Konflik Engga Habis-habis Para Netizen

Konflik Engga Habis-habis Para Netizen

Ketika pilihan tema artikel tiap awal bulan ditawarkan di grup WA 1 Minggu 1 Cerita (1M1C), teman-teman memilik Konflik. Kali ini saya tidak ikut meramaikan memilih, sih. Saya ikut suara terbanyak saja.

So, mari kita menulis tentang konflik.

Di hari yang sama pemilihan tema tersebut, kok ya, ndelalah, di grup WA teman sekelas SMA ada sedikit friksi. Seorang teman membagikan berita tentang radikalisme yang dikaitkan dengan seorang dosen di sebuah perguruan tinggi negeri di Bogor. Sedangkan teman lain yang kebetulan alumni perguruan tinggi tersebut tidak terima, lalu ngiri. Alias left group. Keesokan harinya teman yang left ini membuat grup sempalan, dan saya dicemplungkan ke grup.

Kenapa konflik?

Konflik kalau dicermati dari kamus besar Bahasa Indonesia artinya percekcokan, perselisihan, pertentangan.

Dari hasil obrolan dan congkak (istilah teman-teman 1M1C untuk pamer sudah menulis artikel dan upload ke web di minggu yang berlangsung), ada yang menuliskan tentang konflik diri sendiri. Belum baca, sih, saya. Maafkan… Sepertinya maksudnya perang batin.

Saya pribadi tidak ada yang diceritakan tentang perang batin, rasanya sudah damai-damai saja, atau berdamailah dengan diri sendiri. Taelaaa …

Konflik antar teman dan netizen

Saya justru menyoroti tentang konflik antar teman saya, baik teman dunia nyata, maupun teman yang saya tahunya di dunia maya. Seingat saya, pertemanan saya mulai terusik akibat pemilihan presiden di tahun 2014 yang lalu.

Waktu itu saya baru mulai menekuni dunia penulisan. Sebagai penulis mau tidak mau saya harus punya akun-akun di media sosial. Di sinilah mulai terasa konfliknya. Apalagi sejak ada gejolak politik yang berkepanjangan, gerakan-gerakan, pengumpulan massa yang berujung kerusuhan. Semua ini berlanjut di dunia maya.

Kira-kira tahun 2014 saya cukup terkejut tiba-tiba dua orang teman penulis komen pedas di status FB. Waktu itu saya mengomentari peristiwa di bulan November tahun 2016 yang berujung kerusuhan dan merusak fasilitas publik di Jakarta.

Sebelumnya saya cukup dekat dengan teman ini, karena kenal di dunia nyata. Karena kurang berkenan, akun FB saya atur, supaya kedua teman itu tidak bisa melihat timeline saya. Timeline FB itu ibaratnya kan halaman rumah maya, saya mau menulis apa saja bisa. Kok ya, ada orang lewat terus memaki-maki di halaman rumah saya, itu bagaimana ceritanya coba …

Oleh sebab itu sejak pemilihan presiden tahun lalu dan berlanjut presiden terpilih, tak pernah saya membuat status tentang ini. Bahkan sesama teman alumni kuliah, curiga, saya tuh dipihak 01 atau 02.

Konfliknya Engga Habis-habis

Ternyata ya, konflik bangsa kita tuh, engga ada habis-habisnya. Ada saja salahnya.

Konflik antara ibu bekerja di luar rumah dan stay at home Moms. Konflik antara ibu melahirkan normal dan melahirkan caesar. Konflik antara anak ASI dan anak sufor, hingga MPASI home made dan MPASI tinggal tambah air panas. Konflik ayah baca koran atau ayah memandikan bayi. Konflik anak sekolah biasa dan anak homeschooling.

Mau lebih panjang lagi daftarnya?

Ya konflik hasil pemilihan presiden kemarin itu. Seperti yang saya tuliskan di awal artikel ini, tentang teman saya yang left group dari WA teman sekelas SMA tadi. Dia itu teman sebangku saya. Hanya saja dia tinggal di Jakarta, jadi interaksinya sangat jarang. Walaupun konfliknya bukan dengan saya, tetapi cukup membuat jarak pertemanan jadinya.

Baca juga: Selayang Pandang Do and Don’t Obrolan Reuni

Baru-baru ini ada peristiwa penusukan Wiranto yang notabene seorang MenKo Polhukam. Netizen juga terbelah, konflik yang menuliskan itu settingan dan sungguhan. Bahkan antara kok engga ada darahnya pun bisa menjadi konflik tersendiri. Bahwa menurut berita terakhir ternyata lukanya di dalam, melukai usus dan limpa, masih harus saya cari juga kebenarannya.

Padahal kita tuh kan sebetulnya harus tabayyun. Istilah dalam agama saya yang artinya teliti terlebih dahulu. Benar juga sih, ternyata penyebar hoax itu sebagian besar usia di atas 45 tahun. Mudah-mudahan bukan saya, lho …

Saya sebetulnya sudah lelah dengan konflik yang engga ada habisnya begini. Inginnya ya damai, kan. Bagaimana teman-teman?

Bandung, 12 Oktober 2019

Satu pemikiran pada “Konflik Engga Habis-habis Para Netizen”

Tinggalkan komentar