Legenda di balik Pesona Danau Kawah Tiga Warna di Kelimutu

kelimutu national park
Kelimutu National Park, Ende, Flores-NTT

Indonesia kaya dengan potensi wisata alam dan kisah dibalik terbentuknya obyek wisata tersebut. Di balik pesona danau, hutan, gunung, dan laut, seringkali disertai dengan mitos atau legenda yang diceritakan turun temurun oleh penduduk sekitarnya. Contohnya adalah Danau Kawah Tiga Warna di Kelimutu, Flores.

Baca kisah Ketika Junghuhn Menguak Misteri Menjadi Obyek Wisata Kawah Putih di Ciwidey

Warna Danau Kawah Tiga Warna di Kelimutu maupun Danah Kawah Putih juga diakibatkan oleh aktivitas gas gunung berapi. Warna-warna pada danau tersebut bisa berubah-ubah sesuai dengan reaksi kimia yang dihasilkan dari mineral yang terkandung pada masing-masing danau. Foto-foto danau tersebut telah banyak beredar, sehingga grup kami memang berkeinginan menyambangi danau tersebut plus berfoto-ria tentu saja.

Baca perjalanan kami sebelumnya di:

646 km Perjalanan Darat dari Timur ke Barat di pulau Flores

Keunikan Struktur Kayu di Gereja Sikka

Di kisah sebelumnya, saya menceritakan hotel tempat kami bermalam dan perjalanan menuju ke obyek Wisata Gunung Kelimutu ini.

Hari masih pagi, kira-kira pukul 07:30, selain bus yang kami naiki, ada angkutan umum khas Flores yang sudah lebih dahulu tiba. Angkutan umum di Flores itu unik, seperti truk kecil, dengan pagar kayu, beratap terpal, dan tentu saja muat lebih banyak penumpang.

Kis mewanti-wanti, supaya kami paling lambat turun dari puncak pukul 11:00, karena pukul 12:00 kami harus tiba di kota Ende, untuk makan siang.

Huf … naik pun belum, turunnya kapan?

Oh ya, sebelumnya Kis mengumumkan di bus, kita mau mengadakan semacam lomba. Siapa yang paling cepat sampai di puncak Kelimutu akan mendapatkan uang kuno Rp. 5000,- yang bergambar Danau Kawah Tiga Warna Kelimutu. Kis sengaja menyiapkan 3 lembar uang kuno tersebut, yang diperuntukkan bagi pemenang ke 1, 2, dan 3.

Pada papan penunjuk arah terdapat penanda posisi masing-masing kawah tersebut dengan ketinggiannya di atas permukaan laut.

Halah … tingginya. Bismillahirohmanirrohim, semoga kaki kuat melangkah…

jalan setapak menuju puncak Kelimutu

Naik tangga sedikit, belok kiri berjalan di jalan tanah di antara pohon-pohon sungguh asri. Apalagi saya ini jarang kan berkesempatan jalan-jalan di hutan. Kami jalan santai saja, walaupun di antara kami ada lebih suka jalan cepat, salah satunya adalah mbak Linda. Beliau memang sigap dan konon senang olahraga. Pasti mbak Linda nih yang menang.

Riwayat Terbentuknya Danau Kawah Tiga Warna Kelimutu

Menilik sejarah gunung Kelimutu, awalnya ada 3 gunung yang berjajar membentuk kompleks gunung api purba Sokoria, yaitu gunung Kelido (1641 m dpl), gunung Kelibara (1630 m dpl), dan gunung Kelimutu (1640 m dpl). Dari ketiga gunung itu, hanya gunung Kelimutu yang masih menunjukkan keaktivan hingga sekarang.

Tubuh gunung Kelimutu dibangun dari bebatuan Piroklastika (bom, lapili, scoria, pasta, abu, awan panas,  dan lahar) serta lelehan lava. Pada puncak gunung Kelimutu terdapat 3 buah sisa kawah yang merupakan perpindahan puncak erupsi. Ketiga sisa kawah tersebut kini berupa danau kawah dengan warna air yang berlainan satu sama lain. Menurut pejabat Taman Nasional Kelimutu, warna-warna danau merupakan reaksi kimia yang dihasilkan dari mineral yang terkandung di danau dipicu oleh aktivitas gas gunung berapi.

Danau-danau tersebut ada namanya, lho, yaitu: Tiwu Ata Polo (danau merah), Tiwu Nua Muri Ko’o Fai (danau hijau), dan Tiwu Ata Mbupu (danau biru).

Nah, ke sanalah kami melangkah.

me @tiwu ata polo

Menurut penunjuk jalan yang memandu kami, ada 2 pelataran singgah untuk mengamati ke tiga danau tersebut. Pelataran pertama, kami dapat mengamati dua danau yang berdampingan, yaitu Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nua Muri Ko’o Fai.

Dua danau tersebut walaupun sama-sama berwarna biru, tetapi biru yang berbeda. Dulunya di antara kedua danau tersebut masih dapat dilalui oleh jalan setapak. Tetapi dari waktu ke waktu karena gerusan dinding di antara ke dua dana tersebut, maka keduanya hanya dibatasi oleh dinding tipis.

jalan setapak di tepi Tiwu Ata Polo
latar depan Tiwu Nua Muri Ko’o Fai, latar belakang Tiwu Ata Polo

Sedangkan pelataran ke dua, kami masih harus menapak menaiki tangga batu. Walaupun tangga dibuat cukup landai, perlu kehati-hatian, karena tidak ada pagar pengaman (railing) untuk pegangan.

Beberapa teman yang siap, sudah membawa tongkat sebagai alat bantu menapak. Ya sudahlah, pelan-pelan saja.

Sebagian dari kami ragu, sebagian lagi semangat. Masing-masing menilai saja kemampuan diri sendiri. Kuat tidak?

Ternyata oh ternyata, semangat gajah mengalahkan keragu-raguan. Akhirnya kami bisa berkumpul semua di puncak gunung Kelimutu.

Dari pelataran ke dua ini, kami bisa mengamati semua Danau Kawah Tiga Warna Kelimutu. Danau terakhir, Tiwu Ata Mbupu, ternyata agak terpisah dan warnanya lebih gelap.

Tiwu Ata Mbupu

Teman kami yang menyusul dan baru tiba di kota Ende pukul 10 pagi pun masih punya waktu bergabung bersama kami. Lengkaplah kami ber-21 berfoto bersama di puncak gunung Kelimutu.

21 ladies @Craters Lake Kelimutu

Tak Bosan dengan pesona Danau Kawah Tiga Warna di Kelimutu, kami tak bosan pula berfoto dengan berbagai posisi serta formasi.

Bahkan kami harus diingatkan untuk segera kembali ke bus, supaya tidak terlambat tiba di kota Ende. Karena rencananya setelah makan siang, kami masih harus melanjutkan perjalanan ke Utara pulau Flores, yaitu ke Riung di Kabupaten Ngada.

Sudah nih. Sekarang tiba waktunya turun gunung.

Tahu tidak teman-teman? Turun tangga ternyata jauh lebih sulit daripada naik tangga.

buka lapak di puncak Kelimutu

Perjalanan agak terhambat sedikit, karena oh karena … teman-teman masih saja belanja kain yang dijajakan di sepanjang jalan setapak. Bahkan tadi, di pelataran ke dua, ada saja yang buka lapak sambil kemulan sarung tenun ikat. Pantas, saya baru mengerti, kenapa tenun ikat khas Flores tersebut merupakan dua buah sarung yang dijahit menjadi satu. Supaya cukup menutup seluruh tubuh, kan

watch your step

Satu demi satu kami pun kembali ke pelataran parkir, dan siap-siap menuju kota Ende.

Legenda Danau Kawah Tiga Warna Kelimutu

Teman-teman, mau tahu juga kan legenda Danau Kawah Tiga Warna Kelimutu. Kisah ini sudah ada turun temurun, dan sampai sekarang pun gunung Kelimutu masih dipercaya mempunyai kekuatan magis. Konon, danau yang terbentuk di gunung Kelimutu adalah akibat pertarungan sengit antara Ata Polo, seorang tukang tenung kejam yang memakan manusia, dan Ata Mbupu, seorang tokoh masyarakat yang dihormati dan hatinya baik.

Pada suatu hari, sepasang Ana Kalo (anak yatim piatu) mendatangi Ata Mbupu untuk minta perlindungan, karena orangtua mereka sudah wafat. Ata Bupu pun menerima anak tersebut dengan syarat tetap berlindung di ladang supaya tidak dimakan Ata Polo.

Ata Polo yang mengetahui keberadaan kedua anak yatim tersebut kemudian berusaha mencari karena hendak memakannya. Ata Mbupu yang menyadari hal ini menahan keinginan Ata Polo dan membuat perjanjian agar Ata Polo datang kembali ketika Ana Kalo sudah dewasa, dengan alasan akan lebih nikmat disantap. Saran ini pun diterima Ata Polo.

Ana Kalo pun beranjak dewasa dan menjadi anak gadis (Ko’o Fai) dan pemuda (Nuwa Wuri). Mereka minta izin ke Ata Mbupu untuk meninggalkan ladang dan bersembunyi di gua. Tentu saja ketika Ata Polo datang menagih janji, dan kedua anak tersebut tidak ada, timbul amarahnya. Ata Polo tak terima, karena menganggap Ata Mbupu ingkar janji.

Keduanya, Ata Mbupu dan Ata Polo pun berkelahi. Sayang, Ata Mbupu yang mempunyai kekuatan magi putih tidak dapat menahan kekuatan Ata Polo dengan kekuatan magi hitam. Ata Mbupu pun masuk ke dalam bumi. Sedangkan Ata Polo yang diliputi kemarahan menimbulkan kebakaran hutan, yang justru membuatnya ditelan bumi.

Ketika Ata Mbupu dan Ata Polo bertarung tersebut menimbulkan gempa bumi yang mengubur hidup-hidup Nuwa Wuri dan Ko’o Fai yang sedang bersembunyi di dalam gua.

Di tempat-tempat Ata Mbupu menghilang tersebut timbul danau berwarna biru gelap ke arah hitam diberi nama Tiwu Ata Mbupu, yang dipercayai tempat berkumpulnya arwah para orangtua. Sedangkan tempat Ata Polo menghilang, timbul danau yang berwarna merah dan diberi nama Tiwu Ata Polo, dipercayai sebagai tempat berkumpulnya arwah orang jahat.

Tempat tertimbunnya Nuwa Wiru dan Ko’o Fai, timbul danau yang berwarna biru terang diberi nama Tiwu Nuwa Muri Ko’ofai. Danau ini diyakini masyarakat menjadi tempat berkumpulnya arwah anak-anak muda yang meninggal.

Danau Kawah Tiga Warna di Kelimutu, sumber foto: Flikr/ Deden Heryana

Sampai sekarang masyarakat setempat masih percaya dengan bahwa apa yang terjadi di dunia dapat dilihat dari perubahan warna pada air danau. Misalnya terjadi gejolak politik, maka air danau akan berwarna merah.

Bagaimana menurut teman-teman narablog?

Ada kaitannya tidak antara kejadian di dunia dengan warna air Danau Kawah Tiga Warna Kelimutu?

Bandung, 17 Maret 2019

signature haniwidiatmoko

32 pemikiran pada “Legenda di balik Pesona Danau Kawah Tiga Warna di Kelimutu”

  1. Wow, mantaap ternyata Indonesia memiliki alam yang indah, tidak kalah dengan luar negeri. Memang kita harus lebih mengeksplore wilayah kita yang indah…

  2. Akhirnya ceritanya berlanjut jugam.Sampai ketiduran saya nunggunya hahaha
    Dan saya kagum ..sangat, pada ke-21 perempuan warbiyasaah yang akhirnya bisa berfoto berlatar Kelimutu. Salut!
    Semoga kalau anak dah besar nanti saya juga bisa jalan-jalan sama teman kayak Mbak Hani.
    Ditunggu part berikutnya..
    Sukaaaa!!

  3. Hm, aku jadi mikir beneran ada hubungannya antara ilmu pengetahuan dan legendanya nggak ya?Karena pada beberapa gunung lain pun berlakuk kepercayaan serupa. Misalnya saat Merapi bergejolak, selain memang rutin, katanya selalu bertepatan dengan gejolak di negeri ini. Ya, katanya juga sih karena gunung itu “yang tertua” . Gununglah yang pertama kali merasakan yang terjadi di bumi ini. Mungkin di Danau Kelimutu begitu juga. But who knows?

  4. Wahhh… seru!
    Bisa melepas kepenatan dengan menikmati keindahan alam, selalu akan memberi kepuasan dan rasa syukur ketika kembali ke rumah, ya, Mba. Walaupun mungkin lelah, tapi terbayar dengan suguhan alam.

  5. Saya cemburuuuuu mbak, perempuan-perempuan hebat itu bisa di sepanjang jalan stapak yang tinggi dan panjang, huuu…kalau saya ke sana, bisa nggak sekuat itu?

    Tapi capeknya kebayar lihat pemandangan yang indah luar biasa itu kan Mbak.

  6. Waduh seru amat segroup Naik gunung rame2. Pake lomba segala. Kisah Danau Kelimutu ini seru ya. Berimbang antara legenda dan fakta ilmiahnya. Indonesia mah kaya banget. Banyak keunikannya

  7. Sudah lama Danau Kelimutu ini membuat ngiler, pengen disamperin. Hanya rahu jalur trackingnya yang akan menguras tenaga. Tapi membaca posting Mbak Hani, kayaknya lebih berat turun daripada mendaki ya. Apalagi kalau di jalan di gudang oleh kain kain tenun Flores yang cantik 😁

  8. Sayang ya nggak liat sunrise di sini. Tapi sudah bisa sampai di puncaknya saja sudah bagus banget lho.

    Dan soal perubahan warna terkait peristiwa penting atau genting yang terjadi di dunia, saya sih tidak terlalu percaya 🙂

  9. Indah banget Danau Kelimutu ini ya tante.
    Alam memang selalu menunjukkan kemagisannya lewat pemandangan yang tersaji.

    Mengenai legenda terbentuknya Danau Kelimutu ini, saya nggak percaya. Tapi dalam setiap legenda, selalu ada nilai moral, misalnya dalam tiga danau ini, surga, neraka, dan tempat berkumpul arwah orang-orang muda.

    Thanks buat tulisan ini tante, saya jadi tahu istilah lokal dari Danau Kelimutu ini. Oh ya, jadinya siapa yang menang uang Rp 5000 pecahan lama itu tan?haha

    • Haihai Chahaya, seperti yang telah kami duga sebelumnya. Pemenang uang pecahan Rp. 5.000,- ya Mbak Linda lah. Dia jalannya cepet banget. Orangnya memang langsing dan fit sih…

  10. waduh aku paling nggak bisa nahan diri kalau liat kain tenun flores.. cakep cakeepppp… kalo aku ke sana paling nongkrong di penjual kain lebih lama daripada ke danau nya hahahahha.. tapi danaunya indah

  11. Wah! Kalau bener penyebab perubahan warnanya seperti itu, kira-kira danaunya berwarna apa ya sekarang? Soalnya kalau di timeline medsos berasa panas gara-gara politik hehehe. Tetapi, entah benar atau salah kepercayaan itu, danaunya memang luar biasa indah

  12. Baru kali ini ba a soal cerita legenda Danau Kelimutu. Danau tiga warnanya memang indah bangeeet. Untuk mencapai ke atas pun dimudahkan dengan adanya tangga ya bu dan ada pegangannya pula.. Aku kalo ke sana juga bakal berhenti buat liat-liat tenun yang ditawarkan hehe.. Semoga suatu hari bisa sampai ke sana.. 🙂

Tinggalkan komentar

Site Protection is enabled by using WP Site Protector from Exattosoft.com