21/09/2020
anak sensory processing disorder

7 Masalah Pengindraan Anak Sensory Processing Disorder (SPD)

Setelah mencari tahu dari berbagai sumber, akhirnya saya menemukan jawaban, apa hubungannya kemampuan gross motoric (motorik kasar) anak SPD dengan masalah keterlambatan bicaranya. Sensory Processing Disorder artinya seseorang yang mengalami hambatan dalam mengolah sensor-sensor atau pengindraan pada tubuhnya. Sensor tersebut disalurkan oleh ujung-ujung syaraf sistem pengindraan lalu diteruskan ke otak melalui syaraf di tulang punggung sebagai pusat penyaluran perintah. Kemudian otak melanjutkan perintah selanjutnya ke anggota tubuh atau sistem pengindraan kita. Selama ini saya tahunya indera ada lima, makanya ada panca indera. Ternyata kalau membahas anak SPD, ada tambahan lagi dua indra, jadi ada 7 masalah indra anak sensory processing disorder yang perlu kita cermati. Artinya individu dengan masalah SPD akan mengalami masalah memroses perintah dari simpul syaraf ke otak.

Masalah Tumbuh Kembang Anak Sensory Processing Disorder (SPD)

Sangat sedikit artikel kesehatan yang membahas tentang sensory processing disorder pada anak-anak. Kalaupun ada hanyalah membahas definisinya saja, sekira satu halaman. Sangat sedikit yang menceritakan pengalaman pribadi, curhat, dan membimbing mereka untuk mengatasi masalahnya. Belum ada juga yang menceritakan ketika anak-anak ini memasuki usia sekolah, bagaimana komunikasinya dengan teman-teman, bisa mengikuti pelajaran atau tidak.

Di artikel-artikel kesehatan, sensory processing disorder dijelaskan sebagai kondisi neurologis yang kompleks, karena otak mengalami kesulitan menerima dan merespons informasi yang diterima oleh sistem syaraf. SPD juga memungkinkan otak seseorang salah menginterpretasikan informasi atau hal sehari-hari yang dialaminya. Adapun penerimaan pada sensor-sensor tubuh ini ada 2 macam, terlalu sensitif (hypersensitivity) dan kurang sensitif (hyposensitivity).

anak sensory processing disorder
tipe anak SPD

7 Masalah Pengindraan pada Anak Sensory Processing Disorder (SPD)

anak sensory processing disorder
7 sensory system

Sebetulnya 7 indra yang akan saya bahas ada di semua tubuh manusia normal. Hanya saja pada penyandang SPD ada kendala dalam meneruskan respon-respon oleh indra mereka. Di artikel ini saya menyontohkan Bara, anak yang didiagnosa mengalami sensory processing disorder.

1 – Penglihatan

Anak-anak SPD yang terlalu sensitif penglihatannya akan terganggu pada suasana dengan pencahayaan yang terlalu terang. Tidak terlalu suka dengan terang matahari. Kemungkinan mereka lebih suka berteduh saja, daripada bermain panas-panasan.
Pada beberapa kasus, terlalu lama nonton TV, terpapar layar gadget atau kilatan tiba-tiba, menyebabkan rasa tidak nyaman. Orang tua bisa mengatur terangnya layar gadget atau TV supaya tidak terlalu terang, misalnya cukup 70-80% dari terang maksimal.

2 – Pendengaran

Ketika Bara selesai sesi terapi wicara, terapis menjelaskan pada kami, supaya menjelaskan kosa kata baru dengan cara berbisik. Selama ini kita kan meluruskan cara berbicara anak-anak adalah dengan bersuara keras. Ternyata hal ini belum tentu tepat untuk anak-anak SPD.
Ada anak-anak yang tidak tahan mendengar suara kipas angin, suara hair dryer, vacum cleaner atau suara dengung lainnya. Mereka bisa-bisa berteriak-teriak tidak tahan.

3 – Pencecap

Anak-anak Sensory Processing Disorder (SPD) rata-rata picky eater atau pilih-pilih makanan. Selera makanan anak SPD, ada yang mereka suka banget, ada pula makanan yang mereka tidak suka banget.
Bara suka makanan yang crunchy atau renyah. Itu sebabnya dia suka banget ayam goreng krispi, tapi tidak suka nasi campur sop. Sop harus dimakan terpisah saja.

Beberapa artikel menjelaskan bahwa anak yang terlambat bicara dilatih untuk mengunyah makanan dengan baik. Bahkan ada terapinya untuk melatih oromotor atau otot-otot sekitar mulut. Ada kemungkinan keterlambatan bicara tersebut berkaitan dengan otot-otot sekitar mulut yang kurang berkembang.
Bara kalau makan nasi, kurang pandai mengunyah. Kami harus selalu mengingatkan, kalau tidak main telan saja. Tapi gemar banget keripik dan makannya dikunyah …

4 – Penciuman

Teman-teman, ada yang tak suka bau bawang goreng atau telur dadar? Bagi anak-anak SPD, hal-hal yang berkaitan dengan penciuman atau pembau bisa lebih sensitif dan memengaruhi selera makan mereka.
Bara bisa membedakan mana sop ayam kampung dan sop ayam kota … eh, maksudnya ayam negeri. Memang sih, bagi yang tahu betul tentang masak-memasak, bisa membedakan juga. Kalau saya ya tidak bisa, bagi saya sop sama saja, tergantung bumbunya. Apalagi kalau sudah ditaburi bawang goreng, semua terasa lezat.

5 – Peraba

Indra peraba kita bukan hanya pada ujung-ujung jari, tetapi seluruh permukaan kulit kita. Kita merasakan dingin, panas, dan gerah, terasa di permukaan kulit.
Adakah di antara teman-teman yang tidak tahan dengan merek yang ada di leher baju? Saya termasuk yang sensitif dengan merek yang ada di leher baju. Apalagi makin dicuci dan kena setrika, merek tersebut benangnya jadi keras. Saya bisa merinding dan meriang seharian ada merek baju yang mengganggung seperti itu. Mau tidak mau harus digunting, walaupun misalnya, bajunya merek brand mahal. Engga deng, tidak punya kok baju brang mahal.

Bila dikaitkan dengan perilaku makan, Bara suka makan yang cara makannya dijimpit atau dipegang dengan ujung jari. Misalnya kentang goreng, ayam goreng krispi, kacang edamame, kue kering, dan lain-lain.

Kasus lain, ada anak-anak yang enggan dan jijik memegang sesuatu yang lengket atau slimy dan benyek. Ada pula kasus lain, anak-anak yang tidak tahan berjalan di pasir atau rumput. Semua ini menandakan mereka sangat sensitif indra perabanya.

6 – Kekuatan Otot

Indra “tambahan” berikut adalah kekuatan otot dan keseimbangan. Kedua tambahan ini dinamakan proprioceptive system. Proprioseptif adalah sistem yang memproses informasi dari otot dan sendi tubuh manusia sehingga individu paham dimana letak tubuh dan gerak tubuhnya, seperti saat berjalan.

Penjelasan tentang prorioseptif ini misalnya kita mengambil gelas berisi air. Dengan kekuatan otot tangan koordinasi dengan mata, kita bisa mengatur agar gelas berisi air tersebut tidak tumpah.

Throw back, tumbuh kembang Bara. Bara termasuk hipotonus. Otot-otot tubuhnya lemah. Baru bisa duduk di usia 11 bulan dan berjalan di usia 22 bulan.
Saya baru faham sekarang, kenapa setelah konsultasi dengan dokter yang tepat, Bara harus mengulang lagi fisio terapi untuk memantapkan gross motoric (motorik kasarnya).
Di usia 5 tahun sekarang, Bara baru mulai belajar meloncat.

7 – Keseimbangan

Masalah lain dari anak sensory processing disorder adalah kurang jejeg atau lelet, atau nama lainnya clumpsy. Ini berkaitan dengan sensor vestibular yang juga merupakan sistem pengindraan. Gangguan pada vestibular menyebabkan ada masalah dalam mendeteksi keseimbangan dan gerak.
Anak SPD yang hypersensitive kemungkinan ragu-ragu dan gamang dalam beraktivitas. Sedangkan anak SPD yang hyposensitive, kemungkinan terlalu aktif dan tak mau diam.

anak sensory processing disorder balancing bike
Bara sudah berani naik balancing bike

Contohnya Bara, di usia 3 tahun belum berani naik balancing bike. Memegang sepedanya saja gemeteran, sehingga kami tidak memaksakan. Entah indra perabanya yang sensitif dengan batang besi atau hal lain. Baru sekarang Bara berani naik balancing bike dan bisa stabil memegang stang sepeda. Memang belum diayun seperti anak-anak lain yang bisa meluncur cepat. Bisa jadi Bara sudah terlalu tinggi, karena tempat duduk balancing bike menjadi terlalu rendah.

Masalah lain, Bara belum berani posisi duduk bila bermain perosotan. Ternyata pengaruhnya beda antara main perosotan duduk dan tiduran. Anak-anak yang bermasalah dengan keseimbangan juga gamang bermain ayunan maupun trampoline.
Itu sebabnya pada sesi terapi fisio, mereka dilatih naik tangga dan main perosotan, trampolin, berjalan di balok titian, serta main ayunan.

Untuk lebih jelasnya simak video berikut tentang Sensory Processing Disorder yang dikisahkan dari sudut pandang anak SPD:

video anak SPD

Menyikapi Anak Sensory Processing Disorder

Hambatan pada sensor anak-anak SPD menyebabkan mereka mengalami kelambatan dalam belajar sesuatu. Seperti yang disampaikan dalam video, anak SPD ibaratnya jalan tol ada yang macet. Seperti di awal artikel, dokter yang mengharuskan Bara mengulang terapi fisio agar Bara memahami dulu tubuhnya (body awareness). Perlu kesabaran dari orang tua dan keluarga dalam membimbing anak-anak sensory processing disorder ini. Terapi dan latihan-latihan harus dilakukan agar sensor pengindraan mereka terkoordinasi dengan baik.

Doakan agar Bara semakin pintar yaa …

Semoga bermanfaat …

haniwidiatmoko

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

10 thoughts on “7 Masalah Pengindraan Anak Sensory Processing Disorder (SPD)

  1. Salut dengan semangat nya untuk memdampingi dek bara.
    Jelas sekali saya membaca artikel ini. Jadi tahu bahwa jenisnya sensory processing disorder ada banyak dan harus teliti dulu untuk memahami detil si anak.
    Semoga dengan pendampingan yang sabar dan tepat, para anak dengan SPD bisa tumbuh sebaik anak lainnya

  2. Ada beberapa teman yuni yang kondisi putra atau putrinya mengalami beberapa yang dialami Bara. Pada awalnya saat nggak tahu sih mungkin orang akan mendumel, seperti duh anaknya kok begini begitu.

    Anyway, semoga Bara selalu sehat.

  3. Ternyata kita sebagai orang dewasa atau orang tua kadang kurang menyadari akan gejala anak dengan sensory processing disorder ini, jadi penangannya kurang tepat. Ternyata kalau kita bisa bertindak cepat dan tepat bisa di terapi ya. Semoga Bara selalu sehat dan semangat.

  4. Masya Allah jadi semakin banyak tahu deh bunda… Makasih buat ulasannya. Karena anakku yang kedua tuh picky eater banget, dan ada sedikit masalah sensory. Namun untuk bicara udah lancar bahkan cenderung cerewet…

  5. Sensory Processing Disorder…baca ini jadi tahu apa itu dan sejauh mana kita orang tua juga orang dewasa lainnya bisa membantu si penderita.
    Sejatinya anak sulungku juga punya masalah dengan keterlambatan bicara, terlambat jalan dan lainnya. Tapi karena ketidaktahuan plus tinggal di luar Jawa jadi telat terdeteksi dan terapi.
    Dia akhirnya baru diterapi saat kelas 1-3, dengan macam-macam pola, kayak latihan keseimbangan, kelenturan, motorik…Plus panduan latihan di rumah.
    Syukurnya Bara tumbuh di tengah keluarga yang memahami keistimewaannya. Semoga diberikan kelancaran sehingga tumbuh kembangnya akan terus membaik seperti teman-temannya.

  6. Wah, jadi semakin tahu tentang anak dengan Sensory Processing Disorder, nih. Jadi seperti jalan tol yang sedang macet, ya.
    Benar-benar harus sabar dalam menjalani fisioterapi ya, Bund. Beruntung sekali Dek Bara punya Eyang Uti yang sangat perhatian dan detail. Semoga selalu sehat ya, Nak 🙂

  7. Salam kenal bu Hani,
    Saya Cinda tggl di Bandung baru 9bulan..kami asli dari Palembang.anak kedua saya laki laki umur 5th jg mengalami SPD dan msh terapi di RS Borromeus setelah berkonsultasi dgn dokter Dewi.diPalembang prnh terapi jg tp blm tuntas krna papanya mutasi kesni,skr anak kami sdh masuk TK A tp PR saya msh byk krna anak saya blm bisa fokus lama.Semoga bisa trs sharing ya bu dan saling suport

    1. Halo Cinda, senangnya ketemu teman seperjuangan. Bara konsul ke Dr. Dewi Hawani Alisyahbana. Semoga dokter yg sama ya. Krn nama Dewi banyak…hehe…Trimakasih ya sdh mampir ke blogku…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *