12/07/2020

Memahami Selective Mutism dalam buku “365 Hariku Bersama Ananda”

Teman-teman, pernah tidak menjumpai seseorang yang pendiam banget, seperti yang pemalu dan takut berbicara depan orang banyak. Tetapi individu tersebut bila di rumah dan di lingkungan yang sudah dikenal, baik-baik saja, malah cerewet. Ternyata kita harus memaspadai gangguan tersebut, karena kalau dibiarkan akan memengaruhi tumbuh kembang anak. Ada kemungkinan anak mengalami gangguan selective mutism. Memahami selective mutism dijelaskan dalam buku “365 Hariku Bersama Ananda” berikut ini.

Apa itu Selective Mutism

Dalam buku “365 Hariku Bersama Ananda” diuraikan bahwa orang tua harus mencermati dan mengamati lebih serius kondisi anak yang cenderung pendiam, malu, atau sulit berbicara jika berada di luar rumah dan lingkungan sosial baru. Tetapi anak-anak ini berlaku sebaliknya di rumah atau lingkungan yang sudah dikenal.

Kondisi seperti ini bila berlangsung selama 2 hingga 3 bulan dan muncul antara usia 2 hingga 5 tahun, dapat dideteksi sebagai gangguan selective mutism (SM). Gangguan ini merupakan gangguan kecemasan pada anak, yang ditandai dengan perilaku membisu dan kurang bisa berkomunikasi secara efektif dalam kondisi tertentu.

Buku “365 Hariku Bersama Ananda” merupakan pengalaman penulis mendampingi anak (selanjutnya dalam buku disebut dengan ananda) dengan gangguan selestive mutism. Penulis merangkum kegiatan bersama ananda selama 365 hari dalam rangka terapi mandiri menghilangkan gangguan selective mutism.

Buku “365 Hariku Bersama Ananda” – Terapi Mandiri pada Anak dengan Gangguan Selective Mutism

Judul buku: “365 Hariku Bersama Ananda” – Terapi Mandiri pada Anak dengan Gangguan Selective Mutism
Penulis: Sitatur Rohmah
Genre: Parenting
Penerbit: Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai
Tahun: 2019
Ukuran buku: 14X21 cm
Jumlah halaman: 146 halaman
ISBN: 978-623-7506-10-2

selective mutism
daftar isi 1
selective mutism daftar isi
daftar isi 2

Bab 1 – Menyadari dan Menerima

Di halaman depan dijelaskan bahwa penulis baru menyadari ananda mengalami gangguan selective mutism setelah melalui serangkaian psikotes sebelum masuk SMP. Dari sinilah ibundanya mencari berbagai informasi tentang SM.
Bab 1 memaparkan sikap menyadari dan menerima kondisi ananda, kemudian kilas balik, kapan SM ini mulai menampakkan gejala.

“Mulailah dari hal sederhana, supaya ia tahu tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kegiatan berbicara”
(halaman 17)

Ternyata anak-anak sejak dini harus dikenalkan bahwa tak masalah berteman dan mengalami kekecewaan.

Bab 2 – Membersamai dan Melompat Bersama

Pada bab ini, penulis menguraikan satu per satu upaya untuk menguatkan anak-anak dengan gangguan SM yang terbagi menurut 20 sub bab.
Apa yang saya fahami dari sub-sub bab tersebut, penulis tidak mengurutkan berdasarkan lini masa usia.

Pada sub bab “Supaya Ragu Tak Lagi Mengganggu“, sepertinya ananda sudah cukup mampu berkomunikasi.

“Mama, enaknya aku ikut ekstrakurikuler apa, ya?” tanya ananda suatu hari
(halaman 88)

Peranan orang tua untuk memberi dorongan agar anak SM tak ragu mengambil keputusan.

Tetapi selanjutnya ada sub bab “Selestive Mutism pada Balita” menguraikan pentingnya kewaspadaan orang tua ketika anak memasuki usia balita. (halaman 95)
Kapan anak belajar berinteraksi, karena gejala SM belum nampak di usia ini.

Pada bab ini juga ada penjelasan “Kemana Mencari Informasi?” (halaman 105)
Ada daftar organisasi di luar negeri yang dapat diakses untuk memperoleh informasi tentang seluk-belum SM. Seringkali memang untuk memahami selective mutism, kita harus banyak mencari sendiri informasi yang tepat.

Bab 3 – Melangkah Optimis dengan Anak Selective Mutism

Anak dengan SM memerlukan penanganan khusus, perlakukan khusus, dan teknik yang khusus pula. Keengganan berbicara bukan berhubungan dengan kemalasan atau sedang badmodd saja, tetapi terdapat gangguan yang membuat anak tidak berani menyuarakan apa yang dirasakannya.
(halaman 120)

Bab 3 ini diakhiri dengan sub bab “Berkaca dari Keberhasilan“.
Mengisahkan perjuangan membersamai ananda dan rupanya sudah menunjukkan hal-hal positif dalam kurun waktu satu tahun tersebut.
Selain itu dikisahkan juga kisah-kisah anak-anak lain yang mengalami gangguan yang sama. Sampai akhir bab, pembaca diharapkan lebih memahami selective mutism.

Kesimpulan

Selective Mutism memang kasus yang jarang ditemui di Indonesia. Hanya 5-7 orang saja dari 1.000 populasi di dunia. Di Indonesia, seperti halnya kasus-kasus tumbuh kembang anak, kita kurang data.
Poin lebihnya, buku ini membuka mata saya bahwa ada masalah tumbuh kembang pada anak yang saya belum pernah mendapatkan informasinya. Secara fisik, buku warna hijau ini cukup menarik, sehingga membuat orang untuk ‘grab it’. Tidak terlalu tebal seperti umumnya buku parenting populer, dan uraiannya lengkap, membahas beberapa kejadian ananda. Dengan demikian pembaca bisa turut berempati dengan situasi yang dihadapi ananda. Menuliskan buku nonfiksi genre parenting apalagi tentang masalah tumbuh kembang memang tidak mudah. Menariknya buku ini merupakan pengalaman pribadi penulisnya, sehingga pemaparannya bisa detail.

Hanya saja dalam uraian bukunya, mungkin karena saya terbiasa dengan penomoran sub bab pada buku. Maka saya agak ‘kagok’, mendapati buku yang hanya poin-poin sub bab.
Tak masalah sebetulnya, seandainya saja poin-poin sub bab dirunut berdasarkan lini masa ananda. Misalnya dari balita, meningkat lagi, hingga remaja, dan kapan SM tersebut mendapati titik terang bisa dikendalikan.

Buku “365 Hariku Bersama Ananda” – Terapi Mandiri pada Anak dengan Gangguan Selective Mutism dapat dibeli toko buku terdepat atau di marketplace langganan teman-teman.

Bila ingin tahu lebih jauh tentang penulisnya, Sitatur Rohmah bisa diikuti di IG-nya: @sitatur_rohmah
dan blog https://www.sitaturrohmah.com/

Bandung, 29 Juni 2020

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

2 thoughts on “Memahami Selective Mutism dalam buku “365 Hariku Bersama Ananda”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *