28/10/2020

Blue Stone Beach, Antara Harapan dan Kenyataan

Halo teman-teman narablog, lanjut kisah perjalanan saya di Flores. Setelah mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, kami on the way menuju Riung. Sebelumnya mampir terlebih dahulu ke Blue Stone Beach. Konon kata Kies, pantainya dipenuhi bebatuan berwarna biru kehijauan. Contoh batunya sudah kami lihat waktu kami menginap di Moni Ecolodge. Di sana di tepi tiap-tiap bungalow ada batu-batu kebiruan tersebut. Kan, penasaran, seperti apa penampakannya pantai seluas-luas apa, terhampar bebatuan biru tersebut.

Ini kisah perjalanan kami sebelumnya: Ketika Bung Karno Merenungkan Pancasila di Rumah Pengasingan Ende, Flores

Harapan Penampakan Blue Stone Beach

Pantai Penggajawa (Blue Stone Beach), sumber Daily Voyagers

Teman-teman, sebelum saya menulis artikel ini, saya kepoin beberapa artikel yang pernah menulis tentang Blue Stone Beach atau Pantai Penggajawa. Ternyata teman blog saya Daily Voyagers menuliskannya di Gemerlap Warna-Warni Pantai Penggajawa. Foto-fotonya bagus banget. Kalau saya lihat tanggal uploadnya, blog tersebut ditulis 3 tahun yang lalu.

Kenyataan Penampakan Blue Stone Beach

Rombongan kami tiba di Blue Stone Beach kira-kira pukul 4 sore. Pantai tampak sepi, ya langsung ramai lah dengan ulah rombongan kami. Ada perahu dan ayunan yang kami manfaatkan saja untuk spot foto-foto. Termasuk saya deh, foto-foto dengan background batu biru.

foto diri dengan background Blue Stone

Keren?

Ini namanya framing sodara-sodara. Kita hanya melihat sebatas komposisi frame 16:9, 4:3 atau 1:1.

Kenyatannya sejauh mata memandang, bebatuannya tak seluas yang dibayangkan. Lebih banyak pasir menghitam. Kata Kis, sih, habis didulang dan dibawa ke luar pulau Flores.

Seperti yang dikisahkan di blog Daily Voyagers, bebatuan tersebut ternyata menjadi komoditi penting bagi warga lokal dan dijual sebagai elemen penghias taman dan pekarangan rumah. Lhah … kenapa jadi habis begini? Hiks …

Blue Stone yang menipis
Sepenggal penampakan Blue Stone Beach

Menuju Riung

Setelah puas berfoto-foto, kami bersiap melanjutkan perjalanan ke Riung.

Ada apa di Riung? Obyek wisata yang kami tuju adalah Taman Laut 17 Pulau Riung, yang terletak di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada.  

Seperti biasa kami cek Google Map kan. Jarak dari Blue Stone ke Riung adalah sekitar 105 km. Menurut perkiraan durasi perjalan 2 hingga 3 jam.

Oke.

Jadi diperkirakan kami akan tiba di penginapan berikutnya pas makan malam.

Benarkah?

Ternyata ya teman-teman, sepanjang jalan di seluruh pulau Flores itu jalannya berkelok-kelok, menyusuri bukit batu dan hutan bambu. Selepas pantai Penggajawa, kami menyusuri pantai Selatan pulau Flores untuk membelah pulau menuju Utara.

pantai selatan pulau Flores

Beberapa penggal jalan, jalannya rusak, sehingga bus yang kami tumpangi harus memperlambat laju.

Ternyatanya lagi, menuju kecamatan Riung tersebut daerahnya belum terlalu berkembang, sehingga jalan rayanya hanya cukup selebar bus. Saya yang duduk di depan, di belakang supir, harap-harap cemas saja, semoga kami tidak berpapasan dengan kendaraan lain.

Matahari makin temaram di ufuk Barat, sekilas tampak hutan bakau di sisi kanan bus. Sepertinya kami sudah menyusuri pantai Utara pulau Flores.

Lumayan mabok menyusuri jalan berkelok-kelok dan agak cemas, sampailah kami di Riung, setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam. Jauh lebih lama dari perkiraan.

Kami pun menuju penginapan yang telah dipesan jauh hari sebelumnya. Nirvana Bungalow nama penginapannya. Kata Kis sih, penginapan terbaik sa’ Riung.

Kami pun menurunkan koper-koper dari bus dan menuju kamar-kamar yang sudah di atur pembagiannya oleh Kis. Berbeda dengan ketika malam hari kami sampai di Moni Ecolodge di Ende kemarin, kali ini saya tak berani mandi. Bukan apa-apa, tak ada air panas. Saya tak berani mandi pukul 9 malam, lebih baik besok subuh saja. Saya mempertimbangkan perjalanan kami masih jauh, dan ini baru separo jalan deh.

Cek penginapan kami waktu di Moni, Ende di Konsep Hijau dan Pelestarian Lingkungan di Kelimutu Crater Lakes Ecolodge

Setelah sekedar membasuh dan sholat, kami pun berkumpul di ruang makan untuk makan malam dan membahas rencana perjalanan keesokan harinya.

Lanjut besok ya …

Bandung, 5 April 2019

signature haniwidiatmoko

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

12 thoughts on “Blue Stone Beach, Antara Harapan dan Kenyataan

  1. Sayang ya, blue stone-nya menipis. Nggak ada kiriman blue stone dari laut ya? Kalau di pantai Kolbano di pulau Timor, konon selalu ada kiriman batu warna-warni dari laut, makanya selalu ada batu. Tapi sekarang, karena penambangan batu semakin parah, batu warna-warni juga mulai berkurang.

  2. Kalau saja pemerintah ikut turun tangan buat aturan resmi, mungkin batunya tidak akan pada diambilin ya. Sayang banget ya …

    Penasaran ah nunggu lanjutan kisah perjalanannya hehehe

  3. Ya Alloh, bisa habis gitu ya. Dikeruk terus sih, pindah yang bagus jadi rumahnya. Tapi sayang banget karena jadi mengurangi estetika pantainya. Duh, manusia ini apa-apa diborong buat dirinya sendiri.

  4. Framingnya cakep. Kalau gak ada penjelasannya memang jadi membayangkan sepanjang pantai itu ada blue stone. Sedih ketika mengetahui kenyataan batunya banyak diambilin. Tetapi, saya juga suka dengan artikel ini karena bercerita keadaan di sana apa adanya

  5. Inilah yang menyesakkan, perilaku negatif para oknum wisatawan yang kurang bertanggungjawab terhadap keindahan dan keunikan sebuah tempat wisata. Mestinya ada yang jaga ya agar blue stone nya aman dari jarahan orang yang tidak bertanggungjawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *