28/10/2020
batal wisata

Batal Wisata ke Pantai Ora akibat Pandemi

Dalam satu tahun adalah saya acara jalan-jalan ke luar kota. Ada yang memang bertujuan wisata, ada yang karena tugas kampus, atau mendampingi suami. Acara ke luar kota  sebaiknya direncanakan jauh hari, antara sebulan hingga enam bulan sebelumnya. Makin jauh jarak pilihan jalan-jalannya, ya makin jauh waktu sebelumnya harus direncanakan. Mulai dari urusan menabung biaya, membuat makalah (kalau urusannya seminar), booking tiket dan akomodasi, hingga dresscode. Makin jauh ya makin mahal, cicilan biaya perlu berbulan-bulan. Apa mau dikata, tahun 2020 pandemi bernama CoViD-19 menyerang dunia. Banyak acara jalan-jalan dibatalkan atau ditunda. Apa boleh buat, kami pun batal wisata akibat pandemi.

Rencana Wisata ke Pantai Ora

Sudah dua tahun belakangan ini saya jatuh hati dengan indahnya pantai dan laut di Indonesia Timur. Tahun 2018 saya dan teman-teman perempuan ber-21 menyambangi pulau Flores. Perjalanan darat selama 4 hari dari Timur ke Barat, mengunjungi 7 kabupaten, menembus jalan berkelok-kelok menembus bukit terjal. Berwisata alam, budaya, kuliner, diakhiri dengan jelajah Taman Nasional Komodo naik kapal phinisi selama dua hari satu malam. Tahun 2019 hati yang terpikat dengan beningnya pantai dan laut menyambung perjalanan dengan jelajah pulau Sumba selama lima hari empat malam. Saya pun punya grup WA jalan-jalan khusus Flores dan Sumba.

Sampai pada suatu hari seorang teman menyapa di grup, mengajak ke pantai Ora di Maluku Tengah. Pantai Ora itu di mana? Lalu Jun, teman saya itu, share foto pantai Ora yang sebening air minum. Beberapa teman tertarik, termasuk saya, sekaligus mengajak suami, yang akhirnya mau juga. Yess!

Seperti biasa tiket pesawat akan booking masing-masing. Maskapai dan jadwalnya pun kami sepakati supaya bisa berangkat bareng. Perjalanan ke Ambon dari Cengkareng (Jakarta) ada yang menggunakan Batik Air atau Garuda. Teman-teman ada yang booking di bulan Desember, ada pula yang di bulan Januari. Grup WA pantai Ora pun dibentuk, pesertanya irisan yang pernah ikut ke Flores, Sumba, atau peserta baru. Total 20 peserta, di antaranya 4 pasangan, termasuk saya dan suami. Suami pun mulai ancang-ancang mengajukan cuti. Waktu itu akhir tahun 2019 dan rencananya jalan-jalan akan dilaksanakan 20 hingga 25 Maret 2020.

Menuju Pantai Ora

batal wisata ke pantai ora
pantai Ora, pulau Seram, Maluku Tengah, sumber: medium

Pantai Ora adalah suatu pantai yang terletak pulau Seram, kecamatan Seram Utara, Maluku Tengah, Maluku, Indonesia. Pantai yang berlokasi di ujung barat teluk Sawai ini berada di sebelah desa Saleman dan desa Sawai, di tepi hutan Taman Nasional Manusela. 

Untuk mencapai pantai ini, setelah mendarat di bandara internasional Pattimura di Ambon, kami akan diantar oleh operator wisata ke pelabuhan Hulnara di Tulehu. Kami akan naik kapal feri dengan kapasitas 350 kursi menyeberang ke pelabuhan Amahai di pulau Seram. Dari sini masih menyambung naik mobil selama 3 jam menyusuri liku-liku pegunungan menuju ke desa Saleman, kemudian lanjut menyeberang ke pantai Ora dengan speed boat.

Rencananya kami akan menginap di Ora Beach Eco Resort, sebuah kawasan dengan fasilitas cottage dan restoran. Fasilitas penginapan di Ora Beach Eco Resort merupakan cottage-cottage terdiri dari Cottage Laut, Rumah Laut, dan Kamar Darat. Cottage Laut merupakan deretan 6 unit yang terpisah berdiri di laut agak jauh dari pantai, bentuknya mirip seperti yang ada di Maldives, pondok-pondok tepat langsung berada di atas laut. Rumah Laut masih satu rangkaian dengan Kamar Laut, tetapi satu rumah bisa dihuni oleh 6 orang dengan 1 kamar mandi. Sedangkan Kamar Darat, deretan cottage di darat sekitar 10 meter dari pantai.

Begitu bersemangatnya kami, bahkan ketua kelompok sudah membagi kamar-kamar berdasarkan pilihan masing-masing. Siapa yang ingin di Cottage Laut atau di Kamar Darat. Saya dan suami memilih Kamar Darat saja, harga lebih bersahabat, dan tak jauh dari pantai, kok.

teras cottage laut pantai ora
Teras Cottage Laut di Ora Beach Resort, sumber: fun-adventure

Menurut perjanjian yang kami sepakati, booking resort dicicil dalam 3 tahap. Bulan Januari 20%, bulan Februari 30%, dan deadline pelunasan adalah 15 Maret 2020.

Batal ke Pantai Ora akibat Pandemi

Awalnya hampir seluruh rakyat Indonesia percaya bahwa kita tak terjangkau oleh virus CoViD-19. Bulan Desember ketika Wuhan di lockdown dan virus menyebar ke Korea, Eropa, hingga Amerika, kita masih tenang-tenang. Titik balik terjadi di awal bulan Maret 2020, ketika ada dua warga Indonesia yang positif CoViD-19. Setelah melakukan isolasi dan dirawat di rumah sakit, mereka berdua bisa sembuh. Ternyata masalah tak berhenti di sini, dengan cepat ada penderita lain, yang tertular melalui seminar dan pertemuan. Lalu muncul ketentuan supaya kita harus di rumah saja mulai pertengahan Maret selama 14 hari ke depan. Tujuannya adalah memutus rantai penyebaran virus.

Serta merta grup jalan-jalan kami ke Pantai Ora heboh. Keputusan harus diambil segera, terutama booking tiket, resort pantai Ora, dan hotel di Ambon. Rencananya setelah dari pantai Ora, kami akan menyambangi kota Ambon dua malam, itu sebabnya, kami pun booking hotel di Ambon. Kemungkinan batal wisata akibat pandemi sudah di depan mata.

Satu demi satu teman-teman mengajukan refund ke OTA tempat pemesanan, ada pula teman yang mendapatkan voucher dari maskapai untuk reschedule. Berhubung saya tidak tahu kondisi akan seperti apa, maka saya pun segera membatalkan tiket pesawat Jakarta-Ambon, pergi pulang, dan mengajukan refund. Pada waktu memesan, dana saya tidak cukup, sehingga saya memesan tiket pergi dan pulang dari OTA yang berbeda. Menurut ketentuan OTA berlogo burung, refund akan memerlukan waktu 90 hari. Lucunya, tiket pulang yang saya pesan dari OTA berwarna oren, sudah saya terima dananya, kurang lebih setelah 2 minggu mengajukan refund.

Adapun dana untuk booking resort yang sudah kami setor 50% tidak bisa dikembalikan. Setelah berdiskusi, resort memberi kesempatan untuk dijadwal ulang, paling lambat akhir tahun 2020. Beruntung teman kami  belum menyetor seluruh dana, sehingga sisa dana bisa dikembalikan ke masing-masing.

Behind the Scene Batal Wisata karena Pandemi

Setelah peristiwa refund, reschedule, dan lain sebagainya, rasa kecewa pasti ada di hati kami masing-masing. Gimana coba, sudah membayangkan memakai topi pantai dan sunglasses, malah sudah mulai packing. Mau tak mau harus menerima kenyataan bahwa tidak ada gunanya memaksakan. Ternyata juga ada link berita bahwa Bupati Maluku Tengah menutup tempat wisata di wilayahnya untuk menghindari penularan virus dari wisatawan.

Namanya juga akan berwisata ke pantai, kan perlu persiapan ya. Minimal akan berjalan-jalan di tepi pantai dan berenang di laut yang bening. Boleh juga yang mau snorkeling atau diving sekalian.

Setelah hati tenang, dalam suatu bincang-bincang di grup WA pantai Ora, bermunculan pengakuan teman-teman satu demi satu. Ada yang sudah membeli topi pantai, sunglasses, kacamata renang, perlengkapan snorkeling, sepatu karet untuk jalan-jalan di pantai, dan sun block. Bahkan kamera bawah air pun sudah sedia. Ya kan, kita mau menyelam, deh. Kami pun saling share foto berbagai pernak-pernik yang sudah disiapkan hingga share foto list daftar barang-barang yang akan dibawa.

Akhirnya, kami tertawa bersama, ternyata bernasib sama kalau beramai-ramai akan terasa ringan saja.

Pastinya bukan kami saja yang merasa rugi batal wisata akibat pandemi. Masih banyak yang jauh lebih merugi lagi, termasuk OTA dan operator wisata mandiri.

Masih perlu waktu dan penyesuaian di berbagai elemen, sampai kami semua siap untuk jalan-jalan. Begitu pula daerah tujuan wisata perlu mengatur tempat wisata yang sesuai dengan protokol kesehatan.

Bandung, 26 Mei 2020

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

17 thoughts on “Batal Wisata ke Pantai Ora akibat Pandemi

  1. Kok sya paling senang ya kalau denger kata Pantai, hehehe. Rasanya adeem gitu dan menyejukkan. Semoga ada waktu utk bisa jalan2 ke pantai ya. Dan semoga pandemi ini lekas berlalu.

  2. sedih bgt pasti, udah beli tiket dan perlengkapan pantai segala macem tiba2 corona menyerang.. aku aja yg baru merencanakan lokasi jalan2 dan belum beli apa2 sedih, apalagi klo udh keluar biaya,, rasanya nyesss.. semoga setelah corona reda bisa merealisasikan berkunjung ke pantai ora ya.. ini salah satu pantai impianku juga,, tahun lalu udh berencana ke sini tapi batal karena satu dan lain hal..

    -traveler paruh waktu

  3. Aku udah males beli tiket jauh-jauh hari karena trauma bakal batal haha. Sejak 2017, aku biasa beli tiket sekitar 2 bulan sampai H-7 hari padahal itu keluar pulau/negeri.

    Sedih baca ceritamu, mbak. Aku juga ada 2 trip yang gagal, ke Manila sama Singapura-KL. Syukurlah baru beli tiket penerbangan aja, belum book hotel dan yang lainnya. Hotel biasa pesen sekitar seminggu sebelum berangkat hahaha.

    Bener euy, refund dari burung biru masih gak masuk sampai sekarang. Padahal dari AirAsia masuk H+30, dari KAI malah beberapa hari kemudian udah masuk.

  4. Ahaha. Kalau beli tiket mending di t*ket(dot)com deh, proses refund cepet banget. Klo travel*ka sih emang lama banget (sangat tidak direkomendasikan).

    Inget ya mbak, klo jadi ke Ora pastikan menginapnya di Ora Resort, jangan menginap di Sawai-nya. Karena meskipun lebih murah, sensasinya berbeda.

    Aku pun gagal nanjak ke Merbabu karena pandemi ini. Padahal saya dan pacar sudah rencanakan dari jauh-jauh hari dan beli banyak peralatan juga 🙂

  5. Yah, pasti sedih bgt gagal ke sana. Tapi insyaallah bisa ke sana di taun depan.

    Btw, aku ke Ora empat tahun lalu. Emang keren banget. Apalagi bisa nyebur langsung dari depan kamar.

    Beda dengan Mas Bara, aku saranin ke Sawai juga. Soalnya bisa liat kehidupan masyrakatnya. Pagi-pagi di Sawai ada ritual sekolompok ibu-ibu nyuci di pinggir kolam, dan kolamnya luar biasa jernih. Seru…

  6. Wah, beneran nih mbak Hani udah nyiapin segala sesuatunya sampai perlengkapan liburan juga ready. Semoga nanti corona menghilang ditelan bumi mbak bisa melancong dengan segera ke Pulau Ora ya aamiin. Berarti sampai akhir tahun 2020 itu yg 50% hangus ya? Untung belum dibayar full ya mbak. Cup3x hihihihi semoga nanti terealisasi yaaach.

  7. Senasib kita Mba. Gara2 covid ini banyaaaak tripku yg harus cancel. Sept ini aku bakal ke Iran seharusnya.. batal juga :(.

    Sediiih sih, tp mau bilang gimana. Mungkin Tuhan minta aku istirahat dulu supaya ga jalan Mulu tiap tahun 😀

    Pantai ORA ini udh lama aku pgn datangin. Tapi memang msh bucketlist Mulu. Blm sempet2 krn kalah Ama trip ku yg lain. Planning pgn ajakin anak2, mereka pasti seneng tiap pagi bangun tidur lgs ada air depan mata :D. Pgn pesen cottage yg di atas air tuh.. semoga akhir THN bisa reda lah pandemi ini

  8. Masih mending ya belum berangkat. Pengalamanku lebih menyedihkan lagi. Udah sampai di Labuan Bajo, eh Kawasan Komodo ditutup. By the way, Pantai Ora ini memang kece banget,

    1. Astaga, engga ada pemberitahuan sama sekali? Tapi msh banyak kok obyek wisata lain di Flores. Wisata gunung, budaya, kuliner…yah biar engga kecewa² amat…

  9. ya ampun mbakkk, sedih bgt pastilaaaaah. huhuhu
    rencana batal gara2 pandemi 🙁
    semoga pandemi ini segera berakhir ya mbak. akupun jd membatalkan traveling ke malang, meskipun blm persiapan tiket dll sih, cuma udah niat banget dari awal tahun ini 🙁

  10. Teh Hani, cakep banget itu viewnya. Tadinya kupikir Pantai Ora itu di mana, ternyata di Maluku. Cantik banget pemandangannya, birunya kusuka. Peninapannya unik juga ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *