Teteh, Maafkan Kami …

  • Whatsapp
teteh

“Bu, sudah tahu berita ini belum?” tulis putrinya dari kantor melalui pesan WA.

“Berita apa?”

Muat Lebih

Putrinya lalu menautkan sebuah berita dari detikdotcom. Pada headline tertulis tentang tertangkapnya seorang ibu muda karena melukai bayinya hingga wafat.

“Itu kan Teh F”, jelas putrinya lagi.

“Teh F, who?” dia belum faham saja. Sambil mengklik dan membaca berita online ini. Kemudian klik-klik beberapa artikel berikutnya sambung menyambung.

“Teh F Bu, MUA aku” sambung putrinya lagi.

Sekejap jantungnya berhenti, dan mendadak dadanya rasa tercabik. MUA atau make-up artis, sebuah profesi mendandani seseorang agar cantik. Lima tahun yang lalu, dia meng-hire Teh F sebagai MUA untuk pernikahan putrinya. Walaupun dia hanya berjumpa dua kali dengan Teh F, ketika trial make-up di rumah dan pada saat hari pernikahan, dia masih ingat sebagai gadis manis yang santun. Seingatnya khas gadis Sunda, dan tampak cukup berada, karena sebagai MUA dia datang ke rumah memakai mobil sendiri.

“Bapaknya si Baby siapa?” itu yang terlintas di kepala dan disampaikan lagi chat ke putrinya.

“Aku engga tahu kapan Teh F nikah. Dulu udah ada pacarnya sih …”

Dia dan putrinya masih berlanjut bertukar kabar, dan berlanjut membagi foto sang buah hati. Sedih sekali rasa di hati. Bayi mungil sesempurna ini …

Berjuta tanya kenapa-kenapa-kenapa, menyeruak dalam dada. Bapaknya si Bayi, suami Teh F ke mana?

Itu saja tanya yang berulang-ulang ada dalam dada. Suaminya ke mana? Ibunya? Ibu mertua? Tidak adakah yang peka di rumah itu?

“Mungkin baby blues ya Bu?”

Dia tak berani menjawab, karena dia bukan psikolog, tak punya kapasitas menilai seseorang.

Dia pun mencoba mencari dari Instagram putrinya, link IG Teh F. Ternyata terkunci, karena dia tak berteman. Kebetulan ada link youtube, di-kliknya tautan yang ada. Teh F tampak bahagia berbulan madu bersama suaminya.

Dia pun mencari berita tentang baby blues syndrome, yang bisa bertambah parah menjadi post partum depresion.

Menurut yang dia baca, hampir 80% ibu baru melahirkan mengalami baby blues syndrome. Gejala ini berupa perubahan suasana hati, cemas berlebihan, khawatir, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, mudah marah, dan menangis tanpa alasan. Umumnya dengan dukungan keluarga dan orang sekitar, baby blues syndrome akan mereda setelah dua minggu.

Berbeda dengan post partum depresion (PPD), merupakan baby blues syndrome yang tak ditangani dengan cepat dan meningkat menjadi depresi. Munculnya PPD bahkan bisa berbulan-bulan setelah melahirkan. Karena sudah menjadi depresi maka perlu penanganan dari dokter atau psikolog. Gejala post partum depresion adalah kekhawatiran berlebih, kekecewaan, putus asa, yang berakibat tidak ada hubungan batin antara ibu dan bayinya. Kasus post partum depresion berat bahkan bisa menjadi psikosis post partum, yaitu ibu dapat mengalami halusinasi dan delusi yang bisa membahayakan diri sendiri atau si Bayi.

Dia lalu teringat puluhan tahun silam ketika baru mempunyai anak pertama. Dia masih tinggal bersama orang tuanya di Jakarta, sedangkan sang suami mendapat pekerjaan baru di Bandung. Ada suatu masa bayinya menangis meraung-raung tak henti tanpa sebab. Kelelahan dia hanya terkapar saja di tempat tidur membiarkan bayinya. Ibunya yang mendengar jeritan cucunya, tergopoh menyeruak ke dalam kamar, menelisik mencari tahu.

“Oh…kolik ini!” seru sang Ibu sambil meraba perut bayinya yang sekeras papan.

Lalu ibunya mengambil minyak telon mengurapi bayinya sampai tenang.

Apa jadinya bila saat itu tak ada Ibu yang datang membantu. Beruntung waktu itu dia masih tinggal bersama orangtuanya.

Ketika dia akhirnya pindah ke Bandung menyusul suaminya dan mempunyai bayi lagi. Ada masa-masa dia kembali merasa lelah karena mengurus bayi baru dan kakak yang masih balita. Beruntungnya dia dibantu baby sitter dan ART. Suaminya pun turut turun tangan mengambil alih mengasuh kakak balita, kala baru pulang dari kantor.

Kejadian ternyata berulang puluhan tahun kemudian, ketika putrinya juga baru melahirkan.

Pada suatu malam cucunya menangis meraung-raung. Dia pun ingat apa yang dilakukan ibunya, dan mengikuti langkahnya, menelisik meraba perut si cucu dan menjumpai masalah yang sama.

Kolik.

Cucunya juga tenang setelah diurapi minyak telon dan diselimuti agar hangat.

Dia kemudian memikirkan Teteh F, mungkinkah Teteh F sendirian kala itu? Mungkinkah Teteh F tak ada helping hands dari sekitarnya, yang berujung menjadi depresi? Tak ada baby sitter? Tak ada ART?

Sungguh dia tak berani menghakimi.

Seandainya dia ada di sana bersama Teteh F, mungkin dia akan melakukan seperti ibunya dulu, dan dia juga lakukan terhadap putrinya. Membantu ibu baru …

Teteh F, telah menyulap putrinya dihari pernikahan menjadi secantik bidadari. Kenangan tentang Teteh F adalah keindahan. Kenangan tentang pernikahan yang sangat berkesan, mengundang sekitar 200 undangan saja, karena tak banyak dana yang bisa ditabung kala itu. Bahkan putrinya mencari sendiri MUA melalui Instagram.

Kisah tentang pernikahan putrinya dituliskannya di sini: Kisah Kebaya Pengantin

Berhari-hari dia merasakan kesedihan yang mendalam.

Dia membayangkan kehidupan Teteh F pasti berubah drastis setelah kejadian itu. Bertahun-tahun kemudian stigma sebagai ibu pembunuh akan terus melekat. Tak ada lagi update hasil make-up perempuan yang telah didandani secantik bidadari. Tak ada lagi update vlog, tak ada lagi segala gebyar media sosial.

Dia hanya bisa berbisik dalam hati:”Teteh, maafkan kami tak bisa membantu Teteh kala itu” …

Terimakasih Teteh. Kenangan akan Teteh tetaplah Teteh yang manis dan lembut.

kenangan di hari pernikahan

Bandung, 9 September 2019

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 Komentar

  1. Selalu prihatin Kalau kejadian ini berulang. Apalagi Kalau ada yang mengaitkan dengan kadar keimanan seseorang. Duhhh… Gemes rasanya. Kaya nggak punya empati

  2. Aku speechless bacanya.
    Melewati juga masa sulit menjadi ibu baru, “sendiri” karena suami sering dinas (pergi)

    Semoga si Teteh dikuatkan,dimudahkan urusan dan dibantu dipulihkan traumanya.

    Apapun, manusia itu sumber khilaf dan aku rasa semua orang berhak untuk dimaafkan dan menata kembali masa depan

  3. merinding juga bacanya. Ngalamin sendiri
    ada masa di mana sangat tertekan dan merasa ‘sendiri’. Beraaat.Hiks. Semoga Teteh F bisa kuat menjalani hidup ke depan dengan segenap perhatian dari keluarga dan orang terdekat.

  4. Duhhhh aku ikutan sedih Bun bacanya. Jujur aku sebenernya takut baca yang kayak gini. Nggak kuat. Tapi kasus kayak gini bikin aku takut bun klo nanti abis lahiran sendirian. Aku pernah juga pernah bun baby blues, tapi penyebabnya selain kelelahan tekanan ama mertua juga. Karena sebulan lahiran mertua tinggal bersama kami, maksudnya untuk membantu. Tapi kok selain membantu aku merasa tertekan ketika mertua suka nuntut aku harus langsung bisa jd ibu smpurna. Hiks. Tp sendiri aku jg tkut. Wktu itu untungnya ayah Erysha tipe suami yang baik dan mau mendengarkan. Mkanya baby bluesnya cma sbntar n mertua abis sebulan udah pulang ke rumahnya. Jadi bner abis lahiran itu butuh ditemani tapi yang menemaninya hrus yang meringankan beban bukannya nambah beban.

  5. Duhhhh aku ikutan sedih Bun bacanya. Jujur aku sebenernya takut baca yang kayak gini. Nggak kuat. Tapi kasus kayak gini bikin aku takut bun klo nanti abis lahiran sendirian. Aku pernah juga pernah bun baby blues, tapi penyebabnya selain kelelahan tekanan ama mertua juga. Karena sebulan lahiran mertua tinggal bersama kami, maksudnya untuk membantu. Tapi kok selain membantu aku merasa tertekan ketika mertua suka nuntut aku harus langsung bisa jd ibu smpurna. Hiks. Tp sendiri aku jg tkut. Wktu itu untungnya ayah Erysha tipe suami yang baik dan mau mendengarkan. Mkanya baby bluesnya cma sbntar n mertua abis sebulan udah pulang ke rumahnya. Jadi bner abis lahiran itu butuh ditemani tapi yang menemaninya hrus yang meringankan beban bukannya nambah beban. Maaf ya Bun aku jadi curhat. Soalnya aku takut

    1. Iya Teh. Alhamdulillah ayahnya Erysha penuh pengertian yah. Khawatir kalo suami abai, kita jadi sedih sendiri…
      Semoga kalo Erysha punya adik, Teh Yeni lebih kuat…

  6. Berasa kembali ke masa-masa saat baru lahiran Najwa dan Najib. Keduanya sempat membuatku mengalami baby blues. Hanya saja, Najib jauh lebih berat karena kondisi yang lebih banyak sendiri. Kebayang beban berat Teteh F di masa yang akan datang. 🙁

  7. Aku jadi ingat 5 tahun yang lalu Mbak Hani, saat di mana aku pasca melahirkan anak kedua dan masalah rumah tangga di ujung perceraian. Ah, rasanya aku ingin membuang anak itu.aku menganggap anak itu musibah dari masalahku. Beruntung, teman dumay memelukku dari jauh. Jadi aku tersadar lebih cepat tanpa harus ke psikolog terlebih dahulu. Dan anehnya aku baru tahu kalau dulu itu terkena PPD setelah konsultasi Sama Mbak Dwi Arum

  8. Aku jadi ingat 5 tahun yang lalu Mbak Hani, saat di mana aku pasca melahirkan anak kedua dan masalah rumah tangga di ujung perceraian. Memang PPD sama baby blues tidak bisa dianggap remeh

  9. Miris bacanya, dulu aku juga ngalamin ngurus 3 bayiku cuma berdua sama suami, karena waktu itu tinggal di rantau orang yang jauh dari keluarga.dan belum mampu untuk menggaji ART