24/10/2020

4 Hal tentang Kenangan Majalah GADIS

majalah GADIS
cover majalah GADIS edisi I – tahun 1973

Eh, dia kan masuk majalah GADIS

Iya, itu dia yang jadi cover majalah GADIS

Hai teman narablog, tahu tidak, begitulah bisik-bisik antar remaja, tentang teman yang tiba-tiba muncul di cover majalah GADIS.

Zaman sekarang sepertinya sudah jarang banget orang membaca majalah. Majalah apapun, sih. Bukan hanya majalah GADIS, yang mulai dirilis tahun 1973. Zaman saya remaja, majalah GADIS yang diterbitkan oleh Femina Group amatlah populer. Duh…yaya…saya memang termasuk generasi baby boomers. Walaupun demikian, majalah GADIS termasuk unsur literasi yang cukup mempengaruhi langkah saya di kemudian hari.

Mau tahu kenangan apa saja yang sampai sekarang masih melekat di benak saya?

Trend Mode

Awal mula ide menerbitkan majalah untuk remaja putri adalah ide dari bapak Sofyan Alisyahbana dan ibu Pia Alisyahbana. Waktu itu awal tahun 1970-an, baru-barunya pemerintahan orde baru. Sepertinya para remaja putri ini haus informasi tentang gaya hidup. Maka dengan adanya majalah ini menolong banget buat menambah info tentang mode dan fesyen. Sampai kami langganan majalah GADIS tersebut, termasuk langganan majalah Femina sekalian.

Kadang di majalah GADIS, ada juga pola baju atau Do-It-Yourself yang disematkan di dalamnya. Sehingga remaja putri yang bisa menjahit bisa meniru langkah-langkahnya. Pokoknya majalah menjadi semacam panduan gaya hidup atau lifestyle kekinian untuk masa itu.

Trend Kecantikan

Waktu itu ya, kalau kita kenal seseorang yang wajahnya dimuat di majalah rasanya seneng banget. Itu sebabnya ketika teman satu sekolah, apalagi teman sekelas, lalu tampil di majalah, hebohlah awak. Rasanya tuh prestasi banget. Mungkin seperti sekarang lah jadi selebgram atau youtuber gitu.

Model rambut bisa jadi acuan sa’sekolahan. Tiru-tiru Dhani Dahlan, Marina atau Marisa ya? Lupa juga saya. Pokoknya si Mbak ini hitam manis ada lesung pipitnya. Manislah pokoknya.

Langkah-langkah cara merawat wajah lebih hafal deh, daripada rumus Aljabar Linier. Duh…

Dulu ada masanya yang terpampang di cover majalah GADIS justru yang wajahnya “Indonesia”, maksudnya bukan wajah indo. Misalnya Desy Ratnasari, Kris Dayanti, Inneke Koesherawati, Lulu Tobing, Anissa Pohan, Dian Sastrowardoyo, dan lain-lain.

Desy Ratnasari, sumber: idntimes

Aktualisasi Diri

Majalah GADIS itu semacam batu loncatan untuk aktualisasi diri. Semacam agensi pencari bakat. Banyak remaja-remaja ini dikemudian hari menjadi artis film, penyanyi, peragawati, dan lain-lain.

Apalagi majalah GADIS sering bekerja sama dengan brand tertentu menyelenggarakan semacam kontes. Misalnya GADIS Sunsilk, Putri Remaja, dan GADIS Sampul. Lomba berkaitan dengan bakat juga ada, misalnya Lomba Perancang Busana.

Ada satu masa, terpampang puluhan wajah polos dari gadis-gadis usia 13-18 tahun tampil dengan caption segudang prestasinya. Rupanya sedang ada ajang kompetisi kecantikan.

Nah, kan saya kepoin dong satu-satu prestasiya. Umur berapa, asal darimana, prestasinya apa, siapa keluarganya. Penting ini, kan biasanya para Mamanya tuh yang turut sibuk. Terus karena saya pemerhati baju, ya model baju yang dipakai kayak apa.

