6 Cara Penulis Berpromosi Sebagai Penulis

Bedah Buku “Ketika Anakku Siap Menikah” di Gramedia TSM-Bandung

Awal mulai menulis buku dan buku tersebut terbit, saya baru sadar bahwa ada tuntutan penulis berpromosi sebagai penulis. Bedanya kalau bloger, kan, bisa dinilai dari jumlah follower dan jumlah yang berkunjung ke blog kita setiap hari. Kemudian meningkat mereview berbagai hal, menulis artikel sampai menulis content placement. Blogger yang sudah piawai, sudah bisa deh pasang tarif. Siap-siap menyusun media kit.

Sedangkan penulis?

Namanya penulis, bukunya minimal sudah terbit satu. Bagus lagi diterbitkan oleh penerbit terkenal yang mempunyai jaringan toko buku besar.

6 Cara Berpromosi Sebagai Penulis

Tadinya, saya mengira, sebagai penulis, ya kerjaannya nulis doang. Perkara penjualan, serahkan saja ke toko buku.
Ternyata, oh ternyata, saya salah besar. Supaya bukunya laku, penulis harus berpromosi juga. Memang benar penulis mendapatkan royalty dari buku yang diterbitkan tersebut.

Coba baca lagi kontraknya.

Royalty awal, disebut DP (down payment) hanya 25% dari nilai kontrak bila bukunya dicetak semua, misalnya 2500 eksemplar. Umumnya royalty, 10 % dari harga buku. Siapa yang menentukan harga buku? Ya penerbit lah.
Nah, penulis yang melalui agensi, berbagi lagi dengan agensi, biasanya 7% dari harga buku. Hitung saja sendiri, begitu buku terbit, maka DPnya, 7% X 25% X nilai kontrak.

Lalu yang 75% kapan? Nah, disini masalahnya, eh, bukan masalah sih, eh iya juga dong. Ternyata penulis tidak otomatis mendapatkan sisanya.

Kalau penulis baru, macam saya ini, mulai menulis tahun 2013, selain promosi buku harus promosi diri juga. Masalahnya adalah, saya masih malu-malu untuk promosi. Tepatnya lagi, malu jualan. Padahal buku sendiri.

Kenapa? Karena saya takut ditolak. Takut tulisannya diremehkan. Harusnya malu-malunya dibuang jauh-jauh. Kalau tidak, saya tidak memperoleh 75% sisanya tuh. Apalagi laporan penjualan dari penerbit, dilakukan tiap enam bulan sekali.

Bayangkan, kalau saya tidak rajin promosi, misalnya dalam dua kali laporan, hanya laku puluhan buku. Maka yang saya terima ya prosentase dari nilai penjualan kan. Mungkin tidak lebih dari nilai pulsa tiap bulan.
Ampun Mak, tetap bersyukur sih….

Tapi kan … tapi kan ….

Padahal menulis buku itu minimal membutuhkan waktu sebulan penuh. Paling lama harusnya tiga bulan. Berapa waktu yang harus dijalani, duduk depan laptop berjam-jam? Sambil mikir lho itu, bukan melamun.

Belum lagi riset yang harus dilakukan sebelum menulis buku. Jangan lupa, menulis buku harus riset dulu, tidak boleh mengarang-ngarang tanpa dasar. Coba bandingkan dengan menjadi dosen yang honornya juga dihitung per jam. Rugi banget, bila sepanjang hayat penulis, royaltynya hanya seperempat terus, karena bukunya kurang promo.

Lagipula, beberapa penerbit sekarang trendnya royaltynya bukan sekian rupiah dari nilai kontrak. Tapi berupa natura, alias buku. Iya, buku. Bayangkan, royalty penulis adalah 150 buku. Buku ratusan di rumah diapain coba?
Ya dijual bukan?

Ingat, buku itu ditulis dengan tenaga dan pikiran. Enggak banget bila ada teman, saudara, kenalan yang minta buku gratisan. Itu sebabnya, diantara sesama penulis ada semacam quote, jangan menawarkan buku yang ditulis sendiri ke saudara atau teman.

Kenapa sekarang trendnya penerbit memberikan royalty berupa buku? Alasannya, penerbit sudah keluar modal untuk menerbitkan buku.

Gambling juga. Iya kalau laku. Kalau tidak, buku kita dalam enam bulan, dari toko buku akan mendarat di gudang.

Coba perhatikan perjalanan buku di toko buku. Mula-mula di rak depan, sebagai buku baru. Pindah ke rak samping atau deretan rak buku sesuai dengan kategori isi buku. Itupun tadinya di rak tersebut, di susunan atas. Kalau tidak laku, turun ke ambal bawahnya. Belum juga, turun lagi deh di ambal paling bawah. Kemudian lenyap dari toko buku. Belum, belum lenyap dari muka bumi.

Masih bisa dibeli koq di toko buku online.

Berbeda lagi dengan penulis yang akan menerbitkan bukunya sendiri di penerbit lepas. Istilahnya indie. Berarti, mulai dari layout, cover, pencari penerbit, sampai ISBN, segalanya sendiri. Ini mah, lebih-lebih lagi, betul-betul harus promosi dan jualan buku sendiri.

Berbagai Cara Berpromosi

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan seorang penulis untuk mempromosikan bukunya.
Antara lain:

  1. Promosi langsung

Seorang teman penulis, selalu membawa buku tulisannya kemana-mana. Misalnya di jalan bersua dengan teman lama. Biasanya tanya kabar berita, teman saya langsung promosi bukunya. Dan langsung terjual. Bisa juga melalui komunitas. Seperti yang dilakukan oleh seorang penulis, yang khusus menulis tentang individu autistik. Dijualnya di komunitas atau pemerhati autistik.

  1. Bedah buku

Bedah buku tidak bisa sendirian. Biasanya dibantu teman, saudara, komunitas, dan lain-lain. Tempatnya bisa di TV, radio, kampus, toko buku, mall, dan lain-lain. Tentu saja ada persiapan untuk itu. Misalnya menyiapkan poster, lalu dipasang di tempat strategis. Bikin banner. Promosi di media sosial bahwa akan mengadakan bedah buku.

bedahbuku copy
Bedah Buku Ditemani Suami
  1. Promosi melalui media sosial

Media sosial dan dunia tulis menulis sudah menjadi satu kesatuan. Dia bisa menjadi ujung tombak tak terbendung, karena sebarannya ke langit. Jaringan media sosial seorang penulis harus luas, begitu pula blogger, bukan.

Bahkan, ada sebuah penerbit major, menanyakan ke penulis yang menawarkan naskah, berapa follower di media sosial si Penulis. Kalau follower sedikit, dianggap tidak menjanjikan. Jangan-jangan buku yang akan diterbitkan lakunya seret.
Berbagai jenis media sosial:

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Blog
  • Path
  • Google Plus
  • Youtube
  • Pinterest
  • LinkedIn
  • Dll

Penting untuk dicatat, usahakan nama-nama media sosial memakai nama yang sama atau mirip-mirip. Ya iyalah, kan penulis harus membranding diri. Please, nama alay is a big NO.

  1. Titip jual

Untungnya sebagai penulis, bila membeli bukunya sendiri mendapat diskon lumayan. Maka dengan menitipkan bukunya di beberapa komunitas, penulis bisa mendapatkan keuntungan dari selisih harga.

  1. Workshop

Teman saya, seorang penulis buku tentang craft. Beliau promosi bukunya sambil mengadakan workshop craft yang dilakukan. Misalnya buku tentang model rajutan. Workshopnya bisa dasar-dasar teknik merajut.

Ada lagi, teman lain, bukunya tentang food combining. Bukunya sudah tidak ada di pasaran. Tetapi beliau rajin sangat share resep-resep dan artikel tentang food combining di blognya. Untungnya lagi, bukunya masih bisa dibeli dalam bentuk e-book.

  1. Sumbang buku

Saya sih masih percaya dengan rizki datang dari arah tak terduga. Siapa tahu dengan menyumbangkan buku ke sekolah, perpustakaan kampus, komunitas baca, dan lain-lain, manfaat buku saya syiarnya meluas. Minimal, siapapun yang mendapat manfaat dari buku saya, akan mendo’akan saya.
Harapannya…

Tuh kan, banyak banget kerjaan penulis, setelah beres menulis bukunya. Sepertinya saya harus belajar ilmu marketing nih.

Bandung, 7 Januari 2019

signature haniwidiatmoko

37 pemikiran pada “6 Cara Penulis Berpromosi Sebagai Penulis”

    • Iya Mbak. Untuk promosi dan marketing saya belum canggih. Penulis yang udah punya nama pun sebelumnya promo dulu deh. Hehe… Makasih ya udah mampir… 🙂

  1. Wah jadi ngerti tentang royalti setelah dipaparkan panjang kali lebar disini.
    Yup jadi penulis ternyata tidak hanya pandai menulis tapi juga promosi biar rewardnya lebih kerasa lagi. Materi yang masuk jg lebih banyak.

  2. Nah..setuju quotenya..promosi ke saudara dan teman sendiri bikin sakit hati, maunya gratis ogah beli, hiks!
    Ternyata perjalanan sebuah buku serumit itu ya.., Mbak
    Tapi memang ada harga yang musti dibayar untuk sebuah niatan, buku sukses ditulis dan laris dipasarkan.
    Dan, benar adanya ga cuma bisa nulis penulisnya juga musti belajar branding dan marketing 🙂

  3. Bun kereeen bangeeet udah bedah buku aja, ditemani suami lagi, wih. Paling seru emang pas bedah buku ya, banyak yang datang dan kita jadi pusat perhatian. Beuh, rasanya senang dan bahagia banget buku solo lahir. Selamat ya bun dan makasih sharingnya. Aku mau nyelesain buku solo kalo gitu hehehehe.

  4. Ahhh bunda aku seperti di beri tahu,kalo aku kemana aja kok belum bisa bikin buku kalah sama bunda. So inspiring bun.. yang lebih inspiring lagi saat foto dengan suami bunda.. sehat selalu sukses selalu yah bunda untuk karya karyanya

  5. Sebelumnya saya juga memiliki anggapan yang sama, Mbak. Kalau jadi penulis itu, tugasnya hanya menulis. Urusan promosi buku, sidah ditangani oleh pihak lain.
    Ternyata semakin ke sini jadi semakin tau, kalau penulis juga harus bisa mempromosikan bukunya ya..

  6. Nah bagian folower ini kafang yang bikin sakit hati. Udah susah move on gara2 tulisan nggak dibaca di platform menulis,ehh giliran lolos penerbit kudu bisa jawab, “berapa buku yang bisa dijual?”

    Ahh menjadi penulis tak semudah jejerin alfabet. Tapi tinggal dibalikin ke niat awal aja, mengapa menulis?
    Mungkin bisa mengobati sakit hati.

  7. Semoga aku bisa seperti bunda yang bisa menelurkan buku. Pengen banget bisa jadi penulis walau ga mudah ya jalannya. Tapi rasnaya keren tiap liat penulis tuuh, ternyata harus jago dagangin juga ya hehe

  8. Mengaspirasi saya nih bun, saya penulis pemula, soal branding memang masih jadi langkah nomer 1 selain memperbanyak bahan jualan (artikel yang banyak lalu buku). Terima kasih… semoga saya bisa istiqomah menjalani tiap prosesnya. Semoga tambah sukses ya bun hani

  9. Bundaa aku baru tahu kalo ada penerbit yang kasih royalti berupa buku. Selama ini, aku terimanya duwit hehe. PR jualan emang gak mudah loh ya. Aku juga ngerasain. Mana kalo nawarin ke temen ato sodara langsung ditodong free dowang. Huhuhu pengen nangis bombaiiii. Eniwe sukses buat Bunda Hani yaaa

  10. Didorong rasa penasaran, saya pun memberanikan diri nerbitin novel secara indie tahun lalu. Belajar sabar saat meriset dan menulis, eh setelahnya belajar promo juga. Paling efektif kalo saya sih via Facebook karena banyak teman lama di sana. Sebagian teman kayaknya ga tau susahnya nulis buku sehingga minta gretongan, hiks.
    Yaa, walaupun novel saya jauh dari sempurna, mbok ya beri doa saja daripada minta. Hehe… Bukannya pelit, sih. Saya pun menghadiahkan novel itu tuk teman yg justru gak minta, tapi emang hobinya baca.

    Postingan Bund Hani ini cukup lengkap mengulas tentang suka duka penulis, terutama promo ya. Ini PR saya juga 🙂 Satu lagi mungkin caranya: bikin Giveaway. Atau giveaway udah masuk kategori promo pas bedah buku kali, ya.
    TFS, Bun 🙂

    • Tuuuh kaan…sodara atau temen suka gitu. Mestinya kan bantu temen, ya dibeli dong yaaa…hehe…
      Oh iya giveaway. Bisa sih melalui Instagram.
      Makasih udah mampir…

  11. Penulis harus bisa promosi. ini aku setuju banget. Jadi ingat buku Dalam Dekapan Mukjizat Alquran yang best seller. Aku juga kalau bedah buku diantar suami. Senangnya kalau nulis didukung pasangan. Sukses terus ya mbak untuk bukunya.

  12. Saya juga belum bisa menjual buku sendiri, entahlah koo masih malu malu. Padahal itu karya ramean ya… pernah ditawarin sebuah media buat nerbitin naskah cernak, tapi dia minta syarat saya harus beli korannya sekian eks pas naskah saya diterbitkan. Lha saya mau kasih ke siapa korannya? Mosok mau saya bikin bungkus cabe. Kalau 10eks saja masih mau saya, itu banyaaak. Akhirnya saya tolak.

    • Iya, ada penerbit yang seperti itu, kasih syarat untuk beli sekian eksemplar. Itung-itung itu seperti penerbit indie ya, biaya sendiri.
      Ya gitu deh, suka duka penulis buku…

    • Iya. Bedah buku lewat radio saya pernah, sama saja gempeur. Kirain engga lihat orangnya lebih santai, ternyata engga juga. Soalnya pendengar tanyanya suka engga terduga…

  13. Iya sih klo ditawarkan kepada saudara atau teman dekat masa harus bayar, tapi klo yg gak berpikir sampe situ mah cuek aja mereka, padahal nulis buku itu butuh pikiran dan energi yg ga sedikit
    semangat terus mbak dan salam kenal ya 🙂

  14. saya juga pernah menerbitkan buku traveling dan royalti yang saya terima juga tidak seberapa karena ya itu.. malu-malu euy mau promosiin buku sendiri. Hadeuuhhh..

    padahal sebagai penulis harusnya kita bisa bangga ya sama hasil tulisan kita itu ya.

  15. Terima kasih sharingnya, Teh. Nambah ilmu.
    Memang perlu penulis belajar ilmu marketing, kebetulan buku yang pernah saya tulis kan di indie. Jadi gak majang di toko buku. Nah disitu juga bisa buat belajar jual sendiri, belajar praktekan, belajar praktekan. Makin kesini makin banyak medsos yang bisa digunakan untuk promo, makin haus saja pengen belajar terus 🙂

Tinggalkan komentar

Site Protection is enabled by using WP Site Protector from Exattosoft.com