Childfree Sebuah Keputusan Pribadi

childfree sebuah keputusan pribadi

Beberapa tahun yang lalu, kami sekeluarga berkesempatan berkunjung ke Beograd, ibukota Serbia, sebuah negara di Eropa Timur.
Di sela-sela acara keluarga, kami berkesempatan jalan-jalan mengunjungi beberapa obyek wisata.
Sore-sore di bulan November yang cerah waktu itu, sering sekali saya melihat seseorang strolling dengan menuntun anjing kesayangan. Seliweran baik muda, dewasa, laki atau perempuan. Justru sangat jarang saya melihat mereka berjalan-jalan dengan anak.

Kerabat kami yang berdinas di kedutaan besar RI di sana mengatakan bahwa di Serbia itu zero population growth. Artinya pertambahan penduduknya dibanding yang meninggal ya sama-sama. Nyaris tak ada penambahan populasi di sana.
Berbeda dengan di Indonesia ya, kan sekarang sudah 270juta-an jumlah penduduknya, dengan population growth 1.07%.

Ada yang menarik lagi dari pernyataan kerabat kami tersebut.
Pasangan-pasangan di Serbia malas mempunyai anak. Mempunyai anak means, banyak pengeluaran, untuk kesehatan, pendidikan, belum lagi kalau anaknya susah diatur. Lebih baik pelihara puppy saja. Bisa dicuddle, engga rewel, dan setia sampai mati.

jalan-jalan sore bersama hewan kesayangan
jalan-jalan sore

Itu sebabnya, saya jarang melihat anak-anak jalan-jalan dengan orang tuanya. Lebih banyak orang jalan-jalan dengan hewan peliharaan.
Kalau pun ada yang berjalan-jalan mencari hangatnya matahari sore di musim gugur waktu itu, adalah lansia, berdua atau bertiga.
Ya masuk akal sih, engga ada anak-anak, ya banyak lansia ya…

jalan-jalan sore di Beograd, Serbia

Pemikiran childfree atau tidak mau punya anak, sebetulnya bukan hal baru di negara-negara Eropa atau Amerika. Mereka sangat menghargai privacy dan keputusan pribadi masing-masing.
Banyak kan kita melihat di film-film Amerika, keputusan mempunyai anak betul-betul dipikirkan matang. Negara pun turut campur dengan kesejahteraan anak.
Orang tua yang dianggap tidak bertanggungjawab (tidak menyekolahkan-tidak memberi rumah yang baik-jaminan kesehatan), negara bisa saja turun tangan, dan anak diambil oleh negara.

Lingkungan

Pemikiran lain tentang memilih tidak mempunyai anak adalah masalah lingkungan.
Anak seorang teman saya, bekerja di ranah pelestarian lingkungan.
Dia bersama pasangannya belum mempunyai anak.
Ketika ibunya menanyakan (biasa ya di Indonesia sini, orang tua tanya-tanya ke anak, kapan punya anak…)…
Sang anak memberi alasan bahwa banyak anak-anak terlantar, lingkungan yang tidak sehat, dunia sudah terlalu penuh. Sehingga dia menganggap, kasihan anaknya nanti hidup di dunia yang carut marut seperti sekarang.
Akhirnya ibunya ya tidak berani tanya-tanya lagi.

Teori tentang kaitan lingkungan dengan populasi juga pernah saya baca sekilas di salah satu berita online.
Teorinya, semakin banyak orang maka semakin banyak pencemaran. Contoh sederhana karbon dioksida yang dikeluarkan oleh nafas orang semakin banyak. Belum lagi kan pohon yang bisa menyaring karbon dioksida tuh sedikit. Udara jadi tidak bersih lagi.
Jadi ya mereka-mereka ini memilih childfree saja, tidak mempunyai anak, supaya tidak menambah jumlah populasi di dunia.

Sebuah Keputusan Pribadi

Berita childfree menjadi ramai, karena yang membuat statement katanya seorang youtuber. Walaupun saya ya baru dengar sih namanya, tetapi fenomena childfree sebenarnya bukan hal baru.

Rata-rata orang Indonesia yang mempunyai pemikiran tersebut memang pernah tinggal di luar negeri, terutama Eropa atau Amerika.
Contohnya youtuber itu, sekarang menetap di Jerman bersama suaminya.
Anak teman saya yang saya ceritakan di atas, pernah menempuh pendidikan di Inggris.

Di luar negeri sudah lazim, orang atau pasangan mau punya anak atau tidak. Tetangga engga akan tanya-tanya, oom-tante engga kepo kayak di sini.
Bahkan di luar negeri sana, perempuan bisa mempunyai anak dari donor sperma.
Di satu sisi, mengangkat anak atau adopsi juga dianggap biasa saja, tidak dibedakan antara anak kandung dan anak angkat. Haknya sama.

Berbeda dengan di Indonesia, mungkin karena masalah agama, jadi memang ada ketentuan khusus tentang anak kandung dan anak angkat. Malah dilarang memutus hubungan keluarga dengan keluarga kandungnya.

Begitu pula dengan childfree tadi, yang saya baca, kalau secara agama tidak dilarang. Karena kan belum jadi anak, itu baru niat saja tidak ingin mempunyai anak.
Mirip-mirip dengan keluarga berencana.
Yang engga boleh tuh menggugurkan kandungan atau memutus rantai reproduksi. Contoh memutus rantai reproduksi adalah melakukan vasektomi atau tubektomi yang tujuannya sterilisasi.

Anak Untuk Mengurus di Hari Tua?

Seperti biasa, netizen ramai ya membahas tentang childfree ini.
Bahkan menyayangkan orang-orang yang mempunyai pemikiran seperti ini.
Mereka berpendapat bahwa, nanti kalau tua gimana, kalau engga punya anak?
Yang mengurus kalau nanti tua siapa?

Kalau pemikirannya, punya anak, supaya nanti kalau tua ada yang mengurus, kasihan banget anaknya.
Anak akan mempunyai kehidupan sendiri, ya jangan dibebani sama kita yang sudah tua.
Katanya engga ingin jadi generasi sandwich, kenapa juga anak kita dijadikan sandwich.

Walaupun ya sebenarnya sudah biasa menurut budaya di sini, ada orang tua di dalam keluarga. Malah keluarga jadi hangat dan guyub. Zaman saya kecil hingga SMA, ada nenek, ibunya Mamah saya yang tinggal bersama kami.

Lalu, bagaimana dengan di negara-negara yang warganya memilih childfree. Di negara maju mungkin jaminan hari tua lebih layak daripada di sini. Panti wreda atau rumah lansia malah menjadi pilihan karena didesain dengan nyaman dilengkapi tenaga medis dan perawat.

Di antara teman-teman bahkan ada pemikiran, nanti tua mau juga mendesain kompleks lansia yang berfasilitas lengkap seperti di luar negeri sana. Bisa ngumpul bareng teman-teman, tidak tergantung dan merepotkan anak-anak. Kalau kangen, anak-anak silakan berkunjung bersama cucu-cucu…

Penutup

Sebetulnya masih akan panjang kalau membahas childfree ini dari berbagai sisi.
Belum lagi dari masalah psikologis. Konon ada dugaan, pasangan yang memilih childfree karena mempunyai masa kanak-kanak yang traumatis.

Menurut saya sih, bagi pasangan yang sekarang ini memilih untuk childfree tentunya sudah dipertimbangkan matang.
Mungkin saja besok keputusannya beda lagi.
Tinggal kepoin aja seperti warganet pada umumnya.

9 tanggapan pada “Childfree Sebuah Keputusan Pribadi”

  1. Setuju, Bund, kembali kepada keputusan pasangan mau childfree atau enggak. Siapa tahu keputusannya akan berubah berapa tahun setelah menikah. Tidak ada yang tahu. kita kembalikan kepada diri pribadi masing-masing, setiap keputusan pasti sudah dipertimbangkan dengan baik

    1. Iya…Terima kasih sudah berkunjung…
      Walaupun walaupun…kalo anak saya punya pendapat seperti itu, kayaknya saya bakalan doa kenceng, supaya berubah pikiran…hehe…

      1. Soal si doi milih tak punya anak emang hak pribadi dia sih, saya hanya khawatir followernya ikut-ikutan dengan pilihan dia secara dia punya pengikut remaja yg lumayan banyak, terutama jika salah seorang di antara followernya ada keluarga saya bahkan anak saya terus ikut-ikutan juga padahal mereka tidak tahu apa alasan sebenarnya memilih childfree.
        Seperti mba Hani, kalau itu terjadi pada anak saya pasti saya doa yg kencang agar pikirannya berubah.

        Gini-gini kan saya mau tetap jadi nenej euy 🤣

        1. Iya…biar kami dibilang kolot/ kuno juga…hehe…
          Kayak teman saya itu. Dia sepertinya sedih, anaknya memutuskan childfree. Mana anak tunggal pula…
          Oops…jadi gosip…🤭

      2. Baca kalimat akhirnya tinggal kepoin aja hihi
        Aku jg pengen ih punya komunitas deh yg khusus untuk kegiatan lansia jika tua nanti.
        Benar itu pikiran pribadi, tapi semoga aku dapat keturunan setelah menikah.

      3. Childfree itu sebuah pilihan pribadi sy setuju. Asal jangan itu dikampanyekan!
        Dan setiap org punya alasan mengapa mereka mengambil pilihan tersebut.

      4. Saya baru di dunia emak-emak, jadinya baru dengar istilah childfree. Meski pernah baca tentang budaya luar negeri yang lebih memelihara hewan peliharaan.

        Itu si youtuber kayaknya perlu diajak melihat guyubnya keluarga-keluarga beranak banyak supaya pandangannya seimbang. Hehe

      5. Aku genk seterah alias karepmu hahaha. Urusan dia mau punya anak apa enggak. Karena semua itu pilihan. Tapi kalau aku, secara prinsip memang pengen punya anak dan puji Tuhan udah terlaksana. Masalah nanti mereka gede, aku ga mau ngebebanin mereka harus ngurus aku dan suami. Syukur mereka mau, kalaupun enggak aku udah nyiapin mental bakalan masuk panti jompo atau hidup berdua aja ama suami. Anak-anak punya keluarga mereka masing2. Ya semoga aja sih mereka mau ngurusi kami di hari tua nanti. Wkwkwkwk

        1. Tau gaa…dulu Mamaku kalo ngambeg suka ngancem, yawda nanti aku ke panti jompo ajah.
          Kami cuekin aja. Ya kami rawatlah putra-putri gantian smp wafatnya…
          Kalau saya ini, lagi renov rumah, spy anak² tinggal deket kami ajah…
          Haha…🎊🎉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *