12/07/2020
kampung-naga

Kearifan Lokal Kampung Naga

Jawa Barat terkenal bukan hanya wisata alam dan kuliner, masih banyak jenis-jenis wisata lainnya. Salah satunya adalah wisata budaya, yaitu berupa belajar kesenian angklung, calung, membatik, menari, atau berkunjung ke kampung-kampung tradisional. Kampung Naga merupakan kampung tradisional yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, provinsi Jawa Barat.

Menuju Kampung Naga

Bila kita datang dari arah Bandung maka menuju Kampung Naga melalui kota Garut, sekitar 26 km, lokasinya tak jauh dari jalan raya Garut-Tasikmalaya. Dari pelataran parkir, harus turun ratusan anak tangga batu menuju lembah. Kampung ini memang terletak di lembah yang sisi selatannya merupakan lahan pertanian subur. Waktu itu saya bersama teman dosen dan rombongan mahasiswa menyusuri jalan setapak tepat di tepi sungai Ciwulan, menuju Kampung Naga. Di seberang sungai tampak bukit hutan yang sekaligus membentengi kampung. Hutan tersebut konon bernama Hutan Larangan, sehingga tak boleh sembarang orang ke sana. Tampak deretan rumah-rumah beratap ijuk terlihat di ujung jalan.

tugu-kujang-pusaka-ke-kampung-naga
Tuga Kujang Pusaka di pelataran parkir
tangga-ke-kampung-naga
Tangga menuju ke Kampung Naga
ratusan-anak-tangga-ke-kampung- naga
Ratusan anak tangga menuju jalan setapak
jalan-setapak-kampung naga
Menyusuri jalan setapak menuju Kampung Naga
sawah-subur-kampung-naga
Lahan persawahan subur
menyusuri-sungai-ciwulan-kampung-naga
Jalan setapak sepanjang sungai Ciwulan

Tata Letak Kampung Naga

ata-letak-kampung-naga
Saung tempat menumbuk padi
masjid-kampung-naga
Pelataran masuk ke Kampung Naga

Menjelang memasuki kawasan kampung di sepanjang jalan setapak terdapat kolam-kolam dan beberapa bangunan di atasnya. Ada yang terlihat kosong dan ada yang terlihat seperti bangunan KM/ WC. Seperti lazimnya pada tata letak kampung tradisional, KM/ WC tidak ada di dalam rumah.

Tak lama kami tiba di pelataran yang merupakan pintu masuk ke kampung. Deretan rumah-rumah semua beratap ijuk dan membujur arah Barat-Timur. Seluruhnya ada 105 rumah dengan bentuk atap merupakan cagak gunting. Dalam arsitektur tradisional Jawa Barat ada beberapa bentuk atap, cagak gunting ditandai dengan adanya bentuk bersilangan di ujung bubungan.

atap-cagak-gunting-kampung-naga
Atap Cagak Gunting

Di ujung pelataran ada dua bangunan besar, bangunan yang ada bedugnya dipastikan adalah Masjid. Warga Kampung Naga memang memeluk Islam walaupun ada ritual-ritual tertentu yang diwarisi leluhur mereka. Rombongan kami diterima di bangunan besar satunya yang merupakan bangunan pertemuan. Di sini kami diberi penjelasan sejak kapan Kampung Naga berdiri, adat istiadat dan kearifan lokal lainnya.

pelataran-kampung-naga
Susunan rumah menghadap pelataran sebagai ruang bersama
tetua-adat-kampung-naga
Diterima oleh Tetua Adat

Rumah Tinggal di Kampung Naga

Bila diperhatikan satu persatu rumah-rumah yang ada di sana, tiap rumah mempunyai dua pintu bersebelahan. Detail pintunya berbeda, karena salah satu merupakan pintu utama yang menuju ruang keluarga, sedangkan pintu satunya merupakan pintu dapur.

denah-rumah-kampung-naga
Dua pintu sejajar, tidak ada pintu belakang.
Supaya rizki masuk dari pintu depan tidak ke luar melalui pintu belakang.

Seluruh rumah di Kampung Naga menghadap Utara atau Selatan. Rumah merupakan rumah panggung, artinya tidak langsung di atas tanah, tapi ada umpak sebagai pondasi. Untuk masuk ke rumah ada teras kecil di depan pintu.

Hampir sebagian besar rumah tradisional di Indonesia merupakan rumah panggung sebagai antisipasi iklim tropis lembab. Sehingga di dalam rumah udara tetap bisa mengalir dari celah-celah lantai yang terbuat dari susunan bilah kayu atau bambu.

Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu dan tidak dicat tetapi dilabur dengan campuran kapur. Kuda-kuda ada yang menggunakan kayu ada yang bambu, sedangkan rangka atap merupakan susunan bambu yang diikat dengan tali ijuk.

Atap merupakan lapisan ijuk. Tak dijumpai struktur beton maupun semen di sini. Bahkan terasering (sengked) untuk menahan tanah merupakan susunan batu. Berbedaan letak tinggi rumah disusun sedemikan rupa hingga menyatu dengan alam dengan menyusun tangga batu disana-sini.

Kami tak bisa mengunjungi area di belakang kampung, karena merupakan area keramat tempat Bale Ageung berada. Yaitu bangunan khusus yang dikeramatkan oleh warga Kampung Naga.

bale-ageung-kampung-naga
Tangga batu menuju Bale Ageung
salah-satu-sudut-kampung-naga
Tiap rumah mempunyai dua pintu
kerajinan-kampung naga
Area penjualan hasil kerajinan
menganyam-kerajinan-di-kampung-naga
Menganyam di teras rumah
balong-di-kampung-naga
Ikan mas subur di kolam

Ritual vs Modernisasi di Kampung Naga

Tak ada yang tahu pasti sejak kapan Kampung Naga ini didirikan. Konon segala catatan sejarah tentang kampung terbakar habis kala pasukan DI/TII Kartosoewirjo, kira-kira tahun 1956. DI/TII adalah sebuah kelompok yang menginginkan berdirinya negara Islam Indonesia, membumihanguskan Kampung Naga.

Berikut beberapa ritual adat yang masih dijalankan hingga sekarang.

1 – Menyepi, hari menyepi adalah hari Selasa, Rabu, dan Sabtu. Tak ada penjelasan hari-hari tersebut merupakan hari menyepi. Pada hari tersebut dilarang membicarakan segala sesuatu yang berkaitan dengan adat.

2 – Hajat Sasih. Upacara Hajat Sasih merupakan berbagai ritual adat yang dilaksanakan sesuai dengan kalender Hijriah dan hari besar keagamaan Islam. Misalnya membersihkan makam leluhur, membangun rumah, mengganti atap ijuk, dan lain-lain.

Apa yang sekarang berjalan adalah menurut arahan tetua adat yang diwariskan dari lelulur mereka. Banyak pamali atau larangan tak tertulis yang dipercaya begitu saja, termasuk tidak memasuki Hutan Larangan. Sehingga secara tak langsung kepercayaan tersebut justru menjaga kelestarian hutan seluas 1,5 Ha ini. Istimewanya adalah warga Kampung Naga menolak modernisasi, itu sebabnya tidak ada listrik di kampung ini.

Walaupun demikian saya melihat ada beberapa spot-spot penangkap energi surya dan ponsel pun tidak dilarang. Menurut penjelasan warga, mereka khusus naik dulu ke pelataran parkir untuk mencharge ponsel mereka. Modernisasi memang tak terbendung, tetapi upaya warga Kampung Naga tetap teguh menjaga kelestarian lingkungan, merupakan kearifan lokal yang patut kita hormati juga.

Bandung, 17 April 2020

hani

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

21 thoughts on “Kearifan Lokal Kampung Naga

  1. Wah jalan menuju kampung Naga bagus sekali pemandangannya. Sawah terhampar luas, benar-benar menyejukkan pandangan. Rumahnya ini modelnya sama ya dan saling berhadapan ya…Suatu saat saya ingin juga berwisata ke kampung Naga ini…

  2. Senang melihat kearifan lokal Indonesia masih terjaga dengan baik. Kira2 ada tidak ya mba travel agent yang bisa membawa kami kesana ? Sepertinya kalau kesini minimal harus ada kendaraan pribadi..

  3. Menarik dan unik sekali cerita kampung naga ini, saya suka penjelasan detail mbak hani tentang struktur bangunan rumahnya. Salut dengan kegigihan masyarakat kampung naga yang menjaga kelestarian lingkungannya. Btw jika berkunjung ke kampung naga ini bolehkah secara individu mbak Hani?

  4. Duh bun, arsitekturnya masih tradisional banget. Hehehe. Saya pernah menginap di kampung kasepuhan ciptagelar, sukabumi selama 2 minggu. kurang lebih rasanya sama dengan Kampung Naga, hanya saja lebih lekat aturan adatnya. Menarik nih kapan2 kalo ngebolang ke Tasik.

  5. Waah jadi pengin main ke sana gan. Ternyata di jawa barat juga ada kampung yang masih menjaga kearifan lokal ya ditengah modernisasi yang berkembang pesat.

  6. Keren banget ternyata masih ada kampung yang menjaga betull tradisi dan kearifan lokalnya. Mudah-mudahan ada kesempatan kesana. Aamiin

  7. Jalan setapak di tepi Sungai Ciwulan itu kok ngademin banget yaa… pingin ke sana deh jadinya… memandang hamparan sawah yg hijau ranau. Masyaallah menenangkan hati ya

  8. Ternyata masih banyak kampung-kampung seperti ini ya Mbak, Kampung Naga ini masih sangat tradisional sekali, sepertinya seru bisa melihat budaya dan adat di daerah lain. Mbak Hani keren banget sering jalan-jalan gini XD

  9. Aku baru tau di Tasikmalaya ada yang namanya kampung Naga, aku paling tertarik sama denah rumahnya, ada area private, publik, dan semi publik. Bisa dijadiin referensi nih kalo mau bangun rumah nantinya.

  10. Duh jadi kangen ngebolang nih mba Han..btw modernisasi kp.Naga jg diperkenankan ya..walaupun adat istiadat tetap berjln…jadi bisa berjln beriringan antara budaya,tradisi dan modernisasi…btw mba itu hrs ikut trip ya klo masuk ke kp.Naga ? ato backpackeran bisa ga?

  11. Jadi ke ingetan peer mau ke baduy…yang belum kesampaian.. hampir serupa dengan kampung naga ini, masih menjaga dengan ketat tradisi mereka.. unik ya kak tinggal di negara kita… dan yg gini2 ini yg disukai turis asing…tapi biasanya akses ke kampung naga atau baduy.. masih terbatas…

  12. Sering denger tentang Kampung Naga, tapi belum pernah ke sana. Padahal lokasinya di Tasik gak jauh-jauh amat sih ya. Si Amat aja gak jauh, hehe…

    Lingkungannya masih asri, asli dan juga mulai modern.

  13. Bentuk rumahnya mirip dengan rumah lama di kampung aku.

    Tapi itu idah lama, waktu aku masih kecil.

    Masih asri dan biasanya atap ijuk itu membuat ruma adem saat panas.

    Semoga kamoung ttp terjaga keasliannya.

  14. oalah ternyata ada kampung naganya juga di Indonesia terlebih terletak di Gartu-Tasikmalaya wah wah pengen kesana deh karena tempatnya keren

  15. namanya keren. kampung naga. historinya kental banget nih kayaknya. rumahnya unik juga dan warganya sepertinya ramah tamah. btw kalau di dalam rumah gak ada wc gimana ya. ini nih yg bikin puyeng mikirnya . hehe…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *