Tiga Unsur Budaya Pada Masjid Merah Panjunan, Cirebon

  • Whatsapp

Teman-teman, sudah pernah tahu belum, ada sebuah masjid yang hampir semua dindingnya berwarna merah? Bila belum, ayuk ikut ke Cirebon. Kita sama-sama belajar cagar budaya di sana, salah satunya adalah Masjid Merah Panjunan.

Masjid Merah Panjunan terletak di sudut jalan Panjunan/Kenduruan, Kecamatan Lemahwungkuk, kota Cirebon. Masjid ini sudah sangat tua, didirikan tahun 1480 M. Bila dihitung, usia masjid tersebut sudah lebih dari 500 tahun.

Muat Lebih

Disebut masjid merah atau Masjid Abang, karena warna merah dari dinding bata yang menjadi material utama masjid. Sementara nama Panjunan berasal dari kata anjun yang berarti tanah liat atau gerabah. Pendirinya adalah Syarif Abdurrahman al-Baghdadi atau Pangeran Panjunan. Menilik namanya, beliau memang berasal dari Bagdad-Iraq, imigrasi ke Indonesia bersama saudaranya dan berguru agama Islam ke Sunan Gunung Jati. Beliau selain mengajarkan agama Islam juga mengembangkan kerajinan gerabah yang terkenal di masa Kesultanan Cirebon.

Begitu kita sampai di lokasi, terlihat bahwa Masjid Merah Panjunan dikelilingi oleh pagar bata merah setinggi 1.5 meter dengan ketebalan 40 cm. Untuk masuk ke area masjid harus melalui gapura yang berbentuk mirip candi Hindu-Buddha. Di dinding pagar berdiri papan nama bahwa Masjid Merah Panjunan merupakan bangunan cagar budaya.

gerbang mirip candi

Pengertian Cagar Budaya

Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan Kawasan cagar budaya di darat dan/atau air yang perlu dilestasikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, Pendidikan, agama, dan atau kebudayaan.

Jadi Masjid Merah Panjunan ini telah dilindungi oleh UU no 11 tahun 2010 dari bahaya kepunahan dan harus dilestarikan.

Arsitektur Masjid Merah Panjunan

Begitu melangkah ke halaman masjid hanya seluas 10 X 1 meter. Selanjutnya ada beberapa ruangan, di antaranya ruang shalat utama, serambi, tempat wudhu, dan serambi serta bilik tambahan di sisi selatan masjid. Awalnya bangunan ini merupakan sebuah mushala Al-Athyah seluas 40 meter persegi, kemudian setelah berkembang menjadi masjid, luasnya menjadi 150 meter persegi.

masjid merah panjunan
denah masjid panjunan

Teman-teman, coba perhatikan denah Masjid Merah Panjunan di atas. Bentuk denah berupa empat persegi panjang dan terbagi menjadi ruang shalat utama dan serambi. Untuk memasuki ruang shalat utama dari serambi timur, terdapat pintu gerbang yang sehari-hari juga dimanfaatkan sebagai mihrab. Ada pintu yang sangat kecil di antara gerbang yang berbentuk gapura. Untuk melewatinya kita harus menunduk sebagai tanda kerendahan hari kepada Allah swt. Ruang shalat utama juga bisa dicapai dari sisi selatan, area serambi selatan. Satu pintu lainnya terdapat di sisi utara dari tempat wudhu.

Ada dinding pembatas setinggi 1.5 meter antara ruang shalat utama dan serambi timur. Dinding pembatas ini pun terbuat dari susunan bata merah yang cukup tebal. Konon, teknik membangun dinding bata merah ini tanpa menggunakan semen atau bahan perekat lain, tetapi hanya dengan cara menggesekkan batu satu sama lain hingga menempel. Dinding yang dibangun dengan teknik ini dikenal nama kuta kosod.

Untuk menjaga kelestarian Masjid Merah Panjunan, ruang shalat utama yang beratap tajug tumpang dua ini hanya dibuka setahun dua kali, yakni saat pelaksanaan shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Sehari-sehari kita hanya bisa shalat di serambi yang beratap bentuk limasan, maka gapura berpintu kayu pun menjadi mihrabnya. Adapun mihrab utama berwarna putih dengan bagian atas berbentuk relung setengah lingkaran.

Struktur Atap Tajug

masjid merah panjunan
atap tajug

Walaupun ruang shalat utama tidak dibuka, kita masih bisa mengamati kemegahan struktur atap tajug payung agung yang megah. Strukur atap ini ditopang oleh 4 buah sakaguru dari kayu jati berpenampang lingkaran dengan ornamen di bagian bawah serta ornamen susunan kayu di bagian atas. Kolom-kolom penopang struktur tajug dihubungkan oleh balok-balok melintang, kemudian tampak susunan kasau berjajar rapi memuncak di bagian tengah. Penutup atap dulunya terbuat dari genteng berwarna hitam. Tetapi sekarang sudah direnovasi memakai material baru.

Keunikan gaya arsitektur Masjid Merah Panjunan ini terletak di gabungan berbagai budaya yang berkembang saat itu. Ada tiga unsur budaya, yaitu Hindu-Buddha, Islam, dan Cina. Gaya ornamen Cina dikenali dari beberapa keramik buatan Cina yang menempel pada dinding. Konon piring-piring keramik ini merupakan bagian dari hadiah ketika Sunan Gunung Jati menikah dengan Tan Hong Tien Nio. Keunikan lainnya adalah, di masjid ini menentukan waktu shalat masih dengan cara melihat bayangan matahari yang dinamakan istiwaq.

ornamen dan keramik Cina

Bagaimana, menarik, bukan? Kalau teman-teman akan berwisata religi mengunjungi Masjid Merah Panjunan, lokasinya tak jauh dari jalan raya Karanggetas, kemudian masuk ke dalam gang sepanjang 100 meter. Mencarinya mudah, karena areanya sering disebut Kampung Arab atau Kampung Wali dan masih banyak bangunan lama di sekitarnya.

Daftar pustaka:

Budi, Bambang Setia; 2017; Masjid Kuno Cirebon; Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia; Bandung.

Fanani, Achmad; 2009; Arsitektur Masjid; Penerbit Bentang; Yogyakarta

Bandung, 20 Desember 2019

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 Komentar

  1. bangunan zaman dahulu sudah berkonsep matang. Dalam dan penuh ke _Tuhan – an sekali. Membimbing umatnya untuk lurus mengikuti ajaran. Hebatnya lagi, dengan bahan sederhana dan perlatan sederhana para arsitek dan pemikir mampu membangun bangunan yang bertahan ratusan tahun. Perlu di jaga terus ya kak

  2. Wah bisa liat penentuan waktu solat pakai bayangan ya mba.. pernah diajarin juga sama ibuku klo pas pengen solat awal tapi agak samar denger azan.. baru tau sunan gunung jati pernah menikah sama gadis tionghoa

  3. Kayaknya aku pernah kesini deh kak tapi aku lupa ahah. Soalnya waktu kunjungan ke Cirebon sempet mampir untuk solat tapi aku lupa masjid yang mana. Masjidnya masyaAllah bagus dan penuh nilai sejarah ternyata yaa kak, InshaAllah kalo mampir ke Cirebon lagi mau mampir kesini 🙂

    1. Cantik banget masjidnya Bun, warna merah dari bata yang digunakan ya, beruntung kalau bisa menikmati keindahannya…pengen lihat deh..

  4. wah kebetulan kemarin saya habis dari Cirebon, tapi sayangnya tidak tau kalau ada masjid merah ini. Di Cirebon memang masih banyak ya wisata cagar budaya seperti ini. Desainnya juga unik, ada campuran dari beberapa budaya. Kapan-kapan kalau ke Cirebon lagi mau mampir kesini