27/05/2020
newnormal

The New Normal, Menyikapi Hidup Bersama CoViD-19

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) melalui Direktur Kedaruratan WHO, Dr. Mike Ryan, memperingatkan bahwa virus corona SARS-CoV-2 penyebab CoViD-19 mungkin tak akan pernah hilang meski vaksin telah ditemukan. Jadi kemungkinan besar kita akan terus berhadapan dengan virus CoViD-19 ini dan akhirnya membiasakan diri dengan perilaku yang sudah kita jalani beberapa bulan terakhir. Rasa sudah biasa dan kebiasaan baru inilah yang kemudian memunculkan istilah The New Normal, sebuah sikap hidup bersama CoViD-19.

The New Normal

Bila menilik dari Wikipedia, istilah the New Normal lebih diterapkan pada terminologi ekonomi dan bisnis. Istilah ‘New Normal’ pertama kali digunakan oleh Roger McNamee, “seorang investor teknologi”, yang mengulas dalam sebuah artikel oleh Polly LaBarre berjudul “The New Normal” di majalah Fast Company pada tanggal 30 April 2003. Menurut Roger McNamee, yang menciptakan istilah, ‘New Normal’ atau Normal Baru adalah suatu waktu dimana kemungkinan besar kita terbiasa aturan baru untuk jangka panjang.

Tetapi bagi orang awam seperti saya, istilah normal baru tersebut bisa saja diterapkan dalam kondisi apapun. Contohnya nih, seseorang yang tadinya belum menikah, dalam kondisi normal, pulang kantor bisa nge-mall dulu lalu sekalian makan sebelum pulang. Tetapi, bila baru menikah, kan ada kondisi normal baru, pulang kantor ya segera pulang ke rumah, menyiapkan makan malam untuk pasangan, sukur menyiapkan bersama pasangan.

Dikaitkan dengan adanya pandemi Covid-19, The New Normal adalah kebiasaan baru yang tadinya tidak dilakukan, lalu harus dilakukan. Semua orang harus jaga jarak, padahal tadinya kan ketemu teman langsung cipika-cipiki. Mau ke luar rumah wajib pakai masker, walaupun hanya ke ujung gang beli sayur, biasanya kan langsung meluncur. Mau mengajar, enak sih, tidak harus menyupir mobil ke kampus. Tapi jangan dikira lebih mudah mengajar via online begini. Mahasiswa juga lama banget belum mengumpulkan tugas, sampai harus di mention berulang kali. Alasannya gambar susah diupload atau koneksi internet lambat. Mirip sih alasannya dengan yang terlambat blogwalking di grup WA. Eh…

Setiap saat harus cuci tangan dan ke luar rumah memakai masker. Bahkan saya sering melihat, ibu-ibu belanja pakai sarung tangan plastik bening (untuk keperluan dapur a.k.a menguleni kue). Batuk dan bersin pun ada tata caranya.

Menyikapi Hidup Bersama Virus

Sebenarnya, kalau kita perhatikan penyakit-penyakit yang ada vaksinnya, penyakitnya kan masih ada hingga sekarang. Contohnya TBC, walaupun ada vaksin BCG yang diberikan pada bayi-bayi baru lahir, bakteri TBC ya masih ada di dunia. Begitu pula vaksin DPT untuk penyakit difteri, partusis, dan tetanus, bakterinya masih gentayangan. Pemberian vaksin yang sering disebut imunisasi, supaya memicu sistem kekebalan tubuh manusia untuk memproduksi antibodi. Dengan demikian mampu memerangi infeksi dari ketiga penyakit tersebut jika sewaktu-waktu menyerang. 

Ada pula virus-virus yang belum ada vaksinnya hingga sekarang, contohnya demam berdarah dengue (DBD) atau HIV-Aids. Supaya tidak terkena demam berdarah, makanya kita mempunyai standar perilaku mencegahnya. Selain membasmi nyamuk, ada istilah gerakan 3 M, yaitu menguras-mengubur-menutup. Ditambah pula kalau pergi-pergi ke tempat yang banyak nyamuk, mengolesi repellent (anti nyamuk) pada tubuh. Nah, kalau HIV-Aids sudah jelas sih, supaya tidak terkena dan tertular, jauhi gaya hidup bebas dan berganti-ganti pasangan.

Memang ya virus CoViD-19 ini luar biasa. Cara penularannya konon bukan melalui udara, tetapi melalui sentuhan tangan dari benda-benda yang dipegang orang pembawa virus. Itu sebabnya orang yang sakit harus memakai masker, supaya percikan ludah bervirus tidak menempel dimana-mana. Tapi belakangan, supaya aman, masker pun harus dipakai juga oleh orang sehat.

The New Normal Akibat CoViD-19

Dihitung-hitung sudah dua bulan ini, kami sekeluarga harus melakukan kegiatan dari rumah, dan belum ada tanda-tanda situasi akan kembali seperti sebelumnya.

Di beberapa kampus ada yang sudah melakukan ujian akhir semester, ada yang masih berjalan sampai bulan Juni. PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) se Jawa Barat akan berakhir 20 Mei 2022, tetapi ternyata kasus penderita positif CoViD-19 malah meningkat. Kemudian menilik banyak warga yang kesulitan ekonomi, ada berita bahwa warga berusia 45 tahun ke bawah diperbolehkan untuk bekerja mulai tanggal 25 Mei 2020.

Peraturan demi peraturan datang silih berganti, menyikapi berbagai kondisi warga di lapangan yang nyata-nyata tidak tertib.

Beberapa pendapat pesimis mulai muncul, bahwa kita tak akan bebas dari virus mematikan ini. Apalagi vaksin CoViD-19 belum selesai diujicoba hingga tahun 2021. Ditambah lagi berita, penelitian Lembaga Pasteur menemukan bahwa strain virus CoViD-19 yang ada di Indonesia berbeda dengan virus yang menulari banyak warga di Eropa dan Amerika. Jadi, belum tentu juga bila vaksin yang ditemukan di Amerika akan cocok dengan warga Indonesia.

Nah, kan kita harus punya langkah-langkah untuk menyikapi daripada cemas tak menentu. Mau tidak mau kita akan hidup berdampingan bersama virus CoViD-19 entah sampai kapan. Langkah penting tentu saja tetap menjalankan protokol kesehatan pada semua lapisan masyarakat. Bukan hanya di dalam rumah tetapi juga di semua tempat umum.

1 – Jaga Jarak

Protokol jaga jarak tetap harus diberlakukan di semua fasilitas publik. Antrian di tempat umum, menunggu di bank, makan di restoran, duduk di angkot dan transportasi umum lainnya.

Sebelum ada pandemi kita sudah biasa berdesak-desakan, maka selama pandemi belum berakhir, perilaku berdesak-desakan dan berkerumun tetap tidak boleh dilakukan. Memang kesannya kendaraan umum jadi kosong, tetapi itulah cara untuk memutus rantai penularan.

Itu sebabnya warga Indonesia heboh, ketika di Bandara Soekarno Hatta orang antri tidak ada jarak sama sekali. Kekhawatiran dan kekecewaan muncul tak terbendung, terutama dari tenaga kesehatan yang sudah berbulan-bulan menghadapi ODP, PDP, bahkan OTG tak berkesudahan. Seolah bangsa Indonesia tak peduli dengan tenaga kesehatan yang gugur bertugas melayani kesehatan kita.

Di beberapa negara yang sudah membolehkan warga untuk beraktivitas di luar rumah disertai dengan protokol jaga jarak yang ketat. Di China, sekolah-sekolah hanya membolehkan satu meja satu anak. Restoran di Bangkok mengatur satu meja satu orang dan orang yang berhadapan diberi sekat dari plexiglass bening.

the new normal
anak sekolah di China dengan topi “jaga jarak”, sumber: tribunnews
the new normal
restoran di Bangkok, sumber: kompas.com

Masing-masing pihak berusaha seminimal mungkin melakukan kontak fisik dengan sesama. Termasuk tidak berjabatan tangan

2 – Memakai Masker dan Menjaga Kebersihan

Face mask ist a must.

Sepertinya di hari-hari mendatang, bagi perempuan, lipstik aneka warna bukan lagi kebutuhan, tetapi aneka warna dan corak masker akan menjadi pilihan. Berbagai pelindung wajah bahkan bentuk helm bening mulai muncul di time line FB, menggantikan masker yang itu-itu lagi.

Berbagai tempat cuci tangan portable ada di mana-mana. Di kompleks rumah saya, beberapa rumah memasang ember yang didesain dilengkapi kran dan ditempatkan di depan rumah disertai sabun. Perangkat ini untuk tamu-tamu yang akan berkunjung ke rumah.

Begitu pula di kantor, bank, dan restoran dipasang hand sanitizer di pintu-pintu masuk. Petugas mencek suhu tubuh konsumen yang datang.

3 – Jaga Kesehatan

Karena penularan virus berkaitan dengan kekebalan tubuh seseorang. Maka masyarakat diharapkan lebih peduli terhadap kesehatan dengan menjaga kekebalan tubuh melalui makan makanan bergizi dan olahraga teratur.

Berbagai herbal yang dipercaya menjaga kesehatan tubuh sejak turun temurun ramai dicari atau menanam sendiri di pot-pot atau halaman rumah.

4 – Waspada Terhadap Kejahatan

Sejak berkegiatan di rumah, maka transaksi banyak yang dilakukan secara online juga. Kewaspadaan terhadap pelaku phising dan scam menjadi kebiasaan baru, ibaratnya kita mencek pintu rumah sudah dikunci atau belum. Backup data dan memindahkan data ke tempat-tempat aman harus rutin dilakukan. Termasuk bagi para blogger memback-up artikel, untuk antisipasi blog diretas.

Memisahkan email untuk transaksi online dengan email untuk media sosial atau komunikasi jaringan adalah langkah waspada lainnya. Lagipula membuat email baru tinggal hitungan detik, asalkan kita menjaga dengan baik semua password.

Kondisi the New Normal, membuat banyak orang lebih sering berintaraksi secara online, padahal sejatinya kita hidup di dunia nyata. Sehingga kewaspadaan kita meningkat bukan hanya di dunia nyata, tetapi juga dunia maya.

5 – Tetap Kreatif Menghadapi CoViD-19

Hampir semua negara, perekonomian anjlok akibat CoViD-19. Banyaknya orang di rumahkan dan hanya menerima sepersekian gaji, membuat kita harus kreatif untuk bertahan hidup.

Yang pandai memasak, manfaatkan kepandaian untuk menerima masakan secara daring. Yang pandai memotret, tawarkan keahlian untuk memotret produk yang akan dijual daring. Yang pandai berkebun, coba menanam empon-empon dan diolah menjadi ramuan herbal menambah daya tahan tubuh.

Bikin komunitas untuk membantu yang terdampak CoViD-19 menurut saya ya kreatif juga. Saling tolong-menolong dan berkolaborasi… Ada ide lain?

Kesimpulan

Seorang Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS Pondok Indah Bintaro, dr Leonardi Goenawan SpKJ angkat bicara, bahwa tahapan atau fase psikologis yang saat ini sedang dialami masyarakat dunia adalah tahap disrupsi (perubahan berbagai pola hidup), tahap kebingungan dan ketidakpastian, hingga akhirnya tahap menerima tanpa syarat kondisi yang berkaitan dengan pandemi ini.

Tahap inilah yang dinamakan The New Normal. Masih menurut Leo, pada tahapan keadaan normal baru ini, diharapkan kita sepenuhnya tidak lagi merasa terganggu. Kita menyikapi hidup bersama CoViD-19 bahkan sudah terbiasa dengan semua perubahan yang berhubungan dengan adanya pandemi.

Walaupun demikian, saya masih berharap kondisi bisa kembali ke normal yang lama (The Old Normal). Naik angkot engga masalah berdesakan, ke toko ambil barang pakai tangan telanjang, tidak perlu pakai sarung tangan, termasuk ke luar rumah tanpa masker. Kemudian bisa mengajar depan kelas seperti dulu lagi. Tenaga kesehatan juga sudah bisa pulang ke rumah masing-masing dan memeluk keluarganya. Bagaimana dengan teman-teman?

Bandung, 17 Mei 2020

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

27 thoughts on “The New Normal, Menyikapi Hidup Bersama CoViD-19

  1. semoga segera berlalu, hidup gini amat ya harus jaga jarak dll, hik kasian anak anak tidak bisa main bola di lapangan dan makan di food court seperti dulu, Hiks Semangat

  2. Aku kepikiran tenaga medis ini, jika pandemic tak berakhir bagaimana nasib mereka bersama keluarga, berapa lama lagi mereka harus menjaga jarak kepada keluarganya sendiri, tinggal berdoa saja memang semua punya imun tubuh yang kuat dan sehat, sehingga bisa mengalahkan virus tersebut.

  3. Kadang aku merasa ragu apakah aku akan bisa survive di fase new normal ini. Kangen rasanya masa-masa bisa bebas traveling tanpa takut ketularan virus. Semoga kita bisa segera berdamai dengan keadaan sesegera mungkin. Aamiiin..

  4. pencerahan banget nih mbak hani.. khususnya buat saya yang masih bertanya tanya kapan wabah ini akan berlalu. Untuk berjaga-jaga, memang harus siap dengan yang namanya new normal. Trkhusus lagi poin terakhir tuh.. ngena banget hehe

  5. Saya juga sebenarnya inginkan the old normal.. Lebih bebas dan leluasa ya…
    Tapi melihat kondisi yg terjadi di sekitar, sepertinya mmg harus mulai membiasakan diri menerima the new normal.

  6. Kadang ngrasa nyerah deh hidup kayak gini. Hampir 3 bulan dirumah aja dengan segala aturan yang ketat. Namun akhir nya jadi rutinitas. Berharap semoga ini cepat berlalu

  7. Pandemi ini memang mengubah kebiasaan sebagian besar masyarakat. Semoga saja COVID-19 segera usai agar hidup kembali normal. Namun kita emang harus siap dengan kehidupan baru ini ya mbak.

  8. memang hrs begitu ya, karena menunggu virus ini gak ada juga gak tahu kapan, dan ekonomi, hidup , semua hrs berlanjut dan tentu bisa beraktivitas dg kontrol yang ketat dan terutama kesadaran sendiri

  9. Miris banget lihat banyak orang dewasa (dewasa usia) susah amat dibilangin supaya nggak berdesakan, supaya patuh pada aturan. Trus enteng bilang, “Semoga korona cepat berlalu.” Lah omongan sama sama perbuatan nggak sinkron gitu. 🙁

  10. Sebenarnya saya inginnya seperti the old normal, Bun. Lebih leluasa. Atau mungkin sudah lebih terbiasa aja kali ya…
    Tapi demi kesehatan, mau tidak mau harus bisa beradaptasi dengan the new normal.

  11. Aku langsung senyum lebar di bagian “termasuk telat menuntaskan BW di grup WA”, hihihi.

    Dan inilah new normal yang baru. Tantangan baru dalam kehidupan yang perlu dijadikan kebiasaan.

  12. Harapanku juga semoga pandemi ini segera berakhir dan kita bisa kembali menjalani hidupa seperti dulu lagi. Jadi kangen dengan hal-hal yang biasa dilakukan dulu, tapi sudah tidak dilakukan sejak wabah ini datang menyerang.

  13. saya sih mau2 aja mbak hidup berdamai dengan corona, tapi kalo coronanya gak mau diajak damai gimana yak.. wkwk lagipula, hidup berdamai kayaknya hanya bisa terwujud jika data2 dan penanganan pandeminya jelas dan terarah

  14. The new normal itu artinya kita melalukan perubahan pola hidup dan berusaha hidup berdampingan dengan virus covid-19, bukannya langsung euforia berdesak-desakan di jalan karena psbb dilonggarkan dan mau lebaran ya

  15. Hidup berdamain dengan sikon pandemic, ini pilihan yang terbaik saat ini. Menerapkan protokol pencegahan terhadap penyebaran virus dimulai dari diri sendiri. Btw, itu invoasi topi “jaga jarak” yang dikenakan anak sekolah di China, unik dan menarik, mungkinkah bisa di adaptasi di sini ya?

  16. Memang pandemi ini berdampak serius dan merata ya Mbak Hani. The New Normal di satu sisi bikin ekonomi mungkin bergulir lagi, tapi juga berpotensi memicu angka baru lagi. Tapi semoga enggak ya. PR-nya memang edukasi ke rakyat dan ketegasan aparat/pemerintah untuk menindak mereka yang ga tertib. Fenomena penumpukan warga di beberapa tempat belakangan ini seolah sinyal bahwa the new normal tampaknya disalahpahami, jadi kayak bebas aja. Padahal protokol kesehatan mestinya tetap dijaga dg ketat kan, semoga deh wabah segera musnah. Berdoa semoga habis Ramadan semua normal beneran.

  17. sebenarnya semua anjuran dan tips untuk menghadapi covid-19 itu sudah banyak dilakukan oleh masyarakat secara umum. Sayangnya ketegasan dari pemerintah pusat yang menurut saya justru kendor mendekati lebaran ini. terutama soal mudik yg sampai berjubel-jubel, sudah mulai susah manusia +62 dibilanginya 🙁

  18. Ngomongin ttg New Normal, aku sbnrnya kurang setuju juga sih. Kalau ada yang bilang ini adalah conspiracy, iyah aku setuju. Tapi kalau dilihat dari sisi kebersihan aku setuju. Dulu orang gak peduli batuk bersin di depan orang lain, cuci tangan apa enggak, salaman antar lawan jenis. Sekarang sudah ada alasan untuk mengubah beberapa kebiasaan buruk lama menjadi lebih baik. Ambil hikmahnya saja.

  19. Gak pernah mengira hidup akan serba terbatas seperti ini
    Terkaget-kaget karena semua mendadak harus dilakukan dari rumah
    Tapi ya gitulah, kita semua memang harus beradaptasi
    Pandemi ini (sepertinya) akan panjang, maka mau tak mau new normal adalah berdampingan dengannya dan menjaga diri sebaik-baiknya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *