5 Tips Mendesain Cover Buku

  • Whatsapp

Kita sering sekali membaca idiom bahasa Inggris, Don’t Judge the Book by its Cover. Kurang lebih artinya kita tidak bisa menilai seseorang dari tampilan luarnya saja. Maksudnya orang yang wajahnya sangar, siapa tahu ternyata hatinya selembut malaikat. Tetapi, apakah idiom tersebut berlaku juga untuk dunia perbukuan? Bukankah kita membeli buku justru tertarik dari cover buku terlebih dahulu? Itu sebabnya ada ilmu khusus bahkan sekolahnya yaitu Desain Komunikasi Visual, yang salah satu materinya adalah mendesain buku, termasuk covernya tentu saja.

Tema 1minggu1cerita di awal bulan September sesuai pilihan terbanyak adalah tentang buku. Banyak sebetulnya yang bisa ditulis tentang buku. Beberapa teman setahu saya menulis tentang review buku. Tulisan saya sebelumnya tentang perbukuan yaitu tentang Memilih Jenis Huruf Untuk Buku.

Muat Lebih

Desain Cover Buku Profesional vs D.I.Y  

cover buku
cover buku didesain profesional @dianiapsari
pilihan template cover buku @adobespark

Untuk mudahnya sih, teman-teman yang mempunyai naskah buku, tinggal menawarkan ke penerbit, lalu penerbit yang menugaskan desainer untuk merancang sampul bukunya. Tentu saja dengan melibatkan desainer ada biaya desain yang harus dipertimbangkan. Biasanya penerbit sudah mengkalkulasikan ke harga bukunya.

Sudah tahu kan, pada sebuah buku diterbitkan oleh penerbit major, yang penulisnya tidak mengeluarkan biaya, maka royalty buku bagi penulis biasanya 10%. Lalu yang 90% untuk apa? Ya untuk biaya macam-macam, misalnya marketing, editor, tata letak dan desain buku, hingga ke biaya percetakan.

Begitu pula bila kita ingin menerbitkan buku sendiri, atau sering disebut menerbitkan buku indie. Walaupun kesannya lebih murah karena biasanya buku yang dicetak terbatas, tetap saja ada biaya untuk editor, tata letak dan desain buku, termasuk sampulnya.

Dengan adanya software bahkan tersedia pula templatenya, banyak penulis buku yang memilih mendesain sendiri cover bukunya atau disebut D.I.Y (do it yourself).

Apapun itu, buku yang ingin teman-teman terbitkan, melalui penerbit major maupun indie, kemudian sampulnya mau didesain secara profesional maupun D.I.Y.  Cover buku adalah bagian penting dari sebuah rantai penjualan buku. Oleh sebab itu Don’t Judge the Book by its Cover, tidak berlaku untuk industri perbukuan.

5 Tips Mendesain Cover Buku Sendiri

Teman-teman yang ingin mendesain cover buku sendiri dapat mengikuti 5 tips mendesain cover berikut.

1- Matangkan Ide

Naskah buku sudah siap, lalu mau didesain covernya seperti apa?

Supaya tidak terjadi idiom Don’t Judge the Book by its Cover, ya cover bukunya didesain selaras dengan isinya. Buku tentang herbal, covernya tentu saja seputaran herbal, bukan gambar rumah. Begitu pula buku tentang batik, covernya ya batik, bukan bunga.

Proses mematangkan ide selain memilih apakah gambar yang ditampilkan berupa foto atau ilustrasi, juga menentukan pilihan warna dan jenis huruf. Tak kalah penting adalah komposisi desain covernya, meliputi tata letak tulisan dan ilustrasi.

2- Tentukan Dimensi Buku

Penerbit biasanya meminta standar penulisan naskah buku dengan ukuran kertas A4, ditulis dalam tipologi huruf Times New Roman (TNR), ukuran 12 karakter, dan jarak 1.5 spasi. Adapun jumlah halaman umumnya sekitar 100 hingga 120 halaman.

Langkah selanjutnya kita harus mempunyai gambaran, buku tersebut nantinya akan dicetak ukuran dimensi buku sebesar apa.

Buku populer standar adalah 13X20 cm atau ukuran A5. Dari perhitungan tersebut, maka buku A4 setebal 120 halaman, bila dicetak ukuran A5 akan setebal kurang lebih 200an halaman. Bila dilengkapi ilustrasi dalam naskahnya, tebal halaman akan bertambah.

Dimensi buku tergantung pula genre dan pangsa pasar buku. Penerbit major biasanya mempunyai pengalaman dan tim marketing yang tahu ukuran buku tertentu cocok dengan dimensi tertentu. Begitu pula buku untuk anak. Harapannya buku untuk anak lebih kaya dengan tambahan tampilan visual dan disesuaikan dengan ergonomi anak-anak ketika membaca.

3- Tipologi Huruf

Teman-teman, sebaiknya hindari menggunakan lebih dari dua hingga tiga tipografi pada sampul, karena terlihat ramai, tidak ada kesatuan, bahkan norak. Tipografi sendiri artinya adalah ilmu yang mengajarkan perpaduan antara seni dan teknik mengatur tulisan.

Pilihan untuk tipologi (jenis) huruf untuk naskah sudah pernah saya tuliskan di artikel lain. Intinya pilih jenis huruf yang tidak membuat mata lelah. Contohnya: Garamond, Cambria, Trebuchet MS, atau sejenis. Sedangkan untuk cover, kita perlu tahu karakter huruf sesuai genre. Misalnya cover buku anak, hindari jenis huruf formal, boleh lebih main-main dan banyak lengkung. Begitu pula sebaliknya, buku resep, kan kita tidak memilih jenis huruf yang karakternya seperti untuk novel triller.

Segala hal yang berkaitan dengan tipologi huruf adalah hal-hal yang mengandung informasi secara alfabetis. Antara lain, judul buku, nama penulis, nama penerbit, harga, dan informasi pendukung lainnya.

4- Desain Sederhana

Buat semuanya tetap sederhana! Cover buku kita bila sudah dicetak dan disandingkan dengan buku-buku lain seolah berada di lautan sampul. Jadi, cobalah buat beberapa alternatif dan membuat model atau dummy terlebih dahulu, untuk mencek apakah desain kita menonjol dibandingkan dengan cover buku lainnya.

Cover buku ada cover depan, cover belakang, dan punggung buku. Tertera di cover depan biasanya judul buku, quote, nama penulis, dan logo penerbit. Cover belakang bisa menginformasikan sinopsis buku, endoresment kalau ada, harga buku, dan nomor ISBN. Adakalanya untuk buku antologi yang ditulis oleh puluhan kontributor, nama kontributor dicantumkah di belakang. Kemudian ada punggung buku, yang memuat judul buku dan logo penerbit.

5- Konsultasi ke Ahli

Bagi mata yang teliti, kita sering bisa membedakan mana cover yang memakai template meniru desain sampul lain dan mana yang ada sentuhan pemikiran desainer. Oleh sebab itu, ada baiknya bila kita mendesain sendiri, tunjukkan hasilnya ke orang-orang yang mengerti desain. Sebuah umpan balik dari teman-teman atau kerabat akan sangat bagus untuk hasil yang optimal.

Membahas desain cover buku sendiri, tentu tak lepas, mau mendesainnya dengan apa?

Di antara kita mungkin saja ada penulis yang multitalenta, selain bisa menulis, bisa sekaligus mendesain. Ada yang terampil bisa mendesain secara manual, ada pula yang memerlukan bantuan software desain.

Berikut beberapa jenis software desain yang bisa dipraktekkan.

5 Software Desain untuk Cover Buku

  1. Photoshop. Software berlisensi ini cukup populer dikalangan desainer grafis. Memang perlu latihan agar kita piawai menggunakan software ini. Tapi hasilnya tentu saja berbeda dibandingkan hanya mengedit template.
  2. PosterMyWall. Software ini mempunyai pilihan template yang terhubung ke Getty Images, Pixabay, dan Flikr. Sehingga kita mempunyai ratusan pilihan foto yang bisa diunduh untuk cover buku. Hanya saja gambar gratis resolusinya kecil, tapi kita bisa membayar sekitar $2-5 untuk mendapatkan gambar berkualitas baik.
  3. GIMP. Software ini merupakan software gratis. Walaupun demikian teman-teman harus menggali sendiri ide sampul buku. Pengoperasian software ini mirip dengan Adobe Photoshop.
  4. Canva. Sotware gratis ini cukup populer di antara penulis buku. Tersedia beberapa contoh template dan gaya desain yang bisa kita edit sendiri.
  5. Adobe Spark. Adobe Spark merupakan software yang menawarkan beberapa pilihan template juga. Contoh buku yang dipilih bisa kita edit sesuai dengan judul buku dan genre yang pas.

Nah, teman-teman demikianlah tips mendesain cover buku yang bisa mulai dipraktekan. Silakan praktek. Jangan lupa tulis juga naskah bukunya, lho …

Sumber:

how-to-design-a-book-cover-complete-guide-in-6-steps

Bandung, 7 September 2019

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

28 Komentar

  1. Aku juga tipe pembaca yang selalu memperhatikan cover saat menentukan pilihan membeli buku. Hehe orang visual. Next, pengen banget bisa cetak buku solo dengan desain sendiri. Thanks info aplikasinya, Mbak Hani. Sejauh ini saya baru nguliknya di Canva aja.

  2. Untuk mendesain, awalnya aku biasanya semangat banget. Lalu kemudian menyadari, hasil desainku sangaaat kaku. Iya sih, rasa-rasanya aku nggak mempunyai citarasa seni yang tinggi. Hanya sebagai penikmat, bukan pembuat. Wis lah, kukembalikan saja kepada desainer yang sebenarnya, hahaha …

    Dan, urusan buku memang nggak bisa pakai “Don’t Judge a Book by Its Cover”. Penulis harus bisa mengundang pembacanya lewat sampul buku.

    Semangat nulis lagi, aaah …

  3. Iya bunda, idiomnya ga berlaku buat cover buku ya karena orang beli buku yang dilihat pertama kali sampulnya. Terima kasih sharenya bun, baru tahu ada banyak fitur buat bikin cover.

  4. Idiom tersebut memang ga berlaku buat buku bunda. Tiap orang beli buku yang dilihat Covernya dulu, sih. Baru tahu ternyata banyak aplikasi buat desain sampul ya. Terima kasih bun, selalu suka tulisannya. Gimana caranya gabung di satu minggu satu cerita?

    1. Ke IG atau web-nya Mbak Sri. @1minggu1cerita. Gampang kok santai. Minggu pertama tiap bulan ada minggu tema. Udahnya sih bebas, boleh upload apa aja…

  5. Info menarik nih, Bund. Memang cover buku juga jadi salah satu daya tarik dan ajang promosi juga. Sepengalaman saya dulu pas nerbitin buku indie, memang penerbit punya disainer sendiri. Tapi penulis juga boleh coba mengajukan cover buku hasil kreasinya, nanti akan dicek ulang. Asyik sebenarnya utak-atik aplikasi untuk cover buku itu. Tapi calon bukunya belum ada lagi, hihi

  6. Cover memang penting meskipun tidak selalu merepresentasikan isi bukunya. Tapi, ibarat baju yang kita pakai, orang melihat pasti dr bungkusnya dulu. Kalau tampilan “unik” dan menarik, pasti lebih “mengundang”. Hm… bener-bener gak boleh asal-asalan nih.

  7. MasyaAllah, Mbak Hani ternyata penulis cernak juga toh. Mantap ini mbak. Tipsnya juga keren sangat. Aku lagi butuh belajar desain cover. Jadi pas banget ini ada solusinya.

  8. Keren, Bu artikelnya. Saya pernah bikin beberapa cover buku pakai software Corel Draw. Memang agak rumit untuk membuat konsep dan mewujudkan dalam bentuk cover. Sekarang sudah banyak aplikasi digital untuk memudahkan orang dalam membuat cover.
    Saya setuju bahwa cover buku menjadi daya tarik pertama saat orang hendak membeli buju.

    1. Memang pakai Corel Draw lebih mumpuni sih. Harus kreatif juga sih mengatur komposisi dan mencari ilustrasi dan foto yang sesuai. Terimakasih sudah mampir dan mereview blog saya.

  9. Wah mbak Hani kasih ilmu jos lagi. Sebelumnya saya terima kasih 🙏

    Dari kelimanya, saya hanya bisa menggunakan canva tapi itupun kadang terbatas beberapa template dan ikon yang berbayar.

    Saya kok tertarik dengan Adobe Spark ya mungkin akan saya coba dulu. Kepikiran buat cover sendiri selain lebih lega juga mau asah desain juga mbak.

    1. Haihai…makasih sudah berkunjung.
      Iya aku nyobain Canva. Pas nyoba Adober Spark koq aku cocok lho.
      Pilihan templatenya sesuai genre buku. Tinggal insert foto dan atur layout plus milih tipografi. Siip…

  10. Haihai…makasih sudah berkunjung.
    Iya aku nyobain Canva. Pas nyoba Adober Spark koq aku cocok lho.
    Pilihan templatenya sesuai genre buku. Tinggal insert foto dan atur layout plus milih tipografi. Siip…