29/11/2020
freelance 101

[ReviewBuku] Freelance 101 – Panduan Freelance Supaya Hidupmu Gak Ambyar

Apakah menjadi full timer freelance menjanjikan?
Sebuah buku berjudul ‘Freelance 101 – Panduan Freelance Supaya Hidupmu Gak Ambyar’ saya peroleh dari penulisnya langsung Ikhwan Alim. Buku saku bersampul cerah warna putih hijau turkis ini membahas jenis pekerjaan lepas yang tersedia di pasar tenaga kerja saat ini. Freelance kemungkinan besar memang menjadi ladang profesi yang dikejar oleh generasi Z, generasi kelahiran tahun 1998 sampai 2010. Menjadi karyawan bahkan pegawai rupanya kurang menarik bagi generasi ini. Sebenarnya ngapain saja freelancer tersebut?

Freelance 101 – Panduan Freelance Supaya Hidupmu Gak Ambyar

Buku ini diawali dengan penjelasan tentang kode 101 yang berarti konsep dan prinsip dasar sebuah topik tertentu. Awalnya adalah sistem penomoran mata kuliah di Amerika Serikat, untuk memudahkan transfer matakuliah antar universitas.

Apa saja isi buku ini?

Bagian 1 – Pembuka

Diawali dengan pertanyaan ‘Bidang freelance apa yang cocok untuk saya?’
Semangat menjadi pekerja lepas (freelancer) akan mentah dan patah di tengah jalan, kalau pelakunya tidak tahu mau berbuat apa.

Era Industri 4.0 dianggap sebagai era ketidakpastian pekerjaan, karena perusahaan semakin sulit berumur panjang

halaman 5

Bagian 2 – Macam-macam Pekerja Lepas dan Cara Memulainya

Penulisnya memberi 8 contoh pekerja lepas, yaitu sales marketing, writer, programmer, layouter, translator & editor, MC (master of ceremony), graphic designer, dan fotografer.

Istilah pekerjaan lepas (freelance) dan pekerja lepas (freelancer) tidak memiliki definisi yang baku. Freelancer yang seperti apa dan bagaimana cara kerjanya cukup beragam untuk dipetakan serta diklasifikasikan

halaman 11

Bagian 2 ini juga dilengkapi dengan testimoni beberapa freelancer tentang bidang yang mereka geluti, asal mula, dan suka dukanya. Ada yang memang full time freelancer, tetapi ada pula yang part time freelancer.

Bagian 3 – Cara Memulai Pekerjaan Lepas

Ada 6 sub bab yang dibahas di bagian ini, yaitu:
Memulai Karier Sebagai Freelancer
Kenapa Perusahaan Merekrut Freelancer
Seni Menjual
Being Professional
Lima Saran yang Tidak Bisa Diabaikan Freelance Pemula
Proyek Freelance Pertama Saya

Ada pembahasan penting di bagian 3 ini yaitu Risk Management.
Belajar sesuatu yang baru adalah salah satu cara mengelola risiko yang mungkin terjadi terkait pekerjaan freelance

halaman 85

Maksudnya, sebagai freelancer jangan merasa sudah jago. Freelancer harus terus belajar.

Bagian 4 – Operasional Pekerja Lepas

Ada 8 sub bab pada bagian ini.
Menulis Proposal Proyek
Menetapkan Tarif Freelance
Berapa Fee untuk Freelancer
Project Management
Freelance Juga Bisa Hidup dari Produk
Mengelola Keuangan ala Freelancer
Menyikapi Kepergian Klien
Haruskah Pekerjaan Freelance Diteruskan

Sub bab yang paling dicari mungkin tentang Cara Menetapkan Tarif Freelance.
Penulisnya menurunkan dari gaji pekerja kantoran yang dibreakdown menjadi tarif harian. Dengan demikian freelancer bisa menghitung sendiri, suatu pekerjaan dikerjakan dalam berapa jam atau hari, kemudian ditawarkan ke klien.

Bagian 5 – Meningkatkan Produktivitas

Ada 6 sub bab pada bagian ini.
Menjadi Freelancer yang Produktif
Kerja Efisien dengan Digital Tools
Penguasaan Bahasa Asing
Business Plan Itu Wajib Hukumnya
Work Flow
Personal Branding

Bagian ini lebih pada memantapkan posisi sebagai pekerja lepas.

Orang boleh berpendapat bahwa freelancer tidak ada kariernya, namun sebenarnya karier freelance itu bisa bertumbuh, lho. Tidak hanya lebih efektif dalam bekerja, juga lebih efisien berkat otomatisasi yang dibantu oleh perangkat-perangkat digital

halaman 142

Bagian 6 – Kerja Jarak Jauh (Remote Working)

Ada 6 sub bab juga yang dibahas pada bagian ini.
Balance in Remote Work Life
Remote Working from Coffee Schop
Tantangan Remote Working
Sudah Siapkah Kita untuk WFH
Mengelola Tim Pekerja Lepas
Fiverr and Upwork

Cukup menarik pembahasan pada bagian ini. Intinya, walaupun kita bekerja jarak jauh, klien mungkin tidak melihat keseharian kita. Pada dasarnya kita adalah mahluk sosial, masih perlu bertemu dengan orang lain. Bahkan bekerja pindah-pindah dari coffee shop ke coffee shop lain dalam rangka mencari kebaruan dan memotivasi diri.

Tapi tantangan untuk tetap fokus masih menjadi pe-er besar orang Indonesia, karena kita dalam keseharian sangat tidak efisien. Akibatnya akhir pekan pun masih bekerja

disarikan dari halaman 193

Bagian 7 – Penutup

Freelance itu identik dengan aksi individu. One man show. Semuanya dikerjakan sendiri. Bukan enggak ada anggota tim, tapi memang belum sanggup berbagi pekerjaan dan keuntungan dengan orang lain

halaman 216

Review Buku

Sebetulnya saya tak pandai mereview sebuah buku. Saya membahasnya menurut 2 bahasan, yaitu anatomi buku dan ilustrasi.

Anatomi Buku

Anatomi buku terbagi menjagi tiga bagian utama, yaitu bagian awal, bagian teks, dan bagian akhir.

Bagian awal, cover buku cukup manis dan eye catching. Lembar-lembar dalam belum sepenuhnya lengkap. Mungkin karena buku ini dicetak mandiri, sehingga belum ada halaman hak cipta.

Bagian teks, ada 7 bab pada buku ini. Tiap bab tidak diturunkan menjadi sub bab, tetapi berdasarkan nomor urut. Sehingga secara keseluruhan ada 36 sub bab.
Segara garis besar buku ini memang menjelaskan lengkap alur untuk menjadi freelancer disertai pula dengan testimoni beberapa freelancer. Gaya bahasa bertutur dan tidak terlalu baku membuat buku ini mudah dicerna dan tidak berkesan menggurui. Memang pas bila mengambil judul 101, semacam tips & trick, segala ada.

Saya kurang jelas kenapa 8 macam pekerjaan lepas tersebut yang dipilih. Beberapa di antaranya mirip, artinya masih satu bidang keilmuan.
Contohnya graphic designer, layouter, dan fotografer. Di program studi Desain Komunikasi Visual, ke tiga sub keilmuan diajarkan saat kuliah. Jadi bisa saja, graphic designer juga bisa sebagai layouter.
Tetapi tidak dibahas profesi arsitek atau bidang perencanaan lainnya, yang sebetulnya juga bisa freelance. Apalagi sekarang pekerjaan proyek juga bisa di sub-subkan dan dikerjakan parsial per bagian kecil.
Selain itu belum ada slot pembahasan tentang freelance yang dimungkinkan dikerjakan ibu rumah tangga, misalnya yang berkaitan dengan masak-memasak.

Bagian akhir, harusnya memuat referensi dan tentang penulisnya. Sayangnya buku ini tidak disertai dengan sumber referensi, bagian yang sebaiknya ada, karena tergolong buku nonfiksi. Penerbit malah mengharuskan daftar pustaka berupa buku referensi lebih banyak daripada sumber internet.

Ilustrasi Buku

Bagi sebagian orang mungkin ilustrasi hanya sekedar pemanis. Tetapi bagi saya pribadi cukup penting, malah kalau tidak didesain baik jadi mengganggu.
Contohnya pada tata letak ilustrasi landscape yang dipasang posisi portrait. Akibatnya pembaca harus memutar-mutar buku bila ingin mengamati ilustrasinya. Ada baiknya memang ilustrasinya diatur untuk posisi potrait semua.
Dari segi kualitas ilustrasinya pun, lebih banyak blok gelap dan kurang kontras, sehingga kurang jelas gambarnya.

Nah, teman-teman itulah sedikit review tentang buku Freelance 101 – Panduan Freelance Supaya Hidupmu Gak Ambyar.
Bagi yang mau menapaki jalur freelancer bisa banget mempelajari bukunya.
Pemesanan bisa langsung menghubungi penulisnya Ikhwan Alim di blog ikwanalim(dot)com atau ke IG-nya @zakki.wakif

Semoga bermanfaat

haniwidiatmoko

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

4 thoughts on “[ReviewBuku] Freelance 101 – Panduan Freelance Supaya Hidupmu Gak Ambyar

  1. Bagus sepertinya bukunya ya..jadi bisa lebih paham tentang freelancer. Zaman sekarang memang akan banyak profesi yang bisa dilakukan dengan cara freelance. Saya dulu juga pernah, sebagai guru/tutor freelance. Resiko harus siap jika tiba-tiba client pergi dan penghasilan berkurang

  2. Saya dan suami freelance sejak 2015 bun, sejak masih jadi karyawan alias part time freelance. Start 2017 kita resign dan jadi full time freelancer sampai sekarang. Freelance memang secara karir ga jelas, tapi insyaAllah secara income jelas sekali alhamdulillah, hehe. Sekarang kami menggandeng 5 partner (kalau ga bisa disebut karyawan) yang kerja bareng di studio mini di rumah kami.

  3. Saya fokus ke “Era Industri 4.0 dianggap sebagai era ketidakpastian pekerjaan, karena perusahaan semakin sulit berumur panjang”..bener juga ya, start up cepet viral tapi kalau enggak kuat cepet juga tumbang
    Maka freelancer memang bisa jadi pilihan.
    buku yang menarik, meski di awal saat menyebutkan contoh pekerjaan lepasnya ada kemiripan. Seperti dijelaskan Mbak Hani di akhir artikel…Anak DKV bisa mengerjakan 3 pekerjaan tersebut, mirip soalnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *