12/07/2020

Penginapan Berbasis Marketplace Setara Hotel

Akhir-akhir ini dengan adanya ponsel pintar banyak aplikasi yang bisa kita install ke dalamnya. Mulai dari game, pemesanan fastfood, platform blog, platform penulisan dan keuangan, booking berbagai tiket, hingga akomodasinya sekalian. Bila kita mengenal aplikasi Gojek, yang awalnya aplikasi untuk motor, kemudian berkembang menjadi marketplace yang lebih luas. Bagi yang sering bepergian, sekarang ada penginapan berbasis marketplace setara hotel berbintang, yang pemesanannya pun melalui aplikasi.

Sejarah Penginapan Berbasis Marketplace

Bagi teman-teman yang sering bepergian, entah untuk urusan pekerjaan atau wisata, pemesanan akomodasi biasanya berupa hotel, resort, guesthouse atau losmen. Tentunya jenis, standar, dan harga sewa tergantung dari lokasi dan kelas hotel tersebut. Hotel sekelas budget hotel tentunya berbeda dengan hotel bintang lima. Website pemesanan hotel, misalnya booking.com, Agoda, Klikhotel, adalah beberapa contoh dari website yang menampilkan berbagai pilihan hotel dengan berbagai bintang, lokasi, dan harga.

Ribuan hotel dari berbagai kota dan negara terdaftar kedalam website-website tersebut. Beberapa bahkan menawarkan diskon untuk menarik konsumen.

Kira-kira akhir tahun 2007, Brian Chesky bersama temannya, Joe Gebbia mempunyai ide menyewakan ruang dalam apartemennya untuk orang-orang yang akan hadir pada suatu event di kota San Francisco.
Seperti kita ketahui, pada beberapa event yang diselenggarakan di suatu kota, hotel-hotel sering fully booked. Fasilitas yang ditawarkan oleh Brian Chesky mulanya hanyalah kasur air, atau Air Bed. Kemudian berkembang dengan menyediakan sarapan, atau Breakfast. Oleh sebab itu situs mereka kemudian bernama Airbnb, dari Airbed and Breakfast.

brian chesky, marketplace hotel
Brian Chesky, Co-Founder Airbnb

Start up bisnis mereka kemudian menarik YCombinator, sebuah perusahaan incubator bisnis, untuk memberikan pelatihan dan pendanaan.
Sampai sekarang Airbnb telah melebarkan sayapnya bukan hanya menyewakan kamar untuk menginap, tetapi hingga rumah, apartemen, kapal pesiar, dan lain-lain. Pihak-pihak yang bergabung pun sudah lebih dari 500.000 rumah dan kamar, melayani lebih dari 8,5 juta orang di 33.000 kota, di 191 negara termasuk Indonesia. Data hingga tahun 2018, tercatat, setiap malam ada dua juta orang yang menginap di cabang-cabang Airbnb.

Sebenarnya seperti apa sih konsep Airbnb tersebut, sampai sempat diragukan keberhasilannya?
Konsep Airbnb sebenarnya hanyalah menyewakan kamar atau hunian bagi orang lain. Fasilitas yang ditawarkan mungkin mirip hotel, bahkan mungkin lebih dari hotel dengan standar sejenis, tetapi dimiliki perorangan dengan membayar sewa. Pemilik hunian yang bergabung melalui website Airbnb, maka pembayarannya melalui website, biasanya dengan kartu kredit. Pemilik hunian mendapatkan uang sewanya setelah konsumen menginap dan segala sesuatunya berjalan lancar.

Pro-kontra Penginapan Berbasis Marketplace

Awal munculnya Airbnb menimbulkan pro-kontra. Airbnb tentu saja berbeda dengan hotel, karena hotel intinya adalah sebuah perusahaan, ada manajemen, karyawan, ada standar yang harus dipenuhi, serta kualitas yang harus dipertahankan. Banyak ulasan dari pihak-pihak yang mengerti perhotelan berpendapat bahwa Airbnb sebetulnya adalah hotel illegal.
Karena apa?
Karena pelakunya adalah pribadi yang memiliki hunian kemudian berperan seolah-olah hotel.
Disisi lain data tamu dan kontribusi pajak tidak sertamerta membantu tingkat okupansi serta pendapatan daerah setempat.
Pada beberapa kasus di Eropa yang masyarakatnya mempunyai standar privacy tinggi, tentunya membuat tidak nyaman, bila ternyata tetangga mereka menyewakan kamar-kamar dengan konsumen yang berganti-ganti.

Lepas dari itu, bagi traveler, Airbnb menjadi pertimbangan pilihan akomodasi, biasanya karena lebih murah dari hotel.
Walaupun ada penelitian yang membandingkan beberapa kota, bahwa ternyata tidak semua Airbnb lebih murah daripada menginap di hotel.
Selain itu, area atau kamar yang disewakan oleh pemilik terbatas, maka akomodasi melalui Airbnb menjadi pilihan untuk mendapatkan pengalaman tinggal bersama keluarga dengan suasana homey.
Lihat saja, motonya adalah “Serasa di rumah dimana saja”.

Berbagai Pilihan Penginapan Berbasis Marketplace

Diawali dari Airbnb ini, ternyata bermunculan penginapan konsep sejenis yang berbasis marketplace di negara lain dengan model yang mirip.

OYO

website marketplace oyo
Website OYO

OYO berasal dari singkatan kata On Your Own, didirikan tahun 2013 di India. Konsepnya mirip dengan Airbnb diawali dari menyewakan kamar-kamar kemudian tumbuh menjadi perusahaan manajemen hotel terbesar ke-tiga di dunia. Properti yang bergabung dengan OYO mencakup lebih dari 23.000+ hotel di 800+ kota di 18 negara di seluruh dunia. Meliputi hotel, rumah, tempat tinggal dan ruang kerja.

AIRY

website marketplace airy room
Website Airy Rooms

AiryRooms merupakan Accomodation Network Orchestrator (ANO) yang bermitra dengan berbagai hotel budget terbaik di seluruh Indonesia. Berbeda dengan Airbnb konsep AiryRooms adalah konsep Virtual Hotel Operator — selanjutnya disebut VHO — dimana VHO tersebut bermitra dengan pemilik hotel untuk mengelola serta membantu penjualan kamar hotelnya.

RedDoorz

website marketplace reddoorz
Website RedDoorz

RedDoorz didirikan pada tahun 2015 dan berbasis di Singapura. Menurut data manajemen hotel dan pemesanan kamar berbasis aplikasi ini merupakan yang tercepat dan terbesar di Asia Tenggara. Dengan lebih dari 1000 properti di Asia Tenggara, visinya adalah mempermudah orang untuk bepergian dan menyediakan sebuah penginapan yang terpercaya, terjangkau di banyak kota besar dan destinasi.

Kolaborasi

Sekarang semuanya serba kolaborasi. Perusahaan hotel yang semula menganggap penginapan berbasis marketplace ini saingan tidak legal, berujung kerjasama. Website sekelas Booking(dot)com, Agoda, Klik Hotel pun memberi tempat untuk hotel-hotel budget yang bergabung dalam marketplace, ada dalam pilihan hotelnya.

kolaborasi hotel & marketplace
Pilihan hotel budget RedDoorz dan
OYO di aplikasi Booking.com

Selain itu manajemen hotel pun hampir semuanya membuat aplikasi yang bisa diunduh di Playstore untuk memudahkan konsumen melakukan pemesanan melalui ponsel pintar. Termasuk OYO yang semula fokus pada budget hotel, sekarang juga menawarkan guest house hingga hotel bintang lima pada pilihan kamar-kamarnya.

Nah, terserah konsumen, mau memilih yang mana …

Bandung, 7 Februari 2020

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

37 thoughts on “Penginapan Berbasis Marketplace Setara Hotel

  1. Konsumen semakin banyak pilihan dengan persaingan harga yg tentunya semakin ramah di kantong dengan banyaknya market place hotel ini ya mba.

  2. Kami saat ke eropa dulu pakai Airbnb, Mbak
    Dan uniknya di sana ga semua ada PIC yang menemui kita. Seperti saat di Paris, kami mengambil kunci di mailbox apartemen yang kami sewa dan mengembalikan di tempat yang sama saat check out. Sesimple itu.
    maka suka menginap di penginapan berbasis marketplace begini. Praktis dan ekonomis

  3. Yup, sebelum airbnb, oyo dll muncul, saya sering greget dengan mahalnya kamar hotel
    Karena seorang teman yang punya usaha open trip bilang, dia bisa mendapat diskon lumayan gede. Apalagi kalo week day
    Untunglah sekarang semua terpecahkan

  4. Akhir bulan kemarin abis nginap di OYO dengan harga yang terjangkau banget malah pernah dapet promo cukup bayar 19ribu saja. Hadirnya maretplace hotel seperti ini tentunya menuntungkan konsumen ya, banyak pilihan tinggal menyesuaikan dengan keinginan dan budget

  5. Jujur, saya belum pernah nyoba buat booking penginapan lewat marketplace. Padahal banyak ya yang bisa dipilih, lain kali rasanya mau nyoba ah.

  6. Sejak ada penginapan marketplace gini jadi mudah banget kalo mau kemana-mana, ke pelosok yang susah hotel pun, sekarang bisa nemuin entah itu guest house atau penginapan lokal yang terjangkau, dan selama ini nyoba Alhamdulillah nyaman-nyaman aja untuk stay 1-2 hari selama liburan.

    Ternyata penggagasnya masih muda juga yaaa, keren keren sekarang anak muda serab hightech dan menciptakan karya brilian yang dibutuhkan orang banyak. Semoga anak-anak Indonesia juga makin banyak yang seperti ini

  7. Dulu aku kerja di salah satu dari jenis virtual hotel operator di atas tapi gak ada di list itu huhuhu. Memang membantu traveler banget sih karena bisa nginep nyaman dengan harga terjangkau.

  8. Sekarang jadi lebih mudah, ya, kalau mau booking hotel. Bisa cek dan ngebandingin sendiri. Sekalian bisa baca juga review dari yang pernah ngunjungin hotelnya. Soal harga Kita bisa pilih yang sesuai budget juga.

  9. Wah iyaa kak, aku juga kalo lagi traveling suka pesen hotel via marketplace, soalnya kadang suka banyak promo sih hehe *anaknya emang pemburu promo banget sik wkwk

  10. Aku belum pernah pake AirBnB, meski udah ada akun di situ. Menurutku, AirBnB itu cocoknya buat mereka yang bepergian secara kelompok atau dalam jangka waktu lama, atau di tempat yang jarang hotel. Mas bardiq(dot)com banyak menggunakan AirBnB untuk perjalanannya di Norwegia.
    Aku seringnya Booking.com karena interface-nya enak dan banyak pilihan.

    Entah dulu OYO gimana, tapi OYO sekarang seperti VHO. Kecuali lagi bener-bener ngirit atau cuma butuh tidur doang, aku sebisa mungkin menghindari VHO. Properti mereka gambling, kost pun bisa masuk. Lalu aku juga suka akomodasi yang sudah include sarapan, di mana biasanya nggak VHO sediakan.

  11. Memang deh masyarakat makin dimudahkan dengan makin maraknya market place penginapan2 murah seperti ini. Banyak promo pula pas deh pilihan keluarga terutama kita mamah2 yg milihnya hahahaha 😂 Ohhh begitu ya sejarahnya, jadi tau deh.

  12. Setelah baca tulisan ini saya jadi tahu deh sedikit banyak soal sejarah market place yang setara dgn hotel. Ternyata banyak pilihan ya. Bisa kita pilih sesuai kebutuhan. Dan saya belum pernah nyobain booking via market place yg disebutin diatas.tapi dari testimoni teman2 banyak yg bilang kl aplikasi market place penginapan tsb memang sangat membantu.

  13. Aku setengah patah hati dengan menggunakan AirBnB. Aku pernah mau mencoba AirBnB, tapi aplikasinya tidak mau menerima kartu kredit yang kami punya, dan tidak mau menerima pembayaran dari saldo Paypal-ku. Akhirnya aku menggunakan Agoda dan anehnya semuanya baik-baik saja.

  14. Aku sendiri terbantu banget dengan situs2 marketplace penginapan begini. Ya traveller berbudget rendah gini mesti pinter2 cari akomodasi murah tp nggak murahan. Xixixi.

  15. Iya..saat ini kian banyak pilihan dan beragam untuk menginap. Dengan adanya situs2 itu cukup membantu, karena lebih efisien. Disamping itu harganya pun cukup bersaing dan menawarkan banyak promo

  16. Aku baru pernah coba Traveloka dan Airy untuk booking kamar hotel, Minggu ini mau coba Oyo, semoga memuaskan ya…kamarnya sih oke dekat workshop batik Semarang Bun

  17. Berat banget bahasannya kak. Jauh banget ya perkembangan dunia hotel cukup pesat 10 tahun terakhir. Bookinh hotel lebih gampang dan banyak pilihan. Persaingan antar marketplace pun makin ketat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *