Masjidil Haram

  • Whatsapp

Catatan:

Artikel ini merupakan kisah perjalanan Umroh saya bersama suami yang bergabung dengan sebuah biro perjalanan Umroh di Bandung. Kisahnya sudah di tahun 2015 yang lalu dan sudah pernah tayang di blog yang lama. Walaupun demikian tak ada salahnya saya membagikan lagi kisah perjalanan religi kami.

Muat Lebih

Ibadah Umroh

Tahun ini merupakan rizki tak terkira dari Allah swt, dapat melaksanakan ibadah umroh bersama suami, setelah sepuluh tahun sebelumnya kami pergi haji. Waktu itu kami melakukan niat umroh dan miqot di pesawat, kira-kira di atas kota Taif, satu jam sebelum pesawat mendarat di Jeddah. Perjalanan Jeddah ke Makkah tak terasa, sambil terus bertalbiah.


“Labbaikaallohummalabaik. Labbaikalaa syariikala kalabbaik. Innalhamda wanni’mata lakawalmulk laasyariikalak”…

Kakbah

Tawaf

Berkunjung ke Baitullah, memasuki Masjidil Haram, Masjid al-Haram atau al-Masjid al-Haram yang sangat luas dan sedang diperluas lagi, melihat Kakbah berselimutkan khiswah hitam, sungguh sanggup meruntuhkan air mata dan menyelimuti keharuan sampai ke relung hati. Do’a khusus dipanjatkan begitu melihat Kakbah dan mulailah kami melakukan proses umroh.
Tawaf sebanyak tujuh keliling, dengan tatacara yang sudah disampaikan oleh Ustadz pembimbing, do’a sesudah tawaf menghadap ke Multazam, kemudian shalat dua rakaat di belakang Maqom Ibrahim.
Area di pelataran tawaf ternyata tidak terlalu ramai, mungkin karena kami melakukan tawaf di waktu dhuha.
Matahari mulai bersinar, dan sepertinya orang baru pulang selesai sholat shubuh atau qiyamulail di Haram.

Sesaat setelah Tawaf

Sa’i

View this post on Instagram

#sai #safa #umra #visitharamain

A post shared by tri wahyu handayani (@haniabd) on

Sa’i dimulai dari Bukit Safa

Sebelum melanjutkan sa’i, kami menyempatkan minum seteguk dua teguk air Zamzam yang melegakan. Dimana-mana memang tersebar tempat-tempat penampungan air Zam-zam, sehingga kami bisa menyimpannya dalam botol untuk disimpan di tas. Ada pilihan air biasa dan air es. Saya lebih memilih air biasa, air es bisa-bisa saya nanti batuk.

Sa’i yaitu berlari-lari kecil seperti yang dilakukan oleh Siti Hadjar ketika mencari air untuk putra tersayang. Kami lakukan sebanyak tujuh kali bolak-balik dari bukit Safa ke Marwah, hanya saja kalau perempuan boleh sambil berjalan biasa. Do’a dipanjatkan di bukit Safa sebagai titik awal mulainya sa’i. Di bukit Marwah, suami telah menunggu, karena keharusan para pria berlari-lari kecil membuat saya tertinggal di belakang.

Putaran pertama masih berjumpa suami, setelahnya kami melakukan sa’i masing-masing saja. Jauh lebih cepat daripada saling menunggu. Pun saya takut keliru dengan pria berihrom yang dari belakang banyak yang serupa dengan suami. Daripada salah gandeng. Setelah seluruh prosesi sa’i selesai, kami berkumpul di bukit Marwah dan melakukan tahalul.
Selesailah proses umroh kami.

Masjidil Haram

Masjidil Haram masih tahap renovasi, foto tahun 2015 di Eastern Piazza.
King Fadh Piazza di bawah Menara Movenpick di latar belakang.

Hari-hari selanjutnya yang kami lakukan adalah bolak-balik ke Masjidil Haram. Tiada yang lebih mengharukan selain shalat Shubuh di Haram.
Kami selalu melakukan tawaf terlebih dahulu sebelumnya. Area favorit kami adalah lantai kesatu bangunan sementara untuk tawaf (lower temporary ring). Area tersebut tidak terlalu sesak, dan kalau siang tidak panas. Bisa terjadi, di tengah kami tawaf, adzan berkumandang, tanda kami harus segera mencari spot terbaik untuk shalat.

menunggu saat shalat Subuh di area temporary ring

Teman-teman yang pernah melihat desain Masjidil Haram, masjidnya didesain mengelilingi Kakbah dan area tawaf. Sementara dalam pembangunan, pemerintah kota Makkah masih menambahkan cincin bertingkat dua antara Kakbah dan bangunan masjidnya, difungsikan untuk tawaf. Bila melihat update pembangunan Masjidil Haram, sepertinya temporary ring ini sudah dibongkar.

foto udara ketika masih ada temporary ring

Secara otomatis, area tawaf berbentuk lingkaran ke arah Kakbah ini terbagi dua. Area depan dekat dengan pagar adalah area ikhwan, kemudian menyisakan sedikit area tawaf bagi yang masih ingin melanjutkan tawaf sampai qomat. Masih cukup waktu sebetulnya untuk menyelesaikan tawaf, karena adzan Shubuh dikumandangkan dua kali. Jarak adzan sampai qomat kira-kira 30-45 menit lagi. Oleh sebab itu area akhwat mengatur sendiri selepas area orang lewat untuk tawaf sampai pagar belakang.

Masjidil Haram kali ini memang jauh berbeda dibandingkan sepuluh tahun yang lalu. Dulu kami menginap di Jarwal, 2,5 km di Utara masjid dan arah kedatangan kami dari gerbang King Abdul Aziz. Tahun2015 ini kami menginap di timur kota Makkah, untuk sampai ke masjid harus memakai bis shuttle 3 menit melalui terowongan.
Gerbang King Abdul Aziz pun ternyata sudah dibongkar, sehingga masuk ke masjid dari plaza sebelah Timur dimana pembangunan besar-besaran sedang dilakukan. Untuk masuk ke area shalat kami harus memotong jalur jamaah yang sedang melakukan sa’i.

Oh ya, yang membuat berbeda lagi antara dulu dan sekarang, kala berhaji, jamaah dilarang berfoto sama sekali di sekitar Masjidil Haram. Kalau ketahuan askar, kamera kita akan disita. Selain itu waktu itu belum musim ponsel android. Itu sebabnya, kami nyaris tak punya foto waktu ibadah haji.

Perluasan Masjidil Haram

Sebelum kami berangkat umroh, berbagai informasi kami peroleh dari teman-teman yang pulang dari umroh. Terutama tentang kondisi Masjidil Haram yang sedang dibangun tersebut.
Salah satu informasi penting adalah pintu masuk ke masjid hanya satu, yaitu pintu nomor 79.
Dan masjid tidak bisa dikelilingi lagi seperti dulu.
Terus terang sejak dari Indonesia, saya penasaran dengan menara jam yang luar biasa besar, ada yang menamakan Zamzam Tower, ada pula Mecca Tower dan lain-lain. Yang saya tahu gedung berjam tersebut adalah hotel bintang lima. Konon jamaah umroh atau haji bila dapat menginap di hotel tersebut merupakan kebanggaan tersendiri. Padahal, yang utama, ya ibadahnya itu sendiri, haji atau umroh.

Anak saya menamakan menara tersebut, menara Sauron, mirip di film “Lord of the Ring”. Belakangan saya baru tahu bahwa gedung itu adalah Hotel Movenpick. Hotel kami di sebelah Timur masjid, dan kami hanya bisa masuk ke masjid dari pelataran Timur (Eastern Piazza), atau dari pintu Marwah. Waktu itu tidak ada tanda-tanda nomor pintu.

Entah sekarang.
Beberapa kali kami mencoba mengelilingi masjid mencari sisi yang lain ternyata tidak bisa. Jalan ditutup dan tidak ada petunjuk untuk sampai ke pelataran di bawah hotel Movenpick, si Menara Sauron tersebut.

Sehari sebelumnya kami sempat ke museum Kakbah, mendapat informasi bahwa perluasan masjid akan selesai di tahun 2020, hotel Movenpick tidak ada dalam maket. Tentu saja tidak ada, hotel tersebut bukanlah bagian dari masjid. Hanya bentuknya saja yang luar biasa besar, sehingga focal point kota Makkah menjadi ke gedung tersebut. Entah, apa yang menjadi pertimbangan ahli tatakota Makkah, mengijinkan membangun gedung berskala besar mengalahkan skala masjid, selain pertimbangan menampung umat Islam sebanyak mungkin.

Gerbang King Fad

View this post on Instagram

view to #KingFad #gate #piazza

A post shared by tri wahyu handayani (@haniabd) on

shalat di pelataran masjid, depan Gerbang King Fadh

Ternyata, gerbang yang diceritakan teman saya, gerbang nomor 79, adalah gerbang King Fad. Jadi, kami harus masuk dahulu ke area tawaf, mengikuti jamaah yang tawaf sampai ke petunjuk arah keluar ke gerbang King Fad (exit to King Fad gate).
Menyusuri jalan, naik tangga, ikuti anah panah, sampailah kami ke area shalat yang sangat indah dari Masjidil Haram.
Inilah area yang kami cari dan rindukan selama dua hari di Makkah.
Seingat kami, inilah area shalat masjidil Harram.
Arsitektur Islam dengan gaya Moor, dengan ornamen arabesque dan lafaz Allah dimana-mana.
Karpet empuk dan tabir atau batas khusus untuk akhwat.
Sepuluh tahun bukan waktu yang pendek, tetapi sepuluh tahun tidak menghapus ingatan kami akan masjid indah ini.
Akhirnya kami menemukan gerbang nomor 79 tersebut, dan sampailah kami di pelataran utama masjidil Harram, King Fad Piazza.
Hotel Movenpick berada di seberang pelataran.

Sholat di dalam Masjidil Haram

Waktu itu menjelang shalat Ashar, matahari sore bersinar cerah. Tidak sedikit jamaah yang duduk-duduk di pelataran bersama keluarga atau kelompok menikmati jajanan atau minuman hangat.
Beberapa diantaranya sholat sunnah.
Kami sempat jalan-jalan menyusuri mal yang ada di semua lantai dasar hotel-hotel di seberang pelataran. Tak ada bedanya dengan mal-mal yang ada di belahan dunia manapun. Bedanya, kalau di Makkah, waktu shalat toko akan tutup. Dan tentu saja Superstore Bin Dawood, yang terkenal di antara jamaah Indonesia, sebagai tempat tujuan mencari oleh-oleh.
Adzan Ashar berkumandang, jadilah kami sholat di pelataran masjid, karena untuk sholat di dalam masjid sudah tidak memungkinkan. Masjid ditutup dan dijaga askar.

Begitu selesai shalat Ashar, kami bergegas berusaha memasuki masjid, menyelinap di antara jamaah yang berdebat dengan askar yang masih menjaga pintu. Kami melihat pintu nomor 84 agak lega, kami menaiki escalator, jalan apapun kami telusuri, karena ingin shalat di dalam masjid.
Sampailah kami ke area shalat beralaskan karpet, berhiaskan langit-langit berornamen indah. Semula saya duduk sekenanya, kemudian ada petugas yang mengarahkan saya untuk duduk di area akhwat bertabir kuningan indah.

Menunggu waktu magrib tak terasa sambil membaca Al Qur’an yang tersedia rapi di rak-rak. Seperti lazimnya semua area akhwat, banyak anak-anak kecil yang dibawa ibunya turut shalat di masjid. Ada yang tertib, ada yang tidur, ada yang sambil disuapi, banyak juga yang menangis.

shalat di dalam Masjid

Hari-hari berikutnya, sesudah tawaf, menjelang shalat, kami justru menuju area shalat di lantai dua ini. Melawan arus jamaah yang masuk ke masjid dari pelataran King Fad, yang bergegas akan tawaf.
Berbeda bila shalat di area tawaf, shalat di dalam masjid kami tidak melihat Kakbah dan agak lebih sepi dibandingkan shalat di sekitar area tawaf. Walaupun demikian ada aura yang luar biasa dan terasa menentramkan bila shalat di dalam masjid. Apalagi mendengarkan suara adzannya, tak terasa mata terasa hangat karena terharu. Suara adzan Masjidil Haram itu menggetarkan lah…

Empat malam rasanya kurang, empat malam rasanya tidak puas untuk tidak selalu shalat di Masjidil Haram, masjid yang terasa gagah dan maskulin.

Mungkin benar kata Ustadz, bahwa kota Makkah al Mukarromah, dulunya kota bertanah subur, kemudian dilaknat Allah, bumi dibalik menjadi batu karang, yang menjadi latarbelakang Masjidil Haram dan semua bagian kota Makkah.

Selamat tinggal Makkah, ijinkan kami berkunjung ke Baitullah lagi…

Bandung, 11 November 2019

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 Komentar

  1. Masya Allah… Rindu bangettttt ke Tanah Haram… Semoga kita diizinkan oleh Allah Swt kembali beribadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi ya Bun…

  2. Ya Allah, Bun …kalau baca perjalanan yang sedang beribadah haji atau umroh rasanya ikutan baper. Ingin rasanya segera bisa ke sana. Semoga saya bisa juga beribadah ke tanah suci ya, Bun. aamiin

  3. Kangeeeen kembali ke masjidil haram. Salat berjamaah dengan jutaan umat Islam, tawaf, dan sa’i.
    Huuu…rasanya mau langsung terbang deh. Foto-fotonya ciamik tuh mbak.

  4. Perbandingan yang beda sekaliya..10 tahun berjarak dari haji ke umroh sudah demikian banyak berubah suasana dan failitas beribadahnya.
    Semoga dimampukan beribadah lagi ke tanah suci ya Mbak Hani

  5. Masya Allah, setiap membaca kisah perjalanan ibadah umroh ke tanah suci dada ini rasanya haru, rindu semakin membuncah. Semoga ada rezekinya bisa berziarah kesana bersama keluarga. AAmiin

  6. Jadi teringat 2 tahun lalu Mbak. Alahamdulillah saya bersama suami dan ibu berkesempatan mengunjungi Baitullah. Memang benar, setiap waktu dalam perjalanan ibadah umroh adalah doa. Apalagi saat berada di dalam masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Ya Allah, isinya cuma nangis aja. Semoga Alla h berkehendak memanggil kami kembali, aamii.