22/09/2020
alergi media sosial

Alergi Media Sosial Alumni yang Bikin Kamu Leave Group

Tema grup ngeblog 1Minggu1Cerita atau 1M1C kali ini adalah tentang Alergi. Lama juga kali ini saya memikirkan tentang tema, selain kedistrek menulis artikel dan ikut webinar macam-macam. Tadinya mau menulis yang serius tentang alergi ini, apalagi di keluarga memang ada saja sih yang menimbulkan alergi. Suami alergi obat, acetocal dan kelompoknya. Anak alergi debu dan bulu hewan. Anak lain lagi alergi antibiotik jenis tertentu dan mungkin susu. Kenapa kok mungkin susu, karena kalau minum susu setiap hari, pilek-pilek. Kalau makan keju, jerawatan, jadi kabita (kepingin) aja kalau ada kaastengel lebaran yang endez itu. Teuteup sih ambil sepotong, sudah tahu ini resikonya, besok jerawatan. Saya alergi micin, jadi kalau kulineran mie baso pangsit Miskam yang juwara itu, malamnya akan migrain dan lenglengan. Harus nenggak air banyak-banyak deh. Lah, kalau alergi media sosial, gimana ceritanya? Apalagi media sosial grup alumni…Jiaah…

Grup Media Sosial Alumni

Kenapa kok grup medsos-nya alumni sih yang bikin alergi? Bukannya yang bikin alergi itu media sosial keluarga besar? Kebetulan secara tak sengaja saya keluar sendiri dari grup media sosial keluarga besar, karena nomor yang bergabung tidak bisa internetan. Nomor yang lama masih aktif sih, tapi hanya sms. Nomor untuk WA beda. Ssst…jangan kasih tahu yah…
Lagipula sudah terwakili oleh suami dan anak. Keluarga besar dari pihak Ibu, ada kakak saya. Dari pihak ayah, engga medsosan. Langsung saja wapri atau telepon kalau mau tanya-tanya kabar.

Nah, alumni nih.
Sejak adanya Facebook dan WhatsApp maka alumni sekolah diprakarsai oleh seorang atau dua orang admin membentuk grup-grup. Grup-grup media sosial ini dibentuk setelah ada acara reuni.
Awalnya sih bagus-bagus saja sebagai ajang silaturahim. Kan konon, silaturahim memanjangkan usia.
Ikatan-ikatan alumni ini ada yang dari SMP, SMA, dan perguruan tinggi.
Sekolah Dasar saya tidak bergabung dalam grup alumni, karena SD saya pindah-pindah ke 4 sekolah. SMP-pun asalnya pernah bergabung dalam grup WhatsApp, pada suatu tengah malam, saya diam-diam leave group tanpa pamit.
Sedangkan SMA, ada se-SMA dan sekelas SMA. Se-SMA sejak awal saya tidak bergabung dalam grup WA-nya. Sekelas SMA, belakangan saya pun leave group dengan pamit disertai alasannya.
Sedangkan grup perguruan tinggi macam-macam nih, ada se-Institut dengan berbagai kategori. Ada grup perempuan saja dan ada grup jurusan (program studi) saja. Grup program studi pun terbagi lagi ada grup campur dan grup ladies. Entah ya, yang cowo-cowo pada bikin grup tersendiri ga sih? Sepertinya sih engga deh …

Hal-hal yang Membuat Alergi Media Sosial Alumni

Arti alergi adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi secara tidak normal terhadap zat asing. Kalau baca-baca, alergi umumnya menyerang fisik, yaitu saluran pernafasan, kulit, pencernaan, atau organ dalam lainnya. Nah, semua reaksi alergi itu bisa menimbulkan efek kejiwaan, yaitu setres.
Sama kan, media sosial yang chatnya teu pararuguh efeknya juga ke jiwa, sama-sama menimbulkan setres.
Anggap saja media sosial alumni itu zat asing, lalu bisa menimbulkan reaksi alergi terhadap diri kita.

1 – Alergi Hoax

Ini kejadian zaman kampanye pemilihan presiden dua tahun yang lalu. Sudah tahu kan negara kita terbelah dua. Tahun 2014, lalu bersambung ke tahun 2019. Hoax seliweran lah dan anehnya seringkali di luar nalar. Sampai bingung akutu, geuning katanya alumni perguruan tinggi terkenal, kok bisa termakan hoax.
Saya pun leave group, padahal saya tidak ikut-ikutan berselisih. Cuma males saja, daripada saya terkena penyakit kejiwaan.

Sesudah beres pemilu, presiden sudah terpilih, damai nih ceritanya. Saya dimasukkan lagi ke grup tanpa ba-bi-bu. Meuni teu sopan pisan. Harusnya minta izin dahulu kan, saya masih mau bergabung atau tidak. Soalnya, hidup tuh tenang banget, tanpa baca yang aneh-aneh di grup WA. Bukan hoax pemilu doang, tetapi juga hoax kesehatan. Beuuh…

Lalu ada kejadian pandemi. Mulai lagi deh hoax-hoaxnya, terus api dalam sekam pemilu kemarin, muncul lagi. Para simpatisan yang sentimen dengan presiden terpilih mulai deh mencerca. So pasti, saya leave group kembali. Horeee…ada alesan…

Apa redaksi pamitnya? Kira-kira begini, diawali…Teman-teman, mohon izin leave group ya. Berita pandemi, virus, dan lain-lain membuat setres nih. Sampai jumpa di dunia nyata. Semoga semua sehat. Diakhiri dengan…mohon maaf bila ada salah kata…

Udah deh…selamet-selamet…Lega rasanya, kayak habis nyruput teh anget…

2 – Alergi Lihat Update Status

Grup media sosial tuh kalau diamati menjadi media pamer dan update status sih, bukan media silaturahim. Namanya silaturahim ya personal mestinya. Say hello, tanya kabar, berkunjung, bawain kue…#eh…
Ajang pamernya ya pamer jalan-jalan ke negara mana gitu, selfie, wefie. Pamer kesuksesan anak, mantu, cucu.
Bukannya saya sok suci tidak pernah unggah foto-foto sedang jalan-jalan. Lebih sering saya unggahnya ke Facebook dan Instagram sih, seperti halnya Walking Challenge-nya TANOS (TAntangan NaOn Sih) itu.
Facebook dan Instagram itu media sosial umum, kalau kita tidak mau lihat ya tidak usah berteman atau tidak usah kepo.
Lain halnya media WhatsApp, mau tidak mau kita terpaksa melihat keseruan man-teman yang sudah melanglangbuana kemana geto. Alasannya berbagi kebahagiaan…
Naon bahagiana coba? Kan dia yang berbahagia…
Tuuuh bolehnya sirik. Sirik tanda tak mampu.
Ya memang…

Makanya saya suka banget grup yang adminnya tertib, melarang share yang tidak ada kaitannya dengan tema grup. Tentang blog, ya share penulisan atau blog.
Grup alumni susah ya diaturnya…

3 – Alergi karena Engga Nyambung

Buat saya share politik lalu ujung-ujungnya berantem adalah pembicaraan yang engga nyambung. Begitu pula share berita CoViD-19, sok-sokan ada solusi. Padahal yang memberi komen ya masih di rumah saja. Lain soal kalau beliaunya terjun langsung memberi arahan. Itu baru kwereen…

Poin no 2 dan 3 itu alasan saya leave groupnya kapan? Saya menunggu-nunggu sampai keluar alasan no 1 sih. HOAX…
Selamat lah saya dari poin 2 dan 3.

Baru-baru ini pun saya leave group Facebook, karena engga nyambung. Adminnya mulai mencerca sana-sini termasuk turut serta aktif membentuk komunitas baru yang sedang hip. Kalau Facebook sih, tidak perlu pamit, wong adminnya juga saya tidak kenal dekat. Mungkin dia juga sudah lupa saya yang mana.

Penutup

Demikianlah kisah saya tentang tema ALERGI. Bukan alergi simptom fisik sih, lebih supaya jiwa saya sehat saja. Bolak-balik saja saling bersinggungan menurut saya, jiwa yang sehat membuat badan sehat. Badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Masih ingat mens sana in corpore sano?…

Adakah grup lain yang saya ingin leave juga?
Oooo ADA! Cara bilang “ooo ADA”-nya seperti iklan yah…
Yaitu grup WA Kampus. Duuh…ampun deh…
Tinggal ini yang saya tidak mungkin leave group, sejengkel apapun.
Solusinya cuma no komen dan clear chat. Sambil berdoa semoga sehat sampai pensiun.
Amiiin…

Panjang ya kalau tsurhat, sudah 1000-an kata saja nih…

alergi

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

6 thoughts on “Alergi Media Sosial Alumni yang Bikin Kamu Leave Group

  1. sebenarnya sama sih teh, saya juga sbnrnya pengen banget leave dari group WA alumni, tapi nanti pada kepo kenapa keluar dan kok kesannya kyk gak mau silaturahim…hehe. Walhasil tetap ada di group tapi chat udah ribuan gak dibuka, chat di wa cuman dibuka untuk didelete aja. soalnya kadang banyak hal gak substansi malah dibahas.
    thanks sharingnya teh…

    1. Toss kita lah…haha…
      Aku waktu leave group itu alasannya “berita pandemi dan virus bikin setres, mohon izin leave group yah”… Sekitar bulan Maret-April 2020 gitu deh. Emang rame banget kan soal berita virus, dan memang jadi rada parno sih…Sekarang ya udh tenang, udh biasa ama berita virus, tapi engga pengen balik lagi masuk grup. Hehe…

  2. aku udah leave 3 grup alumni, yaitu alumni SMP, SMA, dan alumni kuliah. Alasannya sama sih, pengen sehat secara psikis. Soalnya saya orangnya suka pengen respon kalau yang ngobrol itu adalah orang-orang yang saya kenal. Apalagi dulu pada masa sekolah, mereka adalah orang-orang yang dekat dan akrab di bangku sekolah.

    Namun, entah apa yang membuat orang berubah. Teman-teman saya sekarang beringas apalagi menyangkut apa yang mereka yakini padahal HOAX. Mereka juga punya sifat menyerang ketika berhubungan dengan persoalan agama dan pilihan pemilu. Saya ngga paham.

    Bukan ingin memutuskan silaturahmi, tapi leave grup demi kebaikan bersama. Lebih baik kita bertemu di kehidupan nyata dan bercengkrama (itupun jika di dunia nyata mereka masih seperti dulu).

    Saya kecewa, ketika tulus menganggap orang lain sebagai sahabat, namun orang lain berubah hanya karena pilihan presiden dan pemahaman agama. hiks

    Jadi curcol nih mba Hani wkwk

    1. Sammma ama aku alesannya. Menurutku gpp lah, kalo temen² lama udh engga cocok. Ya cari temen baru yg nyambung, kayak grup Blogwalking Asik…ehehe…
      Siapa tahu kalo pandemi dah lewat, bisa kopdaran kaan…Sip…

  3. Seru banget bahasannya tentang alergi alumni. Aku pun kadang ilfeel kalau ada hoax. Tapi suka di mute kalau grup alumni. Setelah di lihat scroll baru clear chat.

  4. Saya juga sama nih kak Hani, yang grup alumni satu ngga sengaja keluar karena pakai nomor yang sekarang hangus (rada sedih sih .. sedih sama nomornya, maksudnya hehe).

    Sementara grup yang lainnya, malah ngga pernah dibuka, langsung clear chat aja.
    Malah ada satu grup alumni yang ngomongin reunian aja, tapi ngga pernah jadi. PHP Pisan.
    Saking kesel, saya ajakin zoom aja, eh malah alasannya ada aja.
    Ah males kalau udah gitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *