3 Hal tentang Peran Ibu Mendidik Anak Perempuan Sesuai Zamannya

Teman narablog masih ingat bagaimana peran ibu ketika mendidik kita?

Seringkali ibu mengarahkan anak-anak mereka, baik laki atau perempuan, adalah sesuai harapan atau impian sang Ibu. Zaman dulu ketika anak-anak masih balita, bacaan dan panduan saya mendidik anak adalah dari nasihat ibu saya dan majalah Ayah-Bunda. Belum ada Oom Gugle yang tahu segala macam.

Ternyata ketika Ibu berpetatah-petitih, seringkali menggambarkan situasi masa kecilnya ketika dididik oleh Eyang Putri saya. Nah kan secara tak sadar ternyata terjadi pengulangan sana-sini kala seorang ibu mendidik anak perempuan. Mungkin sama saja ketika ayah mendidik anak lakinya.

Perempuan-perempuan yang berperan dalam hidup saya. Alm Ibu Moeljati Alibasah (1925-2014) dan anak saya Diani Apsari

3 Peran Ibu dalam Mendidik Anak Perempuan

1- Mandiri

Dulu Ibu sering cerita, Eyang Putri mendidik putra-putrinya untuk saling berbagi tugas dan kompak dalam keluarga. Ibu, anak sulung dengan 7 adik. Ibu mendapat tugas menjahit baju bagi adik-adiknya, karena beliau pandai menjahit. Sedangkan adik no 3, juga perempuan, memasak bagi seluruh keluarga, karena tante saya tersebut jago masak. Tidak diceritakan apa tugas anak laki-laki.

Ibu sendiri berputra 5, 3 di antaranya perempuan. Berbekal di masa kecil beliau ada pembagian tugas, sepertinya beliau ingin anak-anaknya juga bisa memasak. Jadi kami bertiga ini ya diharapkan bisa menjahit baju plus memasak. Tak seluruhnya sukses, sih.

Tapi saya ingat betul bahwa, ketika Ibu mendidik anak perempuan, sering sambat (curhat, bahasa Jawa), agar kami tidak seperti beliau.

“Ojo koyo aku” … bolak-balik disebut.

Kisahnya di sini: Ojo Koyo Aku

Intinya adalah beliau ingin, kami sebagai anak perempuan harus mandiri (baca: means, tidak tergantung suami). Ketika saya SMA sebetulnya tak ingin-ingin amat kuliah, inginnya sekolah mode, oleh Ibu malah dimasukkan ke bimbingan tes, supaya saya lolos tes masuk perguruan tinggi. Akhirnya ya saya seperti sekarang ini, jadi dosen. Alhamdulillah…

Cukup mandiri sepertinya sih saya. Artinya kemana-mana berani sendiri, tidak menunggu diantar suami. Lhah dia juga kerja, masih ke kantor 8 to 5 (kalau tidak macet). Belum lagi dulu sering dinas ke luar kota atau ke luar negeri. Kalau seperti ini, keputusan kan harus kita putuskan sendiri.

Berabe kalau apa-apa harus menunggu suami. Apalagi zaman dulu tidak ada komunikasi melalui WhatsApp. Jaringan telepon tergantung situasi di lokasi suami berada.

Mandiri selain mandiri memutuskan sesuatu, ada hal lain, yaitu mandiri secara finansial. Bagi Ibu dulu sepertinya penting banget. Tidak tergantung ke suami, antara lain, anak perempuannya juga mempunyai penghasilan sendiri. Berhasil sih doa beliau. Beliau sedikit ada penyesalan berhenti bekerja, karena full mendampingi Ayah yang perwira aktif di Angkatan Darat.

Zaman sekarang walaupun seorang ibu memutuskan menjadi ibu rumahtangga, ternyata tidak memutus kesempatan mandiri secara finansial. Banyak cara untuk mengasah kemampuan dan ketrampilan serta mengembangkannya melalui dunia digital.

2- Komunikasi Terbuka

Apakah dulu ada miskomunikasi antara saya dan Ibu? Tak terlalu ingat sih saya. Tahunya saya harus menurut orangtua. Dah titik, itu saja. Disuruh kuliah, karena anak-anak orang lain kuliah. Kuliah lah saya.

Coba misalnya, dulu Ibu saya tanya:”Han, kamu tuh mau kuliah atau sekolah mode di Susan Budihardjo?”

Tidak ada yang menanyakan saya inginnya apa. Malah orangtua saya kurang suka, begitu lulus SMA, saya malah sibuk membuat baju untuk kakak saya. Kakak saya yang dimarahin Ibu. Saya tidak mau berandai-andai juga, misalnya dahulu kala itu saya tidak menurut apa kata orangtua.

Ketika saya punya anak perempuan, sejak usia 3 tahun sudah terlihat bakatnya pandai menggambar. Akhirnya memang anak saya profesinya menjadi ilustrator dan desain grafis.

Tapi kemarin dia sempat tanya, kenapa kok dulu tidak belajar menjahit atau dileskan martial art (bela diri).

Bela diri? Sepertinya belum nempel di kepala saya, di zaman sekarang perempuan harus bisa bela diri. Bela diri saya bisanya ambil langkah seribu.

Komunikasi terbuka antara ibu dan anak perempuan menurut saya penting banget. Ibu harus bisa jadi tempat curhat dan ngobrol seperti ke teman. Komunikasi saya dulu ke Ibu tidak semudah, seperti anak perempuan saya ngobrol ke saya.

Mungkin juga saya lebih pendiam daripada anak saya.

Ketika dewasa, keterbukaan perlu untuk mengenal teman kuliah, teman kerja, dan teman lawan jenis. Saya termasuk protektif dalam hal ini. Mungkin mencontoh Ibu mendidik anak perempuan, dulu juga protektif ke saya. Bedanya zaman sekarang protektifnya adalah memantau, tidak sampai mengintil juga sih.

3- Faham Komunikasi Digital

Zaman Ibu saya dulu, komunikasi melalui surat atau paling pol via telepon. Beliau sudah mengenal ponsel, tetapi belum mengenal telepon android yang bisa WhatsApp-an.

Berbeda ketika internet diperkenalkan dan ada program Windows termasuk modemnya, saya yang mengenalkannya ke keluarga.

Saya dan suami mengikuti sekali perkembangan personal computer (PC) sejak prosesornya masih Intel 486 sampai sekarang yang super wus-wus. Melalui modem yang saya peroleh dari menang doorprize, maka keluarga saya mengenal internet. Bunyinya masih krek-krok cedut-cedut, kecepatannya masih 48 Kb per second. Tapi itulah jendela dunia melalui media digital. Waktu itu anak-anak masih SD.

Itu sebabnya, sebagai perempuan, sebaiknya kita faham juga cara kerja komunikasi digital. Saya tak ingin seperti yang banyak terjadi, orangtua terutama ibu, abai dan tak mau belajar komunikasi digital. Alasannya gaptek. Ternyata banyak hal-hal yang si Ibu tidak ketahui terjadi di luar sana, yang media penyebarannya melalui internet.

Informasi tersebar di langit, dan mudah sekali diperoleh. Cara ibu mendidik anak perempuan sesuai zamannya, ya harus mencari sumber berita yang valid. Sekarang ini sumber berita hoax dan valid nyaris tak ada bedanya, keduanya mirip-mirip. Tak cukup sebagai perempuan hanya belajar dari Facebook dan media sosial. Cobalah cari sumber informasi dari e-book, jurnal, atau wawancara dengan ahlinya.

Kalau tentang pendidikan tinggi bagaimana? Perlukah anak perempuan menempuh pendidikan tinggi? Kalau saya sih perlu, supaya menjadi ibu yang pinter.

Nah, demikianlah peran ibu dalam mendidik anak perempuan sesuai zamannya. Intinya sebagai ibu maupun perempuan kita harus selalu belajar, belajar, dan belajar …

Bagaimana dengan teman-teman? Ada kenangan didikan Ibu yang masih melekat?

Teman-teman sila mampir juga ke teman kolab blog di WP PAS Joeragan Artikel, Jeanette Agatha, author jeanettegy.com . Simak pendapatnya tentang Pendidikan Perempuan dan artikel lainnya.

Oh ya, Selamat Hari Kartini.

Bandung, 21 April 2019

signature haniwidiatmoko

Tinggalkan komentar

Site Protection is enabled by using WP Site Protector from Exattosoft.com