5 Obyek Wisata antara Ruteng dan Labuan Bajo

Kami hanya menginap semalam di hotel Shinda, Ruteng. Sudah kesepakatan bahwa sesudah sarapan atau paling lambat pukul 10 pagi koper harus disiapkan di depan kamar masing-masing. Oleh sebab itu begitu kami pulang dari Pasar Kain Tenun Ruteng, barang belanjaan harus sigap dikemas ke dalam koper. Hari ini kami akan check out (lagi) dan melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo. Ada beberapa obyek wisata antara Ruteng dan Labuan Bajo yang akan kami singgahi nantinya. Ini merupakan rangkaian akhir dari perjalanan darat sejak berangkat dari Maumere. Rencananya wisata akan kami lanjutkan dengan naik perahu phinisi menjelajah perairan di Taman Wisata Komodo.

Baca juga ke rencana perjalanan kami sebelumnya di: 646 Km Perjalanan Darat Dari Timur Ke Barat Di Pulau Flores.

Kampung Adat Ruteng Pu’u

wisata ruteng
Menjemur gabah di lapangan terbuka di tengah kampung. Gundukan batu di kiri adalah kuburan leluhur
wisata ruteng
struktur kayu rumah adat Ruteng Pu’u dan tambur yang tergantung
wisata ruteng
kepala suku bapak Lambertus Dapur
wisata ruteng
dapur di rumah adat terletak di belakang rumah dan agak di bawah

Kampung Adat Ruteng Pu’u terletak di Kelurahan Golo Dukal, Kecamatan Langke Rembong, Manggarai, NTT. Jaraknya hanya 5 km dari pusat kota Ruteng, mudah dicapai karena jalan menuju Ruteng Pu’u sudah diaspal bagus.

Ketika kami sampai di sana, kampung adat Ruteng Pu’u berbentuk lingkaran oval, ada halaman luas berada di tengah, kemudian gundukan batu dan pohon agak besar. Di halaman tampak dijemur hamparan gabah dan kopi, hasil bumi utama bumi Flores. Di sekeliling halaman ada jalan setapak terbuat dari batu. Terlihat hanya 2 buah rumah adat yang cukup besar berupa rumah panggung dengan bentuk atap kerucut yang tinggi. Di bagian belakang rumah adat dengan posisi di bawah tampak beberapa rumah lain.

Kami diterima oleh kepala suku Bapak Lambertus Dapur yang dengan ramah menerima rombongan kami. Ruteng Pu’u ternyata adalah cikal bakal budaya Ruteng. Dua buah rumah besar tersebut bernama Mbaru Gendang dan Mbaru Tambor, karena memang di dalam rumah disimpan gendang dan tambur.

Waktu itu kami diterima oleh kepala suku di rumah tambur, terlihat tambur kecil digantungkan di tiang rumah, tempat tuan rumah bersandar menyambut kami. Kepala suku menjelaskan dengan ramah sejarah kampung adat, ritual yang dilakukan, hasil bumi setempat.

Gereja Katedral Ruteng

wisata ruteng
katedral Santa Maria Assumpta-Santo Yosef
sudut gereja

Gereja bergaya arsitektur Eropa ini merupakan bangunan baru, dibangun tahun 1996, kemudian diberi nama Santa Maria Assumpta-Santo Yosef. Bangunannya sangat megah di atas tanah seluas 4000 m2. Gerejanya setinggi bangunan dua lantai, dengan lantai mezzanine di bagian belakang.

Kami hanya sebentar mampir di sini. Teman-teman kami yang beragama Katolik menyempatkan berdoa di dalam gereja, sedangkan yang lain menunggu dan foto bersama.

Gereja Katedral Lama

gereja katedral lama dari jalan menuju pasar Ruteng
wisata ruteng
katedral Santo Yosef
wisata ruteng
struktur kayu katedral lama

Waktu kami jalan kaki dari hotel menuju Pasar Ruteng, Katedral ini sudah terlihat monumental di ujung jalan pertigaan. Dalam hati, ini tata kotanya seperti kota-kota di Eropa, Gereja merupakan ujung atau pusat orientasi kota. Ternyata memang Gereja Katedral lama ini, yang bernama Gereja Santo Yosef, merupakan peninggalan zaman Belanda.

Menurut catatan sejarah gereja ini dibangun tahun 1929 dengan dua menara menempel di kanan-kiri bangunan dengan atap segi delapan yang mengerucut berhias salib di ujungnya. Keunikan gereja ini berdinding merah, sehingga dinamakan juga dengan Red Chappel.

Baca juga: Keunikan Struktur Kayu di Gereja Sikka

Cancar Spiderweb Rice Field

wisata ruteng
cancar spiderweb rice field
wisata ruteng
berkumpul bersama menikmati pemandangan ke sawah jaring laba-laba

Persawahan Cancar dengan pola jaring laba-laba, terletak di desa Cancar, kira-kira 17 km dari Ruteng, tak jauh dari jalan raya menuju Labuan Bajo. Untuk mendapatkan pemandangan yang baik dan pola sawah jaring laba-laba terlihat jelas, kami harus naik dahulu melalui jalan setapak menuju bukit Weol. Persawahan Cancar, terkenal dengan nama Cancar Spiderweb Rice Field, dalam bahasa setempat disebut Lingko.

Lingko adalah tanah adat yang dimiliki secara komunal untuk memenuhi kebutuhan bersama dan kearifan lokal satu-satunya di dunia yang membagi petak sawah mengikuti pola radial. Titik pusat pembagian petak disebut Lodok, ditentukan oleh tetua adat, dan pembagiannya disesuaikan dengan kepala keluarga dalam suatu komunitas adat.

Sun Set di Melo

sunset pemandangan ke pantai Labuan Bajo

Melo ditengarai merupakan lokasi paling diminati untuk mengamati sun set, karena letaknya yang strategis. Sayang kami tiba di tempat ini agak kesorean, matahari sudah mulai temaram bersembunyi di balik awan. Di kejauhan pun tampak samar-samar pantai Labuan Bajo, tujuan akhir perjalanan kami. Dengan demikian berakhirlah perjalanan darat kami menyusuri pulau Flores dari Timur ke Barat. Alhamdulillah kami lalui dengan selamat.

peta perjalanan darat dari Maumere-Labuan Bajo

Besok kami akan jelajah di perairan Taman Nasional Komodo. Tak sabar kan, menanti kisah jelajah perairan Taman Nasional Komodo dari pulau ke pulau. Tunggu ya …

Bandung, 4 Juni 2019

signature haniwidiatmoko

44 pemikiran pada “5 Obyek Wisata antara Ruteng dan Labuan Bajo”

  1. Selalu suka kalau lihat tradisi dan budaya lokal asli Indonesia. Jadi bangga gitu, kalau Indonesia kayaaaa banget. Seneng deh ibu bisa jalan-jalan, hehehe. Mudah-mudahan bisa juga berkunjung kesana.

    • Iyaaa…alhamdulillah bisa ke sana.
      Mudah²an nanti bisa lebih muda drpd kami sempat ke sana. Huehue…
      Jadi lebih kuat dan jelajahnya lebih ke mana²…😘

  2. Katedralnya cantiiikkk! Yang baru atau yang lama, dua-duanya apik!

    Sebetulnya kota-kota lain di Indonesia juga begitu kok. Masjid raya dan katedral atau gereja besar ada di pusat kota. Contohnya Bandung (Masjid Raya – Katedral St. Petrus), Jakarta (Masjid Istiqlal – Katedral), Jogja, Semarang, Medan, dan banyak lagi.

  3. Ini epic banget yaa kak!
    aku suka liat desa adat dan rumah adat tentunya, terus sawahnya keren yaa kak Cancar Spiperweb.
    Eh ditambah sunsetnyaa juga yang cantik. Uh bikin betah yaa kak hehe

  4. Ruteng ini unik, rumahnya antik. Ada persawahan yang mirip jaring laba2 kelihatan cantik dari atas langit. Ternyata di sini banyak gereja katedral yang bangunannya terlihat memiliki nilai seni.

  5. Cancar Spiderweb itu pernah saya lihat di suatu website religi bahwa itu pertanda “kiamat”. Lalu ada yang menyangkal bahwa itu hoax, itu sebetulnya sawah bentukan di negeri manaa gitu. Saya baru ngeh kalau sawah bentuk itu sungguhan ada, dan ternyata itu ada di Flores.. Terima kasih sudah diceritain ya, Mbak Hani, sungguh pengetahuan berharga ini bahwa ternyata penduduk Flores pintar geometri.

  6. Bentuk rumahnya sekilas mirip Niang di Wae Rebo ya

    Aku penasaran lho sama rumah-rumah adat kayak gini, didalamnya gelap gak sih mbak? Trus cahayanya mereka pakai lampu apa?

    Btw itu pemandangannya memanjakan mata dan hati banget euy

  7. Bentuk rumahnya sekilas mirip Niang di Wae Rebo ya

    Aku penasaran lho sama rumah-rumah adat kayak gini, didalamnya gelap gak sih mbak? Trus cahayanya mereka pakai lampu apa?

    Btw itu pemandangannya memanjakan mata dan hati banget euy. Benar-benar indah

  8. Keindahannya luar biasa, belum tercemar jadi kesana itu perasaan ayem dan bahagia..semoga ada kesempatan berkunjung ke sana juga mba…syahdu pisan..

  9. Keindahannya luar biasa, belum tercemar jadi kesana itu perasaan ayem dan bahagia..semoga ada kesempatan berkunjung ke sana juga mba…syahdu pisan yaaa..rumah adatnya unik..

  10. Duhhh gemas banget. Pemandangannya cantik. Terus aku pensaran sama kain-kain hasil belanjaannya? Lemah aku kalau lihat kain nusantara itu. Bisa-bisa ga mau pulang karena ga bisa milih.

  11. Wuaaaw keren banget bun. Aku suka liat sunsetnya juga arsitektur gereja yang indah. Kayaknya kalo mau menjelajah Flores dan sekitarnya ini gak akan cukup sebulan ya hahaha.. abis bagus2 semuaaaa

  12. Waaah keren itu yang persawahan cancar. Kalau di Jepang kan ada tuh tanbo art. Mungkin disana bisa tuh sawahnya di bikin kaya tanbo art gitu.

    Btw kak, sunsetnya menghipnotis banget sih

  13. Seru banget perjalanannya menikmati keindahan Indonesia bagian timur. Penasaran dengan rumah adatnya. Menyeramkan nggak bun? Apalagi tadi pas deket lokasi jemur gabah ada kuburan ya.

  14. Seru banget perjalanannya menikmati wilayah Indonesia bagian timur. Lihat persawahannya cantiiik banget. Trus rumah adatnya nyeremin nggak bun? Apalagi tadi dekat jemur gabah ada kuburannya.

    • Engga serem sih, mungkin karena pagi hari matahari cerah. Yaa…walaupum demikian tetap ada adabnya kan kalau di makam. Engga sembarangan melangkah atau menginjak tumpukan batu makam…😊

  15. Duh semua lokasi wisatanya ingin saya kunjungi banget. Padahal ternyata melihat budget dari open trip saja wow luar biasa juga….
    hemm nabung suku deh…
    Semoga suatu saat kesampaian main ke labuan Bajo

  16. Ibu keren banget sih,nulisnya. Aku tuh, kalo jalan ikut suami ke pulau-pulàu begitu sering capek duluan. Niatnya mau nulis ini-itu,eh malah nggak kesampean. Apalagi kalo suami minta gantiin nyetir. Hikss

  17. Ibu keren banget sih,nulisnya. Ulasannya lengkap jadi berasa ikut ke sana. Aku tuh, kalo jalan ikut suami ke pulau-pulàu begitu sering capek duluan. Niatnya mau nulis ini-itu,eh malah nggak kesampean. Apalagi kalo suami minta gantiin nyetir. Hikss

    • Ini berdasarkan foto² mb Enni. Kan wisatanya udah tahun lalu.
      Ayuuuk mb Enni nyicil ditulis zaman di Maluku. Kebayang serunya naik perahu dari pulau ke pulau…

    • Itu kalo mo ditelusuri kelebihan bangunan zaman Belanda. Seringnya mereka membangun pas sumbu jalan (tusuk sate). Kalo di teori arsitektur namanya Building Approach…
      Sengaja supaya orientasi frontal ke bangunan…

Tinggalkan komentar

Site Protection is enabled by using WP Site Protector from Exattosoft.com