12/07/2020
meningkatkan self esteem

Meningkatkan Self Esteem pada Anak

Self Esteem dalam terminologi psikologi adalah istilah untuk mendeskripsikan nilai personal terhadap diri sendiri. Dalam arti kata, self esteem pada anak adalah konsep harga diri, termasuk cara anak mengapresiasi dan menyukai diri sendiri. Berbeda dengan self confidence yang artinya percaya diri. Apabila harga diri adalah cara menyukai diri sendiri secara keseluruhan, maka percaya diri berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki seseorang.

9 Langkah Meningkatkan Self Esteem

Sebagai orang tua pastinya kita menginginkan yang terbaik untuk anak-anak. Selain menjaganya supaya sehat dengan asupan makanan bergizi dan memantau tumbuh kembangnya, kita pun menginginkan mereka mempunyai harga diri.
Harga diri atau self esteem pada anak muncul akibat peranan orang tua yang mendampinginya sejak dini. Anak yang mempunyai harga diri maka di kemudian hari bisa mempunyai rasa percaya diri yang baik pula.

Berikut langkah-langkah orang tua untuk mendampingi anak meningkatkan self esteem mereka.

1 – Sediakan waktu

Sebagai orang tua sediakan waktu untuk anak. Bisa naik sepeda bersama, main game, mendengarkan curhatan anak, membaca buku bersama, dan lain-lain. Tunjukkan bahwa sebagai orang tua mencintai dan memerhatikan anak-anak.

2 – Kesempatan memilih

Pada anak-anak yang sudah agak besar dan bisa berkomunikasi, orang tua bisa memberi kesempatan memilih. Misalnya memilih mainan, memilih makanan, dan hal-hal kecil lainnya. Dengan memberi kesempatan anak untuk memilih sendiri, berarti orang tua menghargai keputusan anak.

3 – Menyelesaikan masalah sendiri

Biasakan anak-anak menyelesaikan masalah mereka sendiri, misalnya dalam hal pergaulan dengan teman-teman sebaya. Seringkali orang tua terlalu turut campur, sehingga anak tidak dihargai pendapatnya. Hal seperti ini bila dibiarkan berlarut-larut, maka sampai dewasa, anak akan tergantung ke orang tua terus.

4 – Ajari menerima kegagalan

Nobody is perfect, tidak ada orang yang sempurna. Ajari anak untuk sportif dan menerima kegagalan. Bahwa gagal itu biasa, tidak lalu terpuruk dan patah hati. Ajari anak untuk bangkit kembali dan bersemangat.

5 – Memberi pujian wajar

Beri pujian pada anak bila melakukan hal-hal positif. Beri pujian yang wajar saja tidak berlebihan. Karena pujian berlebihan kesannya hanya omong kosong.

Misalnya, alih-alih bereaksi terhadap gambar terbaru anak dengan, “Wow, itu hebat. Kamu adalah seniman terbaik di dunia,” coba sesuatu seperti, “Ibu sangat suka caramu menggambar seluruh keluarga. Bahkan jenggot ayah juga digambar teliti. “

6 – Memberi tanggungjawab

Anak balita mulai usia 2 tahun sudah bisa diajari bertanggungjawab untuk pekerjaan rumah tangga. Misalnya membereskan mainan, menghabiskan makanan atau susu. Anak yang lebih besar, diajari membantu menyiapkan makan atau membereskan sesudahnya. Anak-anak adalah peniru orang tuanya.
Setiap tahapan usia, beri tanggung jawab yang berbeda, sehingga mereka menjadi anak-anak yang ringan tangan dan selalu membantu orang lain.

7 – Tidak membandingkan

Every child is special, setiap anak adalah anak spesial. Sebagai orang tua sebaiknya tidak membanding-bandingkan dengan anak lain, bahkan dengan saudara sendiri.

8 – Fokus kekuatan anak

Setiap anak pasti mempunyai karakter negatif dan positif. Beri tahu anak akan perilaku yang negatif akan tidak diterima oleh masyarakat. Ajari anak untuk mengasah perilaku positif dan kemampuan lainnya yang menunjukkan kekuatan, serta sebagai personal branding anak.

9 – Mencoba ketrampilan baru

Zaman selalu berkembang. Ajari dan semangati anak untuk selalu mencoba hal-hal baru, tentunya dengan bertanggungjawab. Apa konsekuensinya bila telah memilih. Bukan berarti asal mencoba lalu kalau tidak mampu ditinggalkan begitu saja.

Kesimpulan

Anak yang mempunyai harga diri, dalam perkembangannya bisa menjadi anak yang percaya diri. Tentu saja orang tua tetap harus memberi arahan supaya rasa percaya diri tersebut lalu tidak mengarah menjadi anak yang sombong. Rendah hati dan perhatian terhadap lingkungan sekitar merupakan karakter anak yang baik.

Semoga bermanfaat.

www.parents.com/toddlers-preschoolers/development/social/boost-your-childs-self-esteem/

Bandung, 6 Juni 2020

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

7 thoughts on “Meningkatkan Self Esteem pada Anak

  1. Tips-tipsnya mantul, Bun. Sebisa mungkin aku juga melakukan itu buat anak-anak. Lumayan
    PR nih di anak bungsu karena ada beberapa hal yang perlu dibenahi. Contohnya aja dia nggak suka teman-temannya karena mereka suka berisik di kelas. Anak kelas 2 SD wajar sih ya bercanda sama teman-temannya dan jadi berisik. Jadi maunya gurunya belajar sama dia aja, deh. Bungsuku harus belajar membaur dengan teman-temannya lengkap dengan kebiasaan mereka masing-masing.

    Bismillah, semoga bisa mengaplikasikan tips-tipsnya dengan baik, Bun. Makasih, yaaa …

  2. Dan nggak semua orang tua “ngeh” dengan self esteem ini. Memang sih setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak. Tapi terkadang caranya malah membuat konsep harga diri anak nggak tumbuh dengan baik. Misal dalam hal membandingkan anak. Banyak juga yang yuni perhatikan, orang tua malah membandingkan anaknya sendiri dengan anak orang lain. Padahal tentu saja mereka berdua nggak sama. Mereka punya keistimewaannya masing-masing.

    Ah, sudah seharusnya banyak orang tua lebih aware dengan masalah ini. Cakep dah, Mbak Hani. Kelak saat yuni berkeluarga dan punya anak, yuni bakal jadikan ini sebagai pembelajaran.

  3. Bener banget Bun. Self esteem anak-anak harus dibangun sejak kecil. Sayang, terkadang ada ortu yang malah mengerdilkan anak sendiri. Tanpa sadar menyematkan label negatif pada anak sehingga mereka minder dan gak bisa berkembang dengan maksimal. Jadi poin awalnya dari ortu juga ya Bun. Thank you for sharing 😍

  4. Dari semua tips yang dibagikan oleh Bunda Hani, pelan-pelan saya terapkan pada anak-anak.
    Memang harus disadari oleh setiap orang tua bahwa self esteem pada anak itu tergantung pada orang tuanya juga.

  5. Banyak PR, kadang saya masih membandingkan si sulung dan si bungsu, padahal keduanya beda banget. Yang satu kuat di angka yang lain jago ingatannya…Hhh, mana cuma dua dan sama gender pula, jadi kadang kebablasan keucap kok Mas dulu gitu kamu enggak…Hiks!

  6. Anakku memang masih 4 tahun, tapi masalah ganti baju, makan apa, aku selalu tanya,. Mau yang ini apa yang itu. Minimal ada yang 2 yang bisa dipilih. Kalo dirumah adanya telur sama ayam ya tetep tanya, maunya makan telur apa ayam ya dek. Ternyata seperti termasuk menghargai keputusan anak, aku baru tahu bunda Hani hehe. Ternyata anak-anak sama seperti kita, yang butuh didengar dan dihargai :)) Makasih tulisannya bunda Hani 😉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *