Ketika Junghuhn Menguak Misteri Menjadi Obyek Wisata Kawah Putih di Ciwidey


travelling / Senin, Februari 18th, 2019

Teman-teman narablog,

Mungkin sudah tahu obyek wisata Kawah Putih di Ciwidey? Jaraknya kira-kira 50 km di Selatan kota Bandung. Letaknya di Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, berdekatan dengan berapa obyek wisata lain, seperti Ranca Upas, Patuha Resort dan TWA Cimanggu.

Ternyata obyek wisata Kawah Putih menyimpan kisah cukup unik, dari mulai kisah mistik, misteri, obyek penambangan hingga ditetapkan menjadi obyek wisata oleh pemerintah daerah Kabupaten Bandung pada tahun 1987.

Junghuhn the Explorer @ Kawah Putih

Pernah dengan nama Junghuhn, atau nama lengkapnya Dr. Franz Wilhelm Junghuhn? Lupa-lupa ingat, ya, zaman pelajaran SD. Ingat nama Junghuhn, ingatnya kina. Junghuhn memang mengembangkan budi daya tanaman kina, terutama di pulau Jawa, sebagai bahan dasar obat malaria.


Dr. Franz Wilhelm Junghuhn

Junghuhn, lahir di Mansfeld, 26 Oktober 1809, meninggal di Lembang, 24 April 1864, adalah seorang dokter, ahli botani, geolog, dan pengarang berkebangsaan Prusia, lalu Belanda.

Dari kisah sejarah, Junghuhn awalnya diharapkan menjadi seorang pemangkas rambut seperti ayahnya. Jiwa pemberontak dan petualangan Junghuhn menolak arahan ayahnya, kemudian melanjutkan sekolah ke sekolah kedokteran. Sempat tidak menyelesaikan sekolah dan frustasi, Junghuhn kemudian pindah ke kota lain, dan berhasil mengikuti ujian kedokteran kemudian menjadi dokter tentara.

Pernah ditahan karena melukai seseorang kala duel, kemudian melarikan diri, dan mengelana hingga ke Aljazair. Sekembalinya ke Eropa, Junghuhn mendengar adanya persiapan ekspedisi dari Belanda ke pulau Jawa. Junghuhn pun mendaftar, dan mendarat di Batavia tahun 1835.

Semangat menelitinya menjelajahi gunung-gunung di Sumatera dan pulau Jawa hingga menerbitkan buku yang menjadi acuan bagi peneliti dari sudut pandang ilmu botani, geologi, dan vulkanologi.

Di kemudian hari Junghuhn meneliti tentang pohon kina, dan menemukan jenis kina tertentu yang efektif untuk mengobati malaria.

Menguak Misteri di Kawah Putih

Ketika suatu saat Junghuhn meneliti gunung-gunung di Jawa Barat, salah satunya adalah gunung Patuha. Sebuah gunung yang berada di ketinggian 2434 m di atas permukaan air laut dan suhu sekitar 8-220 Celcius.

Nama gunung Patuha, konon berasal dari kata “Pak Tua”, sehingga gunung ini juga dijuluki gunung Sepuh. Tetapi ada pula yang menyebutkan bahwa Patuha berasalah dari kata “patuka”, atau lereng menurun atau tebing curam.

Ada pendapat lain, bahwa berasal dari kata “putha” yang berarti api atau matahari. Atau dari kata “pathuwa”, berasal dari kata “huwa” yang berarti suara keras. Sederhananya, “pathuwa” bisa diartikan api yang bergemuruh.

Ada dugaan, bahwa adanya aktivitas vulkanik yang pernah terjadi pada gunung Patuha, maka menimbulkan suara gemuruh dan mengeluarkan api pada lerengnya yang curam.

Pendek cerita, waktu itu Junghuhn meminta penduduk lokal untuk mengantar ke lokasi, dan mendapatkan kisah-kisah misteri di Kawah Putih, sehingga wilayah tersebut jarang dikunjungi.

Kisah misteri danau Kawah Putih, antara lain:

Angker

Menurut dongeng dari penduduk setempat, begitu angkernya kawasan di gunung Patuha, hingga tak ada burung yang terbang di wilayah tersebut. Kalau ada yang melintas terbang, maka akan mati.

Tentu saja, Junghuhn tak mau percaya begitu saja. Dasarnya jiwa petualangnya begitu kuat, maka sampailah Junghuhn di puncak gunung Patuha.

