Legenda di balik Pesona Danau Kawah Tiga Warna di Kelimutu


travelling / Minggu, Maret 17th, 2019
kelimutu national park
Kelimutu National Park, Ende, Flores-NTT

Indonesia kaya dengan potensi wisata alam dan kisah dibalik terbentuknya obyek wisata tersebut. Di balik pesona danau, hutan, gunung, dan laut, seringkali disertai dengan mitos atau legenda yang diceritakan turun temurun oleh penduduk sekitarnya. Contohnya adalah Danau Kawah Tiga Warna di Kelimutu, Flores.

Baca kisah Ketika Junghuhn Menguak Misteri Menjadi Obyek Wisata Kawah Putih di Ciwidey

Warna Danau Kawah Tiga Warna di Kelimutu maupun Danah Kawah Putih juga diakibatkan oleh aktivitas gas gunung berapi. Warna-warna pada danau tersebut bisa berubah-ubah sesuai dengan reaksi kimia yang dihasilkan dari mineral yang terkandung pada masing-masing danau. Foto-foto danau tersebut telah banyak beredar, sehingga grup kami memang berkeinginan menyambangi danau tersebut plus berfoto-ria tentu saja.

Baca perjalanan kami sebelumnya di:

646 km Perjalanan Darat dari Timur ke Barat di pulau Flores

Keunikan Struktur Kayu di Gereja Sikka

Di kisah sebelumnya, saya menceritakan hotel tempat kami bermalam dan perjalanan menuju ke obyek Wisata Gunung Kelimutu ini.

Hari masih pagi, kira-kira pukul 07:30, selain bus yang kami naiki, ada angkutan umum khas Flores yang sudah lebih dahulu tiba. Angkutan umum di Flores itu unik, seperti truk kecil, dengan pagar kayu, beratap terpal, dan tentu saja muat lebih banyak penumpang.

Kis mewanti-wanti, supaya kami paling lambat turun dari puncak pukul 11:00, karena pukul 12:00 kami harus tiba di kota Ende, untuk makan siang.

Huf … naik pun belum, turunnya kapan?

Oh ya, sebelumnya Kis mengumumkan di bus, kita mau mengadakan semacam lomba. Siapa yang paling cepat sampai di puncak Kelimutu akan mendapatkan uang kuno Rp. 5000,- yang bergambar Danau Kawah Tiga Warna Kelimutu. Kis sengaja menyiapkan 3 lembar uang kuno tersebut, yang diperuntukkan bagi pemenang ke 1, 2, dan 3.

Pada papan penunjuk arah terdapat penanda posisi masing-masing kawah tersebut dengan ketinggiannya di atas permukaan laut.

Halah … tingginya. Bismillahirohmanirrohim, semoga kaki kuat melangkah…

jalan setapak menuju puncak Kelimutu

Naik tangga sedikit, belok kiri berjalan di jalan tanah di antara pohon-pohon sungguh asri. Apalagi saya ini jarang kan berkesempatan jalan-jalan di hutan. Kami jalan santai saja, walaupun di antara kami ada lebih suka jalan cepat, salah satunya adalah mbak Linda. Beliau memang sigap dan konon senang olahraga. Pasti mbak Linda nih yang menang.

Riwayat Terbentuknya Danau Kawah Tiga Warna Kelimutu

Menilik sejarah gunung Kelimutu, awalnya ada 3 gunung yang berjajar membentuk kompleks gunung api purba Sokoria, yaitu gunung Kelido (1641 m dpl), gunung Kelibara (1630 m dpl), dan gunung Kelimutu (1640 m dpl). Dari ketiga gunung itu, hanya gunung Kelimutu yang masih menunjukkan keaktivan hingga sekarang.

Tubuh gunung Kelimutu dibangun dari bebatuan Piroklastika (bom, lapili, scoria, pasta, abu, awan panas,  dan lahar) serta lelehan lava. Pada puncak gunung Kelimutu terdapat 3 buah sisa kawah yang merupakan perpindahan puncak erupsi. Ketiga sisa kawah tersebut kini berupa danau kawah dengan warna air yang berlainan satu sama lain. Menurut pejabat Taman Nasional Kelimutu, warna-warna danau merupakan reaksi kimia yang dihasilkan dari mineral yang terkandung di danau dipicu oleh aktivitas gas gunung berapi.

Danau-danau tersebut ada namanya, lho, yaitu: Tiwu Ata Polo (danau merah), Tiwu Nua Muri Ko’o Fai (danau hijau), dan Tiwu Ata Mbupu (danau biru).

Nah, ke sanalah kami melangkah.

me @tiwu ata polo

Menurut penunjuk jalan yang memandu kami, ada 2 pelataran singgah untuk mengamati ke tiga danau tersebut. Pelataran pertama, kami dapat mengamati dua danau yang berdampingan, yaitu Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nua Muri Ko’o Fai.

Dua danau tersebut walaupun sama-sama berwarna biru, tetapi biru yang berbeda. Dulunya di antara kedua danau tersebut masih dapat dilalui oleh jalan setapak. Tetapi dari waktu ke waktu karena gerusan dinding di antara ke dua dana tersebut, maka keduanya hanya dibatasi oleh dinding tipis.

jalan setapak di tepi Tiwu Ata Polo
latar depan Tiwu Nua Muri Ko’o Fai, latar belakang Tiwu Ata Polo

Sedangkan pelataran ke dua, kami masih harus menapak menaiki tangga batu. Walaupun tangga dibuat cukup landai, perlu kehati-hatian, karena tidak ada pagar pengaman (railing) untuk pegangan.

Beberapa teman yang siap, sudah membawa tongkat sebagai alat bantu menapak. Ya sudahlah, pelan-pelan saja.

Sebagian dari kami ragu, sebagian lagi semangat. Masing-masing menilai saja kemampuan diri sendiri. Kuat tidak?

Ternyata oh ternyata, semangat gajah mengalahkan keragu-raguan. Akhirnya kami bisa berkumpul semua di puncak gunung Kelimutu.

Dari pelataran ke dua ini, kami bisa mengamati semua Danau Kawah Tiga Warna Kelimutu. Danau terakhir, Tiwu Ata Mbupu, ternyata agak terpisah dan warnanya lebih gelap.

Tiwu Ata Mbupu

Teman kami yang menyusul dan baru tiba di kota Ende pukul 10 pagi pun masih punya waktu bergabung bersama kami. Lengkaplah kami ber-21 berfoto bersama di puncak gunung Kelimutu.

21 ladies @Craters Lake Kelimutu

Tak Bosan dengan pesona Danau Kawah Tiga Warna di Kelimutu, kami tak bosan pula berfoto dengan berbagai posisi serta formasi.

Bahkan kami harus diingatkan untuk segera kembali ke bus, supaya tidak terlambat tiba di kota Ende. Karena rencananya setelah makan siang, kami masih harus melanjutkan perjalanan ke Utara pulau Flores, yaitu ke Riung di Kabupaten Ngada.

Sudah nih. Sekarang tiba waktunya turun gunung.

Tahu tidak teman-teman? Turun tangga ternyata jauh lebih sulit daripada naik tangga.

buka lapak di puncak Kelimutu

Perjalanan agak terhambat sedikit, karena oh karena … teman-teman masih saja belanja kain yang dijajakan di sepanjang jalan setapak. Bahkan tadi, di pelataran ke dua, ada saja yang buka lapak sambil kemulan sarung tenun ikat. Pantas, saya baru mengerti, kenapa tenun ikat khas Flores tersebut merupakan dua buah sarung yang dijahit menjadi satu. Supaya cukup menutup seluruh tubuh, kan

watch your step

Satu demi satu kami pun kembali ke pelataran parkir, dan siap-siap menuju kota Ende.

Legenda Danau Kawah Tiga Warna Kelimutu

Teman-teman, mau tahu juga kan legenda Danau Kawah Tiga Warna Kelimutu. Kisah ini sudah ada turun temurun, dan sampai sekarang pun gunung Kelimutu masih dipercaya mempunyai kekuatan magis. Konon, danau yang terbentuk di gunung Kelimutu adalah akibat pertarungan sengit antara Ata Polo, seorang tukang tenung kejam yang memakan manusia, dan Ata Mbupu, seorang tokoh masyarakat yang dihormati dan hatinya baik.

Pada suatu hari, sepasang Ana Kalo (anak yatim piatu) mendatangi Ata Mbupu untuk minta perlindungan, karena orangtua mereka sudah wafat. Ata Bupu pun menerima anak tersebut dengan syarat tetap berlindung di ladang supaya tidak dimakan Ata Polo.

Ata Polo yang mengetahui keberadaan kedua anak yatim tersebut kemudian berusaha mencari karena hendak memakannya. Ata Mbupu yang menyadari hal ini menahan keinginan Ata Polo dan membuat perjanjian agar Ata Polo datang kembali ketika Ana Kalo sudah dewasa, dengan alasan akan lebih nikmat disantap. Saran ini pun diterima Ata Polo.

Ana Kalo pun beranjak dewasa dan menjadi anak gadis (Ko’o Fai) dan pemuda (Nuwa Wuri). Mereka minta izin ke Ata Mbupu untuk meninggalkan ladang dan bersembunyi di gua. Tentu saja ketika Ata Polo datang menagih janji, dan kedua anak tersebut tidak ada, timbul amarahnya. Ata Polo tak terima, karena menganggap Ata Mbupu ingkar janji.

Keduanya, Ata Mbupu dan Ata Polo pun berkelahi. Sayang, Ata Mbupu yang mempunyai kekuatan magi putih tidak dapat menahan kekuatan Ata Polo dengan kekuatan magi hitam. Ata Mbupu pun masuk ke dalam bumi. Sedangkan Ata Polo yang diliputi kemarahan menimbulkan kebakaran hutan, yang justru membuatnya ditelan bumi.

Ketika Ata Mbupu dan Ata Polo bertarung tersebut menimbulkan gempa bumi yang mengubur hidup-hidup Nuwa Wuri dan Ko’o Fai yang sedang bersembunyi di dalam gua.

Di tempat-tempat Ata Mbupu menghilang tersebut timbul danau berwarna biru gelap ke arah hitam diberi nama Tiwu Ata Mbupu, yang dipercayai tempat berkumpulnya arwah para orangtua. Sedangkan tempat Ata Polo menghilang, timbul danau yang berwarna merah dan diberi nama Tiwu Ata Polo, dipercayai sebagai tempat berkumpulnya arwah orang jahat.

Tempat tertimbunnya Nuwa Wiru dan Ko’o Fai, timbul danau yang berwarna biru terang diberi nama Tiwu Nuwa Muri Ko’ofai. Danau ini diyakini masyarakat menjadi tempat berkumpulnya arwah anak-anak muda yang meninggal.

Danau Kawah Tiga Warna di Kelimutu, sumber foto: Flikr/ Deden Heryana

Sampai sekarang masyarakat setempat masih percaya dengan bahwa apa yang terjadi di dunia dapat dilihat dari perubahan warna pada air danau. Misalnya terjadi gejolak politik, maka air danau akan berwarna merah.

Bagaimana menurut teman-teman narablog?

Ada kaitannya tidak antara kejadian di dunia dengan warna air Danau Kawah Tiga Warna Kelimutu?

Bandung, 17 Maret 2019

signature haniwidiatmoko
twittergoogle_pluspinteresttumblr
Facebooktwittergoogle_pluspinterestyoutubetumblrinstagrammail

6 Replies to “Legenda di balik Pesona Danau Kawah Tiga Warna di Kelimutu”

  1. Wow, mantaap ternyata Indonesia memiliki alam yang indah, tidak kalah dengan luar negeri. Memang kita harus lebih mengeksplore wilayah kita yang indah…

  2. Akhirnya ceritanya berlanjut jugam.Sampai ketiduran saya nunggunya hahaha
    Dan saya kagum ..sangat, pada ke-21 perempuan warbiyasaah yang akhirnya bisa berfoto berlatar Kelimutu. Salut!
    Semoga kalau anak dah besar nanti saya juga bisa jalan-jalan sama teman kayak Mbak Hani.
    Ditunggu part berikutnya..
    Sukaaaa!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *