Filosofi Rumah Menara Di Kampung Adat Sumba

  • Whatsapp
rumah menara

Lanjut lagi kisah jalan-jalan saya bersama teman-teman saat ke pulau Sumba.

Bila kita berjalan-jalan ke berbagai wilayah, bukan hanya mengamati keindahan alam, kuliner, dan membeli oleh-oleh khas setempat. Keunikan adat budaya, ketrampilan, dan arsitektur merupakan hal-hal yang tak bisa diabaikan begitu saja.

Muat Lebih

Rumah Menara Di Sumba

Indonesia kaya akan adat budaya termasuk arsitektur tradisionalnya. Kita mengenal rumah Joglo di Jawa Tengah, rumah Gadang di Minangkabau, juga rumah gaya Julang Ngapak di tanah Sunda. Maka di Sumba dikenal dengan rumah Menara.

Sesuai namanya, rumah Menara di tanah Sumba merupakan rumah tradisional dengan desain bagian tengahnya tinggi ditopang oleh empat kolom.

Rumah Menara dalam bahasa asli suku Sumba bernama Uma Mbatangu, berarti rumah berpuncak. Beberapa wilayah di Sumba menamainya dengan nama-nama berbeda, misalnya untuk rumah menara yang besar dinamai Uma Bokulu atau Uma Bungguru. Ada pula jenis rumah yang atapnya tidak tinggi dinamai Uma Kamadungu, atau rumah botak.

Sama halnya sebagian besar rumah tradisional di Indonesia, kosmologi rumah terbagi tiga bagian yaitu bagian atas (atap) adalah dunia atas (sacred). Bagian badan rumah adalah dunia tengah, tempat aktivitas manusia (profane). Sedangkan bagian bawah merupakan bagian kotor atau dunia sesudah kematian.

Bagian atap pada rumah tradisional Sunda dibuat tinggi melambangkan sebagai ruang komunikasi dengan Marapu. Marapu dalam kepercayaan animisme masyarakat Sumba merupakan roh-roh leluluhur yang mengawasi kehidupan manusia.

rumah menara sumba
bagian-bagian rumah Menara

Desain rumah menara sederhana, berbentuk segiempat, dengan kolom empat buah sebagai penopang atap bagian tengah. Kemudian melebar dengan ukuran yang kira-kira sama dengan modulnya, sehingga membentuk keteraturan 12 kolom sekeliling rumah. Dinding rumah di keliling bangunan tak berjendela, sehingga bagian tengah rumah gelap.

Bagian tengah di antara keempat kolom tersebut berfungsi sebagai dapur. Menurut filosofi warga Sumba, area ini sekaligus berfungsi menghangatkan rumah.

denah rumah

Rumah tradisional Sumba rata-rata merupakan rumah panggung, dengan bagian bawah rumah sebagai kandang ternak atau menyimpan alat pertanian.

Uniknya, ada pembagian area berdasarkan gender, ada area untuk perempuan dan area untuk laki-laki. Pintu keluar-masuk dan teras rumah pun dibedakan, sehingga rumah-rumah mempunyai dua buah pintu.

Seperti halnya banyak bangunan tradisional di Indonesia, rumah Menara di Sumba struktur utamanya terbuat dari kayu. Lantai dan dinding dibuat dari susunan bambu bulat atau kayu, sedangkan atapnya terbuat dari ilalang. Tinggi rumah Menara keseluruhan antara 15 hingga mencapai 30 meter. Berarti hampir setinggi rumah modern tiga lantai.

Padahal teknologi membangunnya, terutama bagian atap masih memakai metode tradisional dan dilaksanakan secara bergotong royong.

konstruksi atap rumah menara

Pada salah satu kampung adat yang kami kunjungi, beberapa rumah warga struktur utamanya terbuat dari beton bertulang, sedangkan lantai dan dinding pengisi serta rangka atap masih terbuat dari kayu.

Menurut beberapa artikel hal ini dilakukan setelah kampung tersebut dilanda kebakaran hebat, sehingga dilakukan renovasi dengan material yang lebih awet.

rumah adat sumba
pola kampung

Bila kita berkunjung ke kampung adat akan dijumpai formasi kampung (paraingu) terdiri dari deretan rumah-rumah tradisional yang dibangun mengitari kompleks kubur batu leluhur dan natara, yaitu tanah lapang yang biasanya dipakai untuk upacara adat.

Bentuk kampung seperti ini juga kami jumpai ketika menyambangi Kampung Adat Bena di Flores.

Baca juga di sini: Kampung Adat Bena, Kapal Yang Berlabuh Di Kaki Gunung Inerie

Berikut beberapa kampung adat yang sempat kami kunjungi selama di Sumba.

Kampung Adat Ratenggaro

Kampung Adat Ratenggaro (swipe untuk foto selanjutnya)

Hari pertama kami mengunjungi Kampung Adat Ratenggaro, terletak di bagian barat daya pulau Sumba. Secara administratif merupakan bagian dari Desa Umbu Ngedo, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, berjarak kira-kira 65 km dari kota Tambolaka.

Sebelum memasuki kampung, kami melewati deretan kuburan batu yang dibangun di area luar kampung. Struktur kuburan mirip gardu berukuran 1.5X2X1.5 meter. Bentuknya empat persegi panjang berpintu dan beratap datar. Belum banyak yang saya gali dari sebab-musabab tiap makam dibangun seperti itu. Bang Philus, driver merangkap guide kami hanya sepintas menjelaskan bahwa untuk prosesi pemakaman diperlukan ritual tertentu.

Kami memarkirkan kendaraan kemudian bersiap jelajah kampung. Sebelumnya ada pesan dari Bang Philus agar kami tak memotret kain-kain yang dipajang disisi rumah. Besar kemungkinan kami akan ditagih fee atau diminta membeli sekalian. Memang banyak kain-kain berwarna cerah tergantung disisi rumah.

Anak-anak kecil bergerombol menyambut kami, menandahkan tangan meminta permen. Sebetulnya saya pribadi agak terganggu dengan anak-anak kecil yang terus mengikuti kami meminta permen.

Di sebuah rumah paling ujung, saya dan seorang teman meminta izin ke seorang ibu sepuh untuk melihat ke dalam. Sang Ibu rupanya ibunya kepala kampung, mengizinkan kami masuk. Bau masakan menyeruak ketika kami masuk ke dalam untuk melihat dapur. Sayang, kepala kampung tidak ada di tempat, kalau ada, kan bisa tanya-tanya tentang arsitekturnya.

Di sudut teras depan tersusun deretan tanduk kerbau dan di para-para teras rumah tergantung deretan rahang babi. Selain kuda, kedua hewan tersebut juga merupakan hewan yang bernilai bagi masyarakat Sumba.

Kami pun berkeliling kampung mengambil foto dan mengamati susunan rumah tinggal. Susunan rumah disusun mengelilingi makam leluhur dan ruang terbuka yang digunakan untuk upacara. Jumlah rumah tak banyak di Kampung Adat Ratenggaro, hanya sekitar belasan rumah. Menurut beberapa sumber, dulunya jumlah rumah ada 28 rumah. Beberapa kali kebakaran melanda, terakhir di tahun 2004. Membangun rumah adat perlu biaya dan upacara ritual yang juga berbiaya mahal, maka pembangunannya pun bertahap.

Kampung adat Ratenggaro terletak di atas tebing pantai. Nun dikejauhan tampak muara sungai menyatu dengan pasir putih pantai. Kubur batu megalitik pun tampak di beberapa tempat di tepi pantai.

Kami hanya sebentar mampir di Kampung Adat Ratenggaro, karena matahari semakin rendah di ufuk Barat.

Kampung Adat Praijing

Kampung Adat Praijing (swipe untuk foto selanjutnya)

Dalam perjalanan dari Sumba Barat ke Timur, kami mampir ke Kampung Adat Praijing. Kampung ini berada di Desa Tebara, Kecamatan Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat.

Awalnya ada 42 rumah tradisional di kampung ini. Kebakaran hebat yang melanda di tahun 2000, menghanguskan sebagian besar rumah. Setelah renovasi dan mengganti struktur rumah dengan beton bertulang, sekarang ada sekitar 30-an rumah yang ada di Kampung Adat Praijing.

Letak kampung agak di atas. Sehingga mobil-mobil harus parkir di bawah, dan pengunjung berjalan kaki ke area kampung. Sama halnya di beberapa kampung adat, susunan rumah mengelilingi area terbuka dan area makam leluhur. Secara detail tidak semua rumah bentuk atapnya menara, ada beberapa yang beratap limasan biasa dengan lapisan penutup terbuat dari ilalang. Bentuk rumah merupakan rumah panggung, bagian bawah rumah dipakai untuk kendang ternak dan gudang.

Kami pun berjalan keliling kampung dan mengamati keseharian warga kampung.

Sebagai kampung adat yang sering dikunjungi wisatawan, maka perilaku anak-anak kecil adalah menyambut pengunjung. Hanya saja di sini, mereka tidak meminta permen, tetapi meminta pinsil. Entah siapa yang mengajarkan, kok, yang diminta ya pinsil gitu.

Penampilan anak-anak di sini lebih bersih.

Di sela-sela rumah tampak beberapa toren air kapasitas 5000 liter yang tersebar di beberapa tempat, sekaligus dengan WC dan kamar mandi bersama. Hasil bincang-bincang dengan seorang ibu, toren-toren air tersebut sumbangan mahasiswa dari kampus yang melakukan studi lapangan ke sini.

Di beberapa tempat tampak panel-panel energi surya dan parabola menyatu dengan tata letak rumah-rumah di kampung ini. Di teras-teras rumah beberapa perempuan menenun, suatu keahlian yang diwariskan turun-temurun warga kampung.

Ketika meninggalkan kampung ini ada kesan tersendiri bagi saya.

Kampung Adat Praijing boleh dibilang hingga tahun-tahun yang akan datang tetap dipertahankan sebagai Kampung Adat. Wisatawan datang silih berganti, mengamati, berbincang sebentar, memotret, lalu pergi lagi. Begitu setiap hari, seolah meninggalkan mereka di belakang.

Tetapi dengan adanya panel-panel energi surya dimana-mana, parabola, dan perilaku anak-anak yang meminta pinsil, serta air bersih mengalir, bagi saya merupakan langkah maju.

Pinsil bagi saya melambangkan, anak-anak ini mau menulis dan sekolah. Sepintas memang kampung ini cukup civilized.

Kampung Adat Prailiu

Kampung Adat Raja Prailiu (swipe untuk foto berikutnya)

Kampung berikutnya yang kami kunjungi adalah Kampung Adat Prailiu, sering disebut juga Kampung Raja Prailiu. Kampung ini lokasinya di tengah-tengah kota Waingapu, ibukota Kabupaten Sumba Timur. Tepatnya di kelurahan Prailiu, kecamatan Kambera, hanya sekitar 5 menit saja dari pusat kota Waingapu. Menurut sejarah, Prailiu merupakan ibukota kerajaan Lewa Kambera.

Waktu itu kami mampir ke sini sebelum meneruskan perjalanan ke Bukit Tanarara.

Begitu masuk area kampung ada beberapa kubur batu, yang menurut penjelasan guide, merupakan kuburan raja.Kami diterima oleh Ketua Adat bernama bapak David. Sebetulnya ada nama asli Sumbanya, tetapi saya tidak mencatat.

Dalam struktur masyarakat adat ada yang namanya ketua adat dan ketua kampung. Kami diterima di teras sebuah rumah yang cukup besar.

Keramahtamahan warga Prailiun (swipe untuk foto berikutnya)

Ketua Adat dengan ciri khasnya menawarkan sirih pinang sebagai tanda keramahtamahan menerima kami sebagai tamu. Rasanya ada di antara kami yang mencoba mencocol daun sirih ke kapur. Sambil berbincang-bincang menjelaskan kondisi kampung, Ketua Adat dengan bangga menjelaskan bahwa mata pencaharian kampung ini dari tenun ikat.

Memang juga, sambil mengobrol, istri pemilik rumah dibantu beberapa warga menggelar sejumlah kain tenun ikat dan kalung serta gelang khas Sumba.

Tenun ikat Sumba Timur berbeda dibandingkan Sumba Barat.

Motif tenun ikat Sumba Timur lebih rumit dan bercerita. Sebagian besar melambangkan manusia sedang berperang, juga hewan misalnya kuda, ayam, udang, dan lain-lain. Juga lekukan alam, seperti padang savana. Harganya antara 400ribu hingga 7 juta rupiah, tergantung dari bahan bakunya, memakai benang katun atau sutra dan teknik pewarnaannya.

Bagi yang mengerti, tenun ikat berbahan pewarna alami, warnanya ya warna alami, coklat, biru, hijau, kuning, merah maroon, ungu, atau hitam.

Tidak ada yang berwarna ngejrenk atau mencolok, misalnya pink, merah cerah, atau oren neon. Jadi kalau teman-teman membeli kain tenun yang berwarna mencolok, kemungkinan besar memakai pewarna tekstil.

View this post on Instagram

Kalung

A post shared by tri wahyu handayani (@haniabd) on

siap transaksi

Sebelum pamit, saya dan beberapa teman meminta izin untuk masuk ke dalam rumah. Seperti lazimnya rumah adat di Sumba, pintu rumah ada di kiri dan kanan rumah. Perempuan masuk dari pintu sebelah kanan. Dapur terletak di tengah rumah dibatasi oleh empat kolom yang bagian atasnya diberi ukiran. Di salah satu sisi dapur ada tangga ke para-para rumah. Para-para rumah (ruang di bawah atap) merupakan tempat yang dianggap sakral tempat bersemayamnya Marapu, sekaligus juga sebagai tempat menyimpan barang berharga.

Kamar-kamar terletak di keliling rumah dibatasi oleh tirai. Zaman dulu, dalam satu rumah bisa dihuni oleh banyak keluarga. Di belakang rumah ada satu pintu, yang menuju ke belakang rumah. Oh ya, rumah-rumah tradisional yang ada di Indonesia, semuanya tidak ada yang berkamar mandi. Karena kamar mandi dianggap sebagai daerah kotor, jadi letaknya terpisah dari rumah. Atau bisa jadi, zaman dulu ya, lari ke sungai lah …

Setelah cukup melihat-lihat dalam rumah, kami pun pamit ke Ketua Adat, sekaligus foto bersama.

Kesan saya terhadap kampung Adat Prailiu? Warganya pede, percaya diri dan terpelajar. Pada kesempatan yang hanya sebentar, mereka sempat membahas situasi politik dan ternyata cukup bijaksana menilai kondisi negara kita. Mungkin karena masih ada rasa kebanggaan sebagai keturunan raja Sumba. Entahlah …

Nah, teman-teman, itulah jalan-jalan saya dari kampung adat ke kampung adat di Sumba. Masih ada sebenarnya kampung-kampung adat yang lain dengan ciri rumah Menaranya.

Mungkin kesempatan yang lain deh. Siapa tahu saya ke sana lagi.

Sumber:

Solihin, Lukman; 2018; Uma Mbatangu – Arsitektur Tradisional Sumba di Kampung Adat Ratenggaro; Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan

Bandung, 5 November 2019

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 Komentar

  1. nggak heran sih, di sumba banyak kampung adatnya. pernah baca, bahkan di tiap sukunya masih ada lagi yang membedakan satu sama lain. Rumah adat menara unik juga, gimana ya cara masyarakat membangun rumah ada tersebut.

    1. Iya tiap kampung ada bedanya, kadang sedikit bedanya. Kecuali yg di Ratenggaro ini, memang tinggi banget. Bikinnya gotong-royong rame²…
      Makasih ya sudah mampir…

  2. Senangnya ya bunda bisa berjalan-jalan keliling nusantara, mengenal berbagai rumah adat di indonesia. Jadi pingin saya hehe.
    Suka dengan arsitekturnya yang unik rumah adat Sumba ini. Tertarik dengan penempatan pintu yang berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Setiap detil rumanya mengandung filosfofi.

  3. Indah banget ini pasti Sumba dan aku baru tau kampung adatnya ga kalah menarik. Tulisannya lengkap banget bunda, aku jadi tau banyak hal baru. Keliling Indonesia emang jadi hal seru yang dilakuin ya. Semoga bisa kaya bunda nih kapan-kapan bisa jalan-jalan keliling Indonesia terutama ke Sumba

  4. Begini deh kalau bu dosen arsitektur yang jalan-jalan, nggak hanya terlihat keindahan tapi juga konstruksi bangunan berikut kajian yang kemudia mengarah pada filosofinya. Keren, bun… artikelnya lengkap pula… jadi tahu banyak setelah baca ini. Thanks ya bun

  5. Cakep banget jalan-jalannya Aki Nini. Sampek tak tunjukin Pak Bas,pokoknya pengin kayak Mbak Hani dan Pak Didit, hehehehe.

    Btw, Mbak. Galfok sama anak-anak itu. Kalau minta permen sih wajar lah ya. Lha ini pinsil, buat koleksi apa ya? Kekeke

    1. Kami ya engga siap. Engga duga diintili bocah², ngereng minta permen. Nah, malah minta pinsil. Temenku nanya sih, untuk apa pinsil? Buat sekolah, katanya…