Ternyata, memang benar. Junghuhn merasakan ada keanehan.

Suasana terasa begitu sunyi, tak ada burung maupun hewan lain yang melintas di area tersebut.

Setelah melanjutkan perjalan, Junghuhn tiba di tepi sebuah danau yang berwarna putih kehijauan, dikelilingi oleh dinding batu terjal berwarna putih kecoklatan.

Lazimnya sebuah kawah gunung, dari dalam danau keluar uap gas belerang dan baunya menusuk hidung. Dugaan kandungan belerang yang sangat tinggi menyebabkan burung enggan terbang melintas di atas permukaan danau Kawah Putih tersebut.

Dari sinilah Junghuhn menyimpulkan kesunyian dan tidak adanya satwa liar di sekitar danau dan puncak gunung Patuha, karena uap gas belerang tersebut.

Penampakan

Kawasan danau Kawan Putih bila lewat tengah hari atau menjelang petang biasanya turun kabut. Hal ini biasa terjadi di daerah pegunungan. Nah, konon kabarnya, saat turun kabut ada penampakan yang dijuluki penduduk sekitar, domba lukutan. Domba, artinya domba. Lukutan, artinya lumutan. Jadi ada iring-iringan domba berbulu kehijauan lumutan gitu lewat. Hiii…

Di luar cerita angker dan ada penampakan tersebut. Kawah Putih memang indah. Keindahan kawasan danau Kawah Putih tersebut digoreskan dalam lukisan yang dibuat sendiri oleh Junghuhn, di tahun 1856, berjudul Kawah Putih.

wisata kawah putih
lukisan “Kawah Putih” – karya Junghuhn (1856)

Tambang Belerang di Kawah Putih

Di era pemerintahan Hindia Belanda pernah ada tambang belerang di Kawah Putih, bernama Zwavel Ontgining Kawah Putih. Pabrik ini kemudian diambil alih selama Perang Dunia II oleh militer Jepang dan dioperasikan dengan nama Kawah Putih Kenzanka Yokoya Ciwidey. Titik masuk ke berbagai terowongan yang mewakili sisa-sisa kegiatan penambangan ini dapat dilihat di beberapa titik di sekitar lokasi saat ini.

Lebih dari seabad setelah Franz Wilhelm Junghuhn pertama kali menemukan danau itu, pada tahun 1991 perusahaan kehutanan milik negara Indonesia Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten (Unit Kehutanan No III untuk Jawa Barat dan Banten) mulai mengembangkan situs tersebut sebagai obyek wisata Kawah Putih.

Perlu diketahui bahwa air danau di Kawah Putih kadar keasaman yang sangat besar (pH 0,5-1,3). Hal ini menyebabkan air danau bisa berubah warna dari kebiru-biruan menjadi hijau keputihan, atau cokelat, tergantung pada konsentrasi belerang dan suhu atau tingkat oksidasi. Pasir dan bebatuan di sekitar danau juga telah larut ke dalam warna keputihan melalui interaksi dengan keasaman air danau.

Menuju Obyek Wisata Kawah Putih di Ciwidey

Obyek wisata Kawah Putih terletak di jalur wisata Ciwidey – Patengan.   Terletak di Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Dari kota Bandung, destinasi ini berjarak sekitar 50 kilo meter.  Atau dapat ditempuh sekitar satu jam setengah melalui Jalan Tol Soreang Pasir Koja. Untuk menuju ke destinasi ini cukup mudah.  Selain papan petunjuk yang sudah lengkap, juga didukung kondisi infrastruktur jalan yang relatif baik.

Secara pribadi, saya sudah tiga kali ke obyek wisata Kawah Putih, dan tidak pernah bosan. Pertama bersama keluarga, kemudian bersama alumni teman sekelas waktu SMA, dan terakhir bersama teman dosen dan karyawan di kampus.

Waktu itu kami naik bus kampus menuju obyek wisata Kawah Putih tersebut. Setelah sampai di gerbang, kita harus membeli tiket masuk ke kawasan wisata.

Sedangkan untuk mencapai ke area Kawah Putih, ada dua pilihan, yaitu dengan kendaraan pribadi atau dengan shuttle yang bernama ontang-anting.

wisata kawah putih
siap naik ontang-anting

Karena kami naik bus, dan tidak memungkinkan membawa bus sampai ke puncak, karena bus harus parkir di pelataran parkir bus, maka rombongan kami naik ontang-anting.

wisata kawah putih
pelataran parkir di atas

Kami pun di drop oleh ontang-anting, dan menuju danau harus melalui tangga turun ke bawah.

Tak terlalu banyak anak tangga yang harus dilalui, tak sebanyak waktu saya mengunjungi Candi Tebing Gunung Kawi.

wisata kawah putih
signage
wisata kawah putih
anak tangga ke area danau Kawah Putih

Kisahnya ada disini: Semburat Sinar Matahari di Candi Tebing Gunung Kawi, Bali

Cetak Foto di Obyek Wisata Kawah Putih

Memang benar seperti yang dirasakan Junghuhn kala ada di tepi danau. Terasa hening dan senyap.

Kabut tipis ada di atas permukan air yang berwarna putih susu kebiruan (susah bener nyebut warnanya yah).

Walaupun menjelang siang hari, matahari tak terlalu bersinar, karena tertutup awan. Mungkin juga, karena kami ke lokasi di pertengahan bulan Mei, masih ada sisa musim hujan.

Nah, namanya ke tempat atau obyek wisata, apalagi kalau tidak berfoto ria, bukan.

wisata kawah putih
wisata kawah putih
wisata kawah putih

Mau foto ramai-ramai, foto selfie, dibantu teman untuk foto di spot tertentu. Tentu saja saya juga tak mau ketinggalan mengambil foto bagus dan update Instagram.

Serunya lagi, beberapa tukang foto menawarkan jasanya untuk mengambil foto, kemudian dicetak instan oleh mesin printer portable. Hampir semua pengunjung mempunyai ponsel pintar yang dilengkapi fitur kamera, tetap saja pemuda-pemuda setempat tersebut tak putus asa menawarkan jasa untuk mengambil foto.

wisata kawah putih
cetak foto kilat

Saya lupa berapa ongkos foto dan cetaknya sekalian. Tetapi ada satu kesempatan, kami meminta tolong ke salah seorang fotografer lokal tersebut untuk memfoto kami, memakai kamera ponsel salah seorang teman. Ya, kami beri fee Rp 10.000,- untuk ongkos.

Tak banyak kegiatan sebenarnya yang bisa dilakukan selain berfoto ria. Apalagi sekarang dilengkapi dengan dermaga ponton, dermaga yang dibuat dari kayu di atas semacam pulau agak ke tengah danau. Untuk menuju dermaga ponton dilengkapi dengan jembatan, dan ada tarif tertentu.

dermaga ponton, sumber: tripadvisor

Bila teman-teman banyak waktu, bisa juga naik lagi lebih ke atas untuk ke Tebing Sunan Ambu.

Waktu itu, kami pun harus bergegas kembali ke pelataran parkir, karena turun hujan.

Kalau hujan bagaimana ya kira-kira?

Tak perlu khawatir, karena sudah ojek payung yang sedia dengan payung-payung besar menyewakan payung.

Nah, demikian lah penampakan obyek wisata Kawah Putih tersebut. Penampakan dunia nyata ini, bukan dunia lain.

Tiket Masuk Obyek Wisata Kawah Putih

Jam operasional pukul 07:00 sampai dengan 17:00. Sebetulnya sampai pukul 15:00 sudah cukup, sih. Selain cenderung hujan turun kalau sore hari. Menurut saya, suasana agak mencekam kalau terlalu sore.

Tiket masuk lokasi Rp. 20.000,- untuk wisatawan domestik, dan Rp. 50.000,- untuk wisatawan manca negara.

Parkir di bawah, untuk mobil Rp. 6.000,-, motor Rp. 5.000,-, dan bus Rp. 25.000,-

Bila akan membawa mobil hingga ke pelataran parkir di atas, tarifnya Rp. 150.000, untuk motor Rp. 35.000,-

Sedangkan tiket naik ontang-anting Rp. 15.000 per orang.

Kemudian untuk menyeberang ke dermaga ponton Rp. 10.000,-

Nah, teman narablog, silakan kalau mau berkunjung ke obyek wisata Kawah Putih di Ciwidey.

Di sekitarnya masih ada obyek wisata lainnya, lho … .

signature haniwidiatmoko
Bandung, 17 Februari 2019
twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

29 Replies to “Ketika Junghuhn Menguak Misteri Menjadi Obyek Wisata Kawah Putih di Ciwidey”

  1. Waktu ke Bandung sempat ke Ciwideuy tapi nggak mampir ke Kawah Putih karena anak-anaknya maunya ketemu air. Waktunya juga sudah siang sih saat kami tiba di sana. Jadi mepet-mepet gitu deh, Bun, hahaha …

    Pemandangan di Kawah Putih ini mengingatkan aku sama hutan matinya Gunung Papandayan. Cuma di sana ya nggak ada danaunya, hihihi …

  2. Wah belum kesini lagi nih. Sekarang udah ada jembatannya aja. Terakhir kesana parkir didepan terus naek ontang anting deh. Tapi aku ga kuat lama2 disana bunda ga kuat bau belerangnya bikin sesek nih bun

  3. Dari tulisan ini kebayang deh suasana di tempat wisata tersebut. Untungnya si mister Belanda gak percaya dengan cerita2 yang banyak beredar kala itu. Jadinya, keindahan dan kekhasan kawah putih kini bisa dinikmati banyak orang.

  4. Terakhir aku ke Kawah Putih jembatannya belum ada.. Udah lama banget itu juga.. Pas beberapa menit di sana, eh, gerimis.. Ada semacam pendopo jadi bisa neduh dulu.. Aku baru tau nih cerita soal Junghuhn.. Meski kesannya mistis tapi bagus banget tempatnya, ya.. Banyak yang foto prewed pun di Kawah Putih.. Jadi pingin ke sana lagi.. 😀

  5. Kali pertama tahu kawah putih ini pas saya nonton film “Fallin in Love”-nya Adly Fairuz-Mikha Tambayong-Boy William tahun 2012 dulu. Bagus banget kawahnya. Masya Allah.

    Trus berlanjut dengan tulisan para narablog, termasuk punya Bun Hani ini yg lebih spesifik karena ditambah dengan sosok Junghuhn.

    Jadi semakin ingin ke Bandung, nih. Foto-fotoan aja di sana pun rasanya udah seneng pastinya, ya.

    Wish me luck to be there, Bun 🙂
    Terima kasih infonya

  6. Menarik sekali cerita sejarahnya, nggak nyangka lho, ternyata seorang Junghun yang menguak misteri Kawah Putih. Emang sebenarnya kalau bisa menemukan sisi lain dari sebuah tempat, cerita yang diangkat pun jadi lebih menarik. Beda dengan cerita perjalanan pada umumnya. Suka aku Mbak.

  7. Oo yang menemukan keeksotisan Kawah Putih itu ternyata bapak penemu pil kina to mbak.
    Saya bafu tahu. 😁
    Btw kami pernah ke kawah putih ini, lokasinya menanjak banget.
    Tapi saat sampai ke sana.
    Wouw indah banget, bagus banget buat pepotoan.

  8. Cantik sekali objek wisata Kawah Putihnya ya mbak. Saya pernahnya cuma ke Tangkuban Perahu. Udah gitu pas ke sana kirain Kawah Putih di situ juga. Padahal jarak keduanya ya jauh banget. Wkwkwk.

  9. Junghuhn berperan banget membuka tempat ini dari ‘angker’ menjadi objek wisata ya mbak. Coba nggak ada beliau dengan segala rasa penasarannya itu, pasti orang-orang lokal berpikiran itu Ciwidey angker karena banyak hantu sampai burung saja enggan lewat, rupanya karena belerang yang tingkat oksidasinya tinggi. hahahaha

    Sudah sering ke Bandung, tapi belum sekali pun berhasil ke sini. Selalu menjadi perencanaan yang selalu batal. hiks.

  10. Kelebihan pendidikan barat memang begitu ya Mak, anak-anak mereka tidak diajarkan percaya terhadap mitos-mitos. Ketika masyarakat Sunda ketakutan bahwa putih adalah seorang makhluk makhluk gaib dengan uap nya itu, Junghun yang tidak percaya terhadap cerita mitos, mengeksplorasi nya. Waktu pertama melihat kawah putih itu mungkin dia tertawa kali ya, mempertanyakan mitos-mitos nenek moyang kita

  11. Saya setuju dengan pernyataan tidak pernah bosan ke Kawah Putih. Ada saja yang bisa dilihat. Tapi Makin penasaran dgn Junghuhn, di masa itu dia sudah keliling Dunia menjelajah ke berbagai negara sampai menemukan obat Malaria disini

  12. Ah, aku baru tahu detail sejarahnya Kawah Putih setelah baca artikel ini.
    Jaman dulu misterius banget berarti ya, nggak ada makhluk hidup mau mendekat ke Kawah Putih.
    Eh, ternyata indah banget.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *