Bahasa Indonesia Pemersatu Bangsa Di Tengah Gempuran Bilingual

  • Whatsapp

Anjir sia maneh”…

Goblog…anjing”…

Muat Lebih

“Bapak-ibu sekalian, ini adalah contoh pemasangan lapisan which is akan melindungi bangunan dari serangan rayap”

Ini adalah sebagian kata-kata yang terdengar bila ada sekumpulan anak-anak hingga mahasiswa sedang duduk-duduk. Kata-kata kasar tersisip di antara bahasa Indonesia yang membuat telinga panas, bisa di mana saja terdengar. Di angkutan umum, anak-anak SMP, SMA, hingga mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas di kampus.

Sedangkan kalimat terakhir adalah paparan seorang petugas pemasaran produk bahan bangunan.

Sering kita dengar juga di televisi, radio, dan acara-acara lain, seseorang menjelaskan sesuatu dengan menyisipkan bahasa Inggris disela-sela paparannya. Bukan hanya itu, media massa sering turut andil menuliskan berbagai artikel yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Di tambah lagi, berbagai produk di masyakarat sepertinya lebih menyukai memakai bahasa asing daripada bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia

Teks Sumpah Pemuda

Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea:
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
teks sumpah pemuda

Kutipan di atas adalah butir-butir Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada saat Kongres Pemuda tanggal 27 dan 28 Oktober 1028. Kongres ini merupakan cikal bakal kerinduan sebagian besar rakyat Indonesia untuk menjadi Negara yang merdeka dan berdaulat. Menjadi Negara yang bersatu mempunyai tanah air, berbangsa, dan berbahasa yang sama bahasa Indonesia.

Bahasa adalah cerminan budaya bangsa. Melalui bahasa kita bisa menunjukkan jatidiri bangsa. Pemilihan bahasa Indonesia yang merupakan rumpun Melayu menunjukkan kesadaran suatu lingua franca yaitu bahasa sebagai pemersatu.

Seperti kita ketahui ada sekitar 700 suku bangsa di Indonesia yang mempunyai adat istiadat, bahkan bahasa yang berbeda. Bayangkan bila kita tidak mempunyai satu bahasa yang sama, maka kita akan sulit berkomunikasi satu sama lain.

Fenomena Melunturnya Kebanggaan Berbahasa Indonesia

Dulu ketika saya masih sekolah, ada pakar bahasa Indonesia yang sering tampil di televisi bernama Yus Badudu, kemudian dilanjutkan dengan Anton Mulyono. Mereka ini dengan sabar meluruskan berbagai kekeliruan berbahasa yang ada di masyarakat. Entah ejaan yang perlu diperbaiki, tata bahasa, kata depan, dan banyak lagi.

Bahkan di dunia bisnis, ada ketentuan memberi nama atau merek produk harus memakai bahasa Indonesia. Begitu pula papan nama toko, tagline pada iklan, dan banyak lagi.

Setelah maraknya internet dan munculnya sekolah-sekolah bilingual (dua bahasa), seiring pula dengan melunturnya penggunaan bahasa Indonesia di berbagai sektor. Sudah tak asing lagi, menjamur nama-nama restoran, café, toko, memakai nama-nama bernada asing, bisa bahasa Inggris atau lainnya. Tujuannya tak bukan adalah menarik perhatian masyarakat agar mampir ke gerai. Dalam pergaulan, seperti halnya paragraf awal artikel ini, bahasa Inggris juga mulai marak dipakai sehari-hari di kalangan anak-anak muda.

Sekolah-sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) sudah dihapuskan oleh keputusan Mahkamah Institusi. Walaupun demikian minat akan sekolah-sekolah yang bahasa pengantarnya selain bahasa Indonesia makin diminati. Bahasa pengantar selain bahasa Indonesia yang dipakai di sekolah-sekolah bilingual, antara lain bahasa Inggris, Mandarin, atau Arab. Sehingga ada dua bahasa yang dipakai di sekolah-sekolah tersebut, yaitu bahasa Indonesia-Inggris, Indonesia-Mandarin atau Indonesia-Arab.

Sekolah Bilingual

Sayangnya, ada beberapa sekolah yang menetapkan bilingualnya adalah bahasa Inggris-Mandarin, sehingga bahasa Indonesia seolah terpinggirkan.

Menumbuhkan Kebanggaan Bahasa Indonesia Sebagai Pemersatu Bangsa

Bahasa adalah jatidiri bangsa. Melalui bahasa (Indonesia) maka kita menunjukkan sebagai bangsa (Indonesia). Lihat saja, bagaimana Jepang dikancah internasional tetap percaya diri memakai bahasa Jepang untuk berkomunikasi. Bila kita akan menempuh pendidikan lanjutan ke Jepang, tak kurang kita harus belajar terlebih dahulu bahasa Jepang. Pemerintah Jepang tak mau repot dengan mendirikan sekolah internasional khusus berbahasa Inggris.

Bagaimana upaya kita untuk tetap bangga terhadap bahasa Indonesia, perlu peran serta dari berbagai lapisan masyarakat. Rasa bangga perlu dipupuk agar terus tumbuh dan berkembang, sehingga kita menjadi percaya diri. Adapun unsur-unsur yang berperan, antara lain:

Peranan Keluarga

Di tengah gempuran bahasa asing yang marak sekarang ini, peranan keluarga tetap penting untuk menumbuhkan kebanggaan berbahasa Indonesia yang baik dan santun.

Kita memang sarat dengan keanekaragaman. Bahasa daerah  pada sebagian besar rakyat Indonesia dikenalkan sebagai bahasa ibu begitu anak-anak mulai bercakap-cakap. Serapan-serapan bahasa lain akibat masuknya agama Hindu, Buddha, dan Islam juga melebur dalam bahasa sehari-hari kita. Tak kurang bahasa Belanda dan Portugis juga menambah perbendaharaan kata-kata dalam bahasa Indonesia.

Walaupun demikian peranan keluarga sangat penting untuk menumbuhkan kebanggan berbahasa Indonesia. Jangan sampai, di sekolah mereka berbahasa pengantar Inggris dan Mandarin. Di rumah dengan orang tua berbahasa Inggris juga. Sedangkan berbahasa Indonesia hanya dipakai untuk berbincang dengan asisten rumah tangga atau supir.

Seolah mendegradasikan kedudukan bahasa Indonesia dalam pandangan anak-anak.

Peranan keluarga juga mengajarkan sopan santun melalui bahasa. Justru bahasa daerah dikenal dengan tata krama yang menunjukkan kesopanan bahkan tidak ada dalam bahasa Indonesia. Seyogyanya, walaupun berbahasa daerah, diharapkan tidak ada lagi terlontar penyebutan anjing dan kata-kata kasar lain kala bercakap.

Peranan Lembaga Pendidikan dan Pemerintah

Laporan karya mahasiswa, bahasa Inggris di sana-sini

Di tengah era globalisasi, menuju era disrupsi, di mana kita tidak bisa lepas dari peranan digital dan komunikasi jaringan, bahasa Inggris memang sangat penting. Kita bisa meraih posisi penting di dunia internasional karena kemampuan kita menjelaskan potensi diri dalam bahasa Inggris. Jangan lupa, kita pun harus benar berbahasa Inggris tersebut, bukan keminggris-mingrisan, alias sok Inggris, tapi salah.

Peranan lembaga pendidikan dan pemerintah agar tetap menerapkan nilai positif terhadap bahasa Indonesia juga penting. Menuliskan surat resmi, membuat undangan, pengumuman, dan hal-hal kecil yang kesannya sepele, tetaplah memakai ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Mata pelajaran bahasa Indonesia yang diajarkan sejak SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi, harus dicari metode yang tidak membosankan agar semua kalangan senang berbahasa Indonesia. Selain itu harus selalu ada pembaruan dalam kosa kata bahasa Indonesia. Seringkali di tingkat perguruan tinggi dan kajian ilmiah terpaksa memakai bahasa campuran. Hal ini dilakukan dalam penulisan artikel, karena belum ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia.

Peranan Media Massa dan Media Sosial

Bahasa campursari Indonesia-Inggris (bahasa Inggrisnya juga salah)

Sekarang ini segala-galanya serba daring (online). Media massa cetak pun secara signifikan beralih ke koran daring. Di dalam masyarakat, satu sama lain saling berinteraksi secara sosial melalui media sosial bernama Facebook, Instagram, Twitter, dan blog.

Dalam bermedia sosial, seringkali kita sesuka hati berbahasa, kadang Inggris, Arab, Melayu, slank , bahasa alay, maupun akronim. Tujuannya untuk memberi kesan akrab dan tidak formal. Sah-sah saja dalam bahasa pergaulan digunakan bahasa sesuka hati seperti itu.

Untuk itu perlu tanggungjawab semua lapisan masyarakat pengguna media daring agar tetap menggunakan bahasa Indonesia sesuai kaidah. Bukan tak mungkin, akan ada kata-kata baru yang merupakan kata serapan, karena bahasa selalu berkembang.

Berbahasa bukan hanya tulisan, tetapi juga bertutur. Dari radio, televisi, film, video, vlog, dan berbagai media yang melibatkan visual dan audial, bahasa juga merupakan kunci. Disinilah letak peranan media massa dan media sosial agar menumbuhkan kebanggaan berbahasa Indonesia.

Peranan Komunitas

Menumbuhkan rasa kebanggaan berbahasa Indonesia juga melibatkan peranan komunitas. Mereka ini tempat berkumpulnya orang-orang yang mempunyai perhatian sama. Biasanya tujuannya adalah murni menggiatkan masyarakat tanpa mencari keuntungan dengan membuat program-program yang memajukan bahasa Indonesia.

Program-program lain yang bukan kebahasaan pun bisa berhasil bila kita menjelaskannya dalam bahasa yang dimengerti bersama, yaitu bahasa Indonesia.

Semoga di bulan bahasa ini kita tetap semangat berbahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa.

Sumber:

Susetyo; Peran Bahasa Indonesia Sebagai Alat Pemersatu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Tryanasari Dewi; Bangga Berbahasa Indonesia

badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/2756/bahasa-sebagai-pemersatu-bangsa

Bandung, 31 Oktober 2019

signature haniwidiatmoko

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

21 Komentar

  1. Benar banget mba, sekarang cukup banyak orang yang mencampurkan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, seolah terlihat keren. Padahal kalau aku sendiri geli mendengarnya karena gantung gitu. Seperti menggunakan kata anna untuk sebutan saya, anta-> kamu dan sebagainya. Serba nanggung sih menurut aku.

  2. Sekarang memang agak tercampur bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Banyak anak-anak kecil lebih pandai memakai bahasa asing dari pada bahasa negaranya sendiri.

  3. Inilah fenomena saat ini, bahasa asing sudah hampir sama lazimnya dengan bahasa tanah air. Memang penting sih bisa bahasa asing, tapi bahasa Indonesia, bahasa ibu tetap harus dijaga.

  4. Bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu. Betul banget. Secara di Indonesia sendiri terdiri dari bermacam-macam bahasa daerah. Belum di campur bahasa asing, yang mau ngga mau jadinya ngomongnya jadi pake bahasa gado-gado alias campur aduk. Jadi bahasa Indonesia tetap harus dijaga

  5. Fenomena yang miris ya bunda, beberapa temanku juga bangga kalau anaknya ga bisa bahasa indonesia full inggris gitu. Kerasanya kalau lagi dibawa main lalu jadinya diem aja karena ga ngerti anak-anak lain ngmng apa. Semoga bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa tetap terjaga ya

  6. Kalau anak2 ku bahasa indonesia jadi bahasa ibu. Bahasa daerah malah yg jadi PR. Bisa, cuma belum menguasai, kosa kata yang terbatas. Klo bahasa asing ini bundanya yang galau, ga di ajari kok lingkungan menuntut, diajari kok bahasa wajibnya aja belom

  7. Sebenarnya menggunakan bahasa asing adalah keniscayaan dari kebutuhan zaman. Global dan dekat terkoneksi. Tapi harusnya disesuaikan dengan situasinya. Formal atau informal. Dan dilarang mencampur aduk

  8. Bahasa Indonesia ini masih jadi peer banget buat yuni. Bukan dalam artian nggak mahir. Biar bagaimana juga yuni cinta Indonesia. Tapi eh tapi, dalam menulis, sungguh tata bahasa yuni belepotan banget. Hehe

  9. Sebenarnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, masih digunakan pada artikel resmi, namun kebanyakan anak muda menggunakan bahasa non resmi untuk sosmed

  10. Semua memang harus bahu membahu untuk mengenalkan lagi bahasa indonesia. Toh saya yang jawa ini bisa komen di blognya orang sunda dengan nyaman karena bahasa indonesia juga. Hehehe.

  11. Kadang aku juga miris loh bun karena siswa-siswa ku kurang mengenal bahasa Indonesia. Bahkan di sekolah itu pakai bahasa daerah halus gitu ke gurunya. Sedangkan di rumah pun pakai bahasa daerah, huhuhu

    1. Samma di sini juga. Ada mhs saya yg saking sopannya, pakai bhs Sunda. Walah…padahal saya msh gagu. Engga bisa bhs Sunda lemes (halus). Yawda jawab bhs Indonesia saja. Haha…

  12. Tulisannya bagus ini dan memang benar generasi sekarang (dimulai dari anak-anak kita sendiri) perlu dibiasakan terus menggunakan bahasa Indonesia. Mesti diciptakan kebanggaan tersendiri dengan bahasa ini ya. Anakku pun mulai terikut dengan arus modernisasi, selain tentu saja bahasa daerah yang lebih kental dan sering dia gunakan. Makanya berkomunikasi dengan dia, saya tetap berusaha menggunakan bahasa Indonesia. Berharap dia juga bisa belajar mencintai bahasa ini