Setelah lomba-lombaan usai, dan para gadis tersebut dewasa, ternyata oh ternyata saya masih kepoin mereka, dong. Dan saya terkagum-kagum bila ternyata mereka kuliah, lulus, dan berprofesi. Macam, Marina or Marisa idolaque itu, dia jadi dokter gigi. Enggak lalu terjun ke dunia entertainment lalu ngartis. Zaman dulu kan kalau jadi artis itu ya gimana gitu.

Zaman sekarang beda lagi. Anak-anak gadis sekarang pararinter abis. Ya ngartis, ya nyekolah. Macam Maudy Ayunda itu.

Bacaan Ringan

Dari zaman dulu rupanya ABG lebih suka bacaan yang ringan-ringan saja. Majalah lah sumbernya. Cerpen, tips, resep mudah, how-to, rubrik dan banyak lagi. Dulu itu, masihlah yang namanya perempuan diarahkan untuk terampil dengan urusan pekerjaan perempuan (baca, rumahtangga).

Rubrik yang hits di majalah GADIS tuh rubrik CINTA. Ada tanya jawabnya. Ya saya senang saja bacanya. Walaupun kenyataan tidak ada gita cinta zaman SMA.

Majalah GADIS Zaman Now

homepage GADIS

Majalah GADIS sama halnya dengan majalah-majalah lain mengalami pasang-surut penyelenggaraannya. Lagi-lagi soal biaya operasional yang tidak mumpuni, membuat majalah cetak berhenti beroperasi, atau berkurang oplahnya. Trend yang serba digital menggerus budaya literasi cetak.

Majalah GADIS ternyata cepat tanggap dalam hal ini. Kita masih bisa kepoin trend kekinian remaja putri ke websitenya di www.gadis.co.id. Tagline juga berbeda sekarang, Be Smart, Positive, and Creative. Dulu, taglinenya Top di antara yang Pop. Duh…engga banget.

Membahas majalah GADIS, iseng saya klik perihal majalah ini. Ternyata ada beberapa penelitian yang mengangkat fenomena majalah remaja putri tersebut. Tentang loyalitas, hingga gender. Saya sepertinya masuk tim loyalitas. Haha…

Nah, teman narablog begitulah yang terkenang dalam benak saya tentang majalah GADIS. Ini sesuai dengan tema pilihan di awal bulan di komunitas blog 1 minggu 1 cerita, sih, MAJALAH. Seneng saja saya, bahwa majalah ini masih eksis, walaupun dalam bentuk digital. Tidak tergerus amat sih seperti yang dikhawatirkan dan masuk dalam daftar #50 produk yang dibunuh oleh millenials itu. Majalah sebagai media cetak termasuk dalam list ke-49.

Lengkapnya di sini: Menyikapi List #50 Products, Industries, Services, etc that Killed by Millenials

Bandung, 2 April 2019

signature haniwidiatmoko

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

19 thoughts on “4 Hal tentang Kenangan Majalah GADIS

  1. Saya juga dulu sering berburu Majalah Gadis. Gak cuma itu, saya juga suka beli Majalah Mode, Anita Cemerlang, sesekali Hai dan Bobo. Cara belinya juga unik. Karena di rumah kami dilarang membaca selain buku pelajaran, jadinya saya beli dan bacanya sembunyi2. Terkadang, malah majalahnya saya titipin ke teman. Seru, pokoknya.

  2. Eh, saya juga dulu senang baca Majalah Gadis. Saya senang lihat lifestyle para gadis yang ada di majalah. Terutama senang baca cerpen-cerpen remajanya. Banyak cerita romansa ala anak muda dulu hihihi

  3. Waduh mbak hani saya belum nulis untuk tema 1m1c nya ..
    Dulu bangga banget deh kalau jadi yang pertama pegang majalah gadis terbitan terbaru di kelas.
    Gadis sampulnya pasti jadi cewek paling terkenal tercantiiik seendonesia hehe.. betul ya mbak wajahnya banyak yg natural selayaknya gadis asia

  4. Saya dulu juga suka baca majalah ini. Suka liat modelnya, cerpen, dan resep masakan. Lifestyle remaja di jamannya semua terangkum disana. Penasaran juga apa yang lagi tren saat itu. Sekarang udah jarang baca majalah nih Mba.

  5. Woow mantul Bunda, aku sudah terhempas dr 1m1c.

    Btw, du jamanku majalah ini masih cukup hype, hiks sayang dulu belum ketemu passionnya apa. Padahal lumayan bgt ya klo bisa nyoba ngirim2 artikel gt.

  6. Dulu sering baca Aneka Yess ! Pinjem punya teman tapinya. Hahaha.. belum sanggup beli majalah jaman dulu, sanggupnya cuma minjem aja. Dan rubrik yang paling sering dibaca dulu mah. Astrology. 🤭🤭🤭 .. ” asmara hari ini.. bla..bla..bla..” padahal mah jomblo 🤣🤣🤣.

  7. yampun dari zaman 1973, saya belom lahir apalagi ibu bapak saya belum nikah masih pada bocah, wkwk. Lama juga ya majalah gadis. Keren sih isinya, dulu kakak saya sempat nih langgangan, tapi berhubung dia tomboy akhirnya pindah ke majalah kawanku, wkwk. Kalau saya? sudah pasti majalah bobo, wkwkwk. jadi kangen masa dulu ~

  8. Whaaa majalah ini pernah ngehits bingits pada jamannya. Aku termasuk yang suka banget baca kalo pas edisi terbarunya. Seneng ngeliatin gadis covernya yang cantik-cantik secara akunya masih guladig hahaha. Ahhh jaman ituuu.. aku rindu skrg susa nyari majalah.

  9. Eh, aku juga masih kebagian GADIS lho. Ya, meskipun saat itu sudah ada saingannya macam Aneka Yes! Dan aku memang lebih sering baca yang kedua. Tapi karena kakak-kakakku baca GADIS ya aku ikutan. Seingatku waktu itu aku masih SD atau malah lebih kecil. Sukanya mantengi model rambut sama Zodiak kalau gak salah. Tapi kalau dipikir-pikir, seru juga ya jaman itu.

  10. Sayapun ketika SD suka baca majalah Gadis pinjam teman saya yang kakaknya jualan koran. Terus saat SMA ada Gadis dan Aneka yang suka saya pantengin di perpus. Pokoknya bel bunyi langsung deh ke perpus buat ambil majalah Gadis, paling suka baca Percikan, cerpen. Hehehe

  11. Wahh mb Hani apa kita seusia yaa? Majalah Gadis itu jmn aq msh kinyis-kinyis, suka baca bareng msjalah Anita Cemerlang. Duh kangen majalah-majalah itu. Online semua ya sekarang mb? Intip ahh…

  12. waduuuh…itu majalah saya bingit, langganan dr awal terbit harga Rp300. Karena saya tiap bulan pasti ngerengek minta dibeliin buku & salah satunya majalah gadis. Cerpen saya 2-3 kali (lupa), nongol disana dg ditulis tangan pake kertas buku yg folio. Honor dikirim via wesel pos, duuh..seneng bingit nerimanya.

    Saya masih smp, kadang bareng teman datang ke kantornya sepulang sekolah. Beli kaos atau baju yg ditampilkan, kebetulan kanyornyaa ga terlalu jauh dr sekolah. Kita jalan rame2..haha

    Generasi berikut, anak saya sejak.kls 6 SD udah minta majalah tsb, akhirnya saya berlamgganan. Saya maaih memyimpan majalah gadis anak saya, dr yg berukuran folio , juga yg 1/2 folio……..hehehe

  13. Saya termasuk yang suka langganan dan baca majalah. dari majalah bobo sampai aneka yess. Iya, dulu saya langganannya anek yess, bukan gadis. hehe. Bahkan pesantren langganan majalah hidayah, saya juga sering baca. Ya, saya segila itu sih dengan bacaan, dulu suka banget baca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *