alhamdulillah hasil SP sudah menghasilkan satu buku solo, semoga tahun ini bisa terbit minimal satu buku solo.
    Memilih komunitas menulis sangat penting, biar bisa saling support.

  18. Jadi inget antologi tutorial blog kita, uhukkkk, wkwkwkwkwk. Btw aku lagi absen ikut antologi nih, gak tahu kenapa energi-ku rodo berkurang untuk menulis naskah buku, lagi enjoy ha-ha-hi-hi di blog. Lebih “aku banget” sepertinya.

  19. Wah keren mbak…. Saya nulis buku solo nggak jadi-jadi hiks.

    Alhamdulillah kalau antologi sudah mulai ikutan tinggal tunggu terbitnya saja semoga tahun ini bisa lebih banyak.

  20. Tahun ini saya sedang merambah kesana yaitu untuk mnerbitkan buku solo dan antologi semoga saja dua-duanya cepat diterbitkan. membaca ulasan ibu saya mengetahui perbedaan anatar menulis solo dengan menulis bersama begitu tentang royaltinya.

  21. Saya baru pertama kali jadi kontributor buku antologi. Bukunya sekarang belum terbit karena masih dalam proses editing. Doakan segera terbit ya mba.. Saya penasaran gimana rasanya bisa nambah portofolio sebagai penulis buku 🙂

  22. Saya punya pengalaman pribadi dalam menulis buku solo, antologi maupun menjadi PJ antologi. semua mempunyai dinamika lika liku tersendiri dan secara garis besar sudah dimuat di sini. Ada plus minusnya.
    Sebagai catatan buat yang lain sebaiknya memilih penerbit yang kredibel, untuk antologi khususnya… agar tidak menemui masalah dalam proses memiliki buku.

  23. Jadi keinget sama draft naskah solo dari 2017 belum selesai-selesai mba. Alhamdulillah aku punya buku antologi, kalo ga 3 atau 4 mba. Menurutku menulis buku antologi mudah dengan segala hal plus nya mba

  24. Wah… Mbak alumni sekolah perempuan juga. Sungkem sama senior,hehe. Saya baru “lulus” angkatan 24, baru punya 2 antalogi yang sudah terbit (dan sedang menantikan satu lagi). Tinggal buku solonya nih… Doakan semoga naskah solo saya ada jodohnya ya mbak… Aaamiiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *