Rindu Sumba? Pergilah Ke Sana selagi Muda!

  • Whatsapp
sumba
rindu sumba
Aki-Nini has landed … Alhamdulillah Sumba!

Tahun lalu saya bersama teman-teman seangkatan kuliah berwisata ke pulau Flores. Nusa Tenggara Timur ternyata telah memikat hati saya. Rindu bentang alamnya, rindu laut, bukit dan jalan berkelok tajamnya. Membuat saya merindu pulau-pulau lain di sekitarnya. Termasuk rindu Sumba!

Di grup WhatsApp Flores, saya utarakan kerinduan tersebut.

Muat Lebih

“Ada yang mau ke pulau Sumba gak? Nyari temen…” …

Ternyata gayung bersambut. Beberapa teman dari ber-21 teman seperjalanan ke Flores ada yang berminat. Saya pun mencari informasi itinerary dan rute di Sumba. Salah satu itinerary saya peroleh dari teman blogger Daily Voyagers. Terimakasih ya Bang Darius…

Baca kisah perjalanan saya selama di Flores di thread khusus Flores ya. Salah satunya di sini: 646 Km Perjalanan Darat dari Timur ke Barat di pulau Flores

Grup Sumba

Ternyata ada grup lain sealmamater, dari Asrama Putri, lebih dikenal sebagai ASPURI, mempunyai rencana ke pulau Sumba juga. Sehingga demi alasan kepraktisan dan supaya cepat, saya dan beberapa teman grup Flores, hanya berenam, bergabung saja ke grup ASPURI ini.

Bila grup Flores, ber-21 semua perempuan seangkatan kuliah. Maka grup Sumba lebih heterogen. Total kami ber-18, 14 perempuan, empat pria. Empat di antaranya pasangan. Salah satu pasangan, saya dan suami. Yess!…akhirnya bisa membujuk suami untuk cuti. Apalagi setelah tahu ada teman lain yang juga berangkat bersama pasangan. Kalau perempuan semua, suami malah ogah.

Boleh dibilang angkatan saya merupakan angkatan termuda. Bahkan seorang peserta, ibu Siti Aminah, kami memanggil Mbak Mien. Beliau mulai kuliah, saya baru lahir.

Mengenal Pulau Sumba

Di pulau Sumba sebagai bagian dari provinsi Nusa Tenggara Timur ada empat kabupaten. Kabupaten Sumba Barat Daya, ibukotanya Tambolaka, kabupaten Sumba Barat, ibukotanya Waikabubak, kabupaten Sumba Tengah, ibukotanya Waibakul, dan kabupaten Sumba Timur, ibukotanya Waingapu.

Bandar udara ada dua di pulau Sumba, yaitu Tambolaka di kota Tambolaka, dan Umbu Mehang Kunda di kota Waingapu. Itu sebabnya ada pilihan bagi teman-teman yang akan ke Sumba, kita mau datang ke Sumba bagian barat baru jalan darat ke timur. Atau dari timur dahulu baru ke barat.

Kedua bandara tersebut merupakan bandara kecil, sehingga pesawat terbang yang ke sini adalah pesawat terbang propeler atau berbadan kecil.

Dari Barat vs Dari Timur

rindu sumba
Pantai Mandorak, bukit karang, ombak berdebur, dan pasir putih-pink

Beberapa itinerary yang saya peroleh dari agen maupun website, ternyata semua mengatur rute perjalanan dari Barat ke Timur. Pulau Sumba tidak besar, jarak antara kota dari barat ke timur sekitar 200 km, kira-kira dari Bandung ke Tangerang. Belakangan saya baru mengerti kenapa lebih enak dari barat ke timur.

Walaupun terbagi menjadi empat kabupaten, awam lebih mudah membagi Sumba menjadi Barat dan Timur. Menurut sejarah dan perkembangan wilayah, kota Waingapu lebih dahulu ada dibandingkan dengan ibukota kabupaten lain yang baru ada setelah pemekaran. Itu sebabnya kota Waingapu dan wilayah sekitarnya lebih maju daripada kota-kota di barat Sumba.

Kami berwisata selama 5 hari, awalnya tiba di Tambolaka. Menginap dua malam di Tambolaka, lalu perjalanan darat ke timur, dan menginap dua malam di Waingapu. Sehingga terasa perbedaan antara Barat dan Timur.

Mengatur Sendiri vs Agen Wisata

Berbeda dengan tahun lalu kami ke Flores mengatur sendiri perjalanan dan rute, kali ini kami melibatkan agen wisata. Agen menyiapkan hotel, konsumsi, dan transportasi. Tiket bisa disiapkan oleh agen, bisa juga mencari sendiri. Saya dan suami mencari sendiri tiket melalui aplikasi. Pertimbangannya supaya tidak membingungkan agen wisata, karena saya akan berangkat dari Cengkareng, sedangkan pulangnya ke Bandung.

Waktu ke Flores kami punya teman kuliah, Elly, yang asli Maumere, walaupun menetap di Kupang. Sehingga itinerary yang kami susun banyak mendapat masukan dari Elly. Itu sebabnya menjadi salah satu pertimbangan kami melibatkan agen wisata di Sumba, karena kami tidak kenal warga setempat. Lebih-lebih lagi, kami ber-18 kan lansia semua … (((l.a.n.s.i.a))) …

Baca juga: Pengalaman Mudahnya Mengatur Sendiri Liburan Ke Labuan Bajo

Menyupir Sendiri vs Bersama Supir

Ceritanya begini. Setelah kami pulang ke Bandung, banyak kolega suami di kampus yang tertarik juga berwisata ke Sumba. Sehingga teman-teman muda ini menanyakan, nyaman tidaknya bila membawa mobil sendiri, off-road ke Sumba. Bersama istri pula. Bahkan seorang teman narablog menanyakan, nyaman tidak berwisata bersama balita ke Sumba.

Kita memang bisa menyewa mobil, harga sewa mobil sekitar 800 ribu per hari termasuk supir dan bensin. Rata-rata mobil yang dipakai agen wisata jenis Innova, itu sebabnya kalau berwisata grup, bisa kelipatan 6, 5, atau 4. Tergantung semobil mau ber-6, ber-5, atau ber-4. Boleh dibilang saya tak pernah melihat mobil sedan selama perjalanan.

Mau nyupir sendiri saja deh. Bisalah, kan ada google map.

Wait, pernah tahu ada film judulnya “Susah Sinyal”? Di pulau Sumba memang susah sinyal. Sinyalnya lup-lep, baik yang brand merah, biru, apalagi kuning. Bagaimana bisa mengandalkan google map, wong sinyalnya engga ada.

Jalan provinsi yang membelah pulau Sumba dari Barat ke Timur memang beraspal licin walaupun di beberapa tempat berkelok-kelok tajam seperti di Flores. Tapi jalan menuju obyek wisata seringnya merupakan jalan berbatu kapur, menembus ladang jagung, atau kuburan batu. Sehingga durasi perjalanan lebih lama.

Rambu penanda atau signage ke obyek wisata hampir tak ada. Itu sebabnya disarankan memang menyewa mobil plus driver saja lah. Driver merangkap pemandu wisata ini yang paling tahu kapan berbelok melalui jalan sempit ke lokasi wisata seperti yang ada di instagram itu. Babang drivernya juga bisa diminta bantuan potret kita kan … ((penting)) …

rindu sumba
Teman semobil bersama Bang Pilus (guide-driver)

Menyewa motor saja lah supaya lebih murah. Beberapa artikel menyarankan menyewa motor untuk travelling bisa dilakukan sekitar Sumba Timur saja. Demi keamanan dan keselamatan.

Wisata ke Sumba Bersama Lansia vs Bersama Balita

“Awas, jangan lari!” … “Hati-hati licin!” …

Itu adalah kata-kata yang sering dilontarkan oleh sesama teman di grup. Kata peringatan bukan untuk balita yang penasaran, tetapi untuk lansia yang terlalu gembira.

Sebelum menulis perjalanan saya selama di pulau Sumba, beberapa foto di instagram sudah sempat tayang sebisanya bila ada sinyal.

Keindahan bentang alam, laut, bukit, dan padang savana belum semuanya terekspose selama kami di Sumba. Waktu lima hari terasa kurang. Ditambah lagi ada area wisata yang tidak mudah dijangkau oleh wisatawan yang tidak biasa berjalan kaki di area ekstrim. Agen wisata yang menyertai kami tak berani ambil risiko, ada aki-nini terkilir atau tergelincir ketika susah payah ingin ke lokasi air terjun. Jadi grup kami skip air terjun. Hiks…

Bagaimana dengan wisata bersama balita? Selama masih sekitar Sumba Timur dan tak jauh dari kota Waingapu bisa dipertimbangkan membawa balita. Supaya kalau ada apa-apa masih dekat rumah sakit dan bandara. Walaupun tentu saja setiap keluarga mempunyai kebiasaan sendiri dan paling tahu kesehatan anggota keluarganya.

Sekilas Kenapa Rindu Sumba

Saya memang rindu Sumba dan berkesempatan menyambanginya. Pulau Sumba dinobatkan menjadi destinasi wisata terindah. Sayang untuk dilewatkan bila menunggu hingga tiket pesawat terbang turun harga. Bukit savana, danau laguna, kampung tradisional, dan pantainya akan saya tuliskan dalam beberapa artikel terpisah. Semoga bisa menjelaskan kenapa mendapat julukan The Most Beautiful Island.

Ada baiknya teman-teman yang berminat ke Sumba memperhatikan musim, karena pengaruhnya besar ke obyek yang akan menjadi latarbelakang foto kita. Musim hujan, padang savana akan berwarna hijau. Musim kemarau, akan memperoleh padang savana berwarna kuning meranggas.

Bila teman-teman punya info event apa saja di pulau Sumba, bisa juga jadi acuan. Pertengahan Juli biasanya ada Festival Pasola di Sumba Timur.

Bagaimana dengan kulinernya? Bila kita berwisata ke Sumatera Barat, Jawa Tengah, atau Jawa Timur, yang sering dicari selain obyek wisata juga kulinernya ya. Di Sumba tak banyak warung makan di pinggir jalan dan obyek wisata, di kota-kota besar pun hanya sedikit. Bila akan mengunjungi obyek wisata, better bawalah nasi dus lengkap dengan lauk pauk. Walaupun selama perjalanan, lauknya itu-itu lagi, makan saja yang kenyang. Perjalanan masih jauh, lho …

rindu sumba
Istirahat di hutan sebelum ke bukit Wairinding
rindu sumba
Menu makan siang nasi box

Sebuah Puisi Tentang Sumba

Berikut sebuah puisi karya Taufik Ismail berjudul Beri Daku Sumba. Puisi ini ditulis sekitar tahun 1970-an tanpa Taufik menginjakkan kakinya di sana. Beliau baru sempat ke Sumba 20 tahun setelah puisi ini ditulis.

BERI DAKU SUMBA
Oleh Taufik Ismail 

Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
Aneh, aku jadi ingat pada Umbu

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.

Puisi di atas saya peroleh justru setelah saya pulang dari Sumba, jadi bisa membayangkan apa yang tertulis di sana. Jadi ya gaes, rindu Sumba juga kah? Jangan menunggu hingga 20 tahun. Pergilah selagi muda. Tulang mudamu memanjangkan jangkauan kaki melangkah ke obyek wisata memukau yang tak ada di tempat lain.

Bandung, 13 Juli 2019

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

43 Komentar

  1. Sumba memang cantik ya mba~ menurut saya memang paling enak sewa mobil dan pakai supir atau agent tour, karena saya pernah sekali ke Sumba bersama teman-teman dan nekat supir sendiri ternyata susah sekali~ setelah itu kapok dan memilih pakai supir karena lebih bisa menikmati perjalanan daripada stres memikirkan maps dan signal hehehehe.

    1. Nah, iya kan. Saya pun tinggal duduk cantik di mobil, turun foto-foto, istirahat. Mau nandain di google maps, eh…sinyal engga ada. Sampai di rumah cek foto, baru deh tahu tempatnya di mana…
      Pengen ke sana lagi uy…

  2. Mau… saya belum pernah ke Sumba. Wah, kapan ada kesempatan ke sana ya. Itu settingnya Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, kan? Bagus pemandangannya.

    1. Naaa…saya malah blm tahu ada film “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak”. Kayaknya mau deh cari DVD-nya. Supaya bisa menghayati…

  3. Saya masih muda, tapi lom pernah mendarat di Sumba 🙁

    Yang bikin penasaran dengan Sumba, menang benar ya kak, banyak kuda yang dibebaskan atau berkeliaran di alam bebas sana

    1. Iyaaa…seringnya lihat pas sore². Kalau siang jarang. Kata guide, mereka ngadem di sungai.
      Ayuk ke Sumba, semoga engga sampai 20 thn lagi…Hehe…

  4. Sumba menjadi salah satu tempat yang membuat saya semakin cinta pada Indonesia ini mbak. Pantai-pantainya yang indah, air lautnya yang jernih dan keramahan penduduknya itu lho. Bikin kangen

  5. Waw, bunda Hani emang keren! Ke Sumba rame2 begini emang seru ya pake supir aja dan pemandu wisata biar lebih cepat set…set…set yang tau jalan hihihihi. Kekurangan halan2 ke destinasi wisata kayak gini tuh ya soal sinyak yal lol..lep gitu. Btw kalau pake travel memang enak ya udah beres ga banyak mikir tapi pasti biayanya lebih mahal. Tapi ga apa2 lah namanya nyenengin jiwa raga, kapan lagi? Selagi muda ya? Mau juga aku! 😀

    1. Mahal murah benernya tergantung hotelnya, Mbak. Kita mau bintang berapa dan menu makannya sih. Kami hotel bintang 3 u/ 4 malam, makan nasi box, semobil ber-6, jatohnya 3 juta kurang. Kalau semobil ber-4 lebih mahal. Hehe…seru aja sih, mobil penuh…

  6. Salut sama mbak Hani dan teman-teman, sudah tak lagi muda namun semangat masih membara! Terus sehat, bahagia, dan berkelana ya, Semua. Yang namanya Mbak Mien itu, aku nggak kebayang berapa usianya 😐

    Aku nonton film Susah Sinyal. Nampaknya film itu cukup mampu mengangkat nama Sumba ya. Aku sih kayaknya kalo ke Sumba bakal ambil paket tur aja hehe.

    1. Haha iya…pakai guide aja. Malah lebih enak kalau mau ke kampung primitive. Banyak agen yg nawarin ber-4 atau ber-6 semobil.
      Seru sih…aku rada telat nih. Baru usia sekarang jelajah ke Indonesia Timur…

  7. Aku belum bisa bilang ini Rindu kak, karena aku belum ppernah bertemu dengan Sumba. Tapi kelak, aku pun akan mengatakan “Aku Rindu Sumba” ketika aku sudah bertemu dengannya.

    Salah satu tempat yang sampai saat ini belum aku kunjungi, Sumba 🙁

    1. Semoga yah…bisa jelajah ke Sumba.
      Rada² petualang sih. Tapi seru…Alhamdulillah sehat² aja selama di Sumba. Kayaknya karena senang. Hehe…

  8. Setuju mbak, mumpung masih muda harus traveling jangan sampe udh encok jd susah di jalannya hehehe. Aku kl Sumba blom prnh, hanya sampai sumbawa. Next harus di bikin rencana nih ke Sumba juga.

    1. Naaa itu dia. Mumpung masih muda dan belum kena segala osteo² itu. Halah…haha…
      Tuh kan, kami jadi engga ke air terjun tuh, padahal di itinerary ada. Guidenya engga berani…Takut ada nenek ngglundung…🤔🤣🤣

    1. Naaa itu dia. Sempatnya malah sekarang pas engga muda. Mustinya dulu lebih prepare sih. Ambil cuti atau gimana…
      Semoga masih bisa jelajah lebih Timur lagi niiih…

    1. Iyaa…engga ke air terjun. Yg di Lapopu, air terjunnya runtuh, padahal udh sampai TKP. Hiks…
      Yg Tangedu, guide engga berani bawa kami. Takut ada Opa or Oma ngglundung…hehe…

  9. Keren deh ini groupnya. Banyak yang antusias ikut dan gak sekadar wacana hehehe. Saya catat semua tipsnya, Mbak. Terutama yang bawa makanan. Repot juga ya kalau sulit cari makan, padahal perut udah lapar

    1. Iyaa…kudu bawa ransum, nasi dan lauk-pauk. Engga ada warung. Jangan lupa pisang juga deh. Kecil² enak, manis. Mayan untuk ganjel di perjalanan.

  10. Kali ini sudah dua artikel teman yang menulis tentang wilayah bagian timur Indonesia. Tadi ada Belu yang beribukota Atambua, kini ada Sumba yang tradisi dan keunikannya tidak kalah banyak.
    Bangga banget jadi bnagsa Indonesia. Dan swbwlum ke luar negeri memang banyak tempat indah di luar Jawa yang harus dikunjungi

  11. Huaaaa tertohok banget baca judulnya
    Aku langsung merasa kalah telak hahaha
    Aku belum pernah ke Sumba
    Masih jadi wish list destinasi wisata impian banget ini
    Maulah suatu hari mengunjungi serpihan surga nan indah di timur nusantara tercinta ini

  12. hahah tadinya aku berpikir…waaahhh telat gak nih aku ke Sumbanya…secara usia udah 4x haha..Maulah jelajah Sumba..mumpung masih muda…krik..krik..krik..krik..

  13. Duuh membaca ini, seolah Sumba melambai-lambai dengan penuh semangat padaku! Sumbaa…tunggu aku menikmati keindahanmu yaaa… TFS mbaa..

  14. Waduh…mbak Hani mengin-mengini, aku jadi tertohok nih, jangan tunggu 20 tahun ya buat ke Sumba. Keburu jadi (((lansia))).
    Dulu waktu kuliah di Bali banyak punya teman dari Kupang, Bima, Papua, Lombok, Sumba…dan sering dapat cerita (dan oleh-oleh) dari sana.
    Jadi kapan ku bisa ke Sumba? Semoga bisa segera..