13/08/2020

Beningnya Laut di Taman Laut 17 Pulau Riung yang Membuat Enggan Pulang

Teman-teman narablog, lanjut lagi perjalanan saya dan teman-teman di Flores.

Kisah sebelumnya, malam hari kami baru sampai di kecamatan Riung, kabupaten Ngada. Rencananya hari ke tiga ini kami akan menyambangi Taman Laut 17 Pulau Riung. Setelah makan malam, ada briefing terlebih dahulu dan janjian dengan tukang perahu yang kami pesan jauh hari. Antara lain briefingnya, ketepatan waktu, perbekalan misalnya, baju ganti, air minum, dan tentu saja sunblock 50 SPF.

Mampir dulu ke sini kisah perjalanan sebelumnya di Blue Stone Beach, Antara Harapan dan Kenyataan

Taman Laut 17 Pulau Riung

dermaga Goloite

Keesokan harinya setelah sarapan, kami menuju dermaga Goloite tak jauh dari Nirvana Bungalow tempat penginapan. Di dermaga telah siap 3 perahu yang kami sewa, dengan kapasitas maksimum tiap perahu, 8 orang. Kami akan berperahu menuju ke Taman Laut 17 Pulau Riung dan menyambangi pulau-pulaunya.

Sebetulnya apakah benar ada 17 pulau di Taman Laut Riung tersebut?

Ternyata menurut yang saya baca, di Taman Laut Riung yang terletak di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Flores, ada 24 gugusan pulau-pulau kecil yang cantik. Diberi nama ‘17’ Pulau Riung, supaya kita ingat dengan angkat 17 seperti halnya tanggal 17 Agustus, tanggal Kemerdekaan Republik Indonesia.

Adapun ke 17 pulau-pulau tersebut adalah Pulau Ontoloe (sebagai pulau terbesar), pulau Pau, pulau Borong, pulau Dua, pulau Kolong, pulau Lainjawa, pulau Besar, pulau Halima atau pulau Nani, pulau Patta, pulau Rutong, pulau Meja, pulau Bampa atau pulau Tampa, pulau Tiga atau pulau Panjang, pulau Tembaga, pulau Taor, pulau Sui, dan pulau Wire.

Sebagian besar pulau-pulau di Taman Laut 17 Pulau Riung merupakan bukit dengan padang savana. Selain keindahan bawah lautnya, daratannya kaya akan fauna eksotis seperti rusa Timor, biawak Mbou, berbagai spesies unggas seperti bangau hitam, parkit dada kuning, burung beo, dan lain-lain.

Pulau Kelelawar di Taman Laut 17 Pulau Riung

Wisata laut kali ini pun kami tidak berkunjung ke semua pulau yang ada, tetapi hanya ke tiga pulau saja, yaitu pulau Kelelawar, pulau Rutong, dan pulau Tiga. Di pulau Kelelawar kami tidak turun dari perahu, hanya berhenti sebentar di tepi pantainya.

Dinamakan pulau Kelelawar, karena di pohon-pohon bakau yang tumbuh sepanjang pantai bergelantungan ribuan kelelawar. Awak perahu pun menggebrak-gebrakkan dayung di perahunya untuk mengejutkan kalong, sehingga mereka terbang. Sebetulnya sih, bagi pencinta lingkungan hal tersebut tidak baik, karena dianggap mengganggu habitat juga. Kelelawar kan binatang malam, di pagi dan siang mereka tidur. Tentu saja terkejut bila sedang enak-enak tidur digebrak-gebrak seperti itu.

Pulau Rutong di Taman Laut 17 Pulau Riung

Perjalanan pun dilanjutkan ke pulau Rutong. Kami sempat turun ke pantai di pulau Rutong. Berjalan-jalan di pasir pantai yang putih, berlarian seperti anak kecil, dan tentu saja berfoto ria bersama.

Baru kali ini saya melihat laut begitu bening dengan warna gradasi kebiruan yang memukau. Sepanjang perjalanan dengan berperahu merapat dari pulau ke pulau yang saya amati, warna air laut bisa berubah-ubah. Kadang biru tua, kadang kehijauan, kadang biru muda, bahkan di tepi pantai, bisa biru bening.

Stunning lah pokoknya…

Beberapa teman menyempatkan diri untuk snorkeling dan berenang-renang. Ingin juga saya berenang-renang, tetapi mengingat nanti akan melanjutkan perjalanan, seperti akan repot sendiri untuk ganti pakaian.

Tak banyak fasilitas di pulau Rutong. Hanya ada sekitar 3 saung untuk berteduh, dan toilet umum. Saya tak berani menengok ke toilet umumnya. Kata teman pun, tak ada air. Untungnya sih tak ada keinginan untuk buang-buang sesuatu.

Pulau Tiga di Taman Laut 17 Pulau Riung

menuju pulau Tiga

Tak lama kami mampir ke pulau Rutong. Perjalanan kami lanjutkan ke pulau Tiga. Dinamakan pulau Tiga karena adanya tiga bukit kecil berjajar memanjang. Rencananya kami akan makan siang di pulau Tiga.

Awak perahu dan pemandu wisata telah menyiapkan ikan-ikan segar untuk dibakar sebagai lauk makan siang. Hmm…nyam, nyam, membayangkannya sepanjang perjalanan saja sudah bikin ngiler.

Benar saja, begitu kami merapat, di meja kayu sudah tertata majig jar berisi nasi hangat, lauk pauk asli Flores, seperti Sei Daging, Tumis Pucuk Daun Pepaya, dan yang ditunggu ikan bakar. Aneka ikan, seperti ikan kakap, ikan ayam-ayam, dan ikan kue ukuran besar sedang dibakar, dengan bahan bakarnya sabut kelapa. Dan minumnya tentu saja kelapa muda segar.

Setelah selesai bersantap siang, kami masih santai dan menikmati semilir angin pantai. Tak salah beningnya laut di Taman Laut 17 Pulau Riung membuat enggan pulang.

Lagi-lagi, tour leader kami, Kis, mengingatkan kami harus segera merapat ke daratan, karena perjalanan akan dilanjutkan ke Selatan. Tujuan berikutnya adalah ke Kampung Adat Bena yang terletak di desa Tiwuriwu, kecamatan Aimere, masih di kabupaten Ngada.

Menuju Kampung Adat Bena

on the way to Bena

Kemarin, perjalanan dari Blue Stone Beach ke Utara penuh liku dan tak mulus-mulus amat, sehingga saya dan Yanti yang duduk di belakang supir jadi agak mabok. Maka perjalanan ke Selatan kali ini saya pindah duduk di belakang, yang ternyata agak saya sesali. Karena saya kurang memperoleh view perjalanan yang lengkap.

Untungnya saya mendapatkan berbagai sumber foto dari teman seperjalanan. Kualitas jalan ke Selatan idem-ditto dengan yang kemarin. Berliku, menyusuri tebing batu, dengan kelokan tajam menanjak dan menurun. Top lah supir bus yang mengemudikan kendaraan sepanjang jalan. Beberapa penggal jalan tak terlalu mulus juga, otomatis bus jadi melambat.

Sampai akhirnya setelah lebih dari tujuh turunan, tanjakan, dan tikungan, kami sampai di jalan yang lurus. Di ujung jalan tampak sebuah gunung tinggi menjulang. Persis seperti gambar gunung yang sering kita gambar waktu SD. Ternyata memang sungguh-sungguh ada, bentuk gunung seperti itu.

Kata supir bus itu gunung Ipolupo, kami googling, di google map itu gunung Inerie.

What ever, gunungnya perfect lah …

Satu belokan lagi, kami akan tiba di Kampung Adat Bena.

Lepas dari beningnya laut di Taman Laut 17 Pulau Riung ternyata kami tiba di sebuah tempat seolah menembus lorong waktu.

Lanjut ke kisah berikutnya yah …

Bandung, 13 April 2019

signature haniwidiatmoko

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

19 thoughts on “Beningnya Laut di Taman Laut 17 Pulau Riung yang Membuat Enggan Pulang

  1. Air lautnya beneran bening banget. Bisa buat ngaca euy
    Duh itu menikmati ikan segar yang baru ditangkap rasanya pasti enak banget
    Masih manis dan gurih, belum kena pengawet
    Btw itu kelompok kelewawar yang terbang eksotik banget ya kelihatannya

  2. Aku jadi penasaran bagaimana ke-17 pulau itu dinamai satu per satu.
    ITU AIR DI PANTAI PULAU RUTONG BENING BANGEEETTT!

    Wah jangan duduk di kursi paling belakang mbak. Potensi maboknya lebih gede karena kurang sirkulasi udara dan kurang pemandangan. Duduk di depan udah yang terbaik.

  3. Masyaallah bening banget itu airnya. Semoga masyarakat dan pengunjung selalu menjaga sehingga anak cucu kelak masih bisa menikmati langsung pemandangan indah ini …

  4. Flores! salah satu bucket list gue insya allah mau kesana hihi.. wah iya mba kalau duduk dibelakang mah, buat yang gampang tidur kalau perjalanan hehe.. rasanya nyesal kalau di belakang ga bisa liat view n buka jendela foto2 hihi..

  5. Wuiiih Taman Laut Riung di Flores ini bikin aku ga tahan pengen nyebur, main2 air, berenang yg lama dan foto2 cantik 🤩 Beniiing bener airnya, pasirnya, keren nih. Ga sabar baca tulisan selanjutnya.

  6. Gradasi warna lautnya keren banget ya… Pulau-pulaunya lun eksotis, sampai ada pulau kelelawar juga… Duh, aku pasti gak mau deket-deket sama pulau itu… Hehe… Bener juga, gambar gunungnya mirip sama gambar waktu masih kecil… 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *