Inilah Jemparingan Gaya Panahan Tradisional, Memanah Sambil Bersila


lifestyle / Selasa, Maret 5th, 2019

Teman-teman narablog, sudah tahu, kan, olahraga panahan? Bisa jadi gara-gara Presiden Joko Widodo melepaskan anak panah bersama atlit difable di Asian Paragames 2018 yang lalu. Atau, menjamurnya komunitas olahraga panahan di sekitar kita. Lalu, apa itu Jemparingan? Apa bedanya olahraga panahan tradisional dan modern?

Kalau saya, sih, karena suami menurunkan busur bambu yang teronggok di atas lemari hampir 30 tahun, lalu hobby olahraga panahannya bersemi kembali.

Sejarah Panahan

Menurut beberapa penjelasan sejarah, memanah dulunya adalah sebagai alat berburu, kemudian sebagai senjata kala berperang. Ternyata gaya memanah berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Material dari masing-masing komponen pun berkembang dari zaman ke zaman.

Umumnya memanah hanya perlu busur, anak panah, dan kantung untuk cadangan anak panah kemudian teknik membidik ke sasaran. Di beberapa daerah bahkan pemanah yang ahli bisa memanah ikan dalam air, memanah sambil menunggang kuda, bahkan sambil matanya ditutup.

Sejak ditemukan berbagai cara berburu selain memanah, antara lain dengan perangkap atau berternak, memanah jarang dipakai lagi untuk berburu. Di sisi lain, sejak ditemukannya mesiu dan senjata berbahan peledak, memanah juga ditinggalkan.

Karena unik, memanah digemari sebagai salah satu jenis olahraga dan dipertandingkan, dinamakan panahan. Di beberapa daerah bahkan panahan tradisional mulai digemari.

Olahraga Panahan (Archery)

Awalnya suami mengenal olahraga panahan (archery) zaman kuliah dulu. Waktu tingkat I, kami wajib memilih 2 kegiatan ekstrakurikuler, olahraga dan kesenian, olahraga dan kegiatan sosial/ edukasi, atau kesenian dan kegiatan sosial. Suami memilih olahraga panahan dan unit bahasa Inggris. Sedangkan saya olahraga hockey dan unit kesenian.

Baca juga: Dapat Gebetan Berkat Sedia Payung Sebelum Hujan

Kira-kira 3 tahun yang lalu, suami kembali menekuni olahraga panahan, yang terlupakan selama puluhan tahun. Busur bambu-knockdown-nya itu diuapkan di atas panci berisi air mendidih. Harapannya, sih, busurnya kembali lentur. Busur knock down, artinya busurnya bisa dibongkar pasang menjadi 3 bagian, yaitu ke dua sisi lengkung, dan bagian tengah untuk pembidik dan digenggam.

Tadinya saya mengira, memanah hanya perlu dua hal, yaitu busur dan anak panah. Ternyata setelah memperhatikan hobby suami itu, banyak printilan alias komponen yang menyertainya.

Ada tekniknya tentu saja, tidak asal meletakkan anak panah, mementang busur, membidik, lalu…tsuiiing…anak panah menuju sasaran.

Sayangnya saya belum berminat sampai hari ini, bahkan untuk memegang busurnya pun saya belum pernah.

Olahraga Panahan di Indonesia

Di Indonesia, awalnya olahraga panahan yang dipertandingkan di Pekan Olah Raga Nasional (PON) adalah olahraga panahan tradisional. Waktu itu pun baru sebatas eksibisi.

Kemudian setelah terbentuk Perpani (Persatuan Panahan Indonesia), dan Perpani diterima sebagai anggota FITA (Federation International de Tir A L’Arc), maka Indonesia mengacu ke panahan gaya internasional (modern). Nah, yang kita sering lihat dimana-mana itu adalah gaya memanah internasional (modern).

Berkat suami kembali menekuni olahraga panahan, dia lalu browsing dan banyak belajar tentang berbagai teknik memanah dari berbagai belahan bumi.

Ada teknik memanah gaya internasional, gaya Mongolia, gaya Hongaria, dan yang istimewa adalah panahan tradisional Jemparingan.

Baca juga: Apa Me Time Pasanganmu?

Jemparingan Olahraga Panahan Tradisional

komunitas Jemparingan latihan di Stadion Sriwedari – Solo

Jemparingan sebagai olahraga panahan tradisional awalnya hanya dimainkan oleh prajurit di zaman kerajaan Mataram di Jawa Tengah. Tujuannya adalah untuk melatih ketajaman mereka dalam memanah dan untuk keperluan berperang.

Belakangan olahraga panahan tradisional gaya Jemparingan ini mulai digemari masyarakat luas, terutama di kota Yogyakarta dan Solo. Jemparingan juga dilombakan antar daerah yang mempunyai komunitas tersebut.

Apa bedanya apa antara gaya panahan Internasional dan panahan tradisional Jemparingan?

kiri: sasaran panahan Internasional – kanan: sasaran panahan Jemparingan

Gaya Panahan Internasional

Memanah sambil berdiri. Tentu saja bagi difable ada perlakuan khusus

Cara memegang busur kala membidik posisi tegak. Menarik tali busur hingga telinga

Busur modern, bahannya dari material yang semakin ringan

Biasanya busur dilengkapi alat ukur pembidik

Perlengkapan tambahan, seperti pelindung dada, pelindung lengan, pelindung jari, dan lain-lain

Sasaran berbentuk lingkaran kuning, merah, biru. Nilai tertinggi yang bisa memanah tepat di lingkaran tengah (kuning).

Gaya Panahan Jemparingan

Memanah sambil duduk bersila. Biasanya sambil memakai kain

Cara memegang busur kala membidik posisi miring. Menarik tali busur sampai bibir

Busur bambu atau kayu

Busur tidak dilengkapi alat pembidik tertentu

Tidak ada perlengkapan khusus

Sasaran berbentuk “orang-orangan” posisi vertikal, panjang 30 cm, diameter 3.5 cm. Pada bagian atas dicat merah, lalu kuning, dan selebihnya warna putih. Nilai tertinggi yang bisa membidik di bagian berwarna merah (kepala). Bagian bawah diberi lonceng kecil, sehingga bila kena sasaran, akan berbunyi.

Panahan Olahraga dan Olahrasa

Sesekali suami kalau ke Solo, menyempatkan mampir ke bapak Eddy Roostopo, mantan atlit panahan Indonesia. Dari beliaulah suami belajar tentang panahan gaya Jemparingan.

Menurut pak Popop, begitu nama sapaan beliau, panahan bukan hanya olahraga, tapi olahroso (olahrasa). Kita perlu konsentrasi, bisa mengira-ngira sasaran, sudut membidik yang tepat, dan sabar tentu saja.

Apalagi panahan gaya Jemparingan, sasarannya kan lebih sulit. Bukan lingkaran tetapi orang-orangan. Arah angin pun berpengaruh pada saat memanah.

Beliau selain ahli memanah juga menerima pembuatan busur dan anak panah. Busur yang beliau buat terbuat dari kayu atau bambu. Jenis-jenis kayunya pun tertentu, misalnya sonokeling atau kamper.

Sedangkan bambunya pun bambu jenis dan umur tertentu, karena bambu untuk busur harus cukup lentur. Di bengkel beliau terdapat beberapa alat bubut kayu dan oven untuk mengeringkan kayu atau bambu.

Beliaupun bisa membuatkan, mau busur utuh atau busur knock-down.

memperhatikan tabel tinggi badan dan ukuran busur

Menurut pak Popop, tinggi busur harus setinggi orangnya. Karena busur yang beliau buat sifatnya custom, maka beliau mempunyai tabel untuk tinggi badan sekian cm, maka panjang busur sekian cm. Suami yang tinggi badannya 175 cm, maka dibuatkan yang sesuai. Hal ini berpengaruh pada besarnya bentangan si busur itu sendiri. Akibatnya panjang anak panah pun berbeda.

Ya kali, busurnya panjang pas direntang, anak panahnya pendek, ya tidak akan terbidik dengan baik.

Tuh, kan, printilannya jadi banyak.

posisi memanah sambil bersila

Nah, berarti kalau saya kesambet lalu ikut-ikutan memanah, berarti saya tidak bisa pinjam busur suami, dong. Enggak usah lah. Cukup suami saja yang pandai memanah (hatiku)…#eh…

Nah, teman-teman narablog.

Olahraga tradisional apa yang ada di lingkungan teman-teman?

Bandung, 5 Maret 2019

signature haniwidiatmoko
twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

15 Replies to “Inilah Jemparingan Gaya Panahan Tradisional, Memanah Sambil Bersila”

  1. Pernah lihat sih cuma baru tahu namanya Jemparingan. Kalau pemanah profesional pasti bisa model manah begini juga ya Bun? Atau blm tentu juga?

  2. Wih jadi kangen latihan memanah. Iya setuju banget kalau memanah olahraga dan olah rasa karena insting pemanah itu selalu mengedepankan rasa kira-kira dan strategi yang tepat.

    Btw baru tahu ada panah jemparingan tapi seru juga kalau memanah dengan duduk bersila. Harus belajar banyak nih ilmu memanah karena saya juga hobi panahan cuma belum teratur latihan.

  3. Pernah memanah saat ada acara kantor kayak fam gathering gitu..dan ternyata susaah hahah
    Bisa melenting tapi jauh di atas papan tujuan.
    Kalau jemparingan pernah lihat waktu berkunjung ke Keraton Jogja..pas ada demo dari abdi dalemnya.
    Olahraga tradisional ada di gang sebelah..pencak Betawi gitu tulisannya

  4. Wah baru tau nih bunda kao ternyata memanah juga banyak macam dan cara melalukannya yah, kirain ya asal betul saja posisi memanahnya sudah bisa disebut memamah. Keren deh bun suami bisa langsung dapet pengalaman dari mantan atlet juga.

    Btw iyalah bun kita mah nunggu dipanah aja deh jangan memanah hehe

  5. Ponakanku yg di Jogja lagi belajar Jemparingan ini, Mbak. Biasanya dia pakek pakaian tradisional surjan lengkap sama kain untuk bawahan. Seru juga sih, apalagi tempat memanahnya di taman gitu, jadi udah kayak mau berburu beneran, wkwkwkwk. Nah, aku pun pernah nyoba menarik busur panahan. Dan ternyata, uabot e jan ra umum, wkwkwkwk

  6. Main panahan asyik ya mba.
    Walaupun mainan anak anak nyobain emak bapaknya, ternyata perlu fokus dan tepat sasaran ya.

    Pengen nyobain panahan aslinya, moga dilain waktu ada kesempatan. Aamiin

  7. Ini nih jenis olahraga yang tak pernah sekalipun saya lihat secara langsung, lihatnya di televisi saja. Keren euy suaminya bisa panahan apalagi yang dipanah hatinya mbak Hani, hehehe…

  8. Info menarik ini. Pertama kali dengar jemparingan pas saya baca tulisannya ust. Salim A. Fillah. Tapi belum tahu kalau cara memanahnya sambil duduk gitu.
    Tiap kali melihat orang memanahnya itu kok saya mupeng, ya. Terlihat keren, gitu. Sayangnya saya juga cuma bisa memanahnya hati suami, hihi.
    Kapan2 kalau pas mudik ke Solo mau coba lihat jemparingan, ah. Penasaran.

  9. Saya belum pernah nyoba panahan nih, Mbak. Kapan-kapan penasaran juga. Maklum di Lamongan belum ada yang beginian. Tempo hari ke Bandung cuma 2 hari dan padat banget, enggak sempat ke mana-mana. Semoga kali lain bisa kopdar ya Mbak ….

  10. Wah, saya baru tahu nih ada olahraga panahan versi tradisional begini….
    Sebenarnya penasaran juga dan pengen nyoba memanah, tapi saya kan silidris, kayaknya busurnya bakalan meleset terus deh. hehehